Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 18. Kempes


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 17


...•...


...•...


Keesokan harinya, seperti biasa Cahaya sudah bersiap menuju sekolah dan memakai seragam serta celana panjangnya karena ia akan mengendarai sepeda motornya. Tak lupa pula ia membawa jaket kesayangannya pemberian mendiang mama sebagai hadiah ulang tahunnya.


Cahaya turun ke bawah, ia melengos begitu saja ketika melihat papanya tengah bergandengan tangan dengan Calissa dan hendak menuju meja makan. Hendra langsung memanggil putrinya itu hingga Cahaya menghentikan langkahnya.


"Aya!" teriak Hendra kesal karena menganggap putrinya tidak punya sopan santun dengan lewat begitu saja tanpa menyapanya.


Cahaya terhenti lalu menoleh ke arah papanya dengan tatapan malas, memang sejak mengetahui papanya telah berkhianat dengan mamanya sampai membuat sang mama meninggal, Cahaya jadi tidak mau menghormati papanya lagi.


"Apa sih, pah?" tanya Cahaya dengan nada kesal.


"Lancang sekali kamu sama papa! Dimana sopan santun kamu itu, Cahaya?" ujar Hendra emosi.


"Buat apa aku sopan santun sama papa?" ujar Cahaya dengan santainya.


Hendra yang terbawa emosi hendak menghampiri putrinya itu, namun langsung dicegah oleh Calissa dengan alasan ia tak mau suaminya kembali terbawa emosi saat menghadapi putrinya.


"Mas, jangan!" bisik Calissa mengingatkan Hendra.


Akhirnya Hendra tidak jadi menghampiri Cahaya karena bujukan istrinya, tapi ia masih tetap emosi pada Cahaya dan membentak gadis itu dari sana.


"Kalau kamu gak mau bersikap sopan dengan papa, lebih baik kamu pergi saja dari sini! Papa tidak butuh anak yang membangkang seperti kamu, karena papa akan memiliki anak juga dari Calissa!" ujar Hendra.

__ADS_1


Cahaya tersentak mendengar kata-kata papanya, ada hati yang terluka dengan perkataan tersebut karena bagaimanapun Cahaya adalah seorang wanita yang berhati lembut walau sifatnya garang.


"Aku gak akan pergi tinggalin rumah ini, pah! Karena bukan aku yang harus pergi, tapi wanita itu pah! Dia adalah satu-satunya orang yang pantas pergi dari sini dan menjauh dari papa!" ujar Cahaya menatap dan menunjuk ke arah Calissa.


"Cukup, Cahaya! Ini masih pagi dan papa tidak mau ada keributan disini, sebaiknya kamu jangan mengulangi kata-kata itu lagi atau papa akan tarik semua fasilitas kamu sehingga kamu tidak bisa memakai apapun pemberian papa!" ucap Hendra.


Cahaya pun terdiam setelah mendapat ancaman dari papanya, ia menurunkan tangannya dan menunduk sedikit karena takut akan kehilangan semua fasilitasnya jika terus bersikap seperti tadi.


"Baguslah, sekarang ayo kita sarapan sama sama! Papa gak mau ada penolakan dari kamu, cepat ke meja makan atau papa akan jual motor kamu!" ucap Hendra memaksa Cahaya.


"Iya, pah!" jawab Cahaya singkat.


Mereka pun pergi ke meja makan bersama-sama, Cahaya dengan sangat terpaksa akhirnya mau sarapan bersama mama mudanya.




Saat di meja makan, Cahaya hanya diam menikmati roti selai kacang miliknya... ia bahkan tak mau untuk sekedar menatap wajah papanya apalagi Calissa.


"Kenapa sih gue harus terjebak dalam situasi kayak begini? Rasanya gue pengen banget pergi dari rumah ini, tapi kalo gitu sama aja gue biarin mereka bahagia dan senang-senang di atas penderitaan mama! Gue harus kuat dan susun rencana untuk balas perlakuan papa ke mama, termasuk juga kasih pelajaran ke wanita murahan itu...." batin Cahaya.


Cahaya dengan cepat menghabiskan rotinya agar bisa lebih cepat juga terlepas dari keadaan itu, setelah rotinya habis Cahaya langsung menenggak segelas susu yang diberikan bibinya tadi dengan sekali tenggak padahal masih panas.


"Aku mau berangkat sekolah, pah!" ucap Cahaya bangkit dari duduknya lalu mencium punggung tangan papanya dan pergi meninggalkan mereka kemudian mengambil tasnya yang ia taruh di atas sofa ruang tamu.


Hendra sangat tidak suka dengan tingkah putrinya yang acuh terhadap Calissa, padahal istri mudanya itu sudah berusaha baik dengan Cahaya. Namun, Cahaya masih saja belum bisa menerima kehadiran Calissa di dalam rumah itu sebagai pengganti mamanya yang telah tiada.


"Aku semakin gak ngerti sama sikap anak itu, dia malah makin kurang ajar sama kamu sayang! Sepertinya dia memang harus aku pindahkan ke sekolah agama, supaya dia bisa lebih menghargai kamu dan bersikap sopan ke kamu!" ucap Hendra.


"Mas, kalo begitu Cahaya malah makin membangkang sama kamu! Aku gini-gini juga kan masih muda mas, umur aku gak beda jauh dari Cahaya! Jadi aku tau mas apa yang dirasakan sama putri kamu itu sekarang, dia masih butuh waktu untuk menerima semuanya..." ucap Calissa.


"Ya kamu benar, tapi gimana kalau dia gak ada perubahan sama sekali dengan sikapnya? Buktinya sekarang saja dia malah semakin gak sopan sama kamu, bahkan sama aku juga tadi!" ucap Hendra.


"Udah mas, sabar aja tunggu waktunya! Aku yakin Cahaya juga pasti bisa terima keberadaan aku di rumah ini asalkan mas gak kasar sama dia!" ucap Calissa mengelus lengan suaminya.

__ADS_1


"Iya, sayang!"


Mereka pun lanjut memakan sarapan mereka sampai habis sambil terus suap-suapan juga.




Sementara itu, Cahaya sudah berada di luar rumahnya dan menghampiri motornya yang terparkir di garasi. Cahaya memakai jaketnya lebih dulu sebelum ia mengeluarkan motornya dari dalam garasi menuju ke arah luar.


Disaat Cahaya hendak mengeluarkan motornya, ia baru sadar kalau ternyata ban motor miliknya kempes atau mungkin bocor.


"Aduh, kok bisa kempes sih? Yah mana udah jam segini lagi, ada-ada aja deh ah!" ujar Cahaya kesal sendiri karena melihat ban motornya kempes.


Cahaya pun meninggalkan motornya disana lalu menghampiri pak Hadi alias supirnya yang tengah mencuci mobil milik papanya, ia hendak meminta tolong pada pak Hadi untuk mengganti ban motornya yang kempes itu.


"Pak!" sapa Cahaya mendekati supirnya itu.


"Eh non Aya, kenapa non?" tanya pak Hadi menghentikan sejenak aktivitasnya.


"Ini loh pak, ban motor saya kempes jadi gak bisa dipake buat pergi ke sekolah! Tolong dong bapak gantiin bannya sama yang lain, soalnya saya buru-buru takut telat..." jelas Cahaya.


"Oh siap non, tapi emang ada ban cadangannya non?" ujar pak Hadi.


"Duh iya juga ya pak, saya kan gak punya ban serep motor saya!" ucap Cahaya menepuk jidatnya sendiri. "Terus gimana ya saya ke sekolahnya?" sambung Cahaya kebingungan.


"Eee waduh saya juga kurang tau non, eh cegat taksi aja non atau pesan ojek online biar gampang!" ujar pak Hadi memberi saran.


"Masalahnya uang saya harus diirit pak, yaudah deh saya jalan aja ke depan naik angkot! Makasih ya pak, jangan lupa nanti tolong bawa motor saya ke bengkel pak, assalamualaikum..." ucap Cahaya.


"Waalaikumsallam, siap non!"


Akhirnya Cahaya memutuskan untuk naik angkutan umum di jalan raya depan, ia sebenarnya bisa memesan taksi atau ojek online tapi sekarang ini ia harus berhemat untuk bisa membayar hutang Topan dan terbebas dari kejaran pria tersebut.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2