Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 97. Semua cemas


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 96


...•...


...•...


"CUTTT...!!!"


Teriakan dari sutradara sudah yang kesekian kalinya membuat pria itu tampak kesal dan tak percaya karena Eun-Kyung gagal terus memainkan adegannya, memang tak seperti biasanya karena saat ini Eun-Kyung terlihat kebingungan sendiri.


Akhirnya sutradara memutuskan break sejenak supaya Eun-Kyung bisa lebih tenang dan tentunya adegan itu dapat ia lakukan dengan sempurna.


Wulan menghampiri Eun-Kyung disana dan tampak kasihan melihat wanita itu tengah bersedih sambil duduk memegangi dagunya, walau ia juga tidak tahu apa penyebab Eun-Kyung sampai seperti itu dan tidak fokus melakukan adegan syuting.


"Tante, tante kenapa?" tanya Wulan yang kini duduk di samping Eun-Kyung.


Bukannya menjawab, Eun-Kyung justru memeluk dan mendekap erat tubuh Wulan membuat gadis itu kaget karena tak siap menerima pelukan dari Eun-Kyung yang tiba-tiba itu.


"Eh eh, tante ini kenapa...??" tanya Wulan lagi.


"Tante juga gak tahu sayang, daritadi tante kepikiran terus sama Topan! Ini gak seperti biasanya, tante cemas sekali dengan keadaan putra tante itu!" jawab Eun-Kyung sembari memeluk Wulan.


"Kalo gitu tante coba aja hubungin Topan dulu! Siapa tahu setelah itu tante bisa lebih tenang, ya kan?" ucap Wulan memberi usul.


"Oh iya, bener juga kamu!"


Setelah mendapat saran dari Wulan, Eun-Kyung pun segera menghubungi putranya yakni Topan dan memanggil asistennya untuk mengambilkan ponsel miliknya yang tersimpan di dalam tas.


Tanpa berlama-lama lagi, Eun-Kyung langsung menghubungi nomor Topan begitu asistennya sampai dengan membawa ponselnya kesana dan tampak cemas serta khawatir sekali.


Wulan yang ada di sampingnya berupaya menenangkan Eun-Kyung dengan memegang dua pundak wanita itu, ia memang tak mengerti apa yang dirasakan Eun-Kyung sekarang, tapi ia tahu kalau Eun-Kyung adalah seorang ibu yang mencemaskan kondisi putranya.


"Gimana, tante?" tanya Wulan saat melihat Eun-Kyung sudah menyingkirkan ponsel dari telinganya.

__ADS_1


"Gak diangkat-angkat," jawab Eun-Kyung panik.


"Coba aja tante telpon lagi! Mungkin Topan tadi gak denger karena lagi di mobil," ucap Wulan.


"Iya iya..."


Eun-Kyung pun mencoba untuk yang kedua kalinya menghubungi nomor putranya itu, akan tetapi hasilnya tetap sama yakni telponnya tidak tersambung ke nomor Topan dan malah semakin membuatnya khawatir saat ini.


"Tetep gak nyambung juga, Wulan!" ujar Eun-Kyung.


"Duh Topan, kamu kemana sih nak?" ujarnya lagi.


"Sabar ya, tante! Tante tenang aja dulu, mungkin aja Topan lagi ada kelas jadi dia gak bisa angkat telpon dari tante!" ucap Wulan masih berusaha menenangkan Eun-Kyung yang panik.


Eun-Kyung pun mengangguk lalu membenamkan wajahnya pada pundak Wulan, pikirannya terus saja mengarah ke Topan yang hingga kini belum bisa ia hubungi dan ia tidak tahu bagaimana kondisi putranya itu sekarang.


"Kasian tante Eun, semoga Topan baik-baik aja!" batin Wulan merasa bersedih juga.




"Ish, Topan kemana sih? Biasanya dia selalu angkat telpon dari gue, tapi kok ini enggak?" ujarnya.


Gadis itu akhirnya memilih mencari Topan di sekitar kampus atau teman pria tersebut, ia benar-benar cemas pada Topan walau ia tidak tahu mengapa perasaannya seperti itu.


Tak lama kemudian, ia melihat salah satu teman Topan yang tengah berjalan disana, tanpa berlama-lama ia pun segera menghampiri Guntur untuk menanyakan dimana Topan sekarang.


"Guntur...!!" teriak Bella memanggil pria itu.


Sontak Guntur menghentikan langkahnya lalu menoleh ke asal suara wanita yang memanggilnya, ia menghela nafas begitu melihat Bella berdiri di dekatnya karena ia juga tidak suka bila wanita itu ada berdekatan dengannya.


"Kenapa, Bel?" tanya Guntur malas.


"Lu lihat Topan gak?" ucap Bella bertanya pada Guntur dengan wajah cemasnya.


"Gak tuh, ngapa emang?" ujar Guntur ketus.


"Ish, daritadi gue cari-cari dia di kampus gak kelihatan! Terus nomornya gue telponin juga gak nyambung-nyambung, lu serius gak lihat dia?" ucap Bella benar-benar khawatir.


"Kagak Bel, udah lah lu gausah cemas gitu! Topan gak bakal kenapa-napa, justru kalo lu temuin dia baru deh dia kenapa-napa!" ucap Guntur.

__ADS_1


"Ish, nyebelin lu! Gue tuh serius panik tau, lu mah gak ngerti sih apa yang gue rasain sekarang! Mending lu coba deh telpon Topan, siapa tau dia mau angkat telpon dari lu!" ucap Bella.


"Hadeh, ogah!" ujar Guntur ketus.


Guntur pun pergi begitu saja meninggalkan Bella disana karena ia sudah tak sanggup meladeni wanita itu, sedangkan Bella tetap disana makin mengkhawatirkan kondisi Topan apalagi Guntur juga tidak mengetahui dimana keberadaan pria itu.


"Bella...."


Tiba-tiba suara seorang pria muncul dari belakangnya, Bella pun terkejut lalu reflek menoleh ke belakang untuk memastikan siapakah yang memanggilnya itu.


"Bram? Lu mau ngapain sih?" ujar Bella ketus.


"Kamu lagi ngapain disini, sayang?" tanya Bram sambil tersenyum.


"Gausah kepo!" ucap Bella judes.


Kali ini giliran Bella yang merasa tidak nyaman saat Bram mendekatinya, ia pun pergi meninggalkan pria itu disana karena ia malas sekali harus meladeni Bram dan tak perduli berapa kali pria itu berteriak memanggil namanya.


...•••...


Disisi lain, Cahaya baru selesai memilih siapa lelaki yang cocok untuk berpasangan dengannya dalam ajang pemilihan abang-none antar sekolah tahun ini.


Ya seperti yang sudah diduga oleh teman-temannya sebelum ini, akhirnya Agung lah pria yang terpilih untuk menjadi pasangan Cahaya dalam ajang tersebut dan nantinya mereka akan dilatih selama beberapa Minggu sebelum mengikuti lomba.


"Aya, gak nyangka ya kita bisa jadi pasangan wakil sekolah di ajang abang-none!" ujar Agung nyengir.


Cahaya hanya diam bersikap cuek pada pria di sampingnya yang sedari tadi terus saja coba mengajaknya berbicara, gadis itu memang tidak bisa fokus lantaran ia memiliki perasaan tidak enak pada Topan alias kekasihnya.


"Heh, Aya! Kok lu diem aja sih? Gue daritadi ngajakin lu ngomong loh!" ujar Agung.


Lagi-lagi Cahaya masih terdiam tak menghiraukan perkataan Agung, ia memandang lurus ke depan dengan pikiran yang terus saja mengarah pada sosok Topan.


Akhirnya Agung tampak frustasi karena Cahaya benar-benar tidak bisa diajak bicara, padahal ia hanya ingin mempererat chemistry diantara mereka supaya ketika ajang itu dimulai mereka bisa lebih baik dan tidak canggung lagi.


"Hadeh, susah emang bangun chemistry sama cewek es batu kayak lu...!!" cibir Agung.


Cahaya melirik sekilas ke arah Agung lalu kembali fokus menatap ke depan, ia tak perduli apapun yang diucapkan Agung kepadanya karena ia juga sebenarnya malas sekali mengikuti ajang tersebut.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2