Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 177. Pergi dari rumah


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 176


...•...


...•...


Setelah terjadi perdebatan antara Hendra dan Calissa sebelumnya, kini Hendra terpaksa mengajak putrinya untuk keluar dari rumah itu karena memang sudah tak ingin tinggal bersama Calissa. Hendra tampak sangat menyesal dengan semua perbuatan yang telah ia lakukan selama ini, seharusnya ia tidak menikahi Calissa dan tetap setia pada istrinya.


Cahaya pun telah siap membawa barang-barang miliknya keluar dari dalam rumah itu, ia dibantu juga oleh Mawar dan Melani yang turut prihatin melihat kondisi keluarga Cahaya saat ini. Namun, Cahaya justru senang karena sekarang ia memiliki papa yang sudah kembali ke jalan yang benar dan tidak lagi tersesat pada bualan dari Calissa.


"Pah, kita mau kemana sekarang?" tanya Cahaya menatap wajah papanya. Ia sungguh merasa kasihan melihat papanya bersedih seperti itu.


Hendra bahkan tak mampu menjawab pertanyaan putrinya itu, ia hanya melirik sekilas lalu kembali merunduk bingung memikirkan rencana selanjutnya yang akan ia lakukan dengan Cahaya. Hendra sebenarnya kasihan pada Cahaya karena harus ikut sengsara akibat perbuatannya, sungguh ia ingin meminta maaf dan bersimpuh di hadapan Cahaya.


"Aya, gimana kalo lu tinggal di rumah gue aja? Sama om Hendra juga sekalian, kebetulan disana ada kamar kosong kok." ucap Mawar menawarkan bantuan pada Cahaya dan Hendra.


"Eee gimana, pah?" tanya Cahaya pada papanya.


"Terimakasih, Mawar! Tapi, om kayaknya bakal bawa Cahaya ke apartemen dan tinggal sementara disana sampai kita bisa dapat rumah baru. Om gak mau lah ngerepotin kamu dan orang tua kamu, sekali lagi makasih ya!" jawab Hendra.


"Umm, iya om. Tapi, kalau om sama Cahaya butuh bantuan tinggal bilang aku aja ya!" ucap Mawar.


"Iya tuh, bilang aku juga!" sahut Melani.

__ADS_1


"Iya, terimakasih atas kebaikan hati kalian berdua!" ucap Hendra sambil tersenyum.


"Thanks, guys!" ucap Cahaya.


Hendra kembali menoleh ke belakang, menatap rumah yang penuh kenangan itu. Ia pun menghela nafas kasarnya ketika mengingat banyak sekali momen indah yang ia dapatkan di rumah itu bersama almarhumah istri dan juga putrinya yakni, Cahaya.


Namun, Hendra merasa lega karena ia dapat membongkar kebusukan Calissa sebelum terlambat dan masih bisa merubah semuanya. Tentu saja jika terlalu lama ia biarkan hal ini terjadi, bukan tidak mungkin ia bisa kehilangan lebih banyak lagi harta yang ia miliki saat ini.


"Pah, ayo kita pergi dari sini!" ucap Cahaya.


"Iya sayang, kamu masuk duluan ya ke dalam mobil! Nanti papa nyusul, papa masih mau melihat rumah ini untuk yang terakhir kalinya! Karena banyak sekali kenangan yang papa dapatkan disini," ucap Hendra.


"Bener sih, pah. Dari lahir sampai besar kan aku tinggal disini, aku juga sedih pah." ucap Cahaya.


Akhirnya Hendra merangkul putrinya itu sembari menitikkan air mata kesedihan, mereka sama-sama menatap ke arah rumah yang penuh kenangan itu. Tak ada siapapun yang bisa dengan mudah melupakan semua kenangan manis di masa lalunya, terlebih orang itu baru membuat sebuah kesalahan yang sangat ia sesali di dalam hidupnya.


Sementara Mawar dan Melani ikut merasa terharu melihat Cahaya dan papanya saling merangkul dan menangis di depan mereka, ya kedua gadis itu bahkan sampai menangis juga saat melihatnya karena tidak tega melihat sahabatnya menangis bersama papanya di depan mereka, siapa yang bisa tidak ikut menangis jika melihat itu secara langsung?


"Iya pah..." ucap Cahaya terisak.


Cahaya dengan bantuan teman-temannya itu, pergi menuju mobil membawa barang-barang miliknya dan memasukkan itu ke dalam bagasi. Ia juga dibantu oleh pak Hadi selaku supir di rumahnya, ya walau pak Hadi juga tidak mungkin diajak ikut bersama mereka pergi dari rumah itu menuju apartemen.


Tio dan Jaber selaku bodyguard Cahaya, maju menghampiri Hendra untuk meminta penjelasan terkait masa depan mereka. Ya tentu mereka tak ingin kehilangan pekerjaan itu, karena siapapun pastinya menginginkan uang untuk dapat menyambung hidup di kota yang keras ini.


"Permisi pak, nasib kita nantinya bagaimana ya? Apa kita ikut dengan non Aya?" tanya Tio.


"Maaf! Kalian tanyakan saja itu pada Calissa, saya ataupun Cahaya tidak butuh pengawal." jawab Hendra dengan dingin dan singkat.


Setelahnya, Hendra pun berbalik badan lalu berjalan pergi meninggalkan Tio dan Jaber untuk menuju mobilnya di depan sana. Hendra membawa koper berisi barang-barang miliknya itu, ia berjalan dengan lemas karena siapapun tak senang jika harus pergi meninggalkan rumah yang memiliki kenangan itu.


"Tuan, non Aya...!!"

__ADS_1


Tiba-tiba saja bik Minah muncul dari dalam rumah itu dan berlari menghampiri Cahaya serta Hendra selaku majikannya, ia tampak sangat sedih karena akan berpisah dengan mereka setelah bekerja cukup lama bersama kedua orang itu.


"Bik Minah?" ucap Cahaya menoleh.


"Non, non Aya sama tuan mau pada pergi kemana sih? Kenapa gak tetap disini aja, tinggal disini sama bibik?" tanya bik Minah sambil menangis.


"Eee maaf, bik! Tapi, aku sama papa udah gak bisa tinggal disini lagi! Karena rumah ini bukan milik kita lagi, jadi kita juga gak bisa sama bibik lagi disini!" jawab Cahaya menahan kesedihannya.


"Tapi, bibik gak mau jauh dari non Aya! Bibik gak bisa, non!" ucap bik Minah.


"Iya bik, aku juga sama." ucap Cahaya.


Cahaya tersenyum kemudian maju dan mendekap tubuh bibiknya dengan erat, ia meneteskan air mata di dalam tubuh sang bibik. Begitupun dengan bik Minah, ia sangat amat sedih melihat majikannya akan pergi dari sana, padahal mereka sudah bersama-sama sejak lama.


"Bibik jangan sedih ya! Kalau ada waktu nanti, aku pasti bakal temuin bibik kok!" ucap Cahaya terisak.


Setelahnya, Cahaya pun melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya itu. Sungguh sedih baginya akan berpisah dengan bik Minah yang sudah cukup lama mengasuhnya, apalagi ia terpaksa pergi karena ulah dari Calissa si wanita yang sudah menjebak Hendra untuk mau mengubah nama pemilik rumah menjadi atas namanya.


Hendra turut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh putrinya itu, biar bagaimanapun Hendra juga belum terima begitu saja harus meninggalkan rumah yang penuh kenangan ini. Namun, ia lebih memilih pergi saja daripada harus terus bersama Calissa yang sudah menyakitinya selama ini.


"Cahaya, yuk kita berangkat sekarang!" ucap Hendra.


"Iya pah..." ucap Cahaya mengangguk.


"Bik, aku pergi dulu ya? Bibik harus jaga kesehatan!" ucap Cahaya pada bik Minah.


"Iya non, non Aya juga ya!" ucap bik Minah yang tak kuasa menahan air matanya.


Cahaya dan Hendra pun pergi meninggalkan rumah itu untuk menuju apartemen milik Hendra yang berada tak jauh dari sana, keduanya masuk ke dalam mobil dan terus melambaikan tangan ke arah bik Minah serta para pekerja yang ada disana, termasuk Mawar dan Melani yang masih disana.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2