
...HALO GUYS!...
...WELCOME TO MY NEW STORY!...
..."TOPAN & CAHAYA"...
...~~~...
#TOPAN&CAHAYA EPS. 48
...•...
...•...
Topan akhirnya memakan roti keju pemberian Bella tepat di samping gadis itu, perutnya yang sudah lumayan lapar membuat ia mau tidak mau harus memakan makanan yang ada dan hanya roti keju dari Bella itulah yang bisa ia makan sebagai pengganjal perut agar tak terus merasa lapar.
Bella merasa senang karena Topan mau memakan pemberiannya walau sempat menolak tadi, ia tersenyum puas sembari menatap wajah Topan dari samping dan terus merapihkan rambutnya yang tertiup angin karena memang suasana disana lumayan berangin dan akibatnya rambut milik Bella jadi berterbangan begitu saja.
Bagi Topan momen itu malah membuatnya semakin terpesona akan kecantikan wajah Bella yang penampilannya berubah drastis, ia sempat terbengong sejenak dengan roti yang masih ada di mulutnya dan belum dikunyah. Entah mengapa Topan merasa sulit bernafas karena memandang kecantikan gadis di sampingnya, ia langsung memejamkan mata agar tak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan jika ia terus memandangnya.
Sementara Bella tampak terkekeh sekaligus senang karena Topan mulai terpincut dengannya, sebenarnya Bella memang masih menyayangi dan mencintai mantannya itu. Namun, ia sengaja mengakhiri hubungan dengan Topan agar bisa membuat pria itu menyesal dikemudian hari karena telah menyia-nyiakan wanita seperti dia.
Tiba-tiba jari telunjuk Bella digerakkan untuk membersihkan bagian bawah mulut Topan yang terdapat bekas roti, tentu saja perasaan Topan langsung tak karuan dan jantungnya seketika itu juga seperti berhenti berdetak karena ia tak bisa melepaskan diri dari magnet yang dipancarkan oleh wajah cantik gadis di sampingnya itu.
"Sorry, aku cuma mau bersihin bibir kamu! Soalnya kurang enak aja dipandang kalau seorang seperti Topan mulutnya berantakan, udah lanjut aja lagi makannya!" ucap Bella tersenyum.
__ADS_1
Topan hanya terdiam kemudian mengalihkan pandangannya dari wajah Bella, ia tak mengerti mengapa ini semua bisa terjadi padanya. Ia seakan seperti tak dapat berbuat apa-apa karena terpanah akan kecantikan wajah Bella, sungguh ia belum pernah sampai seperti ini ketika bertemu wanita.
"Gue ini kenapa sih? Inget Topan, Bella itu sekarang udah bukan pacar lu lagi! Waktu itu lu udah dikasih kesempatan buat jadi pacarnya, tapi lu malah sia-siakan dan sekarang lu berharap Bella bakal mau terima lu lagi? Ayolah Topan, come on sadar bro!" batin Topan berdebat sendiri.
Bella yang melihat ekspresi Topan jadi tak karuan seperti itu malah merasa senang, ia kini semakin yakin kalau Topan sudah terpincut dengan kecantikan dirinya yang berubah drastis. Bella pun akan bersiap melancarkan aksi selanjutnya untuk terus mendekati Topan dan membuat pria itu merasakan apa yang ia rasakan dulu, tampak senyum licik tersimpul di wajahnya sembari menatap Topan dari samping.
Sementara Topan sendiri sudah tidak kuat lagi terus-terusan berada disana bersama Bella, akhirnya ia memutuskan berdiri lalu hendak pergi meninggalkan mantannya tersebut. Akan tetapi, Bella malah ikutan berdiri dan menggenggam tangannya seperti menahan Topan agar tidak pergi dari sana.
"Kamu mau kemana, Topan? Itu rotinya dihabisin dulu baru kamu boleh pergi! Orang makan itu harus sambil duduk loh gak baik kalau sambil berdiri apalagi jalan, nanti kamu bisa sakit!" ucap Bella menatap mata pria di sampingnya sambil menguatkan genggamannya pada lengan Topan.
"Sorry, Bella! Gue bakal habisin ini tapi di tempat lain, gak enak juga dilihat orang kalo kita masih deket-deket kayak gini!" ucap Topan menyingkirkan tangan Bella dari lengannya.
Gadis itu tampak cemberut memanyunkan bibirnya, Topan yang melihatnya malah semakin gemas dan jadi tidak karuan karena Bella memang terlihat cantik nan imut saat sedang cemberut seperti itu.
Disisi lain, Cahaya harus pergi ke warnet untuk print makalah yang sudah dibuatnya sebagai hukuman atas perbuatannya tadi. Cahaya pun menaiki motornya lalu bergegas menuju warnet terdekat disana, ia memang harus cepat karena pak Jumali hanya memberi tenggat waktu sampai pukul 5 sore sebelum sekolah benar-benar ditutup.
Cahaya menancap gas mencari warnet di sekitar jalan tersebut, ia akhirnya menemukan sebuah warnet di pinggir jalan. Tentu saja Cahaya langsung melipir kesana memarkirkan motornya tepat di depan warnet, ia pun turun dari motor melepas helmnya lalu jalan ke dalam warnet dan menancapkan flashdisk miliknya pada komputer disana.
"Huft, gara-gara si buncit gue jadi harus kayak gini! Awas aja ya tuh guru, gue gak terima diginiin sama dia!" ujar Cahaya mengumpat sendiri.
Saking sibuknya merapihkan kembali file yang ia buat sebelum diprint, Cahaya sampai tak sadar ada seseorang pria di belakangnya yang terus saja memperhatikan gerak-gerik gadis itu. Ya pria itu juga menyewa satu komputer tepat di belakang Cahaya, namun bukannya bermain komputer ia malah terus menatap Cahaya dari sana.
Cahaya sudah selesai merapihkan filenya, ia langsung saja mencetak semua file yang dibuatnya tanpa basa-basi lagi. Sembari menunggu semuanya selesai dicetak, Cahaya kegerahan karena disana hanya ada dua kipas angin tanpa AC. Cahaya melepas jaketnya kemudian mengipas-ngipaskan tubuhnya dengan telapak tangan sembari melonggarkan kerah seragamnya, hal itu juga diperhatikan oleh pria di belakangnya tanpa sepengetahuan Cahaya.
Setelah semuanya selesai dicetak, Cahaya langsung menuju meja penjaga warnet untuk menjilid kertas-kertas prinannya yang berjumlah 12 lembar itu sekaligus menanyakan biayanya.
__ADS_1
"Bang, jilid dong!" ucap Cahaya menyerahkan lembaran kertas di tangannya pada penjaga itu.
"Oke," ucap penjaga itu singkat sambil melempar senyum pada Cahaya, ia pun berdiri lalu mulai menjilid kertas tugas Cahaya.
Sementara Cahaya duduk menunggu di dekat sana sambil masih terus mengipas-ngipas, memang Cahaya terbiasa duduk di ruangan ber-AC ketika mengenakan seragam sekolah jadi saat berada di ruangan tanpa AC seperti ini tentu ia akan sangat merasakan kegerahan.
"Nah udah nih," ucap penjaga itu menyerahkan tugas Cahaya.
"Makasih, berapa semuanya bang?" tanya Cahaya menampani sembari merogoh kantongnya.
"Gausah, gratis buat cewek cantik mah!" ucap penjaga itu sambil senyum genit.
Sontak Cahaya terperangah mendengarnya, entah ia harus senang atau malah jijik karena ekspresi wajah penjaga itu cukup membuatnya ilfeel.
"Jangan dong, gue bayar aja nih!" ucap Cahaya mengeluarkan uang 50 ribu lalu menaruh di atas meja.
Tanpa basa-basi lagi, Cahaya langsung pergi keluar dari warnet tersebut sambil merasa kesal serta kapok dan tak ingin datang ke warnet itu lagi.
Setelah Cahaya pergi dari sana, pria yang tadi memperhatikan Cahaya juga ikut bangkit mengejar gadis itu keluar. Ia memberikan uang pada si penjaga, lalu mengejar Cahaya yang sudah pergi lebih dulu dengan motornya.
"Halo, saya kirim lokasi sekarang! Cepat susul saya!"
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1