
...HALO GUYS!...
...WELCOME TO MY NEW STORY!...
..."TOPAN & CAHAYA"...
...~~~...
#TOPAN&CAHAYA EPS. 100
...•...
...•...
Pemotor itu bangkit secara perlahan sembari membuka helmnya lalu menatap sosok wanita yang kini berdiri di hadapannya, ia terlihat cemas serta ketakutan karena sudah menjadi penyebab tabrakan ini sekaligus membuat orang terluka.
Sementara Eun-Kyung tampak syok saat mengetahui bahwa pemotor itu adalah seorang perempuan cantik berambut panjang, sebelumnya ia memang mengira pemotor itu adalah laki-laki karena melihat jenis motor yang digunakannya.
"Kamu perempuan?" tanya Eun-Kyung heran.
Bukannya merasa iba karena tahu pemotor itu wanita, justru Eun-Kyung malah semakin emosi lantaran karenanya ia jadi terlambat pulang ke rumah menemui Topan putranya yang sekarang sedang ia khawatirkan kondisinya.
"Kalo emang kamu gak bisa naik motor, jangan maksa! Kamu sadar gak sih, kamu tuh ngebahayain pengendara lain?" bentak Eun-Kyung.
"Maaf Bu..."
"Maaf maaf, jaman sekarang gampang banget ya tinggal bilang maaf terus masalah selesai! Saya gak mau tau, kamu harus tanggung jawab!" ujar Eun-Kyung.
"Iya Bu, saya pasti tanggung jawab kok!"
Eun-Kyung yang emosi hanya buang muka sembari melipat kedua tangannya di dada, sedangkan wanita itu berupaya mengambil dompetnya untuk memberikan uang pada Eun-Kyung sebagai bentuk tanggung jawab karena ia telah lalai tadi.
"Ini Bu..." wanita itu memberi uang pada Eun-Kyung.
"Maksudnya apa ini? Kamu pikir saya orang miskin yang gampang disogok dengan uang, ha?" ujar Eun-Kyung malah marah-marah.
"Tapi, tadi kan ibu bilang saya harus tanggung jawab!"
__ADS_1
"Iya, kamu ikut saya ke kantor polisi buat jelasin semua ini dan tanggung jawab atas perbuatan kamu yang bawa motor gak bener!" ujar Eun-Kyung.
Wanita itu geleng-geleng kepala ketakutan karena Eun-Kyung akan melaporkannya ke polisi, ia memohon pada Eun-Kyung agar tidak melakukan itu dan mau memaafkan dirinya karena tentu ia tidak mau masuk penjara.
"Bu, saya mohon jangan bawa masalah ini ke jalur hukum!" ucapnya memelas.
"Halah, kamu jangan pikir saya akan kasihan ya sama kamu karena kamu luka-luka begitu! Gimanapun juga kamu yang salah dan kamu harus tanggung jawab karena bikin saya syok, kamu juga udah bikin putri saya terluka disana!" ucap Eun-Kyung.
"Iya Bu saya tau saya salah, tapi tolong jangan bawa saya ke kantor polisi...!!" ucapnya.
"Saya gak perduli, pokoknya saya tetap akan bawa kamu ke kantor polisi buat selesaikan masalah ini!" ucap Eun-Kyung langsung maju ke dekat wanita itu dan menyeretnya.
"Awwhh, sakit Bu!" wanita itu merintih.
Wulan yang melihatnya langsung mendekati Eun-Kyung dan berusaha membujuk Eun-Kyung agar tak bertindak kasar pada pemotor itu, biar bagaimanapun sebagai sesama wanita ia merasa tidak tega pada pemotor tersebut.
"Tante, tante jangan kayak gini dong!" ucap Wulan.
"Kamu ngapain pake turun segala, Wulan? Itu kening kamu berdarah loh gara-gara wanita ini, dia harus tante bawa ke kantor polisi!" ujar Eun-Kyung.
"Jangan tante, kasihan dia! Tante kan lihat sendiri dia juga terluka parah, lagian ini bukan cuma kesalahan dia aja kok tante! Aku kan juga terlalu kencang bawa mobilnya tadi, jadi udah lah kita selesain ini secara kekeluargaan aja tante...!!" ucap Wulan.
"Iya aku tau tante, tapi gak harus dengan cara bawa dia ke polisi! Kan kita bisa bicarakan baik-baik, kasihan loh dia tante kayaknya dia masih anak sekolah!" ucap Wulan.
Eun-Kyung melirik ke arah wanita yang ia cengkram dan melihat kalau wanita itu memang masih mengenakan seragam sekolah, namun ia tetap tidak luluh karena sudah terlanjur emosi pada wanita itu yang membuatnya hampir jantungan serta gagal bertemu Topan di rumahnya.
"Udah ya tante, mending kita ke pinggir dulu sekalian obatin lukanya!" ucap Wulan.
Akhirnya Eun-Kyung mau menurut pada Wulan dan tidak jadi membawa wanita itu ke kantor polisi, justru ia serta Wulan membawa wanita tersebut ke pinggir dan mengobatinya dengan obat merah sembari berbincang sejenak mengenai identitas wanita itu.
...•••...
Disisi lain, seorang pria tengah menanti kabar seseorang yang dirawat di rumah sakit, ia duduk sembari memegang hidungnya dan sesekali melirik ke arah pintu ruangan di sampingnya menunggu dokter keluar untuk menyampaikan info.
Ceklek...
Akhirnya pintu ruangan itu terbuka dan seorang dokter pria keluar dari dalam sana menghampiri sosok lelaki yang sedari tadi menunggu, mereka pun berbincang disana mengenai kondisi pasien yang tengah dirawat itu.
__ADS_1
"Bagaimana dok, dia baik-baik aja kan?" tanya pria itu tampak sangat panik.
"Anda tidak perlu risau! Alhamdulillah luka di sekujur tubuh pasien bisa kami obati, untungnya juga anda tepat waktu membawa pasien kemari sehingga pasien bisa segera mendapat pengobatan!" jawab dokter dengan santai sambil tersenyum.
"Alhamdulillah... terus apa sekarang pasien sudah sadar, dok?" tanya pria itu.
"Untuk saat ini belum, tapi mungkin sebentar lagi pasien akan segera sadar!" jawab dokter.
"Baik, dok! Terimakasih sudah mengobati teman saya!" ucap pria itu tersenyum.
"Sama-sama, itu sudah tugas seorang dokter!" ucap dokter. "Kalau begitu, saya izin pamit kembali ke ruangan saya!" sambungnya.
"Oh iya baik dok, silahkan!"
"Permisi..."
Dokter itu pun pergi melewati pria itu untuk kembali ke ruangannya yang ada disana, sedangkan pria itu duduk disana dan tampak lebih tenang setelah mengetahui kondisi pasien yang baik-baik saja.
"Syukurlah, lu gak kenapa-napa bro!" ucapnya.
❤️
Sementara Hendra merasa cemas pada putrinya yakni Cahaya yang pergi dari rumah karena bertengkar dengannya tadi, ia khawatir kalau Cahaya akan kenapa-napa dan tidak mau kembali pulang ke rumahnya karena marah.
"Mas, kamu gausah terlalu khawatir kayak gitu! Kan ini bukan kali pertama Cahaya kabur, waktu itu dia juga pernah kabur kan? Tapi, malamnya dia langsung balik lagi kesini..." ucap Calissa.
"Iya sih, tapi tetep aja perasaan aku itu gak tenang mikirin dia di luar sana! Aku takut dia kenapa-napa atau ada orang yang jahatin dia, harusnya dia gak kabur kayak gini!" ucap Hendra.
"Udah aku bilang mas, ini semua gara-gara pengaruh buruk cowok itu! Cahaya jadi kayak gini ya karena deket sama cowok yang namanya Topan itu, mereka emang harus segera dipisahin mas! Kalau enggak, Cahaya pasti bakal tambah nakal!" ujar Calissa.
"Kamu benar, Lisa! Aku juga gak habis pikir kenapa Cahaya bisa berteman dengan lelaki seperti itu, walau aku belum pernah lihat secara langsung seperti apa bentuk laki-laki itu!" ucap Hendra.
"Kalo emang kamu mau tahu secara langsung mas, mending kamu sewa orang deh buat mata-matain Cahaya selama di sekolah! Karena pasti mereka deket banget disana, terus gak mungkin juga Cahaya bakal berani bawa Topan kesini lagi karena dia udah tau kamu pasti bakal marah!" ucap Calissa.
"Ya, benar kamu sayang! Aku akan hubungi seseorang untuk memata-matai Cahaya, tapi asal Cahaya kembali malam ini..." ucap Hendra.
Calissa tersenyum sembari mengusap dada suaminya bermaksud menenangkan hati Hendra, namun disisi lain ia juga senang karena suaminya itu berhasil dengan mudah ia pengaruhi untuk memisahkan Cahaya dari Topan.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...