Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 29. Kerja di kantor papa


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 28


...•...


...•...


Cahaya sudah berada di mobil bersama papanya, kali ini Hendra menyetir sendiri mobilnya tanpa meminta bantuan supirnya karena ia tugaskan untuk mengantar Calissa pergi berfoto siang nanti. Sementara Cahaya duduk di sebelah papanya, ia sedang berpikir bagaimana cara mengatakan hal yang ia ingin katakan pada papanya.


Tliingg...


Disaat ia baru hendak berbicara pada papanya, tiba-tiba ponselnya berdering membuat Cahaya harus menunda sejenak omongannya karena ingin mengetahui siapa yang mengirim pesan padanya. Cahaya langsung tersenyum saat mendapati notif masuk dari aplikasi penjemput jodoh, tanpa berlama-lama ia membukanya lalu membaca isi pesan dari Badai yang sangat ia nantikan.


💌Badai : Hey, Senja! Kok gak dibalas sih? Aku nungguin balasan dari kamu loh, apa kamu udah berangkat ke sekolah?


Cahaya dibuat senyum-senyum sendiri begitu membaca pesannya, ia senang ternyata Badai menunggu balasan darinya. Dengan cepat ia langsung mengetik pesan untuk membalas pesan dari Badai tersebut, namun ia masih bingung harus membalas apa pada Badai.


Melihat putrinya senyum-senyum sambil memandang layar ponselnya, Hendra merasa heran lalu melirik ke arah Cahaya sembari memegang setir mobilnya.


"Cahaya!" tegur Hendra memanggil putrinya.


"Eh, iya pah? Kenapa?" ujar Cahaya kaget karena dirinya sedang fokus memikirkan balasan untuk Badai sehingga tak mengira papanya akan memanggil namanya.


"Kamu yang kenapa, kok senyum-senyum sendiri gitu? Lagi ngapain sih emang??" ucap papanya merasa penasaran dengan tingkah putrinya.

__ADS_1


"Eee...."


"Ini aku cuma lagi chattingan sama temen, pah!" ucap Cahaya sedikit gugup dan bingung harus menjawab apa pada papanya.


"Temen apa temen? Masa kalo cuma temen sampe senyum-senyum kayak gitu sih? Pasti pacar kan? Wah anak papa makin gede aja sekarang, sampai udah punya pacar aja..." ujar Hendra.


"Bukan pah, bukan pacar! Cuma temen kok, beneran deh gak bohong!" ucap Cahaya mengangkat jari telunjuk serta jari tengahnya.


"Kalo pacar juga gapapa kok, sayang! Justru papa seneng kalau pacar kamu bisa bikin kamu bahagia, jangan lupa dikenalin ke papa nanti pacarnya!" ujar Hendra tertawa kecil mengusap kepala Cahaya.


"Eee iya pah...."


Cahaya sangat gugup sampai melupakan balasan untuk Badai, ya ia malah menyimpan ponselnya ke saku bajunya lalu coba memanfaatkan situasi yang tengah cair ini untuk mengatakan keinginannya pada sang papa jika ia ingin bekerja disana.


Namun, lagi-lagi rasanya sangat sulit untuk mengatakan hal tersebut pada papanya karena ia takut jika papanya akan bertanya-tanya mengapa tiba-tiba ia hendak bekerja di perusahaannya. Tentu Cahaya tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya jika ia mempunyai hutang dengan seorang pria saat ia menabrak mobilnya di jalan, pastinya sang papa akan sangat cemas nanti.


"Umm, pah?" ucap Cahaya pelan menatap wajah papanya sambil menarik-narik bajunya.


Cahaya malah menunduk menggigit bibir bawahnya sekaligus berpikir bagaimana caranya ia menyampaikan keinginannya pada sang papa, akhirnya setelah mengumpulkan mental dan keyakinan Cahaya pun kembali menatap papanya.


"Eee... a-aku mau ngomong sama papa!" ucap Cahaya dengan gugup dan tubuhnya bergetar.


"Yaudah ngomong aja, sayang! Kenapa pake gugup segala begitu sih??" ujar sang papa heran.


"Tapi, papa jangan marah ya!" ucap Cahaya.


"Iya, udah ngomong aja!" ucap Hendra.


"Eee... aku mau kerja di kantor papa, boleh gak?" ucap Cahaya meneruskan kalimatnya.


Ciitttt...

__ADS_1


Hendra langsung menginjak rem secara mendadak karena terkejut, bahkan Cahaya sampai hampir terpental ke depan untungnya ia memakai seat belt.


...•••...


Disisi lain, Topan pun keluar dari kamarnya lalu turun ke bawah untuk sarapan bersama papa mamanya di meja. Terlihat hari ini benar-benar menyibukkan bagi kedua orangtuanya itu, karena mamanya tampak buru-buru sekali menyiapkan makanan untuk papanya sedangkan sang papa juga terus melihat jam tangannya seperti sedang buru-buru pergi.


Topan hanya menghela nafas sambil tersenyum tipis menyaksikan itu, baginya momen ini memang sudah biasa dilihatnya dan malah jarang sekali ia melihat mama papanya makan dengan tenang dan damai. Topan pun mendekati mereka lalu menarik kursi yang kosong, ia duduk disana melihat jenis-jenis makanan yang tersedia di atas meja.


"Morning mah, pah! Waw makanan enak semua ini di meja, emang paling canggih dah bibi masih pagi udah bisa sediain makanan kayak gini!" ujar Topan menyapa mama papanya dan memuji sang bibi.


"Eh Topan, kamu ambil sendiri ya makannya! Mama harus buru-buru abisin sarapan ini, soalnya 1 jam lagi mama harus sampai di lokasi syuting!" ucap Eun-Kyung kemudian duduk di kursinya lalu mulai menyantap sarapannya.


"Iya, aku paham kok mah!" ucap Topan sambil tersenyum lebar memandangi wajah mamanya.


"Bagus, emang kamu anak mama yang paling mandiri!" ucap Eun-Kyung senyum-senyum.


Topan pun mengambil piring kosong lalu menuangkan nasi ke dalamnya, ia juga mengambil lauk-pauk yang tersedia disana. Sementara papa mamanya sedang menyantap makanan dengan cepat seperti orang yang mengikuti lomba makan cepat, Topan hanya terkekeh melihatnya.


Setelahnya, Topan pun kembali duduk lalu mulai menyantap makanan yang ia ambil di piring. Setiap hari ia harus melihat kedua orang tuanya seperti ini dan tidak pernah tenang, ada saja pasti yang dikerjakan oleh mereka sehingga hampir tidak ada hari libur di daftar list mereka berdua.


"Mah, pah! Emangnya mama sama papa gak bisa ya makan dengan pelan, teratur sesuai aturan? Kalau lagi makan itu kan hak boleh cepet-cepet, harus dikunyah sampai halus sekitar 32 kali kunyahan baru boleh ditelan biar proses pencernaannya juga lancar! Emang mama sama papa mau kena penyakit gangguan pencernaan nanti? Setiap hari loh aku lihat mama sama papa makannya selalu begini, pikirin lagi kesehatan mama sama papa! Jangan hanya karena uang dan ketenaran nama, mama sama papa jadi melupakan kesehatan!" ucap Topan.


Mendengar anaknya berbicara seperti itu, Eun-Kyung serta David Armando alias sang papa dari Topan malah saling menatap satu sama lain sambil terkekeh. Mereka seperti tak menyangka putranya itu akan mengatakan hal yang menyangkut kesehatan, karena sebelumnya Topan selalu tidak mau disuruh mengambil kuliah jurusan kedokteran.


"Wah wah, anak mama sekarang pintar ya soal ilmu kesehatan! Harusnya kamu ambil ilmu kedokteran, sayang! Kan mama udah bilang kamu itu cocok jadi seorang dokter, eh malah kamu gak mau!" ucap Eun-Kyung.


"Iya, bener kata mama kamu! Seharusnya kamu nurut sama kita, karena muka-muka seperti kamu ini cocoknya jadi seorang dokter!" saut papanya.


Topan langsung menundukkan kepalanya dan pura-pura tidak mendengar perkataan mama papanya, ia menyuap sesendok nasi ke mulutnya untuk mengalihkan perhatian orangtuanya itu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2