
...HALO GUYS!...
...WELCOME TO MY NEW STORY!...
..."TOPAN & CAHAYA"...
...~~~...
#TOPAN&CAHAYA EPS. 159
...•...
...•...
Ceklek...
Hendra membuka kunci pintu kamar Cahaya dan membiarkan putrinya itu berjalan keluar kamar karena saat ini waktunya dia untuk berangkat sekolah.
Cahaya melewati papanya begitu saja tanpa ada ekspresi maupun perkataan yang keluar dari mulutnya, sepertinya Cahaya masih kesal dengan sikap papanya yang lebih membela Calissa dibanding dirinya. Padahal Cahaya yakin kalau Calissa memang tidak mencintai papanya itu dan hanya mengincar hartanya, namun Cahaya masih memerlukan bukti untuk mengungkap semua itu.
Hendra melihat ke dalam kamar Cahaya setelah putrinya itu keluar, tampak piring makan Cahaya masih utuh tak tersentuh sedikitpun disana.
Sontak Hendra langsung menutup pintu itu kembali, lalu mengejar putrinya dengan ekspresi marah serta heran mengapa Cahaya tidak mau memakan makanan yang sudah ia berikan semalam.
"Cahaya!" teriak Hendra sembari mencekal lengan putrinya itu dari belakang.
Cahaya pun terpaksa menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang saat papanya menarik lengannya dengan kasar.
"Ish, sakit pah!" ujar Cahaya berontak.
"Kamu kenapa gak makan semalam? Memangnya kamu mau jatuh sakit, ha? Kamu boleh marah dan benci sama papa, tapi kamu gak boleh sakitin diri kamu sendiri dengan cara gak makan seperti itu! Apa kamu ini sudah bosan hidup?" ucap Hendra kesal.
"Iya emang, aku udah males hidup pah! Buat apa aku hidup kalau gak ada yang peduli sama aku? Bahkan papa aku sendiri, lebih percaya sama orang asing yang baru dikenalnya beberapa bulan dibanding sama aku yang udah jelas-jelas anaknya! Lebih baik aku mati dan susul mama, pah!" ujar Cahaya.
__ADS_1
"Hus! Kamu gak boleh bicara begitu! Papa yakin, mama kamu juga gak akan senang mendengar kamu bicara seperti itu! Kamu ini masih muda, Cahaya! Masa depan kamu masih panjang, papa mau kamu tumbuh jadi orang sukses!" ujar Hendra.
"Aku gak akan bisa sukses, pah! Kalau aku dikelilingi oleh orang-orang yang benci dan gak suka sama aku, termasuk papa aku sendiri! Sekarang lepasin aku, pah! Aku mau berangkat sekolah dan lanjut belajar selagi bisa, karena aku gak tau ke depannya nanti aku bakal gimana. Papa kan bisa aja ngelakuin segala sesuatu di luar keinginan aku!" ucap Cahaya kembali berontak dari genggaman papanya.
Cahaya berhasil melepaskan diri dan langsung pergi ke bawah dengan cepat, Cahaya meninggalkan papanya sambil menyeka air mata yang mulai keluar membasahi pipinya.
"Aku benci papa!" gumamnya.
Sementara Hendra tampak terdiam disana, ia seolah tak mampu berbuat dan berkata apa-apa lagi kepada putrinya itu. Hendra juga merasa bersalah karena ia telah menghukum putrinya dan terlalu kasar padanya, seharusnya ia memang tidak melakukan itu karena Cahaya adalah putri kandungnya.
Situasi seperti ini memang membuat Hendra berada dalam kebingungan yang hebat, di satu sisi ia sangat mencintai Calissa dan tidak mau melihat istrinya itu bersedih, namun di sisi lain ia juga menyayangi putri semata wayangnya itu. Tentu Hendra tak bisa jika harus memilih salah satu diantara mereka.
"Apa yang harus saya lakukan sekarang? Cahaya sudah di luar batasnya, dia sekarang sangat berani melawan saya. Ini semua karena ulah Topan!" gumam Hendra dalam hati dengan tangan terkepal.
•
•
Calissa yang hendak menuju meja makan, melihat Cahaya tengah menuruni tangga dan menuju ke arahnya sambil menangis.
Cahaya menghentikan langkahnya sejenak saat berpapasan dengan Calissa, ia menatap mata wanita itu dengan sinis seperti orang yang menaruh dendam serta emosi kepadanya.
"Gausah sok peduli lu!" ujar Cahaya.
Setelahnya, Cahaya pun kembali melanjutkan langkahnya melewati Calissa tanpa ekspresi.
Sementara Calissa masih terdiam disana.
"Dih, udah gila tuh anak! Nangis nangis gak jelas, pas ditanya malah jawabnya galak amat! Emang gak pantes lu buat jadi pacarnya Topan, mendingan juga gue kemana-mana!" ujar Calissa sembari mengibaskan rambutnya.
Tak lama kemudian, Hendra muncul di hadapan Calissa dengan raut wajah sedihnya. Calissa tampak heran mengapa suaminya itu bersedih, ia pun menghampiri Hendra untuk coba bertanya langsung padanya dan pura-pura perduli.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Calissa dengan nada lembut sembari memegang lengan suaminya.
__ADS_1
"Gapapa, mas cuma sedih aja. Sikap Cahaya sama mas sekarang makin keterlaluan, tadi aja dia berani bentak-bentak mas." jawab Hendra.
"Apa? Cahaya berani bentak kamu, mas? Ya ampun, ini udah keterlaluan banget sih, mas!" ujar Calissa.
"Iya, itu dia. Makanya sekarang mas sedih banget lihat kelakuan Cahaya sekarang yang semakin liar sejak dia kenal dengan Topan, mas harus lakukan sesuatu untuk bisa memisahkan mereka apapun caranya! Kalau Cahaya tidak mau mas kirim ke luar negeri, maka mas terpaksa akan menyingkirkan Topan dengan cara mas sendiri. Supaya Topan itu tidak bisa lagi mengganggu Cahaya, setelahnya hubungan keluarga kita akan kembali harmonis sayang!" ucap Hendra.
Calissa tersentak mendengar perkataan suaminya barusan, ia tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Hendra kepada Topan nantinya.
"Mas, maksud kamu menyingkirkan Topan gimana? Kamu mau bunuh Topan, iya mas?" tanya Calissa dengan raut wajah cemas serta kebingungan.
"Hahaha, ya enggak lah! Mas cuma bakal singkirin dia dari Cahaya, tapi kalau memang Topan itu tetap kekeuh untuk mendekati Cahaya, mas terpaksa melakukan apa yang kamu kira tadi." jawab Hendra sambil tersenyum dan mengusap puncak kepala istrinya.
Hendra pun melangkah menuju meja makan meninggalkan Calissa yang masih menganga.
"Gila, ini gila banget sih! Jangan sampe mas Hendra ngelakuin itu ke Topan, bisa hancur dong masa depan gue sama Topan! Gue gak akan biarin mas Hendra lakuin itu, sembarangan aja mau nyingkirin Topan. Yang ada gue yang bakal singkirin lu duluan, dasar tua bangka!" gumam Calissa dalam hati.
Setelah berdebat dengan dirinya sendiri, Calissa pun pergi menyusul suaminya ke meja makan karena tak ingin membuat suaminya itu marah.
Calissa langsung menyiapkan sarapan untuk Hendra suaminya dan bersikap romantis kepada suaminya itu, ia juga akan mencoba mengatakan pada Hendra untuk tidak menyingkirkan Topan.
"Nah, ini mas sarapan kamu!" ucap Calissa sembari menyerahkan piring berisi makanan pada Hendra.
"Terimakasih, sayang!" ucap Hendra tersenyum.
"Sama-sama, mas. Oh ya, tadi Cahaya kok langsung pergi gitu aja ya mas? Terus dia juga kelihatan lagi nangis, emang kamu sama Cahaya tadi bicara apa sih di atas?" tanya Calissa penasaran.
"Mas cuma kesal aja, abisnya Cahaya gak makan makanan dia semalam. Mas kan gak mau Cahaya sampai sakit, eh dia malah jawab katanya udah bosen hidup dan pengen mati aja!" ucap Hendra.
"Duh, berani banget sih Cahaya!" ujar Calissa.
"Itu dia..."
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...