
...HALO GUYS!...
...WELCOME TO MY NEW STORY!...
..."TOPAN & CAHAYA"...
...~~~...
#TOPAN&CAHAYA EPS. 79
...•...
...•...
Cahaya sampai di sekolah tepat 5 menit sebelum gerbang akan ditutup dan bel masuk berbunyi, ya ia melihat spanduk yang dibuat oleh Topan itu masih terpasang jelas di depan gedung sekolah dan tentunya sangat membuat Cahaya malu saat banyak murid-murid disana melirik ke arahnya sembari menatap spanduk yang terpasang.
Sangking malunya Cahaya pada mereka semua, ia pun sampai harus menunduk terus sepanjang jalan karena tak berani menatap sekeliling yang sedari tadi terus saja memandanginya dan juga membicarakan tentang dirinya yang menjadi pacar alias kekasih dari Topan si anak pemilik sekolah.
Bruuukkk....
Ya jalan menunduk memang banyak minusnya, terbukti kini Cahaya menabrak punggung seorang pria yang tengah berdiri di depannya karena ia tidak fokus berjalan menghadap ke depan dan malah terus menunduk melihat ke bawah tepatnya lantai.
"Eh sorry, sorry!" ucap Cahaya.
Sontak pria itu menoleh perlahan ke belakang kemudian tersenyum memandang wajah wanita di belakangnya yakni Cahaya, nampaknya Cahaya sama sekali tak mengenali pria di hadapannya mungkin karena ia memang jarang bergaul dengan orang lain selain sahabat-sahabatnya atau teman kelasnya.
"Gapapa, lu Cahaya kan? Yang fotonya dipajang di depan sekolah?" tanya pria itu.
"Eee... iya, benar!" jawab Cahaya agak gugup.
"Ohh, ternyata kalo di asli lebih cantik ya? Gak heran sih anak pemilik sekolah sampe milih lu buat jadi pacarnya, keren deh!" ujarnya sambil senyum-senyum.
"Ya, thanks! Gue duluan ke kelas, ya?" ucap Cahaya.
__ADS_1
"Tunggu dulu! Lu kayaknya cocok deh buat jadi wakil sekolah di ajang abang none, soalnya look lu pas banget gitu! Gimana, tertarik gak?" ucapnya.
"Sorry, gak dulu deh!" ucap Cahaya.
Ya Cahaya dengan cepat menolak karena ia memang paling anti mengikuti ajang-ajang seperti itu, apalagi jika harus menjadi abang-none mewakili sekolahnya dalam lomba se-Jakarta pasti ia akan lebih merasa malu dan citra cueknya bisa pudar dan hilang.
Cahaya pun pergi melewati pria tersebut begitu saja lalu menuju ke tangga terdekat, nampak pria itu sedikit kecewa karena Cahaya menolak untuk dijadikan wakil sekolah padahal dia berharap sekali Cahaya bisa mewakili sekolah tersebut.
Saat hendak menaiki tangga, Cahaya malah bertemu dengan kedua temannya yaitu Melani & Mawar yang baru keluar dari kamar mandi dan juga ingin menaiki tangga yang sama dengan Cahaya.
"Eh, Aya! Lu baru dateng?" ujar Mawar lalu diangguki oleh Cahaya tanda perkataannya benar.
"Wah kebiasaan deh lu, kalo dateng pasti mepet-mepet mau bel mulu!" sahut Melani.
"Hahaha, eh iya kalian tahu gak itu cowok yang lagi berdiri di depan mading tuh siapa? Soalnya tadi dia nawarin gue buat jadi wakil sekolah di ajang abang-none, emang dia siapa sih?" tanya Cahaya.
"Ohh, ish masa lu gak tahu?" ujar Mawar kaget.
"Ini seriusan lu gak tahu, Ya?" tanya Melani heran.
"Ya iya, makanya gue nanya sama kalian! Emang dia siapa sih, kenapa kalian malah ketawa?" ujar Cahaya makin terheran-heran penasaran.
"Haduh, Aya Aya... itu kak Said namanya, dia ketua OSIS loh di sekolah ini! Masa iya lu gak kenal sama ketua OSIS, padahal dia terkenal loh?" ujar Mawar.
"Hah? Kok gue baru tahu sih?" ujar Cahaya.
"Hadeh, makanya jangan mikirin pacar terus! Kan jadi ketinggalan jaman..." ledek Melani.
"Ish, apaan sih?!"
Cahaya tampak masih heran karena bisa-bisanya ia tidak mengenali ketua OSIS di sekolahnya.
...•••...
__ADS_1
Disisi lain, Bella terpaksa harus berangkat ke kampus bersama Bram karena mama dan papanya yang memaksa ia untuk menerima ajakan pria tersebut untuk pergi ke kampus bersama-sama. Padahal Bella sangat anti berdekatan dengan Bram si pria mesum yang selalu membuatnya jijik, ya bahkan sampai sekarang ia masih belum tahu apa yang dilakukan Bram padanya di malam itu.
Walau mereka satu mobil dan duduk berjejeran di kursi depan, tapi tetap saja Bella tak sama sekali berbincang dengan Bram bahkan mulutnya terus saja terkatup alias tertutup sedari tadi dan pandangan matanya kurus menatap ke depan serta wajah jutek dengan kedua tangan terlipat.
Bram sesekali melirik ke arah wanita di sampingnya yang hanya diam mematung tanpa berbicara sepatah katapun padanya, ia coba menegur gadis itu lalu berbicara dengannya namun ia juga bingung harus dimulai dengan topik apa karena sampai sekarang ia belum berhasil menemukan topik yang pas dan cocok supaya Bella tidak bosan.
"Umm, Bella...." ucap Bram pelan sembari menatap wajah Bella dari samping.
Gadis itu hanya menoleh disertai tatapan seakan bertanya ada apa pada Bram, ya mulutnya tetap tertutup dengan tubuh stay cool seperti sebelumnya tanpa berbicara apapun padahal Bram sangat ingin mendengar suara dari wanita itu walau sebentar.
"Kamu kenapa diem aja sih, Bel? Aku pengen denger dong suara kamu!" ucap Bram memelas.
"Gak penting!" ucap Bella ketus kemudian membuang muka menatap ke depan.
Bram pun tersenyum puas karena bisa mendengar lagi suara gadisnya yang terdengar merdu di telinganya walau hanya sekilas, ia cukup senang tetapi belum terlalu puas juga karena Bella malah membuang muka kembali dan lagi-lagi mulutnya tertutup dengan raut cemberut di wajahnya.
"Bella, kita ini satu mobil loh! Seenggaknya kamu ngomong kek, apa gitu! Kalau diem-dieman begini, gak seru tau Bella!" ujar Bram.
Ya seperti yang sudah diduga oleh kita semua, Bella hanya diam namun menghembuskan nafas kasar dan tetap saja tak mau menatap ke arah Bram yang sedari tadi menantinya untuk memandang wajahnya lagi seperti tadi sesaat sebelum Bella jadi diam.
Bram yang sudah kehabisan kesabaran hanya bisa mengusap wajahnya kasar dan memukul-mukul setirnya karena kesal, ia tak mengerti cara apa lagi yang harus dilakukannya untuk bisa membujuk Bella agar mau berbicara dengannya.
"Bel, ayolah!" ucap Bram memelas.
Akhirnya gadis itu mau menoleh ke arah Bram dan memandang wajah pria itu dengan tatapan dingin, ia menghela nafas kasar sembari membelai rambut bagian depannya dan terus saja menatap Bram namun tanpa berbicara sepatah katapun.
"Oke, ini lebih bagus dari yang tadi.... pertahankan ya Bella seperti ini, jangan buang muka lagi!" ucap Bram tersenyum senang sembari mengelus wajah Bella.
Ya kini Bram sedikit merasa lebih senang dan nyaman karena Bella mau menatap ke arahnya walau tanpa senyum manisnya, ia pun bisa lebih fokus menyetir tanpa khawatir lagi seperti sebelumnya saat Bella cuek padanya sampai membuang muka.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1