Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 31. Melamun


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 30


...•...


...•...


Cahaya yang awalnya tidak mau menggunakan aplikasi penjemput jodoh seperti teman-temannya, kini malah keasikan sendiri bermain aplikasi tersebut karena ia berhasil menemukan pria yang membuatnya berbunga-bunga. Ya siapa lagi kalau bukan Badai yang ia temukan di aplikasi itu, pria tersebut berhasil membuat hidup Cahaya lebih berwarna walau hanya dengan sekedar ketikan.


Saking senangnya, Cahaya sampai tidak memperhatikan pelajaran dan malah fokus membayangkan wajah Badai jika ia nanti bertemu dengan pria itu secara nyata. Cahaya sampai senyum-senyum sendiri di dalam kelas karena itu, padahal saat ini gurunya tengah menerangkan materi baru yang harus dipahami oleh Cahaya jika tak ingin mendapat nilai jeblok ketika ulangan nanti.


Prita yang merupakan teman sebangkunya sadar kalau ada yang tidak beres dengan Cahaya, wanita itu pun melambai-lambaikan tangannya di depan mata Cahaya untuk memastikan apakah Cahaya dalam kondisi sadar atau malah pingsan. Tak ada respon dari gadis itu, bahkan Cahaya malah menopang dagunya dengan satu tangan sembari tersenyum menghadap ke papan tulis.


"Aya, lu kenapa sih?" ujar Prita menatap wajah temannya dengan terheran-heran karena tak biasanya Cahaya bersikap seperti itu di kelas.


Dua orang pria yang duduk di depan mereka mendengar kebisingan dari meja belakangnya, sebut saja kedua pria itu ialah Tomi dan Alvin. Tomi yang duduk tepat di depan Cahaya langsung terkejut karena gadis itu senyum-senyum membuat ia merasa ge'er karena mengira Cahaya tengah tersenyum ke arahnya, sedangkan Alvin menganga lebar lalu menoleh ke arah Prita.

__ADS_1


"Heh, temen lu ngapa tuh?" tanya Alvin heran.


"Kagak tau, daritadi dia begitu! Udah gue coba sadarin tapi gak berhasil, kayaknya dia lagi berbunga-bunga deh mungkin abis dibeliin barang mahal sama pacarnya itu!" jawab Prita ngasal.


"Ohh bisa jadi tuh, yaelah gue kira si Aya tuh gak bisa bucin ternyata masih bisa juga ya! Malah lebih parah dari cewek-cewek biasanya, lihat aja tuh sampe gak kedip sama sekali!" ujar Alvin geleng-geleng.


"Bantu sadarin dong! Gue takut nanti bu Siska lihat terus Cahaya malah dimarahin, kalian kan cowok-cowok nih bantulah si Cahaya!" ucap Prita.


"Lah ngapa jadi kita?" ujar Tomi kaget.


"Tau nih, udah sih biarin aja Cahaya ngelamun gini! Malah enak dipandang nya daripada kayak biasa jutek terus, lagian nih ya Bu Siska gak mungkin berani marahin Cahaya! Nanti yang ada dia dipecat lagi, secara pacar si Cahaya kan anaknya pemilik sekolah ini!" saut Alvin.


Walau tengah melamun, rupanya Cahaya masih bisa mendengar apa yang diucapkan Alvin barusan mengenai pacarnya. Sontak gadis itu langsung sadar dari lamunannya lalu menatap wajah mereka, ia tak mengerti tentu siapa yang dimaksud oleh Alvin barusan karena memang ia belum punya pacar.


"Nah ini sadar dia! Terbukti kan dia tuh lagi ngelamunin pacarnya, jadi gausah pada panik!" ujar Alvin menunjuk ke arah Cahaya.


"Hah? Cepet kasih tau gue, tadi yang lu maksud itu siapa!" ujar Cahaya dengan nada keras.


"Ya pacar lu lah, siapa lagi emang? Dia kan anak pemilik sekolahan ini, satu sekolah juga udah pada tahu kali tentang pacar lu itu!" ucap Alvin.


"Pacar? Pacar gue siapa?" ujar Cahaya.


"Ya ampun, hahaha emang lu punya berapa pacar si Cahaya? Masa sama pacar sendiri lupa, ini nih gara-gara kelamaan ngelamun tadi!" ucap Alvin sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"Tau lu, mentang-mentang cakep seenaknya punya pacar banyak! Kasian tuh dia kalo tau pacar lu ada banyak dan dia gak dianggap alias dilupakan, gue sih sakit banget ya padahal dia kelihatan bangga banget kenalin lu sebagai pacarnya ke Bu Neneng!" saut Tomi geleng-geleng kepala.


Suara mereka terlalu keras sehingga sampai di telinga Bu Siska yang sedang mengajar di depan, tentu guru itu langsung menghentikan sejenak aktivitas mengajarnya dan diam menatap ke arah tempat duduk Cahaya. Walau mereka duduk di bangku paling belakang, tapi telinga guru selalu tajam hingga dapat mendengar suara sekecil apapun itu di dalam kelasnya.


Sadar Bu Siska tak terdengar suaranya lagi dan mendadak suasana disana menjadi sepi, sontak Cahaya serta temannya melihat ke depan lalu kaget saat tahu Bu Siska tengah memperhatikan mereka sembari menatap tajam dengan melipat tangannya. Tentu saja mereka langsung diam menunduk termasuk Alvin & Tomi juga kembali menghadap ke depan, Cahaya pun tampak tak berkutik sembari memikirkan siapa pacarnya yang dimaksud Alvin.


"Apa jangan-jangan yang Alvin bilang tuh Topan? Tapi, masa iya sih Topan anak pemilik sekolah ini? Bisa jadi sih secara dia aja kemarin berhasil bantu gue buat masuk kelas walau udah telat, huft ngapain sih dia ngaku-ngaku jadi pacar gue??" batin Cahaya.


...•••...


Disisi lain, Topan bersama Guntur jalan menuju kampus hanya berdua karena teman-temannya yang lain belum datang atau mungkin tidak ada kelas pagi sehingga mereka tak datang pagi ini. Seperti biasa semua mata tertuju pada Topan saat berjalan melewati para mahasiswa, namun yang membedakan kali ini sorot mata mereka seperti orang yang tidak suka atau bisa dibilang membencinya. Topan berusaha tenang tak mau terpancing serta tak perduli apapun yang dibicarakan orang-orang padanya, walau ia sangat emosi dan yakin betul kalau ini adalah ulah Bram.


Langkahnya terhenti saat berada di dekat Bella yang sedang duduk bersama Bram di depannya, entah mengapa rasanya sangat sakit ketika Topan menyaksikan sang mantan bersama pria lain. Guntur temannya itu berusaha menenangkan sohibnya dengan menepuk-nepuk pundak Topan, ia tahu betul kalau Topan cemburu pada kedekatan mereka.


"Sabar bro, lu kan bisa cari cewek lain! Lu itu ganteng dan kaya pasti banyak cewek di negara ini yang mau sama lu, ya tapi konsekuensinya mereka cuma cinta sama muka dan harta lu aja! Bukan karena ketulusan hati lu ataupun sikap baik lu, makanya gue saranin sih lu pake aja tuh aplikasi penjemput jodoh!" ucap Guntur memberi saran sembari tersenyum.


Topan hanya diam lalu menghela nafasnya, ia membenarkan posisi tasnya kemudian lanjut melangkah ke dalam kampus dengan cepat. Sepertinya Topan sudah tidak kuat lagi melihat Bella begitu mesra dengan Bram, hatinya seperti tersayat-sayat saat ini walau dahulu ia sering sekali menyakiti Bella dengan jalan bersama wanita lain.


"Gue ini kenapa sih? Bisa-bisanya gue masih sakit hati lihat Bella mesra sama Bram, harusnya kan gue biasa aja ngeliat itu! Apa mungkin gue ini cinta sama Bella makanya perasaan gue terasa sakit banget pas lihat dia disana sama Bram??" batin Topan.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2