
...HALO GUYS!...
...WELCOME TO MY NEW STORY!...
..."TOPAN & CAHAYA"...
...~~~...
#TOPAN&CAHAYA EPS. 144
...•...
...•...
Keesokan harinya, Cahaya kembali menjalani rutinitas seperti biasanya yakni pergi ke sekolah dengan diantar oleh dua bodyguardnya.
Cahaya lebih dulu sarapan bersama papanya serta Calissa di meja makan.
"Aya!" ucap Hendra menyapa putrinya di sela-sela waktu makan.
Cahaya yang baru hendak makan, langsung mengurungkan niatnya karena sang papa memanggilnya.
"Iya, pah. Kenapa?" tanya Cahaya bingung.
"Apa kamu sekarang masih ketemu sama si Topan itu?" ucap Hendra bertanya pada putrinya.
Cahaya tampak bingung menjawabnya.
"Eee jujur aja sih, pah. Aku masih suka ketemu sama Topan di sekolah, tapi itu juga gak sengaja! Soalnya kan Topan pemilik sekolah itu, pah." jawab Cahaya.
"Apa? Jadi kamu bersekolah di sekolah milik pria gak bener itu? Kenapa kamu baru kasih tau papa sekarang sih, sayang?" tanya Hendra langsung emosi mendengar ucapan Cahaya barusan.
"Aku juga baru tau belakangan ini kok, pah. Sebelumnya aku gak ngira juga kalo pemilik sekolah itu ternyata papanya Topan," jawab Cahaya.
Hendra terdiam karena kesal.
Tiba-tiba Calissa langsung berbicara, "Wah kalo begitu sih kita harus bertindak cepat buat pindahin Cahaya ke luar negeri, mas! Karena bisa aja Topan makin deket sama Cahaya kalau Cahaya ada di sekolah!" ucap Calissa.
"Mah, mama jangan pengaruhin papa dong! Aku gak mau ya sekolah di luar negeri, lagian aku udah betah disini!" ucap Cahaya tegas.
"Apa sih alasan kamu betah disini? Masih mau dekat juga sama si Topan itu? Ayolah Cahaya, aku ini pengen bantu kamu loh supaya kamu bisa jadi perempuan yang lebih baik! Karena Topan itu udah bawa pengaruh buruk buat kamu, dia bukan laki-laki yang baik Cahaya!" ucap Calissa.
"Benar yang dikatakan mama kamu barusan, sebaiknya kamu segera keluar dari sekolah itu demi kebaikan kamu!" timpal Hendra.
"Apa, pah? Aku gak bisa dong keluar gitu aja! Aku udah kelas dua loh, sebentar lagi mau naik kelas tiga dan lulus! Kalo aku pindah sekolah, artinya aku bakal ketinggalan banyak pelajaran!" ucap Cahaya.
__ADS_1
"Gapapa, itu lebih baik daripada kamu tetap bersekolah disana!" ucap Hendra.
"Tapi pah, aku gak mau pindah sekolah! Aku udah betah sekolah disana, karena banyak teman-teman aku disana! Papa pokoknya gak bisa paksa aku buat pindah, titik!" ucap Cahaya menolak.
Cahaya kesal dan tidak jadi sarapan disana bersama papanya serta Calissa, ia memilih pergi agar tak lagi terbawa emosi.
"Hey, Cahaya!" teriak Hendra berusaha menghentikan putrinya yang ingin pergi.
Namun, Cahaya tak menghiraukan panggilan papanya dan lebih memilih pergi keluar dengan tergesa-gesa karena emosi.
Calissa berusaha menenangkan suaminya.
"Mas, kamu sabar ya! Cahaya itu emang keras kepala sekarang, jadi kamu harus banyak-banyak sabar untuk hadapin dia! Kamu juga gak boleh keras sama dia, karena dia pasti akan lebih keras juga sama kamu kayak barusan!" ucap Calissa.
"Iya kamu benar, ini pasti karena pengaruh Topan! Padahal dulu Cahaya itu gadis yang penurut, mana berani dia bersikap begitu sama mas?" ucap Hendra.
"Yaudah, kita makan yuk mas!" ucap Calissa.
"Iya, makasih sayang!" ucap Hendra tersenyum sembari mengelus tangan istrinya.
Mereka pun kembali duduk dan melanjutkan sarapan disana tanpa Cahaya.
Hendra sebenarnya sangat kesal pada Cahaya, ia tidak menyangka putrinya akan membantah semua perkataannya dan lebih membela Topan serta tidak mau pindah dari sekolahnya yang sekarang.
"Apa yang sudah dilakukan laki-laki itu pada putri saya?" gumam Hendra dalam hati.
•
•
"Eh non, mau kemana non? Kan mobilnya disini, yuk biar kita berdua yang anter ke sekolah!" ucap Tio coba mengejar Cahaya yang pergi begitu saja dan meminta Cahaya untuk pergi bersamanya.
"Iya non bener, non perginya sama kita aja!" sahut Jaber ikut membujuk nonanya.
"Enggak, gue pergi sendiri aja! Gue gak mau dianterin kalian lagi atau dijemput sama kalian! Sekarang berhenti ngikutin gue, karena gue mau naik angkot!" ucap Cahaya mengusir dua bodyguardnya.
"Waduh, maaf non gak bisa! Kita pasti bakal dimarahin sama tuan alias papanya non Aya, udah non Aya berangkat bareng kita aja!" ucap Tio.
"Iya non, naik angkot itu gak enak loh!" sahut Jaber.
"Haish, gue bilang gue gak mau! Udah ah sana pergi dan jangan ikutin gue terus!" bentak Cahaya masih tetap kekeuh tidak ingin diantar mereka.
Cahaya pun meminta pada satpamnya untuk membukakan pintu pagar.
"Pak, tolong bukain ya!" ucap Cahaya.
__ADS_1
"Baik, non!"
Pak Ahmad selaku satpam disana langsung membuka gerbang sesuai perintah Cahaya.
Tentu Cahaya langsung keluar dari sana.
Sementara Tio dan Jaber tampak kebingungan, mereka saling pandang lalu hanya bisa garuk-garuk kepala menyaksikan Cahaya pergi menjauh.
"Eh pak Tio, pak Jaber. Kenapa gak dikejar atuh non Aya nya?" ucap pak Ahmad.
"Mau kejar gimana, pak Ahmad? Tadi non Aya bilang kita gak boleh ngikutin dia lagi! Soalnya dia mau berangkat ke sekolah paket angkot, kalo kita kejar berarti kita ikut naik angkot dong?" ujar Tio.
"Ya enggak lah, kalian mah kejarnya pake mobil atuh! Paksa non Aya buat naik nanti pas di jalan!" ucap pak Ahmad memberi usul.
"Iya juga ya, yaudah yuk Ber!" ujar Tio.
"Iya!"
Jaber bergegas menuju mobil untuk membawa mobil yang sudah dipanaskan sebelumnya, sementara Tio menunggu di gerbang sembari membantu pak Ahmad melebarkan pintu gerbang agar mobil bisa keluar dengan mudah.
Saat mobilnya muncul, Tio langsung masuk ke dalam mobil tersebut.
"Ayo langsung gas!" ujar Tio.
"Siap!"
Jaber segera menancap gas mengejar Cahaya dengan mobilnya untuk berusaha membujuk gadis itu agar mau diantar oleh mereka.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk dapat menemukan Cahaya, karena gadis itu memang masih berada di sekitaran komplek.
"Non, ayo masuk non!" ucap Tio meminta Cahaya masuk ke dalam mobil.
"Hadeh, kalian ngapain lagi sih? Kan gue udah bilang kalo gue gak mau dianterin kalian, gue tuh mau naik angkot aja!" Cahaya masih saja kekeuh menolak ajakan Tio dan Jaber.
"Non, ayolah naik! Ke sekolahnya bareng kita aja! Kita gak mau kena omel tuan!" ucap Tio.
"Iya non, tolong bantu kita juga!" sahut Jaber.
"Gue bilang gak mau ya gak mau! Kalo kalian dimarahin papa itu derita kalian, jangan salahin gue lah! Udah ah awas jangan ikutin gue lagi!" ucap Cahaya tegas.
Akhirnya Tio dan Jaber menyerah untuk membujuk Cahaya yang keras kepala itu.
Kedua bodyguard itu pun berdiam saja di dalam mobil melihat Cahaya yang berjalan pergi.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...