
...HALO GUYS!...
...WELCOME TO MY NEW STORY!...
..."TOPAN & CAHAYA"...
...~~~...
#TOPAN&CAHAYA EPS. 131
...β’...
...β’...
Cahaya sudah kembali ke kamarnya setelah selesai memijat Calissa sang mama muda cukup lama di kamarnya tadi, ia berusaha meregangkan jari-jarinya yang terasa pegal karena habis memijat Calissa sampai wanita itu tertidur pulas dibuatnya.
Cahaya langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di atas ranjang sesudah meregangkan otot-otot tangan miliknya, Cahaya terkejut saat melihat banyak sekali missed call dari Topan ke handphonenya mungkin sekitar sepuluh kali.
"Topan ngapain ya telpon gue?" gumamnya.
Akhirnya Cahaya memilih untuk menelpon kembali Topan untuk memastikan sendiri ada apa pria itu menelponnya berkali-kali, tentu ia sangat penasaran karena tak biasanya Topan menghubunginya dalam beberapa kali seperti ini kalau tak ada yang penting.
π"Halo!" ucap Cahaya begitu telponnya diangkat.
π"Hai cantik! Akhirnya kamu telpon balik aku juga, untung aja aku udah selesai mandi nih. Kamu tadi abis darimana sih? Kok telpon ku berkali-kali gak diangkat juga?" ucap Topan.
π"Iya maaf, gue abis mencoba jadi anak yang berbakti pada nyokap muda gue. Lu ada apaan sih telpon gue?" ujar Cahaya.
π"Ohh, cie yang mulai akrab sama nyokap muda. Awas loh nanti dari yang tadinya benci terus sering ribut, eh bakal jadi sayang dan gak bisa jauh-jauh dari nyokap muda kamu! Ya contohnya kayak kita sekarang, hehe.." ucap Topan meledek.
π"Apaan sih? Gue tuh terpaksa, supaya bokap gue gak bawa gue ke luar negeri. Kalo gak gitu gue juga males banget kali!" ujar Cahaya ngambek.
π"Iya aku percaya kok. Gausah ngambek begitu kali, galak amat jadi cewek! Biar aku tebak deh, sekarang bibir kamu pasti lagi manyun kan kayak bebek? Hahaha...." ucap Topan.
π"Ish, masih aja ngeselin! Udah ah, sekarang kasih tau gue apa mau lu...??!!" ujar Cahaya kesal.
π"Santai dong! Kamu mah marah-marah mulu nih kerjaannya, jangan gitu dong sama pacar! Nanti kalo aku kabur terus cari yang lain, gimana hayo?" ucap Topan memancing Cahaya.
π"Ya bodoamat! Siapa juga yang peduli? Lagian lu tuh gak jelas banget sih, nelponin berkali-kali tapi gak ada kepentingan apa-apa!" ujar Cahaya bete.
__ADS_1
π"Kata siapa gak ada? Ada kok, justru ini tuh penting banget dan aku jamin kamu pasti bakal geger begitu denger ceritanya!" ucap Topan sengaja membuat Cahaya penasaran.
π"Hah? Soal apa emangnya?" tanya Cahaya.
π"Iya, jadi kan aku nyuruh orang buat selidiki tentang akun yang sebarin video kamu itu. Nah barusan orang itu hubungin aku, dia kasih tau siapa dalang dibalik semua itu!" jelas Topan.
π"Oh ya? Terus siapa dalangnya??" tanya Cahaya makin dibuat penasaran oleh Topan.
π"Hahaha, kepo ya...??" ledek Topan.
π"Kurang ajar! Gue udah serius juga! Buruan ah Topan, gue penasaran nih...!!" bentak Cahaya.
π"Hahaha, iya iya. Jadi dalangnya itu...."
TOK TOK TOK...
"Cahaya, buka pintunya sayang!"
Suara teriakan sang papa dari arah luar membuyarkan obrolan Cahaya serta Topan di telpon itu, sontak Cahaya pun panik dan khawatir jika papanya mendengar atau mengetahui kalau ia tengah telponan dengan Topan.
π"Topan, udah dulu ya? Bokap gue dateng, nanti lagi kita sambung!" bisik Cahaya.
Tuuutttt....
Cahaya langsung menutup telpon itu dan meletakkan ponselnya di atas meja, ia dengan cepat bangkit lalu berjalan ke dekat pintu. Sedangkan sang papa terus saja mengetuk pintu tersebut sembari memanggil nama putrinya dengan keras bahkan semakin keras.
"Cahaya, cepat buka papa mau bicara!" ucap Hendra.
"Iya, pah. Sebentar...!!" teriak Cahaya.
Ceklek...
Cahaya membuka pintu kamarnya lalu menemui sang papa disana, ia terkejut melihat wajah papanya yang tampak emosi dan ingin marah padanya. Tentu Cahaya bingung mengapa papanya sampai semarah itu dan terlihat ingin sekali menamparnya.
Hendra yang melihat Cahaya sudah membuka pintu dan muncul di depannya, pun langsung menarik tangan Cahaya secara paksa untuk ikut dengannya ke bawah, Cahaya yang kaget berusaha melepaskan diri dari cengkeraman papanya karena kebingungan.
"Pah, papa apaan sih? Papa mau bawa aku kemana?" ujar Cahaya bingung sekaligus cemas.
"Diam kamu! Ikut aja sama papa!!" bentak Hendra.
__ADS_1
Akhirnya Cahaya terpaksa menurut dan mengikuti kemanapun Hendra membawanya pergi, walau ia terlihat sangat bingung dan panik karena papanya benar-benar marah kali ini, ia pun berpikir mungkin saja ini ulah Calissa yang mulutnya lemes.
β’
β’
Hendra mengajak Cahaya ke lantai bawah, disana juga sudah ada Calissa serta dua orang bodyguard barunya yang disewa sang papa untuk menjaga dirinya agar tak mendekati Topan, tentu Cahaya takut kalau Hendra akan kembali memarahinya.
Bukan hanya takut dimarahi, Cahaya juga takut kalau misalnya nanti Hendra akan kembali memintanya untuk sekolah di luar negeri karena tau kalau Cahaya sudah mengingkari janji, namun Cahaya masih tetap berusaha tenang dan tidak panik saat ini.
"Pah, papa mau ngapain sih? Aku salah apa lagi sampe papa marah-marah begini?" tanya Cahaya.
Hendra melepaskan tangannya dari lengan Cahaya yang tadi ia cengkram kuat, sontak gadis itu langsung memegangi lengannya yang sakit.
Hendra pun menatap tajam ke arah putrinya dengan nafas memburu serta amarah yang sepertinya sangat meluap, ia menarik dagu Cahaya dengan telunjuknya hingga kini ia bisa melihat jelas wajah cantik putrinya yang tengah ketakutan.
"Happy birthday, sayang!"
Diluar dugaan ternyata yang keluar dari mulut sang papa adalah ucapan selamat ulang tahun, tentu saja Cahaya bingung dan heran karena ia sendiri juga lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya, ia terlalu sibuk memikirkan gelang dari Topan.
"Apa?" Cahaya masih belum percaya.
"Iya sayang, selamat ulang tahun yang ke 18! Papa harap kamu bisa tumbuh jadi gadis dewasa yang cerdas dan pintar!" ucap Hendra tersenyum.
"Emangnya hari ini hari ulang tahun aku, pah?" tanya Cahaya kebingungan.
"Loh kamu ini gimana sih? Masa sama hari lahir sendiri lupa? Sekarang kan udah tanggal 4 April, berarti tandanya kamu nambah umur. Selamat ulang tahun ya sayang!" ucap Hendra.
"Oh iya ya, aku lupa pah. Makasih ya pah, papa udah inget sama hari ulang tahun aku!" ucap Cahaya menangis terharu dan langsung memeluk papanya.
Hendra pun mengusap lembut punggung Cahaya dan menautkan dagunya pada puncak kepala putrinya, sejujurnya Hendra sangat menyayangi Cahaya dan tak bisa bila harus kehilangan Cahaya apalagi dibenci oleh putri satu-satunya itu.
Tak lama kemudian, bik Minah serta pak Hadi muncul membawakan kue ulang tahun yang besar dan sudah dihias oleh lilin menyala berangka 18 yang merupakan umur baru Cahaya saat ini.
Cahaya pun nampak senang melihat kejutan yang diberikan sang papa padanya, rasa takut dan tegang yang tadi ia alami pun sirna seketika saat mengetahui kalau papanya hanya menjebak dirinya dan pura-pura marah tadi.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1