Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 322. Akhir kisah Topan & Cahaya


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 321


...•...


...•...


Bruuukkk...


Topan terlempar jatuh ke jalan setelah terkena pukulan serta tendangan bertubi-tubi dari Robi, ia tak bisa lagi menahan serangan yang diberikan pria itu hingga akhirnya tergeletak.


"Topan...!!" teriak Bella syok.


Sontak anak-anak spider yang lainnya langsung menoleh ke arah Topan, mereka tak menyangka jika Topan dapat dikalahkan oleh Robi dengan begitu mudah bahkan hanya beberapa menit.


Robi tersenyum puas kemudian melangkah mendekati Topan yang sedang tersungkur di jalan, ia membungkukkan badan menertawakan Topan tanpa belas kasihan, ia merasa senang karena berhasil mengalahkan Topan walau ia belum terlalu puas.


"Hahaha, segitu doang kemampuan lu ha? Yang kayak gini berani-beraninya nyakitin Cahaya? Emang dasar cowok gak bener lu!" ujar Robi.


"Lu ngapain sih? Selalu aja ikut campur urusan gue sama Cahaya!" ujar Topan menahan sakitnya.


"Ya jelas gue ikut campur lah, gue udah ikhlasin Cahaya buat lu, tapi lu malah nyakitin dia begitu dan bikin dia nangis! Yang kayak gitu lu bilang cinta, ha? Mending dari awal Cahaya itu buat gue aja, karena lu gak becus buat jagain dia dan bikin dia selalu tersenyum!" ucap Robi.


Topan terdiam memalingkan wajah, ia menelan saliva sembari memikirkan perkataan Robi yang menurutnya ada benarnya, karena ia memang sudah menyakiti Cahaya.


"Kenapa diem? Lu nyadar sekarang kalau lu udah bikin Cahaya sakit hati? Dengar ya Topan, ini baru awal dari siksaan lu karena gue masih bakal kasih siksaan yang lebih pedih buat lu setelah lu udah bikin Cahaya nangis!" ancam Robi.


"Cih! Lu gausah sok jadi pahlawan deh! Cahaya juga gak butuh bantuan dari lu, kalo lu emang cinta sama Cahaya yaudah lu hibur dia sana!" ucap Topan.


"Ohh jadi lu udah serahin Cahaya ke gue? Oke, kalo gitu gue bakal pacarin dia!" ucap Robi.


"Hahaha, kalau emang Cahaya nya mau sama lu ya silahkan aja gue gak akan larang! Toh gue sama Cahaya juga udah gak ada apa-apa, asal lu jangan maksa dia aja!" ucap Topan.


"Ya baguslah! Karena lu udah sadar dan mau serahin Cahaya buat gue, emang cowok kayak lu gak pantas buat bisa bersama Cahaya! Cuma gue yang beneran sayang dan cinta sama dia, sedangkan lu cuma terobsesi aja sama dia dan gak benar-benar cinta sama Cahaya! Untung aja akhirnya kalian pisah, kalau enggak kasihan Cahaya!" ucap Robi.


"Lu jaga omongan lu!" ujar Topan emosi.


"Apa? Lu gak terima sama yang gue bilang tadi? Emang kenyataannya begitu kan? Lu ngebet pengen nikahin Cahaya, supaya lu bisa tidurin dia dan setelah itu lu bakal tinggalin dia!" ucap Robi.


"Kurang ajar!"


Topan bangkit kembali dan bersiap melawan Robi lagi, kali ini ia bahkan lebih bersemangat karena dibuat emosi oleh pria itu.


"Hahaha, lu mau apa? Ribut lagi? Yakin lu gak takut mati kali ini?" ujar Robi.


"Bukan gue yang bakal mati, tapi lu sendiri Rob!" ucap Topan tersenyum.


"Hiyaaa...."


"Berhenti!!"


Sebuah teriakan dari arah belakang membuat kedua pria itu menghentikan niatnya, mereka kompak menoleh ke asal suara, dilihatnya sosok Cahaya yang masih berada di atas motor tengah menatap ke arah mereka dari sana.


"Cahaya?" ucap Robi dan Topan bersamaan.


Bella yang melihat kedatangan Cahaya, mulai merasa lega karena akhirnya pertarungan akan segera berhenti.


"Syukurlah Cahaya datang!" ucap Bella tersenyum.


Cahaya langsung turun dari motornya dan berjalan pelan menghampiri kedua pria tersebut.


"Ka-kamu ngapain kesini Cahaya?" tanya Robi.


"Gue gak suka sama tindakan lu ini Rob! Maksudnya apa lu nyerang Topan kayak gini, ha? Mau jadi jagoan atau sok jadi pahlawan buat gue? Gak penting banget tahu gak!" ujar Cahaya.


"Kamu kok bilang gitu sih Aya? Aku begini demi kamu loh, aku gak terima kalau kamu disakiti sama cowok modelan kayak dia! Kamu itu wanita spesial buat aku walau aku gak bisa miliki kamu, kalau ada seseorang yang berani sakitin kamu ya jelas aku gak terima lah Cahaya!" ucap Robi.


"Gue gak butuh pembelaan dari lu! Mending sekarang lu sama teman-teman lu pergi sana, jangan bikin keributan disini!" ucap Cahaya.


"Tapi Aya, aku—"


"Cukup Rob! Gue gak mau dengar apa-apa lagi, ayo cepat pergi dari sini!" potong Cahaya.


"Huft, oke Aya aku pergi demi kamu!" ucap Robi.


Robi pun mengalah dan pergi dari sana karena permintaan Cahaya, namun ia sempat melirik ke arah Topan dengan sinis pertanda kalau ia belum sepenuhnya memaafkan pria tersebut.


"Awas lu Topan!"


Setelah Robi pergi, kini Cahaya mendekati Topan dan menatap wajah mantan kekasihnya itu dengan penuh kesedihan.


"Topan, kamu gapapa kan?" tanya Cahaya.

__ADS_1


"Gue baik-baik aja! Yaudah, gue mau pergi dulu!" ucap Topan.


"Tunggu Topan, aku masih mau bicara!" ujar Cahaya.


"Gue gak ada waktu, gue harus siap-siap buat pergi ke Korea! Kalau lu mau bicara, kapan-kapan aja!" ucap Topan menolak.


"Ta-tapi, aku cuma pengen supaya kamu pertimbangkan lagi keputusan kamu itu!" ucap Cahaya memohon.


"Pertimbangkan? Untuk apa? Gue udah yakin bahwa gue bakal tinggal di Korea selamanya, dan hubungan kita juga udah selesai Cahaya! Jadi, sebaiknya lu ikhlasin aja!" ujar Topan tegas.


"Topan, kenapa kamu begitu yakin untuk pergi ke Korea? Apa kamu emang gak tulus cinta sama aku?" tanya Cahaya.


"Hah? Lu bilang apa barusan? Gue gak tulus sama lu? Apa gak kebalik? Jelas-jelas lu sendiri yang gak beneran cinta sama gue! Karena apa? Ya karena lu gak pernah mau gue ajakin nikah, itu kan udah jelas kalau lu emang gak cinta sama gue dan dari awal lu cuma manfaatin gue!" tegas Topan.


"Aku gak gitu Topan, aku cuma minta sama kamu buat sabar!" ucap Cahaya.


"Sabar? Mau sampai kapan lagi gue harus sabar digantungin kayak gitu sama lu? Udah deh Cahaya, kita kan udah gak ada hubungan apa-apa lagi! Sekarang lu minggir, karena gue harus segera pergi dari sini dan siap-siap menuju Korea!" ujar Topan.


Topan berjalan melewati Cahaya, ia masuk ke dalam mobilnya begitu saja tanpa perduli dengan air mata yang menetes di wajah Cahaya begitu Topan pergi darinya.


Bella dan yang lainnya pun menghampiri Cahaya, mereka tak menyangka kalau ternyata masalah antara Cahaya dengan Topan sangat buruk sampai hubungan mereka putus di tengah jalan begini.


"Cahaya, lu yang sabar ya!" ucap Bella menenangkan.


Cahaya hanya bisa mengangguk sembari menangis sesenggukan, Bella pun menaruh wajah Cahaya pada pundaknya sembari mengusap puncak kepala gadis itu dengan lembut.




Keesokan harinya, Topan bersama kedua orangtuanya sudah sampai di bandara untuk menuju Korea sesuai tujuan mereka kali ini.


Ketiganya turun dari mobil, membawa beberapa barang dan tak lupa berpamitan pada sang supir yang sudah mengantar mereka sampai bandara, karena nantinya supir itu sudah tidak bekerja lagi dengan mereka.


Setelahnya, mereka pun masuk ke bandara untuk segera melakukan penerbangan.


"Topan, kamu yakin mau pergi ke Korea? Memangnya kamu udah bisa lupain Cahaya, wanita yang kamu cintai itu? Gak mudah loh sayang melupakan seseorang yang kita cintai!" tanya Eun.


"Iya Topan, mama kamu benar!" sahut Sergie.


"Mah, pah, udah lah jangan bahas soal Cahaya terus di depan aku! Sekarang ini diantara aku dan Cahaya udah gak ada apa-apa lagi, dia cuma masa lalu yang suram buat aku! Sekarang aku pengen menatap ke depan dan memulai hidup yang baru, pastinya dengan sebuah kebahagiaan!" ucap Topan.


Sergie dan Eun-Kyung saling lirik, mereka merasa heran mengapa semudah itu bagi Topan untuk mengatakan hal tersebut.


"Topan, mama tahu barusan itu kamu cuma menutupi kesedihan di dalam hati kamu! Mama juga tahu kok kalau kamu sebenarnya masih sayang sama Cahaya, iya kan?" ucap Eun-Kyung.


"Apaan sih mah? Aku kan udah bilang, jangan sebut-sebut nama itu lagi!" ujar Topan.


"Keputusan aku udah bulat, mah! Aku mau tinggalin Indonesia dan pergi ke Korea sama papa mama, atau mungkin kalau papa mama gak mau ikut aku ya gapapa kok, aku bisa tinggal disana sendiri! Yang penting aku jauh dari Cahaya!" tegas Topan.


"Topan, sebenarnya kamu kenapa bisa sampai semarah itu sama Cahaya? Padahal kan dia cuma bilang sama kamu untuk menunda pernikahannya, bukan berarti dia pengen gantungin kamu atau gak tulus cinta sama kamu sayang! Mungkin aja dia belum siap!" ucap Eun-Kyung.


"Mah, mau sampai kapan aku harus nunggu sesuatu yang gak pasti? Waktu itu aku lamar dia, terus dia bilang tunggu wisuda! Sekarang udah selesai wisuda, dia tolak lagi dengan alasan pengen bahagiain papanya dulu! Apa aku masih bisa sabar mah hadapin wanita seperti itu?" ujar Topan.


"Sabar Topan! Kalau kamu ambil keputusan dalam keadaan emosi, nantinya kamu bisa nyesel loh sayang!" ucap Sergie.


"Iya sayang, jangan buru-buru gitu!" sahut Eun-Kyung.


"Enggak pah, mah, aku gak akan nyesel dan aku janji sama papa dan mama akan itu! Sekarang ayo kita masuk ke dalam, pesawatnya sebentar lagi take-off! Kita gak boleh terlambat!" ucap Topan.


Topan yang emosi memilih pergi meninggalkan papa dan mamanya, ia berjalan dengan tergesa-gesa sembari menenteng koper miliknya memasuki area bandara tanpa perduli pada perkataan papa ataupun mamanya yang memaksa ia berpikir kembali.


"Topan!"


Tiba-tiba saja, terdengar suara teriakan wanita dari arah belakangnya. Topan menghentikan langkah, ia merasa tidak asing dengan suara tersebut, ia pun menoleh dan terlihat sosok Cahaya berdiri disana.


Sergie dan Eun-Kyung ikut menoleh ke arah yang sama, mereka terkejut melihat Cahaya datang kesana bersama papanya, yakni Hendra.


Cahaya pun berlari ke depan menghampiri Topan serta kedua orangtuanya, ia hendak mencegah pria tersebut agar tidak pergi dari sana dan tetap tinggal di Indonesia bersamanya.


"Cahaya? Syukurlah kamu datang sayang, ayo bantu bujuk Topan untuk tetap disini!" ucap Eun-Kyung.


"Iya Cahaya, kami sebenarnya juga gak setuju dengan keputusan Topan itu! Papa pribadi lebih sreg kalau Topan menikah sama kamu!" sahut Sergie.


"Iya pah, mah, aku kesini juga mau coba tahan Topan supaya gak pergi kok!" ucap Cahaya.


"Terimakasih ya Cahaya, semoga kamu berhasil yakinin Topan!" ucap Eun-Kyung.


"Iya mah, permisi!" ucap Cahaya.


Cahaya beralih menatap Topan, gadis itu kembali berlari mengejarnya. Namun, pria itu juga berbalik dan melangkah menjauhi Cahaya dengan langkah cepat tentunya.


"Topan tunggu! Aku mohon Topan, kita bicara dulu sebentar!" teriak Cahaya sambil berlari.


Bruuukkk...


Naasnya, Cahaya justru menabrak seorang petugas yang tengah membawa barang berisi koper-koper para penumpang disana.


"Maaf ya mbak!" ucap petugas itu.

__ADS_1


"Gapapa pak, permisi!" ucap Cahaya.


Cahaya kembali mengejar Topan, akhirnya ia berhasil menahan pria tersebut, ia mencekal lengan Topan dari belakang dan membuat pria itu berhenti disana menghadap ke arahnya.


"Topan tunggu!" ucap Cahaya ngos-ngosan.


"Lu mau apa lagi sih? Ngapain lu pake nyusulin gue kesini? Emang lu pikir gue bakal terpedaya lagi sama kebusukan lu, ha?" ujar Topan kesal.


"Kamu kok bicaranya begitu sih? Aku ini kan cuma pengen ngobrol sama kamu!" ucap Cahaya.


"Ngobrol apa lagi? Gue rasa gak ada yang perlu kita obrolin lagi, semuanya kan udah jelas! Gue udah bilang sama lu, kita putus! Apa itu belum jelas di telinga lu?" ucap Topan.


"Iya aku tahu, tapi kan—"


Topan menghentakkan tangannya yang sedang digenggam oleh Cahaya, sehingga Cahaya merasa kesakitan akibat dari hentakan tersebut.


"Awhh!" pekik Cahaya memegangi lengannya.


"Kenapa? Sakit? Yaudah, sekarang lu pergi sana dan jangan halangin gue lagi! Sampai kapanpun, gue gak akan pernah mau balikan sama lu atau menetap disini!" tegas Topan.


"Topan, jangan begitu dong! Masa cuma gara-gara aku belum siap nikah, terus kamu mau putusin hubungan kita gitu aja? Ingat loh Topan, kita udah berhubungan lebih dari lima tahun! Kok bisa semudah itu kamu putusin aku?" ujar Cahaya.


"Gue gak perduli! Mau seberapa lama kita berhubungan, itu gak penting! Karena lu cuma manfaatin gue!" ucap Topan.


"Topan cukup!" teriak Sergie dari arah belakang.


Keduanya pun menoleh secara bersamaan.


"Kamu ini bicara apa Topan? Gak baik menuduh yang enggak-enggak sama Cahaya!" sambung Sergie.


"Iya Topan, yang kamu katakan itu tidak benar! Cahaya gak pernah sama sekali punya niat untuk manfaatin kamu, dia itu benar-benar sayang sama kamu!" sahut Hendra.


"Om, pah, udah deh aku gak mau bicarain lagi soal ini! Dan lu Cahaya, hubungan kita cukup sampai disini!" tegas Topan.


Topan sudah terlanjur emosi, ia berbalik dan kembali melangkah pergi dari sana. Sedangkan Cahaya juga telah ikhlas dengan keputusan Topan, ia menerima itu walaupun perasaannya sangat sedih.


"Cahaya, maafin Topan ya!" ucap Eun-Kyung.


"Iya Cahaya, papa juga bingung apa yang terjadi sama dia!" ucap Sergie.


"Gapapa kok mah, pah!" ucap Cahaya.


Eun-Kyung pun maju mendekati Cahaya, lalu memeluk gadis itu dengan erat.


"Mama sama papa pergi dulu ya? Kamu sehat-sehat disini! Semoga suatu saat kita bisa bertemu kembali ya Cahaya! Mama sayang sama kamu!" ucap Eun-Kyung sambil menangis.


"Iya mah, aku juga sayang sama mama! Maafin aku karena aku gak bisa jadi menantu mama!" ucap Cahaya ikut bersedih.


Setelahnya, Eun-Kyung melepas pelukannya dan pamit pada Cahaya serta Hendra. Wanita itu menggandeng lengan Sergie lalu pergi dari sana menyusul Topan.


Sementara Hendra sekarang beralih mendekati Cahaya, ia memeluk putrinya itu sembari menghapus air mata di wajah Cahaya.


"Topan, aku terima keputusan kamu buat pergi dari sini! Aku juga terima kalau kamu emang mau udahin hubungan kita, tapi sampai kapanpun aku selalu mencintai kamu Topan! Aku akan selalu ingat semua yang kita lalui selama ini! Selamat tinggal Topan, semoga kamu menemukan kebahagiaan yang kamu cari disana!" gumam Cahaya dalam hati.




8 tahun kemudian....


"Arkana Putra Armando!"


Cahaya berteriak memanggil nama siswa selanjutnya yang akan ia bagikan nilai rapot.


"Iya Bu,"


Siswa itu muncul dari arah luar ruangan, lalu berjalan menghampiri Cahaya. Sontak Cahaya heran karena tak ada wali dari muridnya itu, ia pun bertanya pada pria kecil tersebut.


"Arka, papa atau mama kamu kemana? Kok kamu sendirian?" tanya Cahaya.


"Eee mereka...."


Ucapan Arka terhenti, lantaran ada seorang pria dewasa muncul di depan pintu kelas.


"Arka!" suara berat memanggil nama Arka.


Sontak Cahaya serta Arka menoleh ke arah yang sama, dilihat lah sosok pria tampan berdiri disana. Cahaya cukup terkejut saat pertama kali melihatnya, ya itulah Topan sang mantan yang telah lama menghilang.


"Topan?"


Tak hanya Cahaya, pria yang tak lain ialah Topan pun merasakan hal yang sama. Bagaimana tidak? Mereka sudah saling berhubungan selama lima tahun lebih, namun harus kandas karena keadaan.


"Cahaya?"


...~Selesai~...


Akhirnya berakhir sudah kisah Cahaya & Topan, terimakasih buat kalian semua yang selalu setia dukung novel ini ya! Maaf kalau endingnya gak sesuai ekspektasi kalian, tapi emang begitu niatnya dari awal.


__ADS_1


Sekedar info, kalau novel ini akan berlanjut ke kisah Arkana yang akan dirilis sebentar lagi!


...GOOD BYE GUYS!...


__ADS_2