Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 296. Dihukum


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 295


...•...


...•...


Cahaya kembali merenung dikala guru sedang mengajar, ia tampaknya masih memikirkan perkataan Robi kemarin yang membuatnya gundah gulana dan berpikir Topan memang tidak tulus mencintainya.


"Ohh, kenapa sih kamu masih aja ngebela si Topan? Padahal udah jelas-jelas dia cowok gak bener, dia itu gak tulus sayang sama kamu! Buka dong mata kamu Cahaya, lihat aku disini!" ujar Robi.


Entah mengapa perkataan Robi yang itu berhasil membuat Cahaya merasa gelisah, cemas dan sulit fokus. Ia juga berpikir apakah memang Topan tidak sayang padanya, karena beberapa kali Cahaya selalu merasa demikian.


Namun, keyakinan Cahaya pada Topan masih tetap besar. Apalagi pria itu selalu baik padanya dan selalu ada jika dibutuhkan olehnya.


"Gak! Gue gak boleh termakan omongannya si Robi, dia itu sengaja pengen bikin gue dan Topan bertengkar! Ayolah Cahaya, Topan itu tulus kok sama lu!" gumam Cahaya dalam hati.


Tak lama kemudian, Bu Muti menyadari jika Cahaya tengah melamun bukannya mengamati ke depan.


"Cahaya!" tegur Bu Muti perlahan.


Sontak semua mata langsung tertuju ke arah Cahaya, gadis itu masih asyik melamun dengan dua tangan ia gunakan untuk menopang dagu.


Mawar yang berada di sampingnya pun berusaha menyadarkan Cahaya, ia menyenggol lengan Cahaya dengan sikunya hingga gadis itu tersadar dan mengamuk padanya.


"Ish, apaan sih Mawar?!" ujar Cahaya kesal.


"Itu loh Bu Muti panggil lu tadi!" bisik Mawar.


"Hah??"


Cahaya syok membuka mulutnya saat melihat Bu Muti memang memandang ke arahnya, bukan hanya sang guru tetapi juga seluruh murid disana dan mereka semua kompak tertawa.


"Ahaha hahaha..."


"Hey, sudah jangan tertawa! Apa yang lucu sih emangnya?" tegur Bu Muti.


"Maaf Bu!" ucap mereka serentak.


"Cahaya, kamu lagi ngelamunin apa?" tanya Bu Muti.


"Eee bukan apa-apa kok, Bu. Maaf ya, tadi saya gak fokus lihat ke depan!" jawab Cahaya gugup.

__ADS_1


"Yasudah, gapapa. Tapi, jangan diulangi!" ujar Bu Muti.


"Baik Bu!" ucap Cahaya mengangguk.


"Oh ya, Minggu kemarin ibu kasih tugas ya?" tanya Bu Muti pada seluruh murid disana.


"Iya Bu..."


Semuanya kompak menjawab ya termasuk Mawar, tentu saja Cahaya merasa panik karena ia belum mengerjakan tugas tersebut. Ia pun menoleh ke arah Mawar dengan tatapan tajam.


"Heh! Lu udah ngerjain emang?" tanya Cahaya.


"Udah dong, gue gitu loh!" jawab Mawar.


"Ish, tadi katanya belum. Kok tau-tau udah, kapan lu ngerjainnya?" ujar Cahaya heran.


"Hehe, tadi kan gue bilang mau cari contekan. Nah syukurnya gue dapet tuh punyanya si Chika, yaudah gue langsung kerjain deh pas lu sama kak Topan lagi asyik pacaran disini!" jelas Mawar.


"Hah? Kok lu gak bagi-bagi ke gue sih? Kan gue juga pengen ngerjain Mawar!" ujar Cahaya.


"Ya mana gue tau? Lu aja asik pacaran, gue pikir lu gak mau ngerjain gitu!" ucap Mawar santai.


"Hadeh, terus gue gimana dong nih?" ujar Cahaya panik.


"Entahlah,"


"Baik, ayo semuanya dikumpulkan ke depan ya pr nya biar ibu periksa!" ucap Bu Muti.


Seluruh murid pun maju membawa buku mereka dan menaruhnya di atas meja guru, tentunya kecuali Cahaya yang hanya bisa terduduk di tempatnya.


"Mampus gue!"


Tak lama kemudian, Bu Muti telah selesai memeriksa semua buku milik muridnya dan memasukkan nilai mereka semua ke dalam buku nilai. Namun, Bu Muti baru sadar kalau ada satu nama yang belum terisi yakni Cahaya.


Bu Muti pun melihat ke arah Cahaya, lalu bertanya langsung pada gadis itu.


"Cahaya, pr kamu mana?" tanya Bu Muti.


"Eee sa-saya belum ngerjain, Bu!" jawab Cahaya gugup.


"Apa??"




Kriiinggg... Kriiinggg....


Bel istirahat telah berbunyi, Cahaya bersama Mawar temannya berjalan keluar dari kelas menuju ke kantin tempat mereka biasa kumpul sambil makan dan minum untuk melepas penat.

__ADS_1


Terlihat raut wajah kesal terpampang di wajah Cahaya saat ini, ya itu karena ia baru saja dikenakan hukuman karena tidak mengerjakan pr, padahal yang ia kira Bu Muti tak akan berani menghukumnya.


"Ish, Bu Muti kok kayak gitu ya sama gue? Masa cuma gak ngerjain pr aja dihukum?" ujar Cahaya.


"Duh Cahaya Cahaya, yang namanya gak ngerjain pr ya pasti dihukum lah! Mungkin aja Bu Muti kesal karena ngira lu anggap remeh pelajaran dia, jadi aja lu kena hukuman deh. Makanya lain kali pr tuh dikerjain, bukan dilupain!" ucap Mawar.


"Haish, sok iye lu! Lu aja baru ngerjain di kelas tadi, mana gak bagi-bagi lagi!" ucap Cahaya.


"Hahaha, lebih mending ngerjain di kelas daripada gak ngerjain sama sekali! Lagian bukan salah gue tau, kan lu yang malah asik pacaran sama kak Topan waktu pagi tadi!" ucap Mawar.


"Ah elah, malu banget tau gue!" ujar Cahaya.


"Yaelah gausah malu kali! Biarpun lu dihukum suruh berdiri depan kelas, tapi kan lu cantik Cahaya. Jadi, orang-orang malah demen!" ucap Mawar.


"Dih, apaan? Kelihatan kok mereka tadi pada ngetawain gue, kayak puas banget gitu ngeliat gue dihukum sama Bu Muti! Awas aja ya mereka, gue laporin deh ke Topan!" ucap Cahaya geram.


"Hehe, sabar dong Aya! Lu gak boleh main lapor ke kak Topan gitu aja, kasian mereka nanti kena hukuman juga!" ucap Mawar.


"Biarin aja! Suruh siapa mereka berani ngetawain gue tadi pas dihukum? Lu juga sama aja, malah cekikikan bukannya belain gue! Teman macam apa lu Mawar?" ucap Cahaya mencibirkan bibirnya.


"Eee itu reflek Aya!" elak Mawar.


"Reflek reflek gigi lu ijo!"


Tak lama kemudian, seorang pria yang merupakan junior atau adek kelas dari mereka muncul. Ya pria ini yang waktu itu ditemui Cahaya dan mereka sempat berkenalan.


"Hai kak!" sapanya sambil tersenyum.


Cahaya dan Mawar reflek berhenti di depannya, mereka saling lirik tak percaya.


"Hai juga!" ucap Cahaya.


"Lagi ada masalah ya kak? Daritadi aku lihat kak Cahaya cemberut gitu, cerita aja sama aku kak!" ucapnya kembali.


"Eee gak ada kok, bukan apa-apa. Yaudah ya, gue mau ke kantin!" ucap Cahaya.


"Wah kebetulan dong! Aku juga mau ke kantin, boleh bareng gak kak? Soalnya aku disini belum terlalu akrab sama orang, jadi masih agak canggung!" ucap pria bernama Rizal itu.


"Lu canggung sama mereka, tapi kenapa sama gue enggak? Padahal gue senior lu loh, aneh!" ujar Cahaya heran.


"Entahlah kak, kayaknya jantung aku tiap kali ngeliat kamu itu selalu kesenangan. Makanya aku gak canggung sama kamu, jadi gimana kak? Boleh kan kalo aku gabung sama kamu buat makan di kantin?" ucap Rizal sambil tersenyum.


"Terserah!"


Cahaya melangkah pergi begitu saja setelah mengatakan itu, tentu saja Rizal menganggap nya sebagai boleh dan ia pun mengikuti Cahaya serta Mawar ke kantin.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2