Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 28. Chattingan


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 27


...•...


...•...


Keesokan harinya, Cahaya mengecek ponselnya dan terkejut karena ada notif dari aplikasi penjemput jodoh yang baru ia download semalam. Karena penasaran Cahaya pun langsung membukanya, saat ini ia sudah berpakaian seragam sekolah dengan rapih hanya saja rambutnya masih basah.


Cahaya tampak syok mendapati ada lelaki yang mendekatinya di aplikasi tersebut, ia menutup mulut bingung antara senang atau sedih karena ia belum pernah chattingan dengan cowok sebelumnya.


"Badai? Ih kocak amat namanya, kayak gak ada nama lain aja! Dia ngechat gue apa ya?" gumam Cahaya lalu mengklik tombol pesan di aplikasi itu.


💌Badai : Hai, halo!


Matanya membelalak lebar begitu membaca isi pesan dari si badai yang sangat biasa, Cahaya saja sampai tidak bisa menahan tawanya membaca itu.


"Ya ampun, ini cowok kok kaku banget sih? Gue pikir namanya badai terus ketikannya bakalan asik gitu, lah ini apa banget dah? Yaelah apa gue tolak aja kali ya?" gumam Cahaya geleng-geleng kepala.


Cahaya hendak memencet tombol merah yang terdapat di layar ponselnya untuk menolak pendekatan dari Badai, akan tetapi tiba-tiba lelaki itu mengirim pesan kembali kepadanya.


Tliingg...


💌Badai : Morning, senja yang berubah menjadi embun saat di pagi hari! Sedang apa kamu?


Kali ini Cahaya sedikit dibuat tersenyum karena isi pesan dari badai, sehingga ia memutuskan menunda menolak pria tersebut sebagai calon jodohnya. Cahaya pun mengetik pesan balasan untuknya, namun ia cukup bingung harus membalas bagaimana karena masih grogi.


"Duh gue bales apa ya?" gumam Cahaya mengetuk jarinya ke dagu sambil berpikir.


Akhirnya Cahaya mendapat jawaban yang tepat untuk membalas pesan Badai, ia pun langsung mengetiknya tanpa berlama-lama lagi karena khawatir pria tersebut menunggu balasannya.

__ADS_1


💌Senja : Morning too, aku lagi mau berangkat sekolah nih!


Setelah membalas pesan itu, Cahaya bangkit dari duduknya mengambil jaket kesayangan dari dalam lemari lalu menyemprotkan parfum beberapa kali ke tubuhnya serta berkaca di cermin merapihkan rambutnya yang masih sedikit basah.


Cahaya meletakkan jaketnya di atas kasur, lalu mengambil sepasang sepatu serta kaus kaki miliknya dan memakainya disana tentu. Cahaya baru ingat kalau ia ingin mengatakan sesuatu pada papanya mengenai kerjaan, ya ia harus mendapat uang sendiri demi bisa membayar hutangnya.


"Oh iya, gue kan belum bilang ke papa soal gue mau kerja di kantornya! Kira-kira papa bakal setuju gak ya? Apalagi pasti sekarang di bawah papa lagi sama nenek sihir itu, bisa aja dia pengaruhi papa supaya gak izinin gue kerja..." gumam Cahaya sembari mengikat tali sepatu.


Tliingg...


Ponselnya kembali berbunyi, dengan secepat kilat Cahaya langsung mengambilnya dan mengecek apakah balasan dari Badai. Matanya tampak gembira melihat isi pesan tersebut, hingga tanpa sadar sebuah senyum terpancar di wajahnya.


💌Badai : Ohh jadi kamu masih sekolah, pasti masih imut-imut gemesin ya! Oke deh, semangat sekolahnya cantik!


Kali ini Cahaya tidak membalas pesan itu, karena ia harus buru-buru turun ke bawah menemui papanya.




Sesampainya di meja makan, terlihat sang papa memang sudah berada disana bersama Calissa alias mama mudanya. Cahaya menatap malas lalu menghela nafasnya kasar ketika melihat Calissa, ia pun berjalan menghampiri mereka sembari menenteng jaket di lengannya.


"Iya pagi, sayang! Kok cuma papa aja sih yang disapa? Kan ada Calissa juga disini, ayo dong kamu terima dia sebagai mama kamu!" ucap Hendra.


"Oh iya, maaf gak kelihatan! Pagi, Calissa!" ucap Cahaya dengan terpaksa menyapa istri muda papanya itu sambil menunjukkan senyum.


"Hey, panggilnya jangan Calissa aja dong! Dia ini kan sekarang udah jadi istri papa, otomatis kamu harus panggil dia mama!" ujar Hendra.


"Udah gapapa, mas! Mungkin Cahaya canggung kali kalo panggil aku dengan sebutan mama, secara umur kita kan gak jauh beda!" ucap Calissa.


"Nah bener tuh pah kata Calissa, aku sama dia kan cuma beda 3 tahun! Masa aku harus panggil dia mama sih, kurang enak aja gitu di dengernya!" ujar Cahaya terus tersenyum.


"Yasudah, untuk sekarang papa masih memaklumi! Tapi, kamu harus belajar buat panggil Calissa dengan sebutan mama kalau kamu masih ingin menggunakan fasilitas milik papa!" ucap Hendra.


"Iya, pah!" ucap Cahaya singkat.


Melihat Cahaya terus senyum-senyum tak karuan membuat Calissa merasa curiga padanya, karena memang tidak biasanya Cahaya seperti itu apalagi sejak kehadirannya disana pasti gadis itu selalu saja emosi dan cemberut jarang sekali tersenyum.

__ADS_1


"Kenapa sama itu anak ya? Tumben banget pagi-pagi begini dia senyum kayak gitu, pasti dia lagi ngerencanain sesuatu nih buat gue!" batin Calissa.


Cahaya mengambil sepotong roti lalu mengoleskannya dengan selai nanas sambil terus tersenyum memandangi wajah Calissa, nampaknya Cahaya memang sengaja melakukan itu agar Calissa merasa jengkel padanya. Benar saja Calissa tampak kesal karena terus-terusan dipandang oleh Cahaya, apalagi gadis itu melempar senyum ke arahnya.


"Hey, Cahaya! Ada apa sih? Kenapa kamu senyum-senyum gitu sambil ngeliatin Calissa?" tanya Hendra heran karena sedari tadi melihat putrinya terus tersenyum ke arah Calissa.


"Gapapa, pah! Aku cuma mau lebih akrab aja sama Calissa, dengan begitu kan aku bisa terima dia disini sebagai pengganti mama..." jawab Cahaya.


"Ohh, yaudah bagus!" ucap Hendra singkat.


"Umm, pah! Nanti aku berangkat ke sekolahnya bareng papa ya, boleh kan? Soalnya udah lama aku gak diantar sama papa ke sekolah..." ujar Cahaya.


"Ya, boleh kok! Kebetulan papa juga gak ada urusan penting jadi bisa antar kamu dulu ke sekolah, tapi tumben kamu minta antar sama papa biasanya juga lebih suka naik motor..." ujar Hendra.


"Gapapa dong, pah! Aku kangen aja dianterin papa ke sekolah!" ucap Cahaya tersenyum.


Hendra pun membalas senyuman putrinya, ia senang karena Cahaya bisa berdamai dengan situasi dan menerima kenyataan kalau mamanya sudah pergi.


...•••...


Disisi lain, Topan masih gelisah menunggu balasan dari wanita di aplikasi penjemput jodoh itu. Ia terus mondar-mandir memandangi layar hp nya, namun tak kunjung ada balasan yang masuk dari Senja. Topan pun tampak kesal dan berteriak emosi, ia memukul lemari sebagai pelampiasan kekesalannya.


"Aargghh, kenapa gak dibales sih? Gak tahu apa kalo gue tuh nungguin balesan dia? Sial banget nih cewek, sok jual mahal!" umpat Topan kesal.


Akhirnya Topan mengetik pesan kembali untuk dikirim ke Senja, ia sepertinya mulai candu menggunakan aplikasi itu walau masih baru.


💌Badai : Hey, Senja! Kok gak dibalas sih? Aku nungguin balasan dari kamu loh, apa kamu udah berangkat ke sekolah?


Itulah pesan yang diketik oleh Topan alias Badai, ia langsung mengirim pesan itu tanpa basa-basi lagi lalu menunggu senja membalasnya disana.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...



...Topan gak sabaran nih...

__ADS_1


...❤️❤️❤️...


__ADS_2