Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 65. Ditimpuk spidol


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 64


...•...


...•...


Cahaya tidak bisa konsen mendengarkan penjelasan dari pak Hambali yang saat ini tengah mengajar PKN di kelasnya, tentu Cahaya kesulitan untuk mencerna perkataan pak Hambali karena ia masih kepikiran tentang tindakan Topan pagi tadi di depan sekolah yang mana pria itu secara terang-terangan menyebutkan kalau mereka sudah jadian.


Ya sejak kejadian itu memang Cahaya kini menjadi pusat perhatian murid-murid di sekolah lantaran mereka semua merasa iri pada Cahaya yang bisa mendapatkan pria seperti Topan, mereka menganggap Cahaya adalah gadis beruntung dan ingin sekali rasanya bertukar hidup dengan Cahaya supaya bisa merasakan hoki seperti itu.


Namun, Cahaya sendiri malah menganggap kalau dirinya sangat-sangat sial karena harus dipertemukan dengan lelaki seperti Topan yang selain menyebalkan juga sulit ditebak dan selalu saja menyusahkan dirinya. Padahal urusan mereka hanyalah sekedar pengutang dan penagih utang, tetapi malah jadi merembet kemana-mana.


"Huft, malu banget gue kalo inget kejadian tadi! Rasanya gue pengen keluar dari bumi tau terus pindah ke Saturnus dan jalanin hidup baru, si Topan itu bener-bener keterlaluan!" batinnya.


Plaaakk....


Sebuah spidol melayang di udara dan mendarat tepat di dahi Cahaya yang tengah melamun, ya gadis itu pun meringis kesakitan sembari memegangi dahinya yang terkena lemparan spidol dari pak Hambali barusan.


"Awwhhh..." rintih Cahaya.


Sontak semua murid di kelas itu menoleh ke arah Cahaya seperti terlihat panik, ya mereka tak habis pikir mengapa pak Hambali bisa melakukan itu pada Cahaya dan sepertinya mereka cemas kalau pak Hambali nantinya akan dimarahi oleh Topan.


"Kenapa kamu melamun, Cahaya? Saya disini sedang menjelaskan materi, tapi kamu malah bengong begitu bukannya mendengarkan! Apa kamu mau saya beri nilai rendah...??" bentak pak Hambali.


"Aduhhh..."

__ADS_1


"Maaf pak, saya gak sengaja!" ucap Cahaya sambil terus memegangi dahinya yang terkena spidol.


Pak Hambali masih tampak marah pada Cahaya karena dianggap tidak serius belajar, matanya melotot dengan urat-urat yang keluar menandakan ia benar-benar emosi kali ini.


Sementara Cahaya sendiri mengambil spidol yang terjatuh ke lantai setelah tadi mengenai dahinya, ia berniat mengembalikan spidol itu kepada pak Hambali di depan walau sebenarnya ia sangat takut menatap langsung mata pak Hambali dari dekat.


"Ini pak..."


Cahaya hanya meletakkan spidol itu di atas meja lalu kembali ke tempat duduknya tanpa menoleh sedikitpun ke arah pak Hambali, sedangkan guru itu geleng-geleng kepala sembari mengelus dada untuk menahan emosi yang mulai menguasai tubuhnya.


Seisi kelas masih diam karena syok dengan kejadian tadi yang baru pertama kali mereka lihat, ya biasanya pak Hambali tidak sampai semarah itu pada murid-murid yang bandel atau tak mau mendengarkan ucapannya.


"Aya, emang lu ngelamunin apa sih?" tanya Prita teman sebangkunya berbisik.


"Bukan apa-apa kok," jawab Cahaya singkat.


Tak ada lagi perbincangan diantara mereka, sepertinya Cahaya masih syok karena tiba-tiba sebuah spidol mendarat di keningnya saat pikirannya tengah melayang ke arah lain.


Sementara pak Hambali melanjutkan materi hari ini namun sembari melakukan sesi tanya-jawab supaya ia tahu kalau semua murid di kelas itu memperhatikan dirinya, ya Cahaya pun menjadi korban pertama dari pak Hambali dan untungnya gadis itu berhasil menjawab dengan tepat.


"Biasa aja..."


...•••...


Disisi lain, Bella membuka matanya dengan perlahan dan merasakan sakit pada bagian kepalanya saat hendak bangkit dari posisi tidurnya saat ini. Bella bingung tak mengenali dimana tempat ia berada sekarang karena ia merasa belum pernah datang kesini sebelumnya, ia menatap ke sekeliling mencari tahu berada dimana dirinya saat ini.


"Ini gue dimana sih...??"


Bella melihat tubuhnya masih memakai pakaian yang sama dengan yang ia kenakan semalam, itu artinya memang ia belum pulang ke rumah dan baru teringat juga di kepalanya kalau semalam ia pergi bersama Bram ke diskotik dan mereka joget-joget ria disana sambil minum-minum melepas penat.


Ceklek...


Tak lama pintu terbuka, memperlihatkan seorang pria dengan sebuah nampan berisi makanan dan minuman di tangannya. Pria itu tersenyum menghampiri Bella yang masih kebingungan di atas ranjang empuk, gadis itu menoleh lalu terbelalak melihat sosok pria yang masuk ke dalam.

__ADS_1


"Morning, Bella!"


"Bram?"


Ya pria itu adalah Bram sosok yang memang sebelumnya membawa Bella ke diskotik, gadis itu ketakutan memikirkan sesuatu buruk yang terjadi padanya jika berduaan dengan Bram disana.


"Lu ngapain bawa gue kesini, Bram? Ini tempat apa dan dimana gue sekarang??" tanya Bella panik.


"Hahaha...."


Bukannya menjawab, Bram malah tertawa kecil sembari terus maju ke dekat Bella lalu meletakkan nampan di tangannya itu ke atas meja dan duduk di pinggir ranjang samping gadis tersebut.


"Kamu gak perlu panik gitu, ini di apartemen aku kok! Sekarang kamu makan dulu, ya?" ucap Bram mengambil piring berisi nasi itu.


"Gue mau pulang, Bram! Pasti nyokap bokap gue khawatir sama gue karena gak pulang semalaman, lu jangan larang gue buat pulang!" ujar Bella.


"Gausah cemas, gue udah bilang kok sama orang tua lu kalau lu gak bisa pulang semalam! Udah tenang aja, sekarang lu sarapan dulu biar gue suapin!" ucap Bram tersenyum manis ke arah Bella.


Pria itu pun mulai menyodorkan sesendok nasi ke arah mulut Bella, namun gadis itu belum mau membuka mulutnya sehingga Bram harus menggunakan berbagai macam cara untuk membuat Bella mau membuka mulutnya dan makan.


"Ayolah, Bella! Kamu makan dulu nasinya, semalam kan kamu belum sempat makan karena keburu pingsan!" ucap Bram.


"Gak, bisa aja kan lu taro sesuatu ke makanan itu! Pokoknya gue gak mau makan itu, mending lu sendiri aja yang makan tuh makanan!" ucap Bella.


"Duh ya ampun, ngapain sih gue taro macem-macem ke makanan ini? Gue tuh sayang tulus sama lu, mana mungkin gue tega berbuat seperti itu ke lu?" ujar Bram coba meyakinkan Bella.


"Halah, bullshit!" ujar Bella masih tak percaya.


"Serius Bella, percaya dong sama gue! Ayo, lu coba makan dulu ya dikit-dikit! Gue khawatir lu sakit dan nanti orang tua lu malah panik, mau ya?" ucap Bram.


Bella terdiam membuang muka sembari melipat kedua tangannya di depan, ia sangat tidak ingin memakan makanan yang dibawa Bram karena masih yakin kalau di dalam makanan itu pasti sudah dicampuri sesuatu oleh Bram.


"Gimana ceritanya ya, kok gue bisa sampe pingsan semalam dan dibawa kesini sama Bram?" gumam Bella bertanya-tanya di dalam hatinya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2