Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 12. Tantangan


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 11


...•...


...•...


Cahaya sangat bersedih atas kepergian mamanya yang cukup cepat itu, bahkan ia tak sempat berbicara pada sang mama untuk yang terakhir kalinya karena mengabaikan telpon dari papanya kemarin.


Cahaya benar-benar menyesal telah menyia-nyiakan kesempatan untuk dapat berbicara dengan sang mama kemarin, ia malah lebih mementingkan sekolah daripada mamanya yang sedang sekarat.


Sampai orang-orang pergi dari pemakaman, Cahaya masih saja menangis memeluk nisan mamanya ditemani oleh papanya yang masih setia menunggu disana bersama Calissa yang sebenarnya malas harus repot-repot datang ke pemakaman istri tua suaminya.


"Ish sampai kapan sih tuh anak nangisnya? Lama banget gak kelar kelar, lebay banget sih kayak baru pertama kali kehilangan aja! Eh kan emang iya mamanya baru meninggal, hadeh ini efek kecapekan nih gue..." gumam Calissa dengan wajah bete nya karena harus berlama-lama disana menemani suami serta anak tirinya tersebut.


Karena sudah tak kuat lagi berlama-lama disana, Calissa coba mendekati suaminya lalu memeluk Hendra dari samping dan membenamkan wajahnya di bahu sang suami.


"Mas, aku pegel nih berdiri terus begini! Kita pulang aja yuk, lagian kan jenazah mbak Linda juga udah dikubur! Buat apa lagi coba kita masih disini? Mending kita pulang terus makan siang mas, aku laper nih..." ucap Calissa dengan nada manja yang terdengar indah di telinga Hendra.


"Iya sayang, kita pulang sekarang ya!" ucap Hendra tersenyum mengecup kening Calissa sambil mengusap-usap rambutnya.


"Cahaya, ayo kita pulang! Biarkan mama kamu istirahat dengan tenang disana, tidak perlu kamu berlarut-larut menangisi yang sudah pergi!" sambungnya berbicara pada Cahaya.


Mendengar itu, Cahaya malah kesal lalu menoleh ke arah papanya... ia bangkit menatap wajah papanya dengan mata menyala dan dipenuhi emosi yang tersulut.


"Pah, aku belum mau pulang! Aku masih mau disini temenin mama, kalau papa mau pulang yaudah sana pulang aja! Aku juga gak butuh kehadiran kalian lagi disini, apalagi si cewek murahan yang gak tau diri ini!" ujar Cahaya beralih menatap wajah Calissa.

__ADS_1


Calissa langsung berpura-pura ketakutan seperti biasanya, ia bersembunyi di balik tubuh suaminya berlaga meminta pertolongan.


"Jangan cari keributan ya Cahaya! Papa masih bisa sabar sekarang karena ini di pemakaman, tapi sebaiknya kamu minta maaf karena perkataan kamu barusan sudah melukai hati Calissa istri papa ini! Ayo cepat berlutut dan minta maaf pada mama mu!" ujar Hendra.


"Hah? Apa tadi papa bilang? Mama? Pah, dengar ya mama aku itu cuma mama Herlinda gak ada yang lain! Lagian aku juga gak sudi harus berlutut di hadapan wanita murahan seperti dia!" ujar Cahaya emosi.


PLAAKK...


"Cahaya!" teriak Hendra yang sudah dipenuhi emosi akibat perkataan Cahaya, ia bahkan kembali tega menampar wajah putrinya demi membela istri mudanya.


Calissa menganga melihatnya tak menyangka kalau suaminya sudah segitu pedulinya pada dia, ia pun menyunggingkan senyum di balik tubuh suaminya merasa puas karena Hendra lebih memihak dirinya dibanding Cahaya.


"Pah? Papa tampar aku lagi? Jadi sekarang papa lebih membela wanita itu dibanding aku?" ujar Cahaya menggeleng-gelengkan kepala menatap wajah papanya tak percaya sambil memegangi pipinya yang memerah.


Tampak penyesalan di wajah Hendra setelah menampar putrinya barusan, ia merasa bersalah karena emosi sampai harus menampar wajah putrinya sendiri.


"Aku kecewa sama papa!" ucap Cahaya menitikkan air mata kemudian pergi dari sana meninggalkan papanya yang masih terpaku.


Cahaya pergi dari makam itu dengan perasaan hancur, sedih karena mamanya harus pergi meninggalkan dirinya dan juga kecewa karena papanya sekarang sudah berubah 100 persen akibat adanya wanita muda disampingnya.


"Apa yang telah aku lakukan? Seharusnya aku tidak menampar Cahaya seperti tadi, sekarang pasti anak itu makin benci sama aku dan kamu sayang..." ucap Hendra menyesal sambil menatap wajah Calissa.


"Sabar mas, aku yakin kok Cahaya gak akan kemana-mana! Dia pasti bakal kembali pulang ke rumah kita, karena dia kan gak punya tempat lain selain rumah itu..." ucap Calissa menenangkan perasaan suaminya.


"Iya kamu benar juga, yasudah ayo kita pulang!" ucap Hendra tersenyum menggandeng tangan Calissa lalu pergi dari pemakaman itu.


Penyesalan yang dirasakannya tadi mendadak hilang setelah Calissa berhasil merayunya, Hendra pun tak lagi memikirkan tentang putrinya yang saat ini tengah bersedih di tengah jalan sendirian tanpa ada yang menemani.


...•••...


Disisi lain, setelah harus berdebat dengan mamanya sampai mendapatkan 4 kali tamparan di wajahnya... akhirnya Topan berhasrat mendapat izin pergi dari sang mama, ia pun kini datang ke kampus dengan mobil mewahnya yang lain.


Kedatangan Topan juga dibarengi dengan kedatangan teman-teman satu gengnya, ya mereka memang kuliah di kampus yang sama walau tak semua anggotanya ada disana.

__ADS_1


"Oi bro!" sapa Ardan teman satu gengnya itu.


Topan tersenyum dan mereka pun saling tos-tosan seperti biasa, ada sekitar 6 orang anggota geng mobilnya yang berkuliah disana.


"Muka lu kenapa bro? Kok merah-merah begitu?" tanya Ardan heran saat melihat wajah sebelah kanan dan kiri Topan yang memerah akibat tamparan keras dari Eun-Kyung tadi.


"Eee gak kok, udah lupain aja!" jawab Topan yang tentunya tak mau berkata jujur karena tengsin dan takut diketawain sama teman-temannya itu.


"Ohh yaudah masuk bareng yuk!" ujar Ardan kemudian merangkul Topan.


Mereka bertujuh pun masuk ke kampus berjejeran membuat banyak mata tertuju pada mereka yang keren-keren itu, untuk ukuran anak kuliahan tentunya mereka sudah termasuk sangat keren loh guys.


Sayangnya nasib baik tak mengarungi mereka hari ini, karena mereka malah bertemu dengan Bram dan para temannya yang merupakan musuh bebuyutan Topan serta gengnya.


"Wah wah wah..." ujar Bram sambil bertepuk tangan lalu berjalan mendekati Topan.


Dengan gaya sok cool nya Bram berdiri tepat di hadapan Topan, ia menatap wajah Topan yang terlihat tenang menghadapi dirinya.


"Mau apa lu?" tanya Topan singkat sambil mengunyah permen karet seperti Boy anak jalanan dulu biar keren katanya.


"Gua mau tantang lu, dan kalian semua buat balapan mobil.... gimana? Tertarik?" ucap Bram menantang Topan dalam balap mobil.


"Hahaha, heh benjolan bakpao! Lu punya nyali berapa nantangin kita balapan ha?" ujar Ardan tertawa terbahak-bahak diikuti temannya yang lain.


Tidak terima ketuanya diketawain, teman-teman Bram langsung hendak maju tapi ditahan oleh Bram karena ia tak mau ada kekerasan disana.


"Gue serius, kalo kalian tertarik temuin gue di kantin siang nanti! Tapi kalau kalian gak datang itu tandanya kalian takut dan gue yang paling populer disini..." ucap Bram tersenyum sinis ke arah Topan dan teman-temannya.


"Yok cabut!" sambungnya mengajak para temannya untuk pergi dari sana tanpa berkata apapun lagi pada Topan dan yang lainnya.


Setelah Bram serta temannya pergi, Topan memilih untuk tidak membahas itu dulu walau Ardan selalu bertanya padanya.


Bagi Topan kelasnya lebih penting daripada harus membahas tantangan Bram yang terus saja terobsesi untuk menjadi populer disana.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2