Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 218. Apa itu Cahaya?


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 217


...•...


...•...


"Lihat apa?"


Tiba-tiba saja Cahaya muncul dari arah toilet dan tampak kebingungan melihat dua temannya itu seperti tengah panik.


Sontak Mawar serta Melani langsung bertambah panik ketika melihat Cahaya sudah ada disana, ya mereka bangkit dari tempat duduknya lalu berusaha mencegah Cahaya agar tak melihat Topan. Mereka berdua terus menutupi keberadaan Topan dari Cahaya, tentu supaya gadis itu tidak bisa melihat kekasihnya yang sedang bersama wanita lain.


"Eh eh eh, gak ada apa-apa kok! Itu tadi kita lagi ngomongin soal film yang tadi kita tonton, kan seru banget tuh pas si tokoh utamanya lihat meteor jatuh dari bumi!" ucap Mawar nyengir.


"Iya Cahaya, yang kita maksud Cahaya tadi tuh ya Cahaya meteor!" sahut Melani.


"Hah? Gak jelas banget sih, gue kira ngeliat apaan! Yaudah, kita langsung balik aja yuk! Gue udah ditelponin mulu nih sama bokap!" ucap Cahaya.


"Ahaha, anak papih dasar lu!" ledek Mawar.


"Yeh gak gitu lah, ini tandanya tuh bokap gue sayang dan peduli sama gue! Bilang aja lu iri kan sama gue karena gue disayang sama bokap gue?" ucap Cahaya tersenyum menyombongkan diri.


"Iya deh iya, yaudah kita balik aja yuk! Gue juga udah gak haus lagi kok ini," ucap Mawar.

__ADS_1


Cahaya manggut-manggut saja lalu mengambil tas yang ia letakkan di atas meja tadi, mereka bertiga pun hendak pergi dari cafe tersebut. Ya Mawar dan Melani juga berharap agar Cahaya tidak menoleh ke belakang, karena mereka khawatir Cahaya akan kecewa jika mengetahui Topan kekasihnya itu tengah bersama seorang gadis lain.


Bruuukkk...


"Duh!"


"Eh sorry sorry, gak sengaja!"


Tiba-tiba Cahaya ditabrak oleh seorang pria yang baru datang dari arah luar, sehingga tasnya harus jatuh ke lantai dan berserakan disana.


"Ah elah! Gimana sih lo? Kalo jalan tuh lihat-lihat dong!" bentak Mawar kesal.


"Iya iya, maaf banget gue gak sengaja! Sini deh biar gue bantuin ya?" ucap pria yang menabrak Cahaya tadi hingga gadis itu terjatuh ke bawah dan banyak barang miliknya yang berserakan.


"Udah Mawar! Gue gapapa kok," ucap Cahaya.


"Huft, yaudah sana lu pergi! Biar gue aja yang bantu Cahaya!" ucap Mawar mendorong tubuh pria itu dengan keras.


Cahaya pun kembali berdiri setelah selesai merapihkan barang-barang yang jatuh, ia dan kedua temannya hendak pergi seperti niat awal mereka yang terhambat karena orang tadi. Untungnya juga Cahaya tidak melihat keberadaan Topan di dekat sana, sehingga mereka bisa keluar dengan aman tanpa adanya keributan atau apalah itu disana.


"Ish, nyebelin banget tuh cowok! Gedeg banget gue sama orang kayak gitu, pengen rasanya gue pites aja tuh cowok sampe benyek! Bisa-bisanya nabrak lu kayak gitu, gak punya mata apa?!" ujar Mawar.


"Sabar War! Kok lu yang sewot sih? Kan gue yang ditabrak sama dia tadi, harusnya gue dong yang marah-marah begitu!" ucap Cahaya nyengir.


"Ya abisnya gue kesel aja Cahaya! Yaudah deh, kita langsung cabut aja yuk! Gue males lama-lama disini, auranya jadi beda, yuk Cahaya keburu malam nih nanti!" ucap Mawar buru-buru mengajak Cahaya pergi saat ia melihat Topan tengah menatap ke arahnya dan juga Cahaya.


"Eee iya iya," ucap Cahaya pelan.


Setelahnya, ketiga gadis itu pun pergi keluar dari cafe tersebut dengan tergesa-gesa karena Mawar tidak ingin Topan menyadari keberadaan mereka disana dan membuat suasana menjadi panas nantinya.


❤️

__ADS_1


Sementara itu, Topan masih memandang ke arah tiga gadis yang tampak ribut sendiri itu. Ya sebelumnya Topan memang mendengar suara keributan saat Cahaya ditabrak seorang pria, namun ia belum yakin siapa gadis yang ada di hadapannya tersebut, walau ia sedikit mengenali kalau yang dilihatnya adalah Mawar dan juga Cahaya si pacar.


"Itu kayak Cahaya, tapi dia ngapain disini ya malam-malam begini?" batin Topan.


Wulan yang masih ada di depan pria tersebut, juga ikut bingung melihat Topan terus saja menatap ke arah pintu keluar cafe. Wulan pun coba menegur Topan, karena tak mungkin ia terus diam ketika ia dicuekin seperti itu oleh Topan dan sudah cukup lama memang Topan memandang ke arah tiga gadis yang berjalan keluar dari cafe tersebut.


"Top, kamu lihatin apa sih? Kok kayaknya serius banget? Apa kamu kenal sama tiga cewek yang barusan keluar itu?" tanya Wulan terheran-heran sembari mencolek tangan Topan di atas meja.


"Eh eee gak kok, aku cuma penasaran aja ada apa disana sampai ribut gitu. Oh ya, aku mau izin ke luar dulu ya?" ucap Topan tersenyum.


"Loh mau ngapain? Mau nyusul mereka? Emangnya kamu kenal sama mereka itu, sampai mau nyusul segala?" tanya Wulan penasaran sambil tersenyum.


"Hah? Ya kayaknya aku kenal, salah satu dari gadis itu mirip sama teman aku. Makanya aku mau coba susul mereka, sebentar ya cantik! Nanti aku balik lagi kok kesini temuin kamu, gapapa ya?" ucap Topan pamitan pada Wulan sambil mengusap wajah gadis itu dan tersenyum manis.


"Umm, yaudah boleh!" jawab Wulan.


"Makasih cantik! Kamu tunggu dulu sebentar disini, jangan kemana-mana loh!" ucap Topan.


"Iya," ucap Wulan singkat.


Topan pun langsung beranjak dari kursinya lalu bergegas pergi ke luar menyusul Cahaya, ya Topan sangat yakin kalau wanita yang tadi ia lihat itu adalah Cahaya dan ia tidak salah. Karena dari bentuk tubuh serta suaranya yang sangat ia kenali, ya maklumlah Topan sudah cukup mengenali Cahaya setelah berbulan-bulan menjalin hubungan dengan gadis itu.


Sementara Wulan tampak lega karena Topan sudah pergi dari sana, ya ia kini tak perlu khawatir lagi dengan pertanyaan Topan mengenai siapa dirinya yang sebenarnya. Wulan pun memanfaatkan momen itu untuk bisa kabur dari cafe itu dan menjauhi Topan demi keselamatan dirinya, ya tentu Wulan tak mau bernasib sama seperti almarhumah mamanya dulu.


"Aku harus pergi dari sini, sebelum si Topan itu balik lagi kesini! Aku gak boleh ketangkap sama dia, apalagi aku yakin banget kalau Topan memihak ke mamanya sekarang!" gumam Wulan dalam hati.


Wulan bangkit dari duduknya membawa tas miliknya, lalu melangkah ke luar melalui jalan lain agar tidak bertemu dengan Topan. Tentu saja Wulan masih tampak cemas, ia terus celingak-celinguk berharap agar Topan tidak melihat kepergian ia dari sana.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2