Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 206. Dimarahi guru


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 205


...•...


...•...


Sesampainya di kampus, Topan langsung menghentikan mobil milik Wulan itu tepat di tempat parkir kampusnya dan lalu menoleh ke arah Wulan sambil tersenyum manis. Topan menggerakkan tangannya untuk mengusap rambut Wulan dengan lembut, entah mengapa ia sangat menyukai rambut gadis itu yang sangat lembut plus wangi sekali.


Wulan hanya terdiam sembari memandangi wajah Topan yang tengah mengusap kepalanya, ia kini merasa sedang bersama seorang kekasih saat Topan bersikap seperti itu padanya. Ya Wulan memang mudah baper jika diperlakukan seperti itu apalagi oleh pria setampan Topan, namun untuk kali ini Wulan tetap berusaha agar tak mencintai Topan.


"Eee Topan, kan kamu udah sampe nih. Kalau kamu langsung turun aja dari mobil aku gimana? Bukan maksud aku buat ngusir ya, tapi aku kan juga harus balik ke lokasi syuting aku!" ucap Wulan pelan.


"Oh iya, maaf maaf aku terlalu asyik usap rambut kamu yang mulus itu! Kamu pake shampo apa sih cantik, kok rambutnya bisa begitu?" ucap Topan.


"Ya shampo biasa aja, lagian yang rambutnya begini kan bukan cuma aku! Banyak kok artis-artis lain yang kayak gini juga, yang penting itu perawatan rambut harus rutin di salon!" ucap Wulan.


"Oh gitu, yaudah aku turun ya? Makasih loh udah mau anterin aku sampe kampus!" ucap Topan.


"Sama-sama," ucap Wulan tersenyum.


Topan pun turun dari mobil Wulan sembari menggemblok tas miliknya, ia tersenyum senang lantaran bisa pergi ke kampus tepat waktu dan tidak kesiangan, ya biarpun Topan memang tidak ada kelas tapi Topan memang selalu ingin datang kesana pagi-pagi seperti ini agar bisa melancarkan aksinya menggoda seluruh wanita di kampusnya.

__ADS_1


Disaat Topan hendak berjalan menuju kampusnya, tiba-tiba saja ia melihat Wulan keluar dari mobil karena ingin berpindah duduk ke kursi kemudi dan itu membuatnya tersenyum. Ya Topan pun kembali ke belakang mendekati Wulan lalu menaruh satu tangannya pada badan mobil dan tangan yang lain mengusap wajah gadis itu sambil tersenyum.


"Kamu keluar juga pasti mau ucapin goodbye buat aku ya, cantik?" tanya Topan kegeeran.


"Hah? Enggak kok, aku cuma mau pindah kursi aja! Kan sekarang kamu udah turun, jadi aku harus nyetir sendiri dong!" ucap Wulan.


"Ohh, berarti aku kegeeran dong ya? Yah gapapa deh, yang penting aku bisa lihat kamu lagi!" ucap Topan.


Wulan hanya tersenyum sambil menunduk dan sedikit menggigit bibir bawahnya, Wulan memang merasa tersipu saat Topan melontarkan gombalan seperti itu padanya. Namun, kali ini ia lebih serius untuk tidak termakan rayuan dari pria playboy itu dan fokus pada tujuannya yakni balas dendam pada Sergie melalui putranya yaitu Topan.


"Yaudah, aku pergi dulu ya? Kamu kan juga harus masuk ke kampus, sampai ketemu lagi nanti!" ucap Wulan tersenyum tipis.


"Iya cantik, hati-hati ya bawa mobilnya! Jangan ngelamun sambil bayangin wajah aku, nanti kamu gak fokus nyetirnya dan hampir nabrak orang kayak aku tadi!" ucap Topan nyengir.


"Ahaha, iya tenang aja! Yaudah ya, bye!" ucap Wulan.


"Iya, bye juga!" ucap Topan sembari membuka pintu mobil untuk Wulan. "Silahkan masuk, nona cantik!" sambungnya sambil tersenyum manis.


Setelah itu, Wulan menyempatkan diri sejenak untuk melambaikan tangan ke arah Topan sebelum akhirnya ia melaju pergi dengan kecepatan sedang meninggalkan kampus itu. Sedangkan Topan sendiri masih berdiri disana memandangi mobil Wulan yang pergi menjauh, entah mengapa ia merasa senang dan dibuat senyum-senyum sendiri oleh Wulan.


"Wulan Wulan..." gumamnya.


...•••...


Disisi lain, Cahaya masih kepikiran dengan kata-kata dari Lyodra yang mengatakan kalau ia adalah orang yang menyebabkan nama sekolah mereka turun dan membuat pamornya redup. Ya Cahaya memang paling tidak bisa untuk melupakan begitu saja perkataan orang tentang dirinya, biarpun ia sudah berusaha keras untuk melakukan itu.


Kini Cahaya sudah berada di dalam kelasnya dan duduk di kursi bersama teman sebangkunya, bahkan sudah ada juga guru yang mengajar disana membahas materi di depan. Namun, entah mengapa Cahaya masih saja sulit fokus dan lebih sering melamun memikirkan Lyodra yang menganggap dirinya sebagai perusak nama sekolah saat ini.


"Bener banget yang dibilang kak Lyodra, gue tuh bukan siswi yang baik! Seharusnya seorang siswi itu bikin bangga nama sekolahnya, bukan malah bikin sekolah ini jadi jelek!" batin Cahaya.

__ADS_1


Melihat sohibnya terus melamun sedari tadi, Prita selaku teman sebangku Cahaya pun coba untuk menegur gadis itu agar tidak terus melamun karena bisa saja Cahaya kembali dilempar spidol oleh pak Hambali yang tengah mengajar seperti beberapa waktu lalu ketika Cahaya juga sedang melamun layaknya sekarang ini.


"Heh, Aya! Lu jangan ngelamun terus, nanti pak Hambali lihat bisa diamuk lu!" ucap Prita.


"Hah? Eh iya, gue lupa kalo udah di kelas. Thanks ya dah ngingetin gue, untung aja pak Hambali gak nyadar daritadi!" ucap Cahaya terkejut.


"Prita! Jangan ngobrol terus, perhatikan ke depan!" tegur pak Hambali dengan nada keras.


Kedua gadis itu reflek menoleh ke depan menatap wajah pak Hambali yang barusan berbicara, mereka terkejut lantaran suara pak Hambali itu tiba-tiba terdengar dan cukup keras. Bahkan jantung Prita saat ini sedang tak karuan akibat suara pak Hambali yang mengejutkan dirinya, begitupun dengan Cahaya walau ia agak heran karena pak Hambali hanya menyebut nama Prita tidak dengan namanya.


"I-i-iya pak, tapi kok cuma saya aja yang ditegur sih pak? Kan saya lagi ngomong sama Cahaya, harusnya dia ditegur juga dong!" ucap Prita.


"Kamu tidak usah membantah! Sudah nurut saja dan diam, jangan ngobrol lagi! Sebaiknya kamu perhatikan ke depan, karena ini materi penting!" ucap pak Hambali membentak Prita.


"Ba-baik, pak!" ucap Prita gugup dan menunduk.


Setelahnya, pelajaran kembali dilanjutkan dengan pak Hambali meneruskan apa yang tadi ia bahas dan lalu pak Hambali juga melontarkan pertanyaan terkait materi tersebut pada murid di kelasnya. Yang pertama mendapat giliran adalah Prita, ya mungkin karena efek dia berbicara dengan Cahaya tadi disaat pak Hambali tengah menyampaikan materi.


"Prita, ayo jawab!" tegas pak Hambali meminta Prita untuk segera menjawab pertanyaan darinya.


"Eee...." Prita tampak gugup dan terus menoleh ke arah Cahaya meminta jawaban, namun gadis itu hanya menaikkan pundaknya tanda tak mengerti.


"Sa-saya gak tahu, pak!" ucap Prita.


"Nah kan, sudah saya duga itu! Makanya kamu jangan ngobrol diwaktu pelajaran, jadinya begitu kan!" ucap pak Hambali memarahi Prita.


Prita terdiam dan kembali menundukkan kepala, sedangkan Cahaya hanya cengar-cengir sambil menutupi mulutnya melihat itu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2