
...HALO GUYS!...
...WELCOME TO MY NEW STORY!...
..."TOPAN & CAHAYA"...
...~~~...
#TOPAN&CAHAYA EPS. 15
...•...
...•...
Hari telah mulai gelap, matahari juga sudah pergi setelah tugasnya selesai dan kini berganti bulan yang menyinari malam gelap ini. Cahaya berdiri tegak dengan kedua tangan menutupi tubuhnya yang kedinginan.
Wanita itu kembali ke rumahnya, rumah yang dahulu sangat membuatnya nyaman karena dikelilingi oleh dua orang yang sangat menyayanginya. Namun, kini rumah itu malah menjadi lumbung kesedihan baginya setelah sang papa memilih menikah lagi dan meninggalkan mamanya yang sedang sakit.
Cahaya memang tak mempunyai pilihan lain selain pulang ke rumah, tak mungkin ia harus tidur di jalanan yang sangat dingin dan berbahaya itu. Bagaimanapun juga ia masih memiliki keyakinan kalau papanya tidak mungkin mengusirnya.
Dengan penuh keyakinan dan tekad yang kuat, Cahaya melangkahkan kakinya ke depan pintu gerbang sambil menghela nafasnya kasar.
"Misi, pak Ahmad! Tolong bukain pintunya dong!" ucap Cahaya memanggil satpamnya sambil terus mengusap-usap tubuhnya yang kedinginan karena terkena hembusan angin malam.
Tak lama kemudian, seseorang dengan pakaian satpam muncul dan berlari menghampiri Cahaya yang berada di depan gerbang. Satpam itu tampak sumringah dapat melihat kembali nona nya disana.
"Wah non Aya? Akhirnya pulang juga, sebentar non biar saya bukain pintu gerbangnya!" ucap pak Ahmad lalu mengambil kunci gembok dari saku celananya dan membuka pintu pagar.
Setelah terbuka, pak Ahmad pun mempersilahkan Cahaya masuk dan dengan perlahan Cahaya melangkahkan kakinya kembali ke rumah tempat ia dibesarkan oleh kasih sayang kedua orangtuanya.
"Makasih, pak!" ucap Cahaya singkat tersenyum ke arah pak Ahmad yang berdiri di dekat gerbang.
__ADS_1
"Sama-sama non,"
Cahaya pun melewati sang satpam begitu saja tanpa berbicara lagi, entah mengapa saat ia kembali kesana hatinya langsung teringat pada sang mama yang telah tiada. Apalagi ketika ia melewati taman di depan rumahnya yang mana itu merupakan tempatnya sering main bersama kedua orangtuanya waktu kecil dulu.
Akhirnya Cahaya sampai di depan pintu rumahnya, ia hendak mengetuk pintu itu namun tiba-tiba ia mengurungkan niatnya. Entah mengapa Cahaya masih merasa ragu untuk kembali masuk kesana, apalagi di dalam sudah pasti ada wanita yang telah membuat mamanya pergi untuk selamanya.
"Gue ragu, tapi gue gak ada pilihan lain!"
Cahaya pun mengambil nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya, ia memantapkan keputusannya untuk kembali masuk kesana karena bagaimanapun juga ini adalah rumah miliknya.
TOK TOK TOK...
Ceklek... pintu terbuka sesaat setelah Cahaya mengetuknya, seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah bibinya itu berdiri disana. Ia tampak terkejut bahagia melihat kedatangan Cahaya kembali di rumah itu.
"Non Aya? Ya ampun, Alhamdulillah wa syukurillah.... akhirnya non Aya pulang juga non, bibi bener-bener khawatir loh sama non Aya karena belum pulang-pulang sejak pemakaman tadi!" ucap bibinya.
"Iya bi, aku pasti pulang kok!" ucap Cahaya tersenyum lalu memeluk bibinya tanpa rasa ragu membuat wanita itu terkejut.
"Makasih bi, Cahaya sayang banget sama bibi!" sambungnya mempererat pelukan sambil mengelus punggung bibinya itu.
"Gapapa bi, aku lagi pengen peluk bibi!" ucap Cahaya tak mau melepaskan pelukannya.
Tak lama kemudian, muncul Calissa dari dalam karena penasaran dengan suara orang berbicara. Calissa pun memasang wajah tak suka melihat kedatangan Cahaya kembali ke rumah itu, ia jadi tak bisa leluasa menguasai rumah ini jika Cahaya kembali.
"Eh Cahaya, kamu udah pulang sayang?" ucap Calissa berpura-pura baik pada Cahaya agar gadis itu tak mencurigai niatnya.
Sontak Cahaya melepas pelukannya dari sang bibi, ia menatap sinis wajah Calissa alias istri muda papanya yang sangat ia tak sukai itu. Cahaya mendekati Calissa dengan tatapan tajam seperti hendak membunuhnya.
"Iya, gue pulang! Kenapa?" ucap Cahaya.
"Aduh Cahaya sayang, aku cuma mau sambut kamu aja loh! Jangan galak-galak begitu, kita kan bisa berdamai layaknya mama dan anak lainnya..." ucap Calissa berusaha membuat Cahaya luluh padanya.
__ADS_1
"Heh, asal lu tau ya cewek penggoda! Sampai kapanpun gue gak akan pernah mau terima lu di rumah ini apalagi anggap lu sebagai mama gue, jadi lu gausah berharap deh!" ujar Cahaya.
Calissa terdiam membuang muka, sejujurnya ia memang tak mau bersikap seperti itu pada Cahaya dan lebih ingin menyiksanya agar keluar dari rumah itu. Tapi semuanya harus ia lakukan untuk mengambil hati sang suami.
"Ya oke, mungkin sekarang kamu masih belum bisa terima aku Cahaya... tapi aku yakin lambat laun kamu pasti bisa terima aku jadi mama baru kamu di rumah ini!" ucap Calissa tersenyum lalu hendak memegang wajah Cahaya tapi dengan cepat Cahaya menepisnya.
"Cih! Gue gak sudi anggap lu jadi mama gue!" ujar Cahaya. "Justru gue akan bikin lu menderita dan ngerasain apa yang dirasakan nyokap gue, bahkan lebih parah Calissa!" sambungnya dengan tatapan tajam.
Tiba-tiba papanya datang setelah mendengar suara keras dari arah depan, Hendra langsung berjalan cepat menghampiri mereka yang tengah bertengkar disana.
"Cahaya, cukup!" teriak Hendra saat menyaksikan sendiri Cahaya hendak memukul wajah Calissa istrinya.
Tentu saja Calissa tersenyum menyeringai saat suaminya datang, ia bisa memanfaatkan ini untuk semakin menjelekkan Cahaya di mata suaminya tersebut.
Sementara Cahaya sudah pasrah kalau nantinya sang papa akan memarahinya atau bahkan menamparnya lagi seperti kemarin.
...•••...
Disisi lain, Topan menghampiri Bram serta teman-temannya di tempat biasa mereka kumpul... pria itu cukup berani menemui Bram seorang diri, karena seperti yang diketahui Bram sangat tidak menyukai Topan.
Melihat kedatangan Topan ke tempatnya, Bram pun langsung berdiri menyambutnya. Tampak pria itu merentangkan tangan dan tersenyum ke arah Topan yang kini berada di depannya.
"Wah wah, Topan Topan...." ucap Bram tersenyum sambil bertepuk tangan. "Mau ngapain lu kesini, ha?" sambungnya.
"Gue mau sampein sama kalian semua, kalau gue atas nama spider menerima tantangan dari kalian untuk balapan itu!" ucap Topan menejelaskan maksudnya datang kesana.
"Ohh begitu, gue kira lu mau ngaku kalah dari gue kesini! Tapi baguslah, itu artinya lu punya nyali buat ngelawan gue di balapan nanti! Oke Topan, gue tunggu lu besok malam di area 44 jalan bintang lll jam 8! Jangan lupa bawa semua anggota geng lu, supaya mereka bisa jadi saksi kekalahan sang Topan..." ucap Bram.
"Oke,"
Topan hanya mengatakan kata singkat kemudian pergi dari sana tanpa berkata apa-apa lagi, ia memang tidak suka banyak bicara dan lebih memilih beraksi untuk menunjukkan siapa yang paling hebat.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...