Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 134. Bentuk permintaan maaf Topan


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 133


...β€’...


...β€’...


Cahaya memutus telpon dan langsung membanting ponselnya itu dengan keras ke atas ranjang, ia mengerucutkan bibirnya sembari memeluk guling dan tampak bete, sepertinya Cahaya kecewa pada Topan yang tidak mengerti maksud darinya tadi.


"Ish, dasar cowok gak peka! Masa gak ada basa-basi nya gitu, ucapin kek selamat ulang tahun! Lah ini malah cuma bilang, wah keren ya!" gumam Cahaya.


Cahaya pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang masih dengan perasaan jengkelnya, ia menghadap ke samping menatap jendela sembari memeluk guling dan sedikit menggigitnya, ia menganggap guling itu adalah Topan yang membuatnya kesal.


Cahaya menoleh mengganti posisi tidurnya ke arah meja tempat ia menyimpan gelang pemberian Topan tadi, ia menatap gelang itu kemudian mengambilnya lalu memegangnya dengan satu tangan dan membuang gelang itu ke lantai.


"Gue kesel sama pembuat lu!" ujar Cahaya geram.


Tliingg...


Tiba-tiba ponselnya yang tertutup selimut di atas ranjang berdering pelan, Cahaya yang masih bisa mendengarnya pun mengambil ponsel itu lalu mengecek siapa yang mengirim pesan padanya, ia sangat berharap kalau itu dari Topan yang ingin mengucapkan selamat ulang tahun padanya.


Akan tetapi, keinginannya itu tidak tersampaikan. Ya karena ternyata itu bukanlah pesan dari Topan, melainkan grup kelompok sekolahnya yang mengingatkan ia serta para anggota kelompok lainnya untuk tidak lupa membawa barang masing-masing dalam kerja kelompok esok hari.


Sontak Cahaya baru ingat kalau ia harus membawa beberapa barang untuk kerja kelompok di sekolahnya besok, dan ia belum menyiapkan semua itu karena terlalu asyik merayakan pesta ulang tahun yang dibuat papanya tadi.


"Duh, gimana ini? Mana udah mau malam, gue harus cari kemana barang-barang itu?" ujar Cahaya bingung.


Cahaya yang kalut langsung bangkit dari tidurnya dan duduk di pinggir ranjang sembari garuk-garuk kepala memikirkan cara untuk mendapatkan semua barang yang ia butuhkan, karena sudah pasti di rumahnya tidak ada semua barang yang sedang ia cari untuk bahan kerja kelompok.


Akhirnya Cahaya memilih turun dari ranjang sembari menyibakkan selimutnya, lalu berjalan keluar kamar dengan membawa serta ponselnya yang mana disana ada catatan barang apa saja yang harus ia beli di toko nantinya, ya Cahaya akan pergi kesana bersama sang supir serta bodyguardnya tentu.

__ADS_1


Saat sampai di bawah, Cahaya langsung berpapasan dengan papanya serta Calissa yang tampak hendak pergi keluar rumah. Cahaya pun sekalian minta izin pada mereka untuk pergi sebentar membeli barang yang ia perlukan dalam kerja kelompok.


"Pah, mah. Cahaya izin keluar sebentar, ya?" ucap Cahaya dengan nada lembut.


"Mau kemana kamu?" tanya Hendra.


"Ini pah, aku baru inget harus beli kertas origami sama karton dan yang lain buat kerja kelompok besok. Boleh kan, pah?" jawab Cahaya.


"Ohh, ya boleh dong. Tapi, masa kamu mau keluar pake celana pendek begini?" ujar Hendra.


Mendengar perkataan papanya, membuat Cahaya reflek melihat ke bawah dan ternyata memang ia masih mengenakan celana pendek. Tentu Cahaya tampak malu di hadapan papanya serta Calissa, ia juga reflek menutupi bagian pahanya karena malu.


"Aku lupa pah, yaudah aku mau ke atas lagi deh. Tapi, papa izinin aku pergi kan?" ucap Cahaya.


"Iya boleh, tapi kamu perginya sama Tio dan Jaber ya!" ujar Hendra.


"Iya pah," ucap Cahaya.


"Yaudah, jangan lupa pake celana panjang sama baju kamu ditutup sedikit jangan terlalu terbuka gitu! Papa gak mau kamu jadi pusat perhatian lelaki mata keranjang di luaran sana!" ucap Hendra.


"Iya pah, siap!" ucap Cahaya.


β€’


β€’


Malam telah tiba dan bintang-bintang di langit pun mulai bermunculan memancarkan sinarnya bersama sang rembulan yang juga ikut menemani mereka di sepanjang malam ini.


Cahaya sudah membeli semua barang yang ia butuhkan itu di toko, kini ia bersama dua bodyguard sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah setelah semua keperluan itu sudah dibeli Cahaya.


Akan tetapi, mereka terjebak macet cukup parah dan panjang bahkan nyaris tak bergerak. Tentu saja Cahaya merasa geram dan bete karena harus berlama-lama di dalam mobil, ia terus saja protes pada dua bodyguardnya itu.


"Pak, ini kapan kita sampe rumahnya sih? Perasaan daritadi diem disini aja deh, mau sampe kapan pak?" tanya Cahaya kesal.


"Maaf ya non, tapi kita juga gak bisa apa-apa. Itu di depan banyak banget mobil, kalau kita paksa buat maju yang ada nabrak." jawab Tio.


"Haish, nyebelin deh! Perasaan biasanya gak macet kayak gini walaupun malam, aneh!" ujar Cahaya.

__ADS_1


"Itu dia non, kayaknya sih ada sesuatu deh di depan sana yang bikin macet. Tuh lihat aja banyak orang yang melipir ke pinggir terus turun dari kendaraan mereka, kayak lagi lihatin sesuatu!" ucap Tio.


"Iya juga, tapi emang ada apa sih, pak?" tanya Cahaya penasaran sembari celingak-celinguk.


"Belum kelihatan non, mungkin agak depanan sedikit baru bisa dilihat." jawab Tio.


Setelah mobil mereka berhasil melaju dengan perlahan ke depan, seketika Tio dan Jaber terkejut saat melihat banyak sekali papan baliho yang terpajang di sepanjang jalan itu, mereka pun segera melaporkan itu pada Cahaya.


"Non, itu kan fotonya non Cahaya." ujar Tio.


"Hah?"


Cahaya terkejut lalu coba melihat sendiri melalui kaca mobilnya, ia tambah syok saat melihat fotonya terpampang di sebuah baliho besar dan cukup banyak dipasang disana.


"Selamat ulang tahun, Cahaya. Semoga panjang umur dan sehat selalu, selamat menua ya sayangku!" gumam Cahaya di dalam hati saat membaca isi tulisan pada baliho tersebut.


Tak lama kemudian, ponselnya berdering dan ada telpon masuk dari nomor Topan. Cahaya pun segera mengangkatnya karena ia juga penasaran dengan baliho tersebut, ia mempunyai pikiran kalau mungkin saja semua ini adalah perbuatan nekat Topan.


πŸ“ž"Halo!" ujar Cahaya terdengar emosi.


πŸ“ž"Hey, cantik. Selamat ulang tahun yang ke 18, ya sayangku! Semoga kamu diberi kesehatan selalu dan rezeki kamu juga lancar terus, seperti pipa rucika mengalir sampai jauh...." ucap Topan.


πŸ“ž"Jadi bener, ini semua ulah lu? Lu yang pasang baliho itu di sepanjang jalan ke rumah gue, iya?" tanya Cahaya memastikan.


πŸ“ž"Menurut kamu? Maaf ya sayang, tadi aku udah bikin kamu ngambek karena aku gak peka. Anggap aja semua ini adalah bentuk permintaan maaf dari aku ke kamu, kamu mau kan maafin aku?" ucap Topan.


πŸ“ž"Apaan sih? Lu norak banget tau gak! Copot sekarang semua baliho itu, gue malu!" ujar Cahaya.


πŸ“ž"Gapapa sayang, kamu lihat sendiri kan? Banyak orang yang sampe terharu loh, bahkan mereka pada videoin dan foto baliho itu." ucap Topan.


πŸ“ž"Haish, dasar nyebelin!" ujar Cahaya.


Tuuutttt....


Cahaya memutus telponnya dengan cepat, ia berpura-pura kesal dan geram pada Topan. Namun, di dalam hatinya saat ini sedang berbunga-bunga karena diperlukan begitu romantis oleh pria tersebut pada hari ulang tahunnya ini.


"Gue gak nyangka...."

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2