
...HALO GUYS!...
...WELCOME TO MY NEW STORY!...
..."TOPAN & CAHAYA"...
...~~~...
#TOPAN&CAHAYA EPS. 243
...•...
...•...
Sesudah selesai berganti pakaian dan memakai gaun sesuai kemauan papanya, kini Cahaya ke luar kamar dan menemui Hendra sang papa yang sudah menunggunya di bawah. Cahaya pun juga hendak meminta izin pada Hendra untuk mengajak Topan makan malam bersama mereka, ya walau Cahaya agak sedikit ragu kalau Hendra mau mengajak Topan alias kekasihnya itu ikut makan bersama mereka.
Sesampainya di ruang tamu, Cahaya melihat sang papa yang sudah rapih dengan kemeja serta jasnya sambil duduk di sofa. Cahaya menghela nafas sejenak sambil menunduk sebelum ia melangkah maju mendekati papanya itu, ia masih belum tahu bagaimana cara berkata pada papanya mengenai keinginan Topan tadi, karena ia khawatir kalau Hendra justru akan memarahinya nanti.
Melihat kehadiran putrinya disana, membuat Hendra tersenyum lalu bangkit dari duduknya sembari menyimpan ponsel di saku baju. Ia berjalan ke dekat Cahaya yang masih berdiri di dekat tangga karena penasaran, tampaknya gadis itu juga belum sadar kalau papanya sedang berjalan ke arahnya, karena ia masih melamun sambil menunduk dan tak melihat ke depan sehingga ia tak sadar ada papanya.
"Cahaya sayang!" ucap Hendra menyapa Cahaya.
Sontak Cahaya terkejut dan reflek menoleh ke arah Hendra, ia salah tingkah karena tiba-tiba Hendra sudah ada di depan matanya.
"Eh papa, kok papa udah ada disini aja sih? Perasaan tadi aku lihat papa masih duduk di sofa deh, apa emang aku yang lagi gak fokus karena ngelamun gitu aja?" ucap Cahaya terheran-heran.
"Hahaha, ya benar itu! Ngomong-ngomong kamu cantik sekali sayang, persis ketika waktu papa rayain ulang tahun kamu dulu!" ucap Hendra.
"Ah papa bisa aja!" ucap Cahaya malu-malu.
Cahaya tersipu ketika Hendra memuji kecantikan wajahnya, seketika itu juga wajah Cahaya memerah dan ia tampak tersenyum sendiri. Sedangkan Hendra menggerakkan tangan untuk mengusap wajah Cahaya yang mulus itu.
__ADS_1
"Yaudah, kamu udah siap kan? Kita berangkat sekarang dan cari tempat makan yang enak, mahal gapapa justru lebih bagus! Supaya kita makannya juga enak, iya kan?!" ucap Hendra tersenyum.
"I-i-iya pah," ucap Cahaya gugup.
"Yaudah yuk!" ucap Hendra.
Hendra langsung saja menggandeng tangan putrinya dan mengajak Cahaya pergi dari sana, namun gadis itu menahan langkah papanya dan berhenti sejenak.
"Ada apa lagi sayang?" tanya Hendra heran.
"Eee ini loh pah, jadi tadi katanya Topan bilang kalau dia mau ikut makan malam sama kita. Apa boleh pah? Eee a-aku gak maksa kok, kalau misal gak boleh juga gapapa papa!" ucap Cahaya.
"Oh gitu, Topan mau ikut? Waduh, tapi papa lagi pengen berduaan aja sama kamu sayang!" ucap Hendra sembari mengusap wajah Cahaya.
"Yaudah, kalo gitu berarti aku kabarin Topan dulu ya, pah? Aku bilang kalau dia gak bisa ikut malam ini, sebentar ya pah?" ucap Cahaya mengambil ponsel dari dalam tasnya.
"Hey, nanti aja pas di mobil kamu kabarin Topan nya! Yuk kita jalan sekarang!" ucap Hendra.
"Eee i-i-iya deh, pah!" ucap Cahaya.
"Maaf ya Topan! Tapi, papa katanya lagi pengen berduaan aja sama aku. Mungkin lain waktu kita bisa makan malam bareng deh," gumam Cahaya dalam hati sembari mengetik pesan untuk Topan.
Hendra menoleh dan tersenyum memandangi wajah putrinya, sudah lama memang ia tak memiliki waktu untuk jalan bersama Cahaya.
•
•
Sesampainya di restoran, Hendra langsung mengajak Cahaya pergi ke meja yang masih kosong. Kebetulan disana sangat ramai karena tempat itu adalah restoran yang paling mewah di kota dan tentu saja makanan disana sangat enak, sehingga menjadi pilihan nomor satu bagi para warga yang ada di kota untuk menikmati santap malam atau siang hari.
Disaat Cahaya dan papanya hendak duduk, tiba-tiba saja mereka dicegat oleh seorang pria dengan kemeja abu-abu yang berdiri tepat di hadapan mereka sambil tersenyum. Tampak pria itu terus saja memandangi Cahaya mulai dari wajah sampai ujung kaki, ia seperti terpesona melihat kecantikan serta keindahan tubuh Cahaya saat ini dengan gaun merah yang menambah cantik penampilan Cahaya.
__ADS_1
"Ada apa ya?" tanya Hendra masih sopan.
"Eee maaf om, ini anak om?" ucap pria itu bertanya juga dengan nada sopan, namun pandangan matanya masih tertuju pada Cahaya dan sesekali ia menaikkan kedua alisnya menggoda gadis itu.
"Iya, dia putri saya. Memangnya ada apa, mau apa kamu ha?" ujar Hendra mulai geram melihat kelakuan pria yang dianggap tidak sopan itu.
Pria itu justru tersenyum, kemudian mencium tangan Hendra tanpa aba-aba lebih dulu. Tentu saja Hendra serta Cahaya tampak keheranan dan saling pandang menyaksikan tingkah aneh pria di hadapan mereka itu, sedangkan pria itu sendiri masih tetap saja memandangi wajah Cahaya tanpa henti.
"Heh! Maksud kamu itu apa cium-cium tangan saya, ha? Terus ngapain daritadi kamu pandangin putri saya kayak gitu? Apa kamu gak pernah diajarin sopan santun sama orang tua kamu?" tanya Hendra semakin bertambah emosi.
Cahaya berusaha menenangkan papanya dengan memegang dua pundak Hendra.
"Sabar pah!" ucap Cahaya pelan.
"Imut banget! Eee om, kalau saya lamar anak om disini, apa boleh om? Kira-kira saya bisa gak jadi menantu om?" ucap pria itu tanpa rasa malu sedikitpun.
"Hah??" Cahaya dan Hendra terkejut bukan main mendengar perkataan pria itu.
"Iya om, anak om ini manis dan cantik banget! Saya langsung cinta pada pandangan pertama om sama anak om, oh ya nama kamu siapa cantik?" ucap pria itu bertanya pada Cahaya.
"Maaf! Aku masih sekolah, belum bisa dilamar. Pah, udah yuk kita pergi aja!" ucap Cahaya ketakutan.
"Benar itu! Kamu lebih baik cari wanita lain aja yang ingin dilamar, jangan putri saya! Dia ini masih muda, belum waktunya nikah!" ujar Hendra.
"Yah, tapi gapapa kok om. Hey cantik, kita kenalan aja dulu sekarang! Tuker nomor hp gitu, jadi pelan-pelan aja jangan langsung lamaran kalau kamu emang belum siap! Kenalin, nama saya Galih! Nama kamu siapa cantik?" ucap pria bernama Galih itu sembari mengulurkan tangan ke arah Cahaya.
Cahaya terdiam lalu melirik papanya, ia sangat takut dan bahkan sampai menggenggam erat telapak tangan papanya disana. Hendra merasa sekali kalau putrinya tidak nyaman, karena telapak tangan gadis itu berkeringat dan terasa dingin.
"Sudah ya, kita harus pergi sekarang! Tujuan kita kesini mau makan, bukan meladeni kamu!" ucap Hendra kesal. "Ayo Cahaya!" sambungnya sembari menarik tangan Cahaya dan membawa gadis itu ke meja yang kosong dekat sana.
Sementara Galih masih tampak memandangi Cahaya dan tersenyum ke arah gadis itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...