Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 209. Perceraian


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 208


...β€’...


...β€’...


Beberapa Minggu kemudian...


"Berdasarkan semua yang sudah dibahas sebelumnya, dengan ini kami menyatakan saudara Hendra dan saudari Calissa resmi bercerai! Saudari Calissa juga harus menyerahkan kembali apa yang sudah diambil dari saudara Hendra, sidang ditutup!" ucap hakim agung sambil mengetuk palunya.


Kini persidangan telah usai, pihak hakim serta seluruh perangkat persidangan telah resmi meninggalkan tempat itu. Hanya tersisa Hendra bersama Cahaya, dan tentunya Calissa yang hadir disana dengan didampingi oleh ibunda tercintanya yakni Santi yang haus harta, ya mereka saling bertatapan dengan sedikit senyum di wajah mereka.


Cahaya langsung menghampiri papanya dan memeluk sang papa sambil menangis, ia senang karena akhirnya Hendra berhasil berpisah dengan Calissa secara resmi, setelah melewati berbagai proses persidangan yang cukup rumit dan membuat mereka pusing, untunglah ada Topan yang ikut membantu menyerahkan bukti kejahatan Calissa.


"Pah, selamat ya! Akhirnya papa bisa lepas juga dari si ular licik itu, aku seneng banget deh pah!" ucap Cahaya tersenyum ceria.


"Iya sayang, papa juga sama senangnya seperti kamu! Karena sekarang papa gak perlu pusing lagi mikirin tentang Calissa, dan kita bisa mendapat kembali apa yang menjadi hak kita!" ujar Hendra.


"Iya pah, aku seneng banget kita bisa balik ke rumah lama kita!" ucap Cahaya.


Berbeda dengan Hendra dan Cahaya yang sangat gembira atas keputusan hakim, Calissa justru merasa geram dan kesal karena usahanya gagal untuk mendapat harta dari Hendra. Bahkan Calissa juga hampir saja masuk penjara jika Hendra tak mengurungkan niatnya, ya tentu dengan adanya bukti dari Topan bisa saja Calissa masuk penjara.

__ADS_1


"Haish, kerja kamu ini gimana sih? Katanya bilang semua bakal aman, mana buktinya? Kita malah kalah telak dari si tua bangka itu, dasar pengacara gak becus kamu!" ujar Santi memarahi pengacara yang disewa untuk membantu Calissa.


"Ma-maaf Bu! Tapi, saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa memenangkan persidangan ini! Hanya saja, pihak mereka sulit untuk bisa dikalahkan karena semua bukti memang menyudutkan Bu Calissa!" ucap pengacara bernama Gilbert itu.


"Ah emang dasar kamu aja yang gak becus! Percuma saya bayar mahal buat kamu, udah sana pergi!" bentak Santi emosi.


Akhirnya pengacara itu pergi dari ruang persidangan sesuai perintah Santi, sedangkan Santi sendiri akan menghampiri Calissa dan menenangkan gadis yang sedang bersedih itu. Ya tentu Santi tahu bagaimana perasaan Calissa setelah resmi bercerai dengan Hendra dan kehilangan hartanya, bahkan Calissa tak bisa mendapat sepeserpun harta dari Hendra.


"Lisa, kamu yang sabar ya! Mungkin ini bukan rezeki kamu dan kamu harus banyak-banyak sabar, kita bisa melakukan rencana lain untuk merebut harta Hendra mantan suami kamu itu!" ucap Santi.


"Rencana apa lagi sih, mah? Bagi aku ini semua udah selesai dan aku gak mau diperalat sama mama lagi, udah cukup ya mama bikin hidup aku menderita! Sekarang aku mau pergi mah, sebaiknya mama jangan kejar aku!" ucap Calissa emosi.


"Sayang, jangan gitu dong!" ucap Santi.


Calissa tak memperdulikan perkataan mamanya, ia bangkit dari duduknya menenteng tas lalu berjalan cepat ke arah luar. Calissa sempat melirik sekilas ke arah Hendra dan Cahaya disana, barulah ia kembali lanjut melangkah pergi dari sana tanpa perduli dengan ucapan mamanya yang masih berusaha untuk menahannya agar tidak pergi.


β€’


β€’


Sementara Hendra hanya diam tak perduli ketika melihat Calissa pergi dari sana, ia masih asyik memeluk tubuh Cahaya dan menghirup aroma tubuh putrinya yang harum itu. Cahaya juga melakukan hal yang sama karena jarang sekali ia bisa berpelukan dengan papanya begitu, ya walau akhir-akhir ini mereka cukup sering pelukan sejak pindah rumah.


Barulah Hendra melepas pelukannya mengingat tempat persidangan sudah sepi, ya mereka harus segera keluar dari sana karena hanya tinggal mereka berdua saja yang ada disana. Hendra mengusap wajah Cahaya yang dibasahi air mata itu dengan dua tangannya, tentu Hendra tak mau ada tangisan lagi yang keluar dari mata Cahaya putrinya tersebut.


"Cahaya, kita pulang yuk! Terserah kamu mau pulang kemana mulai sekarang, karena rumah kita ada dua dan kamu bisa bebas pilih mau tinggal dimana!" ucap Hendra sambil tersenyum renyah.


"Iya pah, tapi kayaknya aku mau balik ke rumah kita yang lama aja deh pah! Disana kan banyak kenangan sewaktu sama mama, terus ada bik Minah juga disana! Aku kangen banget loh sama bik Minah, gapapa kan pah?" ucap Cahaya.


"Ya gapapa dong, kan tadi papa bilang terserah kamu mau tinggal dimana!" ucap Hendra.

__ADS_1


"Makasih papa!" ucap Cahaya tersenyum senang.


Setelahnya, mereka berdua pun keluar dari tempat persidangan tersebut dengan perasaan gembira karena berhasil membuat Calissa kalau dan tak berkutik lagi di depan hakim tadi. Cahaya sangat senang karena impiannya untuk bisa hidup bebas dan bahagia kembali, kini terwujud walau butuh waktu yang lumayan lama untuk itu.


Saat berada di dalam mobil, Cahaya pun meminta izin pada Hendra untuk mengabari Topan.


"Pah, aku mau kabarin Topan boleh enggak? Kan gimanapun juga Topan cukup berjasa dalam sidang tadi dengan bukti dari dia, jadi aku mau aja kalau dia tahu kabar gembira ini!" ucap Cahaya.


"Benar juga kamu, yaudah kamu kabarin gih Topan dan bilang kalau bukti dari dia itu benar-benar mantap dan bikin Calissa gak berkutik! Papa aja heran, gimana bisa Topan dapetin rekaman suara Calissa begitu?" ucap Hendra nyengir.


"Iya pah, aku juga heran sama Topan! Tapi, itu mah gausah terlalu dipikirin pah! Yang penting sekarang kan papa udah bisa cerai dari Calissa!" ucap Cahaya.


"Iya sayang, oh ya sekalian nanti kamu ajak Topan mampir ke rumah kita yang baru! Kita makan siang dulu disana bareng Topan, soalnya papa mau bilang makasih secara langsung sama dia!" ucap Hendra.


"Oke pah! Bentar ya, aku telpon dulu Topan nya?" ucap Cahaya tersenyum.


"Iya," ucap Hendra singkat.


Cahaya pun mengambil ponselnya lalu menghubungi Topan di samping papanya, ia juga sesekali menoleh ke wajah sang papa dan tersenyum manis.


πŸ“ž"Halo pacar, ada apa nih?!" ucap Topan langsung sumringah begitu mendapat telpon dari Cahaya.


πŸ“ž"Eh iya, kamu lagi dimana pacar?" tanya Cahaya sambil senyum-senyum malu karena di sampingnya ada sang papa yang juga terkekeh.


πŸ“ž"Eee ini aku di jalan, emang kenapa pacar?" ucap Topan penasaran.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2