
...HALO GUYS!...
...WELCOME TO MY NEW STORY!...
..."TOPAN & CAHAYA"...
...~~~...
#TOPAN&CAHAYA EPS. 71
...•...
...•...
Topan yang kalut dan khawatir pada kondisi Cahaya mau tidak mau langsung pergi menyusul ke rumah gadis itu untuk menghiburnya sekaligus menenangkan hatinya, ya Topan tidak mau hubungannya dengan Senja harus berakhir begitu saja tanpa keterangan yang jelas hanya karena mereka tahu identitas masing-masing saat ini.
Topan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah Cahaya dengan perasaan tidak tenang, pikirannya terus mengarah pada kejadian tadi saat ia tak sengaja mengetahui jika Cahaya adalah Senja dan begitu juga sebaliknya Cahaya mengetahui bahwa Topan adalah Badai yang selama ini berhubungan dengannya melalui aplikasi.
"Gua harus bisa bujuk Cahaya, gue tahu selama ini gue gak suka sama dia dan sering ribut! Tapi, untuk saat ini semuanya beda karena gue bisa ngerasa nyaman begitu mengenali Senja!" ujar Topan.
Karena dianggap terlalu lama, pria itu menambah lagi kecepatan mobilnya hingga sudah masuk diangka 120 km per jam yang tentunya lumayan kencang coba aja kalian nyetir di kecepatan segitu kalo gak nabrak aku acungin jempol buat kalian👍
Selang beberapa menit, akhirnya Topan alias Badai telah sampai di rumah Cahaya dengan kondisi rambut acak-acakan serta baju yang dikenakannya lumayan berantakan akibat kekalutan ia memikirkan Cahaya yang sepertinya marah dan tak ingin lagi menemuinya.
Ya bahkan Cahaya sampai menghapus aplikasi penjemput jodoh tersebut setelah mengetahui semuanya, tentu Topan sangat sedih karena tak ingin semuanya jadi seperti ini dan hubungannya dengan Senja malah menjauh bukannya mendekat.
"Pak, misi pak! Tolong bukain pintunya dong, pak!" teriak Topan sembari mengetuk-ngetuk gembok ke pagar dengan keras.
__ADS_1
Tak lama kemudian, seorang satpam disana keluar menghampiri Topan dengan raut wajah heran dan penasaran karena belum pernah melihat sosok pria tersebut sebelumnya.
"Eh, kamu siapa? Dateng-dateng ke rumah orang minta dibukain, kalo mau maling yang bener atuh!" ujar pak Ahmad.
"Saya bukan mau maling, pak! Saya temannya Cahaya, saya mau ketemu sama dia!" ucap Topan.
"Ohh temennya non Aya, duh tapi daritadi non Aya belum pulang dari sekolah! Biasanya sih kalo lama pulang begini dia lagi ekskul atau kerja kelompok, coba aja ditelpon atuh!" ujar pak Ahmad.
"Serius pak belum pulang? Bapak yakin?" tanya Topan dengan raut tak percaya.
"Yeh dibilanginnya gak percaya, ya yakin atuh orang daritadi saya belum keluar bukain gembok! Kalo non Aya sudah pulang, pasti ini pagar gak bakal saya gembok kayak gini mas!" jawab pak Ahmad.
Topan pun semakin panik kebingungan karena Cahaya tidak ada di rumahnya, ia berteriak meluapkan emosi sembari menjambak rambutnya sendiri di hadapan pak Ahmad yang tercengang karena tak tahu mengapa pria tersebut sampai berteriak-teriak seperti itu disana.
"Eh eh eh, mas kalo mau teriak jangan disini! Sana agak jauhan dikit, kalo disini nanti ganggu!" ujar pak Ahmad mengingatkan Topan.
"Ganggu siapa, pak?" tanya Topan heran.
Akhirnya Topan pun bersandar di badan mobilnya sembari mengusap wajahnya kasar, ia benar-benar bingung harus mencari Cahaya kemana lagi saat ini setelah gadis itu ternyata belum pulang ke rumah dan kemungkinan sedang menggalau di luar sana tetapi tak tahu dimana.
"Gue harus kemana, ya? Duh Cahaya, mana nomer gue juga diblok sama dia...." gumam Topan gusar.
...•••...
Disisi lain, rupanya Cahaya tengah duduk nangkring di pinggir tebing curam yang lumayan tinggi dan kalau jatuh ke bawah badan bisa ancur remuk tapi gak meninggal paling cuma pindah alam pas bangun atau buka mata nantinya.
Ya dengan santainya Cahaya mengayunkan kakinya ke depan dan ke belakang secara bergantian sembari melamun mengingat momen-momen saat ia bertemu Badai di aplikasi itu, sekarang semuanya hanya tinggal kenangan karena ia sudah menghapus aplikasinya sekaligus menyesal telah pernah memakai aplikasi tersebut.
__ADS_1
Tak ada lagi kini sosok Badai yang bisa menenangkan hatinya dikala sedih seperti ini, karena ia sudah tahu semuanya termasuk identitas asli Badai yang tak lain adalah Topan sang pria yang sangat dibenci olehnya. Sungguh ia tidak akan pernah mau bertemu kembali dengan Topan walau pria itu adalah Badai, baginya Topan ya Topan dan sangat jauh berbeda dengan Badai.
Hembusan angin mengirama di sekujur tubuhnya, membuat rambut panjang yang terurai kini berterbangan bahkan menutupi wajahnya. Namun, tak sedikitpun Cahaya bergerak untuk menyingkirkan rambut itu karena ia masih fokus melamun untuk coba menerima kenyataan yang ada saat ini.
"Gue terlalu berharap lebih sama aplikasi, sampai gue lupa kalau gak ada di dunia ini yang bisa bikin orang bahagia selain diri sendiri!" batin Cahaya.
Tiba-tiba ada sepasang kaki berpijak di samping tubuhnya, tentu Cahaya terkejut karena sebelumnya disana tak ada orang sama sekali dan hanya dialah yang berada disana sendirian menikmati indahnya alam dengan pemandangan dari atas sana.
Sontak Cahaya menoleh lalu perlahan mendongakkan kepalanya memastikan kalau itu bukanlah Topan, dan ternyata benar dia memang bukan Topan atau Badai sekalipun karena pria itu adalah seseorang yang pernah menolongnya dulu.
Dengan santainya pria tersebut duduk di samping Cahaya sembari menjuntaikan kakinya ke bawah sama seperti yang dilakukan Cahaya, asap rokok keluar dari mulutnya saat ia menariknya keluar dan menyelipkan di sela-sela jari.
"Kalo ngerokok jangan disini, ngerusak udara aja!" cibir Cahaya tanpa melirik ke arah pria itu.
Entah apa alasannya tiba-tiba pria itu langsung mematikan rokoknya dan membuangnya ke tempat sampah setelah Cahaya mengatakan itu, tentu Cahaya heran tetapi juga senang karena pria tersebut mau mendengar ucapannya.
"Lagi ngapain disini sendirian?" tanya pria itu menatap wajah Cahaya dari samping.
"Bukan urusan lu! Gue mau disini sendirian atau hajatan disini juga suka-suka gue!" jawab Cahaya ketus masih tetap fokus menatap ke depan.
Pria itu menyimpulkan senyum tipis di wajah sembari mengalihkan pandangan ke arah bawah tebing tersebut yang berisi pepohonan hutan lebat, sesekali ia juga menoleh ke belakang yang memang sepi dan hanya diisi oleh sebuah motor milik Cahaya.
"Canggih juga lu bisa naik motor begituan, gue aja yang laki sampe kalah!" ujar pria itu.
"Udah hobi, jadi gausah lebay!" ucap Cahaya masih saja ketus tanpa menoleh sedikitpun.
"Hahaha, emang gak berubah ya lu masih sama seperti dulu! Tapi kali ini lu gak kelaparan lagi kan?" ujar pria itu sambil tertawa kecil mengingat momen yang telah berlalu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...