Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 269. Pemotretan


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 268


...•...


...•...


Malam hari telah tiba, Cahaya telah memutuskan kalau ia ingin datang ke hotel untuk pemotretan dengan sang fotografer teman Lyodra itu. Ya Cahaya memang sempat ragu mengingat perkataan Mawar tadi yang memintanya hati-hati, namun akhirnya ia sudah yakin jika tawaran Lyodra itu benar-benar dan bukan sebuah kebohongan, seperti kata Mawar.


Cahaya pun sudah bersiap memakai baju miliknya yang paling bagus untuk datang ke hotel tempat pemotretan itu berlangsung, tak lupa Cahaya juga mengabari lagi fotografer tersebut kalau ia sudah akan berangkat ke hotel. Setelahnya, ia langsung berdiri membawa tas tenteng di tangan lalu berjalan menuju pintu dan keluar dari dalam kamar.


"Semoga aja ini keputusan yang benar! Kalau gue bisa jadi model terkenal, pasti gue bisa bantu papa soal keuangan dan gue gak perlu minta uang dari papa lagi kan!" gumam Cahaya dalam hati.


Disaat Cahaya hendak turun ke bawah menemui papanya untuk meminta izin, ia terkejut lantaran bik Minah tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Ya ampun, bik Minah ngagetin aku aja deh! Hampir aku mau jantungan tau, harusnya bibik pelan-pelan gitu kalau mau samperin aku! Atau paling enggak nyapa aku dong bik, jangan diem-diem begitu!" ucap Cahaya mengelus dada karena terkejut.


"Hehe, maaf non! Iya, bibik minta maaf non karena udah bikin kaget non Aya tadi!" ucap bik Minah.


"Ya gapapa kok bik, aku juga gak marah. Tapi, lain kali bibik jangan begitu lagi oke?!" ucap Cahaya.


"Oke non!" ucap bik Minah nyengir.


"Eee oh ya, bibik mau ngapain ini?" tanya Cahaya penasaran.


"Ini baju non Aya yang udah bibik cuci, non!" jawab bik Minah.


"Ohh, yaudah taruh aja di dalam bik! Aku mau ketemu papa dulu di bawah, pintunya gak aku kunci kok jadi bibik bisa masuk ke dalam! Soalnya aku ada urusan di luar bik mau pergi," ucap Cahaya.


"Oh gitu non, iya non siap!" ucap bik Minah.

__ADS_1


Setelah itu, Cahaya pun lanjut melangkah menuruni tangga dan mencari keberadaan papanya. Sedangkan bik Minah masuk ke dalam kamar Cahaya untuk menaruh baju-baju Cahaya yang baru dicuci olehnya tadi.


Sesampainya di bawah, Cahaya langsung celingak-celinguk mencari dimana papanya. Ia berhasil menemukan papanya dan bergerak menghampiri sang papa untuk minta izin.


"Papa!" ucap Cahaya memanggil Hendra dan berhenti tepat di samping papanya itu.


Sontak Hendra yang sedang fokus membaca buku sambil ngopi pun terkejut, ia reflek menoleh lalu geleng-geleng kepala saat melihat penampilan putrinya saat ini yang begitu cantik.


"Cahaya? Kamu cantik sekali! Mau kemana sayang?" tanya Hendra keheranan.


"Hahaha, makasih pah! Ini loh aku diajak pemotretan sama temen buat jadi model, boleh kan pah? Katanya aku cocok loh, kan lumayan kalau misal aku bisa jadi model terus dapat uang banyak! Jadi, aku gak ngerepotin papa lagi!" ucap Cahaya.


"Model?" Hendra terkejut saat mendengar itu.


"Iya pah, emang kenapa?" tanya Cahaya heran.


Hendra seketika itu juga teringat kembali pada mantan istrinya yakni Calissa yang juga merupakan sosok model terkenal, bahkan dulu ia tertarik dan menikahi gadis itu karena dia adalah model.


"Eee gapapa kok, papa cuma keinget seseorang aja. By the way, kamu serius mau jadi model? Emang siapa yang tawarin ke kamu?" ujar Hendra.


"Umm, iya pah serius! Aku kan juga pengen jadi anak yang mandiri dan bisa cari uang sendiri, karena aku gak enak aja udah ngerepotin papa terus dari kecil sampai sekarang!" ucap Cahaya.


"Iya pah, papa doain aku ya!" ucap Cahaya.


"Pasti dong sayang! Yaudah, mau papa antar gak ke lokasi pemotretan kamu itu?" ujar Hendra.


"Eee gak usah deh, pah. Aku berangkat sendiri aja, kebetulan aku udah pesan taksi online kok. Lagian papa kan lagi serius tuh baca buku sambil ngopi, mending dilanjut aja!" ucap Cahaya menolak.


"Yaudah deh, kamu hati-hati ya sayang! Kalau perlu apa-apa nanti hubungin papa aja, pasti papa bakal bantuin kamu kok cantik!" ucap Hendra.


"Makasih pah!" ucap Cahaya tersenyum.


Setelahnya, Cahaya pun mencium tangan papanya untuk berpamitan karena kebetulan taksi yang ia pesan sudah sampai di halaman depan.


"Pah, aku berangkat dulu ya?!" ucap Cahaya.


"Iya cantik, yuk papa antar sampai ke depan!" ucap Hendra.

__ADS_1


"Iya," Cahaya manggut-manggut.


Hendra bangkit dari duduknya lalu merangkul Cahaya dan jalan bersama-sama ke luar rumah, Hendra sebenarnya senang mendengar Cahaya ingin bekerja dan mencari uang sendiri. Namun, Hendra juga sedih karena ia mengira Cahaya bekerja akibat uang yang ia berikan selama ini kurang.




Saat di luar, Hendra mengantar putrinya itu sampai ke depan gerbang mendekati mobil taksi yang sudah menunggu disana. Namun, Hendra menahan Cahaya sebentar karena ia masih penasaran mengapa gadis itu tidak meminta dijemput oleh Topan seperti biasa ketika dia hendak bepergian, sang papa pun bertanya langsung pada putrinya untuk mendapat kejelasan.


Sementara Cahaya sendiri hanya diam menatap wajah papanya sambil sedikit merunduk.


"Ada apa pah?" tanya Cahaya bingung.


"Papa mau tanya sama kamu, kenapa kamu gak minta jemput sama Topan aja kayak biasa? Dia itu kan pacar kamu, seharusnya dia pasti mau dong kalo kamu minta bantuan dia!" ujar Hendra.


"Eee kebetulan Topan lagi ada urusan, pah. Tadi aku udah bilang ke dia kok mau ada pemotretan, tapi katanya dia gak bisa ngantar gitu. Ya gapapa sih pah, aku juga gak mau terlalu ngerepotin Topan! Kan kita masih baru pacaran," ucap Cahaya tersenyum.


"Ohh, ya syukurlah kalau diantara kalian tidak ada masalah mah! Tadinya papa pikir kalian berdua itu lagi bertengkar makanya kamu naik taksi pergi ke sana nya," ujar Hendra.


"Hahaha, enggak kok pah!" ucap Cahaya.


Tin tin...


supir taksi itu membunyikan klakson berulang kali bermaksud memanggil Cahaya untuk segera masuk ke dalam mobilnya.


"Pah, udah ya aku pergi dulu? Itu supir taksinya udah ngamuk deh kayaknya, nanti aku pulang gak terlalu malam kok!" ucap Cahaya kembali pamitan dan mencium tangan papanya.


"Iya sayang, hati-hati ya! Papa tunggu sebelum jam sepuluh malam, jangan lewat dari itu!" ujar Hendra.


Cahaya mengangguk sambil tersenyum, lalu masuk ke dalam taksi sembari melambaikan tangan ke arah papanya yang masih berdiri disana.


Setelah mobil taksi itu pergi, barulah Hendra berbalik badan lalu masuk ke dalam rumahnya.


Sesaat sesudah mobil taksi yang membawa Cahaya pergi, sebuah mobil lainnya ikut mengejar taksi tersebut dengan kecepatan sedang dan menjaga jarak agar tak diketahui oleh Cahaya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2