
...HALO GUYS!...
...WELCOME TO MY NEW STORY!...
..."TOPAN & CAHAYA"...
...~~~...
#TOPAN&CAHAYA EPS. 307
...•...
...•...
Topan dan Cahaya kini sudah dalam perjalanan pulang setelah mereka menikmati makan siang di restoran serta berbincang sejenak dengan Lyodra membahas tentang rencana Calissa.
Keduanya telah mengetahui apa rencana dari Calissa yang ingin membunuh Cahaya, biarpun begitu tetap saja Topan merasa cemas jika ia gagal untuk melindungi Cahaya gadisnya itu nanti.
"Pacar, mulai sekarang kamu jangan jauh-jauh ya dari aku! Kamu gak boleh bepergian keluar sendiri tanpa ditemani aku, ingat loh ancaman bisa datang kapan aja! Kita kan gak tahu si Calissa itu mau lakuin rencananya kapan, jadi kita harus berhati-hati sayang gak boleh lengah!" ucap Topan.
Cahaya menoleh ke arah pacarnya, ia pun juga cemas pada kondisinya sendiri.
"Iya pacar, aku juga gak mau itu terjadi! Aku kan masih pengen hidup sama kamu, kita juga belum nikah dan aku juga belum bahagiain papa!" ucap Cahaya pelan.
"Tenang aja ya! Aku bakal jagain kamu sepenuh hatiku, kalau perlu juga nanti aku sewa bodyguard buat bantu jagain kamu!" ucap Topan.
"Gak perlu lah, cukup kamu aja!" ucap Cahaya.
"Hahaha semakin banyak orang yang jagain kamu, itu kan semakin bagus sayangku! Jadi, tingkat keselamatan kamu itu naik pacar! Udah tenang aja, aku yang bayarin kok bodyguard buat kamu itu! Aku gak mau aja kamu kenapa-napa pas lagi gak sama aku, mau kan?" bujuk Topan.
"Eee iya deh terserah kamu aja pacar, aku gak bisa nolak lagi kalo kamu udah maksa gitu!" ucap Cahaya.
"Nah gitu dong, yaudah nanti aku cariin bodyguard yang paling bagus buat kamu! Pastinya dia harus bisa jagain kamu sepenuh hati, karena Calissa itu orangnya nekat dan dia bisa ngelakuin apapun yang dia mau!" ucap Topan khawatir.
"Oke! Eee tapi, kenapa kamu gak sewa bodyguard bekas Calissa dulu? Dia kan pernah nyewa dua orang bodyguard buat jagain aku dari kamu, sekarang kita sewa aja mereka lagi!" ucap Cahaya memberi usul.
"Boleh juga, kamu punya nomor mereka?" tanya Topan.
"Enggak, tapi papaku punya deh kayaknya. Soalnya kan papa yang cari bodyguard itu, nanti coba aku tanyain ke papa!" ucap Cahaya.
"Siap!" ucap Topan tersenyum.
Pria itu merasa gemas dengan wajah gadisnya, ia pun mencubit sambil mengelusnya dengan tangan.
Sementara Cahaya baru sadar kalau ia belum menanyakan pada Topan mengenai tanda merah yang ada di lehernya, kini ia pun kembali menoleh ke arah Topan untuk bertanya mengenai itu.
"Pacar, aku mau tanya deh sama kamu!" ucap Cahaya.
"Tanya apa pacar?" Topan penasaran.
"Ini loh pacar, tadi aku lihat ada tanda merah di leher aku pas waktu aku lagi di toilet. Perasaan sebelumnya gak ada deh, apa ini ulah kamu ya?" ucap Cahaya sambil menunjukkan tanda merah di lehernya itu.
"Ohh hahaha kamu baru sadar? Iya pacar, itu tadi aku yang bikin. Gimana? Kamu suka gak sama hasil karya aku pacar?" ucap Topan terkekeh.
"Haish, hasil karya apanya? Ini gimana cara aku ngilanginnya Topan? Aku malu banget kalo sampe dilihat sama papa atau orang lain yang aku temuin, gimana kalau mereka nanya?" ujar Cahaya.
"Tenang aja! Kalau papa kamu lihat, pasti papa kamu itu bakal bangga loh sayang!" ucap Topan.
"Ih bangga gimana? Pacar, serius ah ini gimana ngilanginnya?! Kamu kan yang bikin ini, kamu harus tanggung jawab bikin tanda ini ilang dari leher aku! Aku gak mau ya ada yang lihat tanda ini, ayolah pacar yang serius!" ucap Cahaya panik.
"Hahaha udah biarin aja sayang, itu tanda kalau kamu udah sah jadi milik aku! Tinggal nunggu waktu aja supaya kita bisa bikin anak!" ujar Topan.
Topan justru terkekeh, sedangkan Cahaya semakin merasa jengkel pada kekasihnya itu.
•
•
Singkat cerita, mereka sudah sampai di rumah Cahaya. Namun, gadis itu merasa canggung untuk masuk ke dalam rumahnya dengan kondisi seperti sekarang ini, yang mana ada banyak tanda merah di lehernya itu akibat dari ulah Topan kekasihnya.
Topan sadar kalau gadisnya tidak mau masuk ke dalam karena takut ketahuan oleh papanya, ia pun coba membantu meyakinkan Cahaya bahwa semua akan baik-baik saja dan Hendra alias papa dari Cahaya tak akan memarahinya.
"Hey, udah lah kamu jangan over thinking terus! Papa kamu gak bakal marah-marah kok, aku yakin banget! Sekarang kamu masuk ya sayang? Ini udah sore loh mau malam, takut dicariin papa kamu!" bujuk Topan.
"Ah gak mau!" ujar Cahaya.
"Kenapa sih pacar? Aku temenin deh ke dalamnya, supaya kamu gak dimarahin sama papa kamu! Ayolah sayang, kita masuk yuk!" ucap Topan.
__ADS_1
"Gak mau pacar! Pokoknya aku gak mau masuk sebelum tanda di leher aku ini ilang, aku malu tau Topan sama papa! Kalau papa lihat tanda ini, pasti papa bakal mikir yang enggak-enggak ke kita! Lagian kamu sih, ngapain coba pake bikin tanda kayak gini di leher aku?!" ujar Cahaya kesal.
"Eee iya iya aku minta maaf ya sayang! Tapi, aku bakal tanggung jawab kok!" bujuk Topan.
Cahaya terdiam sejenak merenung memikirkan apa ia harus masuk ke dalam rumahnya atau tidak, karena ia masih ragu jika nantinya bertemu dengan sang papa dan papanya itu melihat kondisi lehernya.
"Yaudah deh, aku mau turun!" ucap Cahaya.
"Nah gitu dong sayang! Aku kan jadi seneng dengarnya, yuk kita turun sekarang!" ucap Topan tersenyum senang.
"Iyaa..."
Gadis itu cemberut dan membuka pintu mobil lalu turun dari sana, begitu juga dengan Topan yang turun melalui pintu lain dan langsung menghampiri gadisnya itu.
"Pacar, emang papa kamu ada di rumah?" tanya Topan sambil menggandeng tangan Cahaya.
"Enggak tau, semoga aja gak ada! Jadi, aku bisa aman tanpa kena omel papa!" jawab Cahaya sambil tersenyum.
"Ya semoga aja!" ucap Topan.
Setelahnya, mereka pun memasuki halaman rumah Cahaya dan berhenti tepat di depan pintu masuk.
Topan hendak mengetuk pintu, akan tetapi Cahaya mencegahnya dengan menarik lengan pria itu ke belakang. Rupanya Cahaya berubah pikiran karena ia takut papanya itu ada di rumah.
"Tunggu pacar, jangan diketuk dulu!" ucap Cahaya.
"Kenapa sih pacar?" tanya Topan heran.
"Aku takut papa ternyata ada di dalam, nanti aja jangan masuk dulu! Biar aku tanya ke pak Ahmad satpam aku, sebentar ya!" ucap Cahaya.
"Hadeh Aya, kamu kok penakut banget sih? Padahal kan udah aku temenin sayang, lagian itu tanda merah juga gak terlalu kelihatan! Kan bisa ditutupin pake syal atau apa kek gitu!" ucap Topan.
"Eee emang kamu punya syal?" tanya Cahaya.
"Ya enggak, tapi itu jaket kamu bisa digunain loh buat nutupin leher kamu. Sini deh aku bantu!" ucap Topan.
Pria itu melepas jaket yang dikenakan Cahaya, lalu ia melingkarkan jaket itu pada area leher sang kekasih untuk menutupi berbagai bercak merah yang ada disana.
"Nah udah, gak ketahuan deh!" ucap Topan.
"Huft, semoga aja!" ucap Cahaya.
Sontak Cahaya panik karena mobil itu merupakan mobil milik papanya, ia langsung bersembunyi dibalik tubuh sang kekasih untuk menghindari bertatapan langsung dengan sang papa nanti.
"Pacar, gawat itu papa! Kalau sampe papa lihat tanda merah ini, pasti aku dimarahin!" ujar Cahaya.
"Tenang aja sayang, kan ada aku disini! Kamu gausah panik gitu kali, lagian belum tentu kan papa kamu bakal marah-marah?" ucap Topan santai.
"Ya iya sih, tapi kan papa pasti curiga dan bakal tanya ini tanda apa!" ucap Cahaya cemas.
Tak lama kemudian, benar saja Hendra turun dari mobil lalu mendekat ke arah Topan dan Cahaya sambil senyum-senyum, itu justru menambah rasa cemas dari Cahaya sendiri saat melihatnya.
"Eh sayang, kalian baru pulang?" tanya Hendra.
"Eee iya om, tadi saya ajak Cahaya makan di luar dulu sebelum pulang. Maaf ya om, soalnya Cahaya lapar tadi!" jelas Topan.
"Ya gapapa lah, masa orang makan saya larang sih? Yasudah, ayo pada masuk dong jangan berdiri di depan aja kayak gini! Cahaya, ajak pacar kamu masuk ke dalam!" ucap Hendra.
"Iya pah, ayo pacar kita lanjut ngobrol di dalam aja!" ucap Cahaya tersenyum.
"I-i-iya..."
Akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam, namun Cahaya dengan cepat meninggalkan kedua pria itu untuk segera masuk kamarnya dan coba menghilangkan tanda merah di lehernya itu.
"Pah, Topan, aku ke kamar dulu ya mau ganti baju?" ucap Cahaya meminta izin pada mereka.
"Iya sayang, biar papa yang temenin Topan!" ucap Hendra tersenyum.
Cahaya pun melangkah pergi menuju kamarnya, sedangkan Topan tetap disana bersama Hendra untuk ngobrol-ngobrol ringan.
"Sebentar ya, saya panggil bik Minah dulu untuk buatin minuman supaya kita ngobrolnya lebih nyaman!" ucap Hendra.
"Eee iya om, makasih!" ucap Topan gugup.
Hendra pun berteriak memanggil nama bik Minah, sedangkan Topan sendiri tampak makin gugup karena saat ini ia hanya berduaan saja dengan Hendra dan ia tak tahu harus berbicara apa.
"Bik, bik Minah....!!" teriak Hendra.
__ADS_1
Tak lama kemudian, bik Minah pun muncul.
"Iya tuan, siap! Ada apa?" tanya bik Minah.
"Tolong buatkan minuman ya tiga!" jelas Hendra.
"Oh siap tuan! Eh tapi kan tuan cuma berdua sama mas Topan, kenapa minta dibikinin minuman tiga? Ohh tuan haus banget ya sampe mau minum dua gelas?" ujar bik Minah heran.
"Hah? Enggak bik, yang satu buat Cahaya. Dia lagi ganti baju dulu, tapi nanti turun lagi kesini. Makanya saya minta bibik bikin tiga minuman!" jelas Hendra.
"Oalah maaf ya tuan, saya salah sangka!" ujar bik Minah terkekeh sendiri.
"Hahaha gapapa bik," Hendra tertawa kecil.
Bik Minah langsung kembali ke dapur dan mulai membuatkan minuman sesuai perintah dari majikannya itu.
Sementara Hendra beralih menatap Topan dan mulai berbincang dengan pria tersebut, ia penasaran dengan sikap Cahaya karena yang ia tahu putrinya itu masih saja sering bersikap kekanak-kanakan.
"Eee Topan, saya mau tanya sedikit deh sama kamu tentang Cahaya!" ucap Hendra.
"Iya om, tanya soal apa ya?" ujar Topan bingung.
"Cahaya itu masih suka ngambek apa enggak sama kamu? Soalnya dia udah janji sama saya mau berubah lebih dewasa, apa dia beneran udah dewasa atau masih kekanak-kanakan nih?" tanya Hendra.
"Umm, dari sikap sih udah sedikit berubah ya om. Walau Cahaya masih juga suka manja-manja dikit gitu sama saya, tapi itu mah gapapa sih justru saya suka kalau Cahaya manja begitu. Ya intinya sih Cahaya itu lumayan berubah om!" jawab Topan.
"Oh begitu, baguslah jadi saya gak perlu pusing lagi kalau dengar kalian bertengkar hanya karena masalah sepele!" ucap Hendra.
"Hahaha iya om, saya juga lebih lega dan senang!" ucap Topan tersenyum.
"Ini ngomong-ngomong Cahaya kok lama banget ya ganti bajunya? Jangan-jangan dia malah tidur lagi, padahal ada cowoknya disini! Biasanya dia kan paling semangat ketemu kamu Topan," ujar Hendra.
"Pasti Cahaya lagi coba ngilangin tanda merah itu!" gumam Topan dalam hati.
"Umm, mungkin aja Cahaya sekalian mandi kali om. Makanya dia agak lama, tapi gapapa lah kan tadi kita juga udah banyak ngobrol!" ucap Topan.
"Oh iya juga sih," ujar Hendra.
Justru bik Minah yang lebih dulu datang kesana membawa minuman pesanan Hendra tadi.
"Misi tuan, ini minumannya!" ucap bik Minah.
"Ah iya bik, makasih!" ucap Hendra.
Bik Minah pun meletakkan gelas-gelas minuman itu di atas meja, lalu mempersilahkan majikannya untuk meminum minuman itu.
"Silahkan diminum tuan, mas Topan!" ucap bik Minah.
"Makasih bik!" ucap Topan tersenyum.
Setelahnya, bik Minah pun kembali ke dapur membawa nampan kosong di tangannya. Sedangkan Topan dan Hendra asik meminum minuman tersebut sampai sisa setengah.
Barulah kali ini Cahaya kembali ke bawah menemui papanya dan juga Topan disana, terlihat ia sudah mengenakan pakaian yang cukup tertutup tentunya untuk menutupi tanda merah di lehernya.
"Pah, pacar, maaf ya aku lama!" ucap Cahaya tersenyum lalu duduk di dekat papanya.
"Iya gapapa sayang, eh kamu kok pake sweater sama syal kayak gini sih? Emang kamu lagi kedinginan apa gak enak badan?" tanya Hendra.
"Eee gak kok pah, aku cuma pengen aja pake ini!" jawab Cahaya berbohong.
"Ya syukurlah kalo kamu gapapa! Yaudah, tuh diminum dulu minumannya! Kamu abis mandi atau enggak sih, kok gak basah?" ujar Hendra heran.
"Eee enggak pah, aku belum mandi!" ucap Cahaya.
"Ohh, terus kok lama banget sih?" tanya Hendra.
"A-aku tadi rebahan dulu sebentar pah, soalnya capek banget tadi di sekolah!" jawab Cahaya.
"Oh gitu,"
"Iya pah,"
Cahaya menghela nafas sembari memalingkan wajahnya ke arah lain, ia merasa lega karena akhirnya sang papa percaya dengan apa yang ia katakan dan tidak lagi bertanya-tanya.
"Huh untung aja papa percaya! Sampai kapan sih tanda ini bakalan ada terus?" batin Cahaya.
Sementara Topan hanya senyum-senyum sendiri sambil menatap wajah gadisnya, ia tahu betul perasaan Cahaya saat ini pasti sangat panik.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...