
...HALO GUYS!...
...WELCOME TO MY NEW STORY!...
..."TOPAN & CAHAYA"...
...~~~...
#TOPAN&CAHAYA EPS. 319
...•...
...•...
Keesokan harinya, Cahaya serta Topan menghadiri prosesi pemakaman jasad Calissa di sebuah tempat pemakaman umum. Biar bagaimanapun, mereka cukup merasa kehilangan atas kepergian Calissa dengan cara yang mengerikan itu.
Tampak Santi masih terus menangisi kepergian putrinya, ia memeluk nisan bertuliskan nama Calissa itu sambil menangis terisak, tentu saja Santi merasa sangat sedih atas kepergian putri satu-satunya yang selalu banyak membantunya itu.
"Pacar, kasihan ya tante Santi! Aku jadi gak tega deh lihatnya sayang!" ucap Cahaya.
"Iya sayang, aku juga sama! Aku tahu gimana perasaan tante Santi sekarang, dia pasti ngerasa sedih banget kehilangan anak satu-satunya yang sangat dia sayangi!" ucap Topan.
"Andai aja Calissa gak nekat culik aku semalam, mungkin kejadian kayak gini bisa dihindari sama dia!" ucap Cahaya.
"Belum tentu sayang, kalau emang udah takdirnya dia meninggal semalam, mau gimanapun caranya pasti itu bakal terjadi! Kita sebagai manusia gak bisa berbuat apa-apa, termasuk menghindar dari maut! Udah yuk, kita samperin tante Santi dan coba buat tenangin dia!" ucap Topan.
"Iya pacar, aku setuju!" ucap Cahaya.
Sepasang kekasih itu pun coba menghampiri Santi untuk mencoba menenangkan Santi agar tak terus bersedih dan menangis di atas makam Calissa, walau mereka agak ragu karena pastinya Santi akan marah pada keduanya.
"Eee tante!" ucap Topan pelan.
Sontak Santi menoleh ke asal suara, terlihat matanya yang sembab menatap ke arah Topan dan juga Cahaya, ia berdiri mendekati keduanya masih dengan tatapan sinis nya.
"Kalian berdua mau ngapain kesini? Apa kalian gak puas udah bikin anak saya meninggal?" ujar Santi.
"Tante, tenang dulu ya! Kita ini gak ada maksud apa-apa kok tan, kita cuma mau bantu tenangin tante supaya tante gak sedih lagi!" ucap Topan.
"Iya tante, kita—"
"Halah diam! Saya gak terima ya pemakaman anak saya dihadiri oleh orang-orang seperti kalian! Saya gak mau Calissa disana merasa menderita, karena makamnya dihadiri oleh kalian berdua! Mending kalian pergi dari sini, dan jangan pernah kalian injakan kaki di tempat ini lagi!" potong Santi.
"Tapi tante, kita itu cuma mau doain Calissa dan bantu hibur tante!" ucap Cahaya.
"Apa? Doain Calissa? Dengar ya gadis bodoh, anak saya gak butuh doa dari orang seperti kamu! Yang ada dia malah semakin menderita melihat kehadiran kamu dan juga kamu Topan! Sekali lagi saya minta sama kalian, pergi dari sini!" bentak Santi.
"Tante, tolong dong tante berhenti bilang begitu ke kita! Semua ini takdir dan kepergian Calissa itu juga bukan salah kita, aku sama Topan udah baik loh mau datang ke pemakaman ini! Tapi tante malah kayak gitu sama kita, dimana salahnya kita coba?!" ujar Cahaya mulai emosi.
"Udah udah sayang, jangan kebawa emosi! Sekarang mending kita pergi aja ya? Disini suasananya lagi gak baik-baik aja, aku gak mau terjadi keributan di depan banyak orang kayak gini!" bujuk Topan.
"Maaf pacar! Abisnya aku kesel!" ucap Cahaya.
"Iya aku tahu, udah ya jangan emosi lagi! Kita berdua ngalah aja dan pergi dari sini!" ucap Topan.
"Oke!"
Cahaya menuruti kemauan Topan, lalu mereka pun kembali menatap Santi dan berpamitan padanya untuk pergi dari tempat itu.
"Tante, kita berdua pamit ya? Sekali lagi saya sama Cahaya mengucapkan turut berduka cita, atas kepergian Calissa! Kita juga minta maaf kalau emang tante merasa kita ada salah!" ucap Topan.
"Udah sana pergi, jangan kelamaan disini! Saya gak mau lihat muka kalian lagi!" bentak Santi.
Cahaya melirik Topan dengan raut bingung, pada akhirnya mereka melangkah pergi dari pemakaman tersebut meninggalkan Santi yang masih terbawa emosi serta kesedihan atas meninggalnya sang putri tercinta yang sangat ia sayangi itu.
•
•
5 tahun kemudian....
Hari ini adalah hari kelulusan Cahaya dan menjadi seorang sarjana, gadis itu merasa sangat senang dan bangga karena sebentar lagi ia akan diwisuda setelah beberapa tahun kuliah disana.
Topan sang kekasih juga telah hadir disana menyaksikan momen bersejarah di kehidupan Cahaya itu, ia tak mau melewatkan sedetikpun kegiatan disana.
Tak hanya Topan, Hendra alias papa dari Cahaya itu pun turut hadir menemani putrinya yang akan diwisuda. Ia tampak bangga karena Cahaya sebentar lagi bakal dinobatkan sebagai seorang sarjana.
"Cahaya, papa bangga sekali sama kamu!" batin Hendra sambil senyum-senyum sendiri.
Singkat cerita, prosesi wisuda itu telah usai. Cahaya pun menghampiri Topan disana bersama papanya, ia menunjukkan keberhasilannya itu pada sang kekasih dengan sangat bangga.
__ADS_1
"Pacar, aku berhasil jadi sarjana!" ujar Cahaya.
"Iya pacar, selamat ya! Aku ikut bangga lihat kamu lulus dengan nilai terbaik, kamu emang luar biasa sayang!" ucap Topan tersenyum.
"Makasih!"
Gadis itu langsung maju memeluk kekasihnya dengan erat, keduanya sama-sama menikmati pelukan tersebut seakan tak mau melepaskan jika Hendra tidak menegur mereka.
"Ehem ehem..." Hendra berdehem pelan.
"Eh papa, kenapa?" tanya Cahaya bingung.
"Papa udah siapin hadiah loh buat kamu, mau tau?" ucap Hendra.
"Hadiah? Hadiah apa, pah?" ujar Cahaya.
"Ada deh, yuk ikut sama papa! Topan, ayo kamu ikut juga sini!" ucap Hendta.
"Iya om,"
Mereka pun melangkah mengikuti Hendra menuju ke belakang tempat tersebut, Hendra membawa Cahaya serta Topan untuk melihat hadiah yang akan ia berikan kepada putri tercintanya itu setelah berhasil menjadi sarjana di hari ini.
"Nah sayang, itu dia hadiah kamu!" ucap Hendra menunjuk ke depan.
"Apa itu, pah?" tanya Cahaya.
Hendra tersenyum kemudian memerintahkan anak buahnya membuka terpal yang menghalangi hadiah tersebut, sontak Cahaya terkejut ketika melihat sebuah mobil merk terbaru yang berada di depannya.
"Itu dia sayang, hadiah untuk kamu!" ucap Hendra.
"Hah?? Papa serius? Papa kasih aku mobil?" tanya Cahaya terkejut bukan main.
"Iya sayang, itu hadiah kamu!" jawab Hendra.
"Wah makasih banyak pah!"
Cahaya amat gembira, ia memeluk papanya dan mengucapkan beribu-ribu terimakasih karena sudah diberi hadiah sebuah mobil mewah keluaran terbaru yang memang sangat ia inginkan.
Sementara Topan juga ikut bahagia, namun ia masih memikirkan pernikahannya dengan Cahaya. Pria itu berniat membicarakan kembali mengenai hal itu pada Cahaya, karena hari ini Cahaya sudah lulus kuliah dan sesuai janji gadis itu akan mau menikah.
"Pacar, abis ini kita bisa deh adu cepat antara mobil aku sama mobil kamu!" ucap Cahaya tersenyum.
"Hahaha boleh tuh, tapi sebelumnya gimana kalau kita coba dulu mobil baru kamu? Ya kamu setirin aku sama papa kamu, kita keliling-keliling sekitar sini aja!" ucap Topan memberi usul.
"Yaudah iya, tapi papa duduk di belakang ya? Papa gak mau ganggu kalian berdua!" ucap Hendra.
"Papa apaan sih?" ujar Cahaya tersipu.
"Hahaha..."
Setelahnya, mereka pun pergi menaiki mobil terbaru milik Cahaya itu. Ketiganya tampak bahagia, walau Topan masih merasa bimbang apakah ia bisa menikahi Cahaya dan membawanya ke Korea atau tidak.
•
•
Sore harinya, Topan mengajak Cahaya pergi ke sebuah cafe untuk berbicara mengenai rencana pernikahan mereka. Topan sudah tidak sabar lagi ingin segera menikahi Cahaya, karena ia berencana membawa gadis itu ke Korea bersama mamanya.
Topan menuntun Cahaya duduk di kursi, lalu mereka mulai berbincang tanpa melepas genggamannya.
"Pacar, sebenarnya apa sih yang mau kamu bicarain sama aku? Kelihatannya serius banget, sampai kamu gak senyum-senyum daritadi!" tanya Cahaya.
"Eee begini sayang, aku mau bicara serius sama kamu!" ucap Topan tampak serius.
"Tentang apa?" tanya Cahaya.
Pria itu menggerakkan tangannya yang lain untuk menggenggam satu tangan milik Cahaya, ia menatap wajah Cahaya dengan tajam sembari mengecup punggung tangan gadis itu.
"Aku mau kita segera melangsungkan pernikahan sayang, sesuai janji kamu ke aku!" ucap Topan.
"Apa? Nikah?" ujar Cahaya terkejut.
"Iya sayang, aku mau kita menikah! Aku udah sabar loh nungguin sampai kamu lulus kuliah, jadi gak ada alasan lagi buat aku harus nunggu! Aku pengen kita nikah Minggu depan! Besok, aku bakal lamar kamu secara resmi!" tegas Topan.
"Hah?? Topan, kamu gak bisa buru-buru kayak gitu juga dong! Aku baru aja wisuda, masa udah mau nikah aja? Kasih aku kesempatan buat sukses dan bahagiakan papa! Maaf ya pacar, tapi aku belum siap buat menikah sama kamu!" ucap Cahaya menolak.
Braakkk...
Topan melepas genggamannya, lalu menggebrak meja karena emosi. Tubuhnya gemetar menahan kekecewaan di dalam dirinya karena lagi-lagi Cahaya menolak untuk dinikahi olehnya.
__ADS_1
"Kamu ini apa-apaan sih Cahaya? Sebenarnya kamu cinta atau enggak sama aku? Udah bertahun-tahun aku nungguin kamu, tapi apa? Terus aja kamu nolak buat nikah sama aku! Kalau emang kamu gak mau nikah sama aku, ya bilang aja! Gausah kasih harapan ke aku dan minta aku nunggu! Aku bakal cari lagi wanita yang mau aku nikahin dan gak banyak tingkah kayak kamu Aya!" bentak Topan emosi.
"Kamu bilang apa sih? Justru aku yang heran sama kamu! Kenapa kamu maksa banget mau buru-buru nikahin aku?" ucap Cahaya.
"Ya jelas lah! Dalam sebuah hubungan, pernikahan itu yang dinanti-nanti! Aku cinta sama kamu, maka dari itu aku mau mengikat kamu secara resmi dalam sebuah pernikahan! Tapi, kenapa kamu malah begini? Kalau emang kamu gak cinta sama aku, kenapa sih kamu kasih harapan buat aku? Harusnya dari awal aku tahu, kamu itu emang terpaksa menjalin hubungan sama aku dan cuma pura-pura bilang cinta supaya kamu bisa manfaatin aku!" ucap Topan.
"Hah? Aku gak begitu Topan, kamu salah kira! Aku cuma pengen bahagiain papa aku dulu, setelah itu baru kita menikah sayang! Aku ini cinta sama kamu, mana mungkin aku tega begitu?" ucap Cahaya.
"Halah gausah drama deh! Sekarang terserah kamu aja, kalau kamu gak mau aku nikahin yaudah kita putus dan mulai saat ini juga diantara kita udah gak ada apa-apa lagi! Maaf Cahaya, tapi aku mau cari wanita yang benar-benar tulus cinta sama aku bukan seperti kamu!" ucap Topan.
Topan berdiri dari duduknya, lalu melangkah pergi dari cafe tersebut. Cahaya pun mengejar Topan keluar, ia sejujurnya tidak mau berpisah dengan pria yang sangat ia sayangi itu.
"Topan tunggu!" teriak Cahaya.
Topan berhenti dan berbalik, namun hatinya sudah terlanjur kecewa karena sikap Cahaya. Sehingga pria itu memutuskan kembali melangkah dan masuk ke dalam mobilnya.
"Topan...!!"
Cahaya coba mengejar dan menahan Topan, tapi apa daya ia gagal karena pria itu sudah lebih dulu pergi dari sana meninggalkan dirinya, ia pun menangis histeris di pinggir jalan sembari berjongkok dan menutupi wajahnya.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini? Harusnya hari ini hari bahagia aku, tapi kenapa malah aku dan Topan harus berpisah?" gumam Cahaya.
Tak lama kemudian, seorang pria muncul dan mendekatinya. Pria itu menyentuh pundaknya sambil ikut berjongkok di sampingnya, ia menatap wajah Cahaya dari samping berusaha menenangkan gadis yang tengah menangis itu.
"Cahaya, tenang ya! Kamu harus sabar menghadapi semuanya!" ucap pria itu.
Cahaya terkejut, ia mengangkat kepalanya dan menoleh ke asal suara. Dilihatnya sosok Robi yang sedang berada di sampingnya sambil tersenyum.
"Robi?" ucap Cahaya.
"Cahaya, kamu gak perlu sedih! Aku kan udah pernah bilang ke kamu dulu, kalau Topan itu gak tulus cinta sama kamu! Coba gini deh, dia itu maksa banget buat nikahin kamu, karena apa? Karena dia terobsesi sama kamu dan pengen kamu cuma jadi milik dia, jadi dari sini kita bisa simpulkan bahwa Topan itu bukan cinta sama kamu, tapi terobsesi!" ucap Robi.
Cahaya hanya diam lalu memalingkan wajahnya, saat ini ia sedang dirundung kesedihan dan tidak mau berbicara terlalu banyak lebih dulu, apalagi yang dikatakan Robi memang berhasil merubah pikirannya.
"Apa itu benar? Topan cuma terobsesi sama gue? Dia gak cinta sama gue?" batin Cahaya.
•
•
Topan sampai di rumahnya dengan perasaan kecewa, ia marah karena Cahaya benar-benar membuatnya emosi.
Bahkan pria itu sampai membanting cincin yang akan diberikan kepada Cahaya dengan sangat keras, ia berteriak untuk mengeluarkan emosinya dan berhasil membuat seisi rumah kebingungan mendengar suara teriakan Topan itu.
"Aaarrgghh!!"
Eun-Kyung serta Sergie langsung berlari ke luar rumah untuk mengecek ada apa, mereka melihat Topan yang sedang menginjak-injak cincin di jalan itu dengan sangat emosi.
"Topan! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu teriak-teriak kayak gitu?" tanya Eun-Kyung.
"Iya Topan, apa yang terjadi? Bukannya ini hari kelulusan Cahaya? Seharusnya kamu bahagia, karena sebentar lagi kamu bisa menikah dengan gadis itu!" sahut Sergie.
"Omong kosong pah! Cahaya itu udah mainin perasaan aku, dia benar-benar bukan wanita yang baik! Aku nyesel pah pernah kenal sama dia!" ujar Topan emosi.
"Apa maksud kamu? Ada apa ini?" tanya Eun-Kyung.
"Mah, Cahaya nolak lagi buat aku ajak nikah! Dia beralasan pengen bahagiain papanya, padahal aku tau kalau dia emang gak pengen cinta sama aku!" jawab Topan.
"Hah? Sabar dulu Topan, jangan emosi! Mungkin aja Cahaya—"
"Udah deh mah, jangan belain dia lagi! Dia udah nyakitin perasaan aku, dia udah bikin aku kecewa! Aku udah tutup lembaran kisah aku dan Cahaya, kita berdua udah resmi putus mah, pah! Dan aku gak mau lagi kenal atau ketemu sama wanita itu!" potong Topan.
"Loh loh, kamu jangan ambil keputusan dalam keadaan emosi Topan! Nanti kamu bisa menyesal karena sudah meninggalkan Cahaya!" ucap Eun-Kyung.
"Gak akan mah, justru aku senang karena aku gak akan lagi dipermainkan sama dia! Sekarang aku mau ikut mama sama papa ke Korea!" ucap Topan.
"Kamu yakin Topan?" tanya Eun-Kyung.
"Yakin beribu-ribu yakin, mah! Aku rasa gadis Korea lebih beretika dibanding Cahaya!" jawab Topan.
"Pikirkan dulu matang-matang Topan!" ucap Eun-Kyung.
"Benar itu, papa setuju dengan mama kamu!" sahut Sergie.
Topan terdiam, ia pun bingung dengan keputusan yang harus diambil olehnya.
"Pah, mah, aku sudah yakin seratus persen! Gak ada lagi yang perlu dipikirkan, aku mau siapin barang aku dulu ke kamar! Permisi pah, mah, dan tolong jangan halangi aku!" ucap Topan.
Topan melangkah masuk ke dalam rumahnya, melewati tubuh Eun-Kyung serta Sergie.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...