Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 74. Topan pingsan


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 73


...•...


...•...


Topan akhirnya kewalahan terus diserang habis-habisan oleh pemuda tersebut, ia terjatuh ke aspal dengan tubuh tersungkur dan banyak mengalami luka serta tenaganya pun sudah habis. Namun, bagi mereka itu saja tak cukup karena mereka masih menendang bahkan memukuli tubuh Topan yang sudah tersungkur itu dengan keras dan membabi buta.


Sampai Topan pun pingsan karena tak kuat menahan rasa sakit di tubuhnya, sekujur tubuhnya kali ini terluka termasuk bagian wajah menjadi yang paling parah dengan banyak sekali luka disana. Setelah Topan pingsan, mereka semua tampak puas dan tertawa gembira dengan mengangkat tangan ke atas sebagai tanda kemenangan mereka.


"Hahaha, rasain tuh Topan! Kita udah berhasil habisin dia, pasti si bos bakalan bangga dan seneng banget dengan keberhasilan kita ini!" ucap seorang pemuda.


"Bener tuh, yang paling penting bonus kita bakal bertambah gede karena udah bikin si Topan ini k.o cuma dalam beberapa menit!" sahut temannya.


"Eh Vin, lu foto gih atau videoin si Topan yang lagi pingsan dan sekarat ini... siapa tau si bos minta bukti kan supaya dia bisa lebih percaya kalau kita udah bikin Topan sampe kayak gini, jadi gak ada alasan lagi buat si bos gak kasih bonus ke kita!" usul yang lain sebut saja namanya Herdi.


"Bener juga lu, yaudah biar gue videoin..." ucap Alvin.


Alvin si pemimpin para pemuda tersebut langsung memvideokan kondisi Topan saat ini melalui ponselnya yang nanti akan ia kirim ke nomor bosnya alias yang menyuruh ia melakukan ini, ya setelahnya barulah ia meminta bonus yang dijanjikan oleh si bosnya itu.


"Nah udah nih, yok kita cabut sekarang sebelum ada orang yang lihat!" ucap Alvin.


"Oke..."


Mereka semua pun cabut dari sana dengan tergesa-gesa kembali ke mobil mereka masing-masing dan meninggalkan tubuh Topan yang sedang pingsan tergelatak disana begitu saja, ya mereka khawatir nantinya ada warga atau orang lewat sana lalu malah berakibat buruk pada mereka.

__ADS_1


Tak lama setelah mereka semua pergi, ada sebuah mobil yang hendak melintas melalui jalan itu namun berhenti karena melihat ada seseorang tergeletak disana dan rupanya orang tersebut adalah Calissa yang baru hendak pulang ke rumahnya.


"Eh pak, pak! Stop, pak!!" ujar Calissa sembari menepuk-nepuk jok supirnya minta berhenti.


Ciitttt....


Akhirnya sang supir terpaksa menginjak rem secara mendadak akibat Calissa yang tiba-tiba memintanya berhenti bukan daritadi, ya Calissa pun sampai terjungkal ke depan terpentok jok bagian depan karena ulahnya sendiri.


"Ma-maaf nyonya, saya kaget!" ucap pak Hadi.


"Ya gapapa, pak! Yaudah tunggu sebentar, ya? Saya mau turun lihat kondisi orang itu, kayaknya dia butuh pertolongan seh pak!" ucap Calissa.


Tanpa berlama-lama lagi, Calissa pun langsung turun dari mobil menghampiri orang yang tergeletak disana dan ia seperti tak asing ketika melihat tubuh orang tersebut dari dalam mobil tadi maka dari itu ia meminta supirnya berhenti untuk mengecek.


"Topan? Tuh kan bener dia Topan, pantes aja gue gak asing gitu tadi ngeliatnya..." ujar Calissa.


Calissa yang cemas langsung berjongkok di samping tubuh pria itu dan coba membangunkannya, ia syok ketika melihat kondisi Topan yang mengenaskan dan penuh luka di wajahnya serta sekujur tubuh lainnya.


"Ya ampun, apa yang terjadi sama kamu Topan??" ujar Calissa tampak panik.


...•••...


Disisi lain, Robi masih penasaran mengapa Cahaya terlihat bersedih dan galau seperti itu sampai datang ke tebing curam begini padahal jarang sekali ada perempuan datang kesana karena memang tak ada pengaman disana apalagi orang penjaga.


"Eee... kenapa lu milih dateng kesini? Bukannya kalo cewek lagi galau banyak tempat menarik lainnya, ya?" tanya Robi penasaran.


Cahaya menoleh perlahan ke arah Robi dengan kondisi rambut berterbangan karena angin disana lumayan besar, bagi Robi itu merupakan pemandangan indah yang tak mungkin bisa ia lihat secara terus-menerus.


"Gue cuma mau nenangin diri, dan gue pikir kalau tempat tinggi kayak gini bisa bikin gue tenang!" jawab Cahaya sembari membenarkan rambutnya.


"Oh gitu, ya emang sih suka banyak juga cowok-cowok galau datang kesini buat lampiasin kesedihan mereka dengan berteriak!" ucap Robi.


Cahaya pun menyipitkan matanya tak mengerti dengan yang diucapkan Robi barusan, ya sambil membelai rambut bagian depannya Cahaya bertanya pada Robi mengenai maksud dari perkataannya tadi tentang lelaki yang berteriak.

__ADS_1


"Maksudnya apa?" tanya Cahaya singkat.


"Ya, banyak cowok datang kesini buat teriak untuk sekedar menenangkan diri mereka dan menghilangkan kesedihan di hati mereka! Lu mau coba juga, enggak?" jawab Robi.


"Emang dengan begitu bisa bikin hati jadi lebih tenang, ya?" tanya Cahaya penasaran.


"Ya kebanyakan sih pada bilang gitu, mereka akan ngerasa lebih tenang dari sebelumnya setelah berteriak meluapkan kesedihan atau kata-kata yang terpendam di dalam hati!" jawab Robi.


"Ohh, gue jadi mau coba..." ujar Cahaya.


"Yaudah coba aja, silahkan teriak sepuas lu dan sekeras apapun itu! Disini jauh dari perumahan, jadi gak akan ada yang keganggu!" ucap Robi.


Cahaya mengangguk sambil tersenyum, ia mengambil nafas dalam-dalam bersiap untuk berteriak demi menenangkan hatinya sekaligus menghilangkan kesedihan akibat dari Topan yang ternyata Badai alias cowok di dalam aplikasi.


Sementara Robi bersiap menutup kedua telinganya untuk mencegah pengang, ya tentu hal itu harus dilakukan karena ia berada tepat di samping Cahaya yang pastinya akan berteriak sangat kencang.


"AAAAAAAA GUE BENCI SAMA LU, TOPAN....!!!"


Begitulah teriakan dari Cahaya yang amat sangat kencang dan membuat Robi masih merasa sedikit pengang padahal sudah menutupi telinganya, sedangkan Cahaya merasa puas tapi masih belum terlalu tenang karena ada yang sedikit mengganjal.


"Gimana, udah tenang?" tanya Robi.


"Lumayanlah, tapi masih belum terlalu..." jawab Cahaya sambil tersenyum tipis dan mengangguk.


Robi membalas senyuman gadis itu lalu bangkit dari duduknya berdiri tepat di samping Cahaya sembari menjulurkan tangannya ke arah gadis itu, tentu Cahaya tak mengerti apa maksud Robi seperti itu.


"Ngapain?" tanya Cahaya terheran-heran.


"Ayo bangun, lu teriaknya sambil berdiri biar bisa lebih leluasa dan semua kekesalan di dalam hati lu bisa hilang sepenuhnya..." jelas Robi.


Cahaya mengangguk kemudian meraih tangan Robi untuk berdiri dari duduknya, sungguh Robi tampak senang gembira ketika tangannya digenggam oleh Cahaya tak pernah ia menyangka sebelumnya kalau Cahaya mau menggenggam tangannya seperti ini.


Ya Cahaya pun berteriak sekali lagi dan kali ini lebih keras dari tadi, bahkan Robi sampai harus melepas genggaman tangan Cahaya demi bisa menutupi telinganya agar tidak pengang lagi.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2