Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 286. Jangan berubah


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 285


...•...


...•...


Cahaya sudah berada di kelasnya, ia duduk bersebelahan dengan Mawar yang merupakan temannya.


Mawar masih merasa bingung tak mengerti apa maksud Cahaya tadi berkenalan dengan adek kelas yang baru masuk, padahal tak biasanya Cahaya seperti itu pada lelaki yang ingin berkenalan dengannya karena ingin menjaga perasaan Topan.


"Aya, lu tuh sebenernya kenapa sih? Apa yang merasuki pikiran lu coba? Kok sikap lu bisa jadi berubah drastis begini? Perasaan dulu lu selalu ngehindar deh dari cowok-cowok yang deketin lu, kenapa sekarang lu malah ajak si cowok tadi kenalan?" ucap Mawar keheranan.


Cahaya menoleh sambil tersenyum, ia tak mau ambil pusing dengan pertanyaan Mawar.


"Hadeh, lu yang kenapa! Kok jadi mikir begitu sama sahabat lu sendiri? Gue gak berubah kok, gue cuma pengen dilihat sebagai Cahaya yang beda dari sebelumnya!" jelas Cahaya.


"Itu sama aja lu berubah, Aya!" ujar Mawar.


"Hahaha, iya kah? Yaudah berarti lu bener, tapi gue kayak gini kan ada alasannya. Itu karena gue gak mau ada yang bisa nipu gue lagi, gue kapok War! Gara-gara kejadian itu, sekarang gue jadi susah percaya sama orang!" ucap Cahaya.


"Eee iya juga sih, lu emang sial banget! Tapi, kan sekarang kak Lyodra udah gak ada di sekolah. Dia dikeluarin sama kak Topan, ya kan?" ucap Mawar.


"Iya gue tahu, tapi kan gak menutup kemungkinan ada orang-orang kayak kak Lyodra lagi disini. Makanya gue mau jaga-jaga aja, gue gak pengen kena tipu lagi!" ucap Cahaya.


"Hehe, bagus deh Aya! Asalkan lu gak berubah sikapnya ke gue sama Melani!" ucap Mawar.


"Ya enggak dong, kalian itu kan sohib sejati gue! Kalian udah banyak bantu gue dulu, yakali gue mau berubah ke kalian?" ucap Cahaya tersenyum.


"Syukurlah!" ucap Mawar tersenyum senang.


Tak lama kemudian, pak Hambali selaku guru yang mengajar disana muncul dan langsung memulai pelajaran mereka hari ini.


Cahaya dan Mawar pun berhenti mengobrol karena tak ingin membuat pak Hambali marah, biarpun Cahaya tau tak akan ada guru yang berani memarahinya.


"Baik anak-anak, hari ini kita belajar materi tentang bab tiga. Silahkan dibuka bukunya masing-masing, ada di halaman empat puluh tiga!" ucap Hambali.


"Baik pak!" ucap mereka serentak.

__ADS_1


Proses pembelajaran pun berlangsung cukup serius dan semua murid memperhatikan apa yang pak Hambali sampaikan, mungkin itu karena mereka sudah kelas dua belas dan sebentar lagi akan lulus.


Setelah selesai memberi materi, pak Hambali pun memberikan satu buah soal yang harus dijawab oleh para murid di kelasnya. Pak Hambali menunjuk salah satu murid disana untuk menjawab soal itu, seperti kebiasaan guru tentunya.


"Baik, materinya sudah selesai. Sekarang siapa dari kalian yang bisa jawab soal ini?" tanya Hambali.


Suasana hening, murid-murid saling melirik tanpa ada yang berani mengangkat tangan. Suasana horor pun tiba di kelas itu.


"Yasudah, karena tidak ada yang mau angkat tangan. Biar bapak yang tunjuk!" ucap pak Hambali.


Sontak semua murid disana langsung panik, mereka berpura-pura melakukan kesibukan agar tidak ditunjuk. Ada yang menulis, membaca serta membenarkan tali sepatu.


"Kamu Deon, ayo jawab soal nya!" tunjuk Hambali.


"Hah? Kok saya sih pak? Kan banyak yang lain, kenapa harus saya?" tanya Deon.


"Loh emangnya kenapa? Masalah buat kamu kalau saya tunjuk kamu? Tadi kan saya udah tanya, gak ada yang mau angkat tangan. Yaudah, saya tunjuk sesuka hati saya lah! Udah, jangan banyak cencong! Ayo cepat jawab!" tegas pak Hambali.


"Iya pak..." ujar Deon pasrah.


Pria itu pun maju untuk menjawab soal yang diberikan pak Hambali, akan tetapi jawabannya salah dan membuat pak Hambali kecewa.


"Udah pak," ucap Deon menyerahkan spidol.


"Ma-maaf pak!" ucap Deon gugup.


"Yasudah, duduk sana! Makanya lain kali disimak, kalau kamu dapat nilai nol jangan salahkan saya!" ujar Hambali.


Deon pun kembali ke tempat duduknya.


"Baik, siapa yang mau membenarkan jawaban Deon?" tanya pak Hambali.


Tiba-tiba Cahaya mengangkat tangannya, seluruh murid disana pun merasa lega.


"Wih keren lu Aya!" puji Mawar.


Cahaya hanya tersenyum.


"Oke Cahaya, ayo maju ke depan dan jawab soal itu dengan benar!" perintah pak Hambali.


"Eee saya bukan mau jawab, pak!" ujar Cahaya.


"Lah terus ngapain kamu angkat tangan?" tanya pak Hambali terheran-heran.


"Saya mau izin ke toilet, pak!" jawab Cahaya nyengir.

__ADS_1


"Hadeh, kamu ini! Yasudah sana!" ujar pak Hambali.


Cahaya pun beranjak dari kursinya, lalu berjalan ke luar kelas untuk menuju kamar mandi.




Saat di toilet, Cahaya tanpa diduga bertemu dengan Topan yang ternyata ada di dalam sana. Tentu saja Cahaya terkejut karena itu merupakan toilet perempuan, dan Topan juga tidak bilang lebih dulu kalau dia hendak datang kesana.


"Topan?" ujar Cahaya terbelalak.


"Hai pacar! Aku udah nunggu daritadi, akhirnya kamu muncul juga disini. Aku tahu banget sih, pasti kamu bakal dateng kesini!" ucap Topan.


"Ish, kamu ngapain disini pacar? Ini kan toilet cewek tau, terus kenapa coba kamu bisa kesini? Bukannya tadi kamu udah pamit mau pulang?" tanya Cahaya keheranan.


Topan tersenyum lalu bergerak mendekati Cahaya, ia menarik tubuh gadis itu membawanya ke dalam pintu toilet yang kosong.


Topan mengungkung Cahaya di dalam sana dan mengunci pintu, ia pun menatap wajah Cahaya dari dekat sembari mengusap wajahnya dengan lembut hingga membuat Cahaya ketar-ketir.


"Kamu mau apa sih?" tanya Cahaya cemas.


"Hahaha, tenang sayang! Kamu gausah panik gitu kali! Aku cuma mau ngomong sama kamu, santai aja tadi aku udah minta bantuan petugas kebersihan buat jagain di depan toilet supaya gak ada yang bisa masuk selagi aku sama kamu disini! Aku tuh pengen lihat wajah kamu dari dekat pacar!" jelas Topan.


"Haish, ada-ada aja kamu ah! Padahal kan udah sering kamu lihat wajah aku, udah ah!" ujar Cahaya.


"Gak mau, aku masih pengen lihatin kamu! Mending kamu diem aja deh, biar aku yang main dan bikin kamu puas!" ucap Topan.


"Hah? Maksudnya apa?" tanya Cahaya tak mengerti.


Cupp!


Topan mengecup bibir Cahaya sekilas, gadis itu langsung terbelalak memegangi bibirnya dengan jari telunjuk. Tanpa aba-aba, Topan kembali mencium bibir gadisnya, namun kali ini lebih ganas.


"Mmppphhh, pacar jangan ah! Kamu gak boleh kayak gini pacar!" bentak Cahaya kesal.


"Hey, kenapa sih? Cuma ciuman kok, ini juga bukan kali pertama kita ciuman. Udah, kamu diem ya sayang!" tegas Topan.


"Ta-tapi—"


Belum sempat Cahaya menyelesaikan ucapannya, Topan sudah langsung membungkam mulut gadisnya itu dengan sebuah lumatann yang ganas dan rakus.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2