Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 91. Adu sindir


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 90


...•...


...•...


Keesokan harinya, Cahaya telah bersiap berangkat sekolah serta sudah memakai seragam sekolahnya dengan celana panjang dan jaket untuk menutupi tubuhnya dari dinginnya angin pagi yang suka membuat orang menggigil.


Aroma tubuh gadis itu memancar kuat di hidung Calissa yang tengah menikmati sarapan, ia pun tahu betul kalau Cahaya akan menuju ke tempatnya karena ia sudah hafal wangi tubuh Cahaya yang kini sudah menjadi anak tirinya.


"Hoi! Widih asik banget ya makannya, gak kerja apa lu? Kok udah jam segini masih nyantai aja pake baju tidur begitu?" ujar Cahaya menegur Calissa.


"Gak ada sopan santunnya ya kamu sama aku! Heh Cahaya, aku ini udah jadi ibu tiri kamu! Seenggaknya kamu hormat sedikit lah sama aku, jangan main lu-gue kayak gitu! Aku kan bukan temen kamu, tapi ibu tiri kamu!" ucap Calissa.


"Halah, lebay lu ah! Kita kan cuma beda 3 tahun, ngapain gue harus hormat sama lu?" ujar Cahaya tersenyum kemudian menarik kursi dan duduk di hadapan Calissa.


Cahaya mengambil sepotong roti lalu ia oleskan selai nanas sembari mulut yang terus menyunggingkan senyum ke arah Calissa, tentu Calissa terheran-heran melihat tingkah Cahaya yang tidak jelas itu karena tak biasanya Cahaya mau makan berdua dengannya apalagi sampai senyum-senyum begitu.


"Heh, kamu kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Calissa penasaran.


"Gapapa, senyum itu ibadah Calissa! Masa orang mau beribadah dicurigai?" jawab Cahaya santai.


Tanpa basa-basi Cahaya pun memakan roti isi selai nanas di tangannya dengan lahap dan masih terus saja tersenyum memandangi Calissa, hal itu membuat Calissa ingin segera pergi dari sana karena tidak kuat melihat senyum Cahaya yang seperti hendak melukainya.


"Oh ya, ibu lu kapan mau dateng kesini? Gue gak sabar pengen kenalan sama dia, pasti dia orangnya sama kayak lu ya?" ucap Cahaya dengan mulut dipenuhi roti.


"Sama gimana maksudnya?" tanya Calissa.


"Iya, sama-sama matre!" jawab Cahaya santai.


"Kurang ajar lu, ya! Gue udah baik-baik loh sama lu, kenapa lu masih aja kayak gitu sama gue?" bentak Calissa mulai emosi.

__ADS_1


"Hahaha, santai lah gausah ngegas!" ujar Cahaya.


"Telen dulu tuh roti di mulut, suara lu gak jelas tau!" ucap Calissa ketus.


Cahaya pun senyum-senyum saja melihat reaksi Calissa yang begitu emosi mendengar perkataannya mengenai sikap mama Calissa, ya Cahaya memang sengaja hendak memancing Calissa agar wanita itu emosi dan menunjukkan sikap aslinya supaya ia bisa lebih mudah menyelidiki Calissa.


Tak lama kemudian, bik Minah datang ke meja makan membawakan susu coklat seperti sebelumnya untuk Cahaya alias anak majikannya yang kini tengah menikmati sarapan bersama Calissa sang mama tirinya.


"Misi non, ini susu coklatnya..." ucap bik Minah.


"Iya, bik! Makasih ya, taruh situ aja dulu!" ucap Cahaya menunjuk ke arah meja dengan bibirnya.


"Siap, non! Kalo gitu bibik kembali ke dapur, ya?" ucap bik Minah.


"Iya bik..."


Cahaya langsung menghabiskan roti di tangannya yang hanya tersisa sedikit, kemudian ia pun menenggak susu buatan bik Minah dengan cepat walau susu itu masih terasa panas namun tidak sepanas sebelumnya yang sampai ia muntahkan kembali hingga terkena bajunya.


Calissa hanya diam saja menyaksikan Cahaya meminum susu seperti anak kecil, ia mengunyah rotinya dengan lambat sembari menunggu Cahaya menghabiskan susunya dan menanti apa yang akan dikatakan atau dilakukan oleh gadis itu padanya seperti sebelum-sebelumnya.


"Aahhh..."


"Udah gede kelakuan masih kayak anak kecil!" cibir Calissa sembari membuang muka.


"Biarin, daripada lu udah gede sukanya godain suami orang!" ucap Cahaya membalas cibiran Calissa.


Calissa terdiam seketika dengan perkataan yang keluar dari mulut Cahaya, ya memang ia sulit membalas perkataan Cahaya yang benar adanya dan selalu saja membuatnya terpojok.




Saat sampai di sekolah, lagi-lagi Cahaya harus dihadapkan pada kenyataan pahit karena disana sudah ada sosok pria yang ia benci dan selalu membuatnya jengkel siapa lagi kalau bukan Topan si anak pemilik sekolah.


"Morning, my baby!" ucap Topan yang langsung menghampiri Cahaya dan mencegatnya.


Cahaya pun terpaksa meladeni pria itu walau ia sangat malas, ia mendengus kesal sembari membenarkan tas di punggungnya dan memutar kedua bola mataku tanda kalau ia malas sekali harus bertemu dengan Topan disana.


"Lu ngapain sih disini, ha? Ngerusak pagi cerah gue aja tau gak!" bentak Cahaya.

__ADS_1


"Aduh, kok kamu bicaranya gitu sih sayang? Kan aku pacar kamu dan aku mau ketemu kamu, emang salah?" ucap Topan coba mendekati Cahaya.


"Jangan deket-deket lu...!!" bentak Cahaya.


"Iya iya, tapi kamu juga jangan menjauh dong! Udah kita biasa aja kayak gini, lagian kamu kenapa sih jutek mulu sama aku?" ucap Topan.


"Suka-suka gue lah!" ujar Cahaya ketus.


Cahaya membuang muka menatap ke arah lain karena ia malas harus menatap wajah pria menyebalkan itu, sedangkan Topan tersenyum sembari garuk-garuk hidung lalu maju mendekat dan coba meraih tangan Cahaya.


Akan tetapi, gadis itu sadar dan spontan menjauhkan tubuhnya serta menepis tangan Topan yang ingin menggenggam tangannya dengan kasar.


"Aduh, sakit tau sayang!" ucap Topan.


"Bodo! Suruh siapa mau macem-macem sama gue!" bentak Cahaya kesal.


"Siapa yang mau macem-macem sih, sayang? Orang aku cuma mau pegang tangan kamu, emangnya salah kalau seorang pacar genggam tangan pacarnya sendiri?" ucap Topan.


"Udah deh gausah ngada-ngada! Gue mau masuk kelas, lu mending pulang sana!" ujar Cahaya.


"Hahaha, bentar dulu aku mau bicara sama kamu! Ini soal sekolah juga, dan sedikit penting lah kalo menurut aku!" ucap Topan.


"Apa??" tanya Cahaya penasaran.


"Yuk, ikut aku!"


Topan dengan cepat merangkul Cahaya dan mendekapnya erat sehingga Cahaya tak sempat menghindar atau melawan, mereka pun melangkah menuju taman sekolah yang memang ada disana sebagai tempat penghijauan.


"Nah, duduk!" ucap Topan.


Cahaya manggut-manggut kemudian duduk disana diikuti oleh Topan yang juga duduk di sampingnya, mereka berdampingan namun agak berjarak lantaran Cahaya tidak mau jika mereka terlalu dekat apalagi rangkulan seperti tadi.


"Lu mau bicara apa?" tanya Cahaya.


"Begini... aku denger-denger kamu nolak ya buat jadi calon peserta ajang abang-none mewakili sekolah ini, kenapa begitu?" ucap Topan.


Cahaya tersentak kaget mendengar ucapan Topan, ia heran darimana Topan bisa mengetahui hal itu padahal ia sama sekali tidak memberitahunya pada Topan.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2