
...HALO GUYS!...
...WELCOME TO MY NEW STORY!...
..."TOPAN & CAHAYA"...
...~~~...
#TOPAN&CAHAYA EPS. 281
...•...
...•...
"Jangan, tolong jangan!"
"Jangan sentuh gue!"
"Hahaha, tenang aja cantik! Kamu cukup diam seperti ini dan biarkan kami yang beraksi menikmati tubuh indah kamu,"
"Iya, serahkan semuanya ke kita Cahaya!"
"Lepasin gue, tolong! Siapapun tolong gue!"
"Jangaannn...!!"
Cahaya tersadar dari lamunannya, ia berteriak cukup keras hingga membuat seisi kelas terdiam menatap ke arahnya karena terkejut. Ya saat ini gadis itu masih berada di dalam kelas dan ada seorang guru yang sedang mengajar, ia pun melirik sekeliling dan merasa malu karena sudah berteriak seperti itu.
Tentu saja teriakan Cahaya membuat bingung satu kelas, bahkan pak Fred yang tengah mengajar juga ikut bertanya pada Cahaya mengapa gadis itu bisa sampai berteriak.
"Cahaya, kamu kenapa?" tanya Fred heran.
Gadis itu gemetar, ia melirik ke arah teman-temannya dan sekilas bayangan tentang kejadian semalam kembali terbayang di dalam kepalanya.
"Gue bener-bener takut banget!"
Melihat Cahaya hanya diam, Fred pun memutuskan untuk menghampiri gadis itu dan menaruh sejenak spidol serta buku pelajaran miliknya di atas meja demi keselamatan Cahaya.
"Cahaya, kamu ada apa sebenarnya? Kalau ada masalah atau apapun itu, cerita aja!" tanya Fred.
"Eee sa-saya gapapa kok pak, bapak gak perlu khawatir! Saya cuma mengigau aja tadi, maaf ya pak saya gak fokus!" ucap Cahaya gugup.
"Mengigau?" Fred tak percaya.
"I-i-iya pak, maafin saya ya!" ucap Cahaya.
"Yasudah, gapapa. Kamu mau cuci muka dulu atau enggak? Supaya kamu gak mengigau lagi, terus bisa fokus mengikuti pelajaran saya!" saran Fred.
__ADS_1
"Eee boleh deh, pak. Kalo gitu saya izin ke toilet ya, pak?" ucap Cahaya.
"Ya, silahkan!" ucap Fred tersenyum.
Cahaya pun beranjak dari kursinya, ia berjalan ke luar kelas dengan perlahan dan masuk ke dalam toilet untuk mencuci wajahnya.
"Oke, sekarang ayo kita fokus lagi ke materi!" teriak Fred meminta murid-muridnya kembali fokus.
"Baik pak!" ucap semua murid disana serentak.
Namun, Prita selaku teman sebangku Cahaya masih merasa cemas dengan kondisi gadis itu. Ya pikiran Prita pun tidak bisa fokus ke papan tulis, karena ia penasaran sekali apa yang sebenarnya terjadi pada Cahaya sehingga gadis itu bisa sampai melamun terus-menerus dan bahkan mengigau.
"Cahaya kenapa ya? Gue kok gak yakin kalo dia cuma ngigau biasa, pasti dia lagi ada masalah!" gumam Prita di dalam hatinya.
Sementara Cahaya yang sudah berada di dalam toilet itu masih membasuh wajahnya dan berdiri di depan cermin, ia menatap wajahnya sendiri dengan tatapan kosong serta bibir gemetar.
"Lu bodoh Cahaya, lu payah! Bisa-bisanya lu kena pengaruh Lyodra dan temannya itu!" batin Cahaya.
Tiba-tiba saja gadis itu mengamuk memegangi wajahnya sembari memukul apapun yang ada disana, ia histeris karena bayangan mengenai kejadian semalam masih terus menghantui pikirannya saat ini.
"Aaaaa...."
Mendengar suara teriakan dari dalam toilet, Agus selaku petugas kebersihan sekolah pun panik dan coba mengecek langsung ke dalam sana untuk mengetahui apa yang terjadi.
Agus melihat Cahaya tengah terduduk di pojokan toilet sembari menutupi wajahnya dengan dua tangan, terdengar suara isak tangis Cahaya yang membuat Agus merasa kasihan.
"Hiks hiks...." Cahaya menangis.
Agus tak punya pilihan lain, ia memberanikan diri mendekati gadis itu walau ia takut kalau itu bukanlah manusia melainkan hantu.
"Dia beneran manusia atau setan, ya? Tapi, kakinya napak kok. Pasti dia manusia!" batin Agus.
Perlahan Agus menyentuh tubuh Cahaya dengan jarinya, gadis itu langsung bergetar karena kaget saat ada yang menyentuhnya. Ya Cahaya pun mendongak menatap wajah Agus dengan wajah yang telah dipenuhi oleh air mata.
"Neng Aya?" ujar Agus terkejut.
Cahaya hanya terdiam sesenggukan sembari membuang muka, ia sebenarnya tak mau ada satu orangpun yang tahu mengenai masalah ini selain Topan.
"Neng Aya teh ngapain nangis disini? Emangnya lagi gak ada kelas?" tanya Agus heran.
"Misi kang," Cahaya justru bangkit dan pergi dari sana meninggalkan Agus yang masih belum mengerti apa penyebab Cahaya menangis.
"Ada apa ya sama neng Aya?" gumam Agus bingung.
•
•
__ADS_1
Kriiinggg.... Kriiinggg....
Bel istirahat berbunyi, Cahaya yang sudah berada di kelas pun memasukkan buku-buku miliknya ke dalam tas. Ia masih saja terbayang pada kejadian semalam saat dilecehkan oleh pria-pria di hotel.
Prita teman sebangkunya pun merasa cemas melihat Cahaya yang tampak seperti ketakutan itu, ia coba bertanya langsung pada Cahaya mengenai masalah yang terjadi pada gadis itu.
"Aya, lu itu sebenarnya kenapa sih? Daritadi gue perhatiin lu diem terus, sampe tadi ngigo gitu pas pelajaran pak Fred!" tanya Prita heran.
"Eee gue gak ada apa-apa kok, yaudah ya gue mau ke bawah dulu. Makasih udah perduli, tapi gue baik-baik aja kok lu gak perlu panik!" jawab Cahaya sambil tersenyum.
"Yaudah deh," ucap Prita.
Cahaya pun beranjak dari kursinya, lalu hendak pergi ke kantin menemui teman-temannya.
Akan tetapi, ia dicegat oleh Aryo si ketua kelas.
"Eh tunggu! Lu mau kemana?" tegur Aryo.
"Hah? Ngapain lu cegat gue kayak gitu? Gue mau ke kantin lah, ini kan udah waktunya istirahat. Awas ah jangan halangin gue!" ucap Cahaya kesal.
"Yeh nanti dulu! Emang lu gak mau dapet info tentang ujian kenaikan kelas?" ucap Aryo.
"Ya mau lah!" ucap Cahaya.
"Yaudah, duduk lagi sana! Dengerin baik-baik, jangan malah bengong kayak pas pelajaran tadi! Kalau lu gak dengar dan gak merhatiin, gak ada pengulangan dari gue!" ujar Aryo.
"Oh, ya gapapa sih. Gue kan bisa tanya langsung ke pacar gue, dia pasti juga tau!" ucap Cahaya.
Aryo terdiam tak berkutik, mau gimanapun tak mungkin ia menang berdebat dengan seorang wanita yang merupakan kekasih dari anak pemilik sekolah.
"Udah ah awas!" ujar Cahaya.
Cahaya melangkah maju melewati Aryo dengan sedikit mendorongnya menggunakan bahu, tentu saja pria itu hanya bisa mengusap wajahnya biarpun ia sangat ingin memukul Cahaya.
"Haish, tuh cewek minta disembelih emang! Ngeselin banget gayanya, kalo bukan pacarnya anak pemilik sekolah pasti udah gue kebiri tuh dia!" ujar Aryo geram.
"Hahaha, parah bener lu bro! Udah sabar aja, cewek mah emang gitu!" ujar Fandi menenangkan.
"Yaudah lah, yuk kita mulai!" ucap Aryo.
Fandi mengangguk, lalu memerintahkan seluruh teman kelasnya untuk diam mendengarkan perkataan Aryo mengenai ujian kenaikan kelas yang akan diselenggarakan sebentar lagi.
Aryo dibantu oleh Tata selaku sekretaris kelas yang juga merupakan kekasihnya itu.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1