Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 319. Karma?


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 318


...•...


...•...


Calissa dan Andre masih kebingungan di dalam mobilnya, mereka tak tahu harus melakukan apa saat dikepung oleh rombongan geng motor yang sudah mengelilingi badan mobilnya.


Bahkan terlihat orang-orang itu coba menyerang mobil Andre dengan membabi buta, mereka ingin memecahkan kaca mobil tersebut dan membuat Andre serta Calissa keluar dari sana.


Tentu saja kedua manusia itu tampak cemas mereka masih coba mencari cara untuk lepas dari para anggota gangster yang ganas itu, terlebih Calissa juga panik dan membuatnya tak bisa berpikir dengan jernih.


"Dre, ini gimana dong? Sampai kapan kita bisa bertahan disini?" tanya Calissa panik.


"Sabar sayang! Aku juga gak tahu harus gimana, ini aku lagi coba hubungin orang aku buat bantu kita, semoga berhasil deh ya!" ucap Andre.


"Iya iya, cepetan dong!" ujar Calissa.


"Woi keluar kalian! Atau kita pecahin nih kaca mobil lu!"


Suara-suara teriakan serta ancaman terus terdengar dari arah luar, orang-orang itu sepertinya sudah sangat emosi dan tak bisa lagi menahan diri untuk tidak memecahkan kaca mobil Andre.


"Hahaha, panik ya? Kasihan deh loh!" ledek Cahaya.


"Kurang ajar, diem lu! Emang lu sendiri gak panik apa? Di luar itu ada banyak banget anggota geng motor yang ganas, kalo kita ketangkap bisa mati kita termasuk lu sendiri Cahaya! Mending lu bantu kita deh, cari cara buat lolos dari mereka!" ucap Calissa sambil menoleh ke arah belakang.


"Dih ogah amat gue bantu kalian! Salah sendiri pake culik gue segala, wle!" ujar Cahaya.


"Ish nih anak bener-bener ya!" Calissa emosi.


"Sabar sayang sabar! Kita sekarang harus fokus dulu nih cari cara buat lepas dari mereka, karena kaca ini kayaknya gak kuat lagi deh nahan mereka!" ucap Andre panik.


"Aduh, terus nasib kita gimana dong?" ujar Calissa.


"Aku coba sms mama deh, siapa tahu mama bisa bantu kita!" sambungnya.


Calissa pun mengetik pesan untuk mamanya yang berisi permintaan bantuan.


Praaangg...


Tiba-tiba rombongan anak geng motor itu sudah berhasil memecahkan kaca mobil, bahkan pecahan kaca tersebut tampak melukai tubuh Andre dan Calissa.


"Aaaakkkhh!!"


"Heh! Sekarang lu gak bisa kemana-mana lagi, ayo turun sini hadapi gue!" ujar salah seorang anak motor itu, sambil menarik kerah baju Andre.


Mereka berhasil membuka pintu dan mengeluarkan paksa Andre dari dalam sana, terlihat yang lainnya juga memaksa Calissa untuk turun dengan cara kasar tanpa ampun.


Bugghhh...


Mereka langsung menghajar Andre secara membabi buta dan berhasil membuat pria itu terkapar dalam waktu sekejap, sedangkan Calissa masih berusaha berontak walau usahanya sia-sia karena banyak sekali orang yang memegangi dirinya.


"Lepasin gue! Kalian ini siapa? Kenapa kalian ngelakuin ini ke gue dan Andre, ha?" bentak Calissa.


"Diem lu! Atau kita bakal hajar lu juga!" tegas pria itu.


Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti di depan mereka. Si pria yang mengendarai motor itu pun turun dan melepas helm, ya ia adalah Robi yang memerintahkan geng motor tersebut untuk menangkap Calissa dan Andre.


"Hey Calissa! Do you miss me?" ucap Robi sambil tersenyum licik dan berhenti di dekat Calissa.


"Robi? Jadi, lu yang ngelakuin ini semua? Lu yang udah perintahin mereka buat hadang gue, iya?" ujar Calissa emosi.


"Kalau iya kenapa?" ucap Robi.


"Dasar kurang ajar lu! Pengkhianat!" bentak Calissa.


"Wuih galak amat sih lu! Dengar ya Calissa, gue gak akan berkhianat kok kalau lu mau dengerin perintah gue buat gak sentuh Cahaya! Tapi apa, lu malah semakin nekat buat lukain dia! Sekarang lu terima resikonya, bawa dia pergi!" ucap Robi.


"Baik Rob!"


"Heh lepasin gue! Kalian mau bawa gue kemana? Lepasin!" teriak Calissa.


"Diam!"


Orang-orang itu langsung membawa Calissa pergi dari sana dengan paksa, sedangkan Robi tampak tersenyum puas dan coba mencari dimana keberadaan Cahaya saat ini.


Robi masuk ke dalam mobil mengecek apakah disana ada Cahaya atau tidak, ia pun berhasil menemukan Cahaya, namun sayangnya gadis itu sedang pingsan mungkin karena kehabisan oksigen.


"Cahaya, bangun Cahaya!" ucap Robi sambil mencolek pipi gadis itu.


Tak ada respon dari Cahaya, Robi pun segera membawa tubuh gadis itu keluar dari sana untuk diberi pertolongan.


"Cahaya, kamu harus selamat!" ujar Robi cemas.




Topan sampai di tempat kejadian, ia melihat Calissa tengah diseret paksa oleh sekumpulan pemuda di depannya, tentu saja ia langsung turun dari mobil dan menghampiri mereka.

__ADS_1


Ardan serta yang lainnya pun mengikuti Topan, mereka juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi disana, namun pandangan mereka terpusat pada sosok Robi yang tengah menggendong Cahaya.


"Calissa!" teriak Topan.


Sontak Calissa menoleh saat namanya disebut, seketika ia tersenyum senang menyangka kalau Topan akan membantunya.


"Topan? Topan, aku disini Topan! Tolong aku dong, kamu harus selamatin aku!" ujar Calissa.


"Heh diem lu!" bentak anak buah Robi.


Saat Topan hendak maju mendekati Calissa, tiba-tiba Ardan menahannya dengan menyentuh pundak pria tersebut dari belakang.


"Tunggu bro!" ucap Ardan.


"Ada apa bro?" tanya Topan.


"Mending lu bantuin Cahaya, tuh dia lagi dibawa sama orang!" jawab Ardan.


"Hah??"


Topan mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjuk Ardan, ia pun menghela nafas dan segera melangkah menghampiri gadisnya. Topan tahu betul siapa pria yang membawa Cahaya, ya karena ia sudah beberapa kali bertemu dengan Robi.


"Sialan tuh orang! Yaudah, gue tolongin Cahaya dulu. Lu sama yang lainnya tangkap Calissa, gue gak mau dia lepas gitu aja!" ucap Topan.


"Siap bro! Guntur juga udah telpon polisi buat dateng kesini, semoga lu bisa selamatin Cahaya!" ucap Ardan.


"Pasti bisa!" ucap Topan penuh keyakinan.


Topan langsung berlari menghampiri Cahaya, sedangkan Ardan memerintahkan teman-temannya untuk mencegah pria-pria yang tengah membawa Calissa serta Andre.


"Woi berhenti!" teriak Ardan.


Sontak para anggota geng motor itu menghentikan langkahnya, mereka menatap ke arah Ardan yang berdiri tepat di depannya. Calissa pun menghela nafas lega karena ia berpikir Ardan akan menolongnya.


"Lepasin tuh cewek, jangan melawan kalau gak mau mati!" ucap Ardan.


"Hahaha emang lu siapa? Lu pikir gue takut gitu sama lu? Ayo maju sini dan coba aja kalo lu bisa bebasin dia!" tantang cowok itu.


"Kurang ajar, seraangg!!" teriak Ardan.


Ardan serta teman-temannya maju menyerang anggota geng motor itu, namun salah seorang yang memegangi Calissa tidak ikut melawan mereka karena ia ingin menjaga wanita itu.


"Lu gak akan bisa kemana-mana!" ucap pria bernama Oki itu.


"Cih lepasin gue!" berontak Calissa.


Dengan keberaniannya, Calissa menginjak kaki Oki dan berhasil melepaskan diri dari cengkraman pria tersebut. Tak hanya sampai disitu, Calissa juga melayangkan tendangan pada area sensitif Oki.


"Awhh sialan lu!" ujar Oki kesakitan.


Calissa pun memutuskan pergi dari sana, biarpun ia masih ragu untuk meninggalkan Andre dan juga Topan yang disayanginya.


"Calissa!" teriak seseorang dari belakangnya.


Begitu menoleh, Calissa melihat Santi alias mamanya sudah stand by di sebrang sana bersama mobilnya dan siap untuk membantu Calissa kabur dari sana.


Tentu saja Calissa merasa senang, ia kini yakin dengan keputusannya dan mulai berlari menghampiri mamanya di sebrang sana, sangking senangnya ia sampai tidak melihat sebuah truk yang melintas dari arah kanannya.


Santi yang melihat itu sontak berteriak coba memberitahu Calissa.


"Calissa awas!" teriak Santi.


Tiiinnnn...




Sementara itu, Topan berhasil mengejar Robi yang tengah membawa Cahaya menjauh dari tempat tersebut. Robi berniat untuk mengobati Cahaya dan membawanya ke rumah sakit, namun niatnya itu harus pupus dengan kemunculan Topan.


"Woi! Serahin Cahaya ke gue! Lu jangan harap bisa bawa dia pergi!" ujar Topan.


"Yaelah lu lagi lu lagi, ingat Topan lu udah gagal buat jaga Cahaya tadi! Hampir aja dia dibawa sama Calissa dan Andre, untung ada gue yang masih bisa tolongin dia!" ucap Robi.


"Cih sok jadi pahlawan! Mending sekarang lu turunin Cahaya dan fight lawan gue! Kalau lu menang, lu boleh bawa Cahaya! Tapi, kalau gue yang menang lu harus jauhin Cahaya dan gak boleh temuin dia lagi sampai kapanpun!" tantang Topan.


Robi terdiam menatap wajah Cahaya yang berada dalam gendongannya, ia merasa bingung apakah harus menerima tantangan Topan atau tidak.


"Kenapa diam? Takut lu?" tanya Topan.


"Buat apa gue takut sama lu? Oke kalo emang lu nantangin gue, bakal gue jabanin!" ujar Robi.


"Yaudah, lepasin Cahaya!" ucap Topan.


Robi menurut dan meletakkan Cahaya di atas rumput dengan perlahan, ia tak mau membuat gadis itu terluka walau sedikitpun. Lalu, ia kembali mendekati Topan untuk menghadapi tantangan pria tersebut.


"Maju lu!" ucap Topan.


Mereka bersiap untuk berkelahi, namun tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah belakang disertai rintihan yang membuat keduanya penasaran.


"Aaaakkkhh!!"


Braakkk...


"Calissa?" ujar Topan dan Robi bersamaan.


Ya suara itu berasal dari mulut Calissa, mata kedua pria itu menjadi saksi sebuah kecelakaan yang cukup mengerikan, dimana Calissa ditabrak oleh sebuah truk dengan cukup parah dan seketika tubuh wanita itu tergeletak di atas jalan dipenuhi dengan darah di sekelilingnya.

__ADS_1


Seluruh mata mengarahkan pandangan ke Calissa, termasuk para geng motor yang tengah berkelahi itu. Mereka tak menyangka akan ada kejadian seperti itu di depan mata mereka, bahkan Ardan sampai sangat syok dan menutupi mulutnya dengan tangan.


"Calissa...!!" teriak Santi histeris.


Sang mama dari Calissa langsung turun dari mobil dan menghampiri jasad putrinya, bisa dipastikan memang Calissa sudah kehilangan nyawa karena kecelakaan itu cukup mengerikan.


"Calissa bangun Calissa! Bangun sayang!" ujar Santi menangisi putrinya.


"Calissa bangun!!"


Seluruh orang disana, termasuk supir truk langsung menghampiri Calissa. Warga-warga di sekitar sana juga berhamburan keluar karena mendengar isak tangis Santi, mereka tak mengira akan ada kejadian seperti itu disana.


Topan pun mengurungkan niatnya untuk berkelahi dengan Robi, ia lebih memilih memastikan kondisi Calissa yang baru tertabrak truk itu. Namun, ia tetap membawa serta tubuh Cahaya dari hadapan Robi.


"Heh! Mau kemana lu?" cegah Robi.


"Lu gak lihat? Calissa ditabrak truk, biarpun dia udah coba bunuh Cahaya, gue tetep gak bisa biarin dia mati gitu aja!" ucap Topan.


"Yaudah, terus ngapain lu bawa Cahaya juga?" ujar Robi.


"Cahaya cewek gue, hak gue dong buat amanin dia dari cowok kayak lu! Udah deh, mending lu ikut bantu gue buat tolong Calissa! Atau lu mau lari sebelum polisi datang kesini?" ucap Topan.


"Maksud lu apa?" tanya Robi tak mengerti.


Wiuuu wiuuu...🚓🚓🚓 (suara sirine polisi)


Robi sontak membelalakkan matanya begitu melihat kedatangan polisi disana.


"Gimana? Udah ngerti kan?" ujar Topan.


"Sialan!" umpat Robi.


Robi langsung lari terbirit-birit pergi dari tempat tersebut, sedangkan Topan hanya tertawa kecil kemudian bergegas menghampiri Calissa. Namun, ia meletakkan tubuh Cahaya ke dalam mobilnya lebih dulu agar memudahkan membantu Calissa.




Polisi-polisi itu mendekat ke arah kerumunan, mereka penasaran apa yang terjadi sebenarnya.


"Permisi Bu, pak, ini ada apa?" tanya polisi itu.


"Begini pak, barusan aja sudah terjadi kecelakaan disini. Korban ini ditabrak oleh truk itu, pak!" jawab Ardan menjelaskan pada polisi.


"Baiklah! Kamu cepat telpon ambulance!" ucap polisi itu.


"Siap komandan!"


Setelah menghubungi ambulance, polisi-polisi itu mulai membubarkan kerumunan dan memberi garis polisi sembari mengecek kondisi Calissa yang masih tergeletak disana.


Topan muncul menghampiri teman-temannya, ia menganga lebar begitu melihat kondisi Calissa yang sangat mengenaskan.


"Bro, gue gak nyangka Calissa bisa mengalami kejadian seperti ini!" ucap Ardan.


"Iya bro, gue juga gak nyangka kalau akhirnya bakal jadi kayak gini! Biarpun Calissa itu jahat, tapi gue kasihan juga ngeliatnya! Apalagi mamanya kelihatan sedih banget kehilangan Calissa!" sahut Guntur.


"Namanya udah takdir bro, gak ada yang tau juga kita bakal mati kayak gimana nantinya!" ucap Topan.


"Benar sih bro!" ucap Ardan.


"Hiks hiks Calissa, bangun Calissa!"


Melihat Santi yang masih histeris, Topan memberanikan diri untuk maju dan mendekati Santi bermaksud agar wanita itu tenang.


"Tante, yang tabah ya!" ucap Topan.


Santi melirik sinis ke arah Topan, ia bangkit dan langsung mendorong tubuh Topan.


"Diam kamu! Ini semua terjadi gara-gara kamu! Andai saja anak saya tidak tergila-gila sama kamu, pasti ini gak akan terjadi! Harusnya kamu itu tidak memperlakukan Calissa seperti ini, Topan! Kenapa kamu sakiti dia?!" bentak Santi.


"Bu, tenang dulu Bu!" ucap warga menenangkan.


Akhirnya Santi berhasil tenang, ia dibawa menjauh oleh para warga yang turut membantu disana. Sedangkan Topan hanya terdiam sembari mengusap bawah hidungnya.


Tak lama kemudian, ambulance datang kesana dan langsung membawa tubuh Calissa. Santi sang mama ikut menemani karena ia sangat yakin putrinya masih bisa diselamatkan.


Salah seorang polisi berjalan menghampiri Topan, karena memang tujuan mereka kesana adalah untuk menangkap para penjahat yang sebelumnya dibicarakan oleh Guntur melalui telpon.


"Permisi, apa ini dengan saudara Guntur?" tanya polisi itu.


"Ah saya pak yang namanya Guntur, dia mah teman saya si Topan!" ucap Guntur.


"Oh begitu, lalu dimana penjahat yang harus kami amankan?" ujar polisi itu.


"Eee itu dia pak, penjahatnya yang barusan kecelakaan. Sama satu lagi ada di belakang tuh, dia pingsan abis kena pukul!" jawab Guntur.


"Baiklah, terimakasih sudah melapor!" ucap polisi.


Tak hanya membawa Andre, polisi-polisi itu juga turut meminta supir dari truk tadi untuk ikut dengan mereka, karena akan diselidiki lebih lanjut terkait kecelakaan yang menimpa Calissa.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


...|||...


...PART-PART MENUJU ENDING😢...

__ADS_1


__ADS_2