Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 193. Gelas pecah


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 192


...•...


...•...


Topan pulang ke rumahnya menggunakan mobil yang sudah diantar oleh Guntur sebelumnya ke rumah sakit, ya Topan memang sudah diperbolehkan pulang dan ia diminta oleh Hendra untuk pulang lebih dulu ke rumahnya karena hari sudah malam dan Hendra tak mau merepotkan Topan, maka dari itu Topan pun terpaksa pulang walau sebenarnya ia masih ingin disana bersama Cahaya.


Pulangnya Topan itu langsung disambut ceria oleh Eun-Kyung yang sudah menunggu, bahkan Eun-Kyung sampai terkejut ketika melihat wajah Topan yang diperban seperti itu. Ya Eun-Kyung mengira kalau Topan putranya itu habis dipukulin lagi oleh orang-orang seperti dulu, ia sangat panik dan memegangi wajah putranya tersebut berkali-kali.


"Topan, kamu kenapa sayang? Kok wajah kamu luka begini? Apa kamu habis dipukulin orang-orang lagi kayak waktu itu, ha?" tanya Eun-Kyung panik.


"Mah, mama tenang aja ya! Topan gak begitu kok, ini cuma luka kecil aja tadi di jalan terjadi sedikit musibah yang sulit buat diceritakan, mah. Yaudah ya mah, Topan lapar nih mau makan!" ucap Topan.


"Ohh, yaudah ayo kita makan bareng di dalam! Kasihan anak mama ini selalu aja pulang ke rumah dalam keadaan begini, yuk sayang!" ucap Eun-Kyung.


"Iya mah..." ucap Topan tersenyum.


Sebenarnya Topan senang sekali karena mendapat perhatian dari mamanya seperti itu, ya karena memang itulah yang ia inginkan selama ini sejak kecil. Namun, entah mengapa justru Topan saat ini merasa kalau mamanya terlalu lebay dan seperti menganggap ia masih kecil, terbukti beberapa kali memang mamanya pernah memperlakukan Topan seperti anak kecil atau bocil.


Kini mereka pun masuk ke dalam rumah dan Eun-Kyung langsung membawa Topan menuju meja makan untuk makan bersamanya, kebetulan disana juga sudah tersedia makanan yang dibuat oleh bik Leni untuk keluarga majikannya disana. Topan pun tak perduli lagi dengan rasa sakitnya atau apalah itu karena ia sudah sangat lapar, ya ia langsung saja melahap semua makanan yang ada disana

__ADS_1


"Topan, pelan-pelan dong sayang makannya! Nanti kalo kamu keselek gimana? Kan sakit tau rasanya, itu kayak digigit Ironman!" ucap Eun-Kyung.


"Apaan sih mama? Yakali Ironman bisa gigit, orang dia aja udah mati kok!" ucap Topan.


"Yeh dikasih tau sama mamanya bukan nurut, malah ngeyel dan ngelawan! Kamu itu kalo makan gak boleh cepet-cepet Topan! Omongan mama mu ini bukan sembarang omongan loh!" ucap Eun-Kyung.


"Ahaha, iya iya mamaku sayang!" ucap Topan.


Akhirnya Topan memelankan cara ia makan sesuai dengan perintah dari sang mama, walau sebenarnya ia sudah sangat lapar dan kalau makan lambat itu akan membuat rasa laparnya lama hilang. Namun, tak ada pilihan lain baginya selain menurut saja dengan perkataan mamanya yang memang benar dan tidak salah atau terlalu lebay itu.


"Oh ya, kamu tuh abis darimana aja sih? Kenapa pulang-pulang kamu bisa luka begitu sayang?" tanya Eun-Kyung cemas.


"Aku abis ketemu temen, mah." jawab Topan singkat.


"Ohh, ya terus kenapa itu muka kamu banyak luka perban begitu?" tanya Eun-Kyung penasaran.


"Eee ini gapapa kok, mah." ucap Topan.


"Jatuh dari motor, mah." jawab Topan.


"Hah? Kok bisa? Kan kamu perginya pake mobil sayang, gimana caranya kamu bisa jatuh dari motor?" tanya Eun-Kyung terheran-heran.


Topan pun baru sadar kalau ia memang pergi mengenakan mobilnya, ia kini kebingungan sendiri harus menjawab apa pada mamanya.


...•••...


Disisi lain, Cahaya terbangun saat tengah malam dan ia baru sadar kalau saat ini ia masih berada di rumah sakit karena kecelakaan yang tadi dialaminya bersama dengan Topan. Cahaya pun menoleh ke arah samping dan melihat papanya sedang tertidur pulas disana, ia tersenyum merasa terharu dan juga kasihan karena papanya itu harus sampai tidur disana demi menjaganya yang masih sakit.


Cahaya memang tak bisa berbuat apa-apa saat ini untuk membantu papanya, ya karena untuk bergerak saja ia sulit apalagi turun ke bawah menghampiri sang papa yang sedang tidur. Namun, Cahaya tiba-tiba merasa haus dan ingin mengambil gelas minuman yang terletak di atas meja samping tubuhnya itu, ia sudah tak bisa lagi menahan rasa haus yang membuat tenggorokannya itu kering.

__ADS_1


Cahaya berusaha terus-menerus untuk bisa menggapai gelas tersebut dengan tangannya, tetapi itu cukup sulit karena jaraknya agak lumayan jauh dari tempat ia berbaring sekarang. Terlebih kakinya juga mati rasa saat ini dan sulit sekali digerakkan, sehingga ia hanya bisa mengandalkan tangannya untuk bisa mengambil gelas itu dan meminumnya agar rasa hausnya itu hilang.


"Aduh, susah banget sih!" gumamnya.


Akhirnya Cahaya berhasil meraih gelas tersebut walau harus dengan bersusah payah, namun saat ia hendak menarik gelas tersebut ke dekatnya dan meminumnya, tiba-tiba saja gelas itu malah terdorong dan terjatuh ke lantai hingga pecah menjadi berkeping-keping dan tentunya menimbulkan suara cukup keras.


Praaanggg...


Suara itu pun membuat Hendra yang sedang tidur jadi terbangun, sedangkan Cahaya tampak terkejut juga dan menutupi mulutnya sambil memegangi dada karena nafasnya tersengal-sengal.


"Cahaya? Kamu mau ngapain sayang?" tanya Hendra syok saat melihat banyak pecahan gelas di lantai.


"Kamu mau minum?" sambungnya.


"I-i-iya pah, aku tadi haus pengen minum. Tapi, pas aku mau ambil gelasnya, eh malah jatuh ke lantai terus pecah! Maaf ya papa, aku jadi ganggu tidur papa deh!" ucap Cahaya merasa bersalah dan tidak enak pada papanya tersebut.


"Gapapa sayang, harusnya kamu juga bangunin aja papa kalau emang mau minum. Yaudah, tunggu sebentar ya papa ambilin minum buat kamu sayang! Sekalian biar papa minta ob buat bersihin pecahan gelas ini, kamu tunggu aja disini ya sayang!" ucap Hendra sembari mengusap wajah papanya.


"Iya pah, maaf banget ya sekali lagi karena aku udah buat ulah begini!" ucap Cahaya.


"Iya sayang, udah ah gausah minta maaf terus! Sebentar ya, papa ke depan dulu ambil minum buat kamu!" ucap Hendra tersenyum.


"Iya pah..." ucap Cahaya sambil manggut-manggut.


Hendra pun keluar dari kamar tempat Cahaya dirawat untuk mengambilkan minum serta meminta tolong pada ob untuk membersihkan bekas pecahan gelas tersebut.


Sementara Cahaya masih berada disana dan tampak menyesal karena sudah berbuat kesalahan, ia menoleh ke bawah memandangi pecahan gelas tersebut dengan raut wajah sedihnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2