
...HALO GUYS!...
...WELCOME TO MY NEW STORY!...
..."TOPAN & CAHAYA"...
...~~~...
#TOPAN&CAHAYA EPS. 92
...•...
...•...
KRIIIINNGGGG.... KRIIIINNGGGG....
Bel masuk telah berbunyi, Cahaya pun berpisah dengan kedua temannya lalu masuk ke kelasnya yang berada di lantai atas dan begitu memasuki kelas tampak semua orang disana menyambutnya dengan sorak-sorai serta tepuk tangan meriah.
"Eh eh, ada apaan nih? Kalian mau ngeledek gue apa gimana??" tanya Cahaya kesal.
Aryo selaku ketua kelas disana berjalan menghampiri Cahaya yang masih terbengong di depan pintu, tentu saja gadis itu makin penasaran terheran-heran karena ekspresi Aryo menggambarkan kalau dia tengah gembira.
"Bukan ngeledek, kita justru mau kasih semangat buat lu Aya!" ucap Aryo.
"Iya, sebagai teman kelas yang baik kan kita harus semangatin temen kita yang mau berjuang!" sahut Tata.
Cahaya pun makin dibuat penasaran sebenarnya apa yang dimaksud oleh kedua manusia itu, ia tak mengerti mengapa mereka mengatakan ingin memberi semangat padanya padahal ia sendiri sedang tidak melakukan apapun.
"Hah? Semangatin gue buat apa??" tanya Cahaya.
Aryo dan Tata saling menatap satu sama lain sambil tersenyum menggelengkan kepala, justru kali ini mereka yang heran pada Cahaya karena malah bertanya seperti itu.
"Lu gimana sih, Aya? Kita udah tahu kok, lu yang bakal jadi wakil sekolah buat ajang abang-none!" ucap Tata.
"Bener tuh, itulah kenapa kita kasih semangat buat lu pagi ini supaya lu bisa menang dan bawa pialanya ke sekolah kita!" sahut Aryo.
"Iya Aya, udah lama loh sekolah kita gagal terus di ajang abang-none padahal dulu sekolah kita paling menguasai ajang tersebut!" ucap Fandi.
__ADS_1
Cahaya langsung menganga lebar mendengar ucapan teman-teman kelasnya barusan, ia bingung bagaimana bisa mereka berkata seperti itu sedangkan ia sendiri saja belum memilih keputusan untuk mengikuti ajang itu atau tidak.
"Kalian dapet info darimana sih?" tanya Cahaya heran.
"Dari gue!"
Seseorang muncul memotong ucapan Cahaya dari belakang membuat semua disana terkejut, sontak Cahaya menoleh lalu dibuat kaget karena ternyata yang berdiri disana adalah Said alias ketua osis di sekolah tersebut.
"Gue yang kasih tau semua temen kelas lu sekaligus murid-murid lain juga, mereka pada setuju kalo lu jadi wakil sekolah kita!" ucap Said sembari bersandar pada pintu kelas.
Cahaya yang tengah terkejut menatap kesal wajah Said karena menurutnya tindakan pria itu sudah kelewatan, padahal ia sudah mengatakan padanya kalau ia tidak ingin mengikuti ajang tersebut tetapi dia malah bertindak seperti ini.
"Kak, gue udah bilang ya kalo gue gak mau jadi wakil sekolah buat ajang gituan!" bentak Cahaya kesal.
"Kenapa sih, Cahaya? Lu itu cocok banget loh, selain cantik lu juga enak dipandang terus berprestasi di sekolah ini! Semua orang juga pada setuju, termasuk guru-guru...!!" ucap Said.
"Hah? Jadi lu udah bilang juga sama guru disini, kak?" tanya Cahaya terkejut bukan main.
"Iya, rata-rata mereka pada setuju! Bahkan bukan cuma itu aja, gue juga udah konsultasi sama kak Thaufan cowok lu dan dia setuju-setuju aja tuh! Malah katanya dia seneng kalo lu bisa jadi wakil sekolah ini, udah lah lu ikut aja ya!" jawab Said.
Sontak semua teman kelasnya langsung mengatakan hal yang sama seperti Prita, mereka kompak mendukung Cahaya untuk mengikuti ajang tersebut karena menurut mereka hanya Cahaya yang pantas mewakili sekolah.
Cahaya terdiam tampak pusing dengan semua ini, ia tak menyangka kalau masalahnya akan jadi serunyam ini, padahal ia sama sekali tidak mau menjadi wakil sekolah dan bahkan selama ini ia tidak pernah mengikuti lomba apapun itu.
...•••...
Disisi lain, Topan pulang ke rumah dan saat sampai di halaman depan rumahnya ia tak sengaja berpapasan dengan sang mama yang sepertinya baru hendak pergi bekerja alias syuting judul barunya karena Eun-Kyung memang artis papan atas.
"Mah, mama baru mau berangkat?" tanya Topan terheran-heran karena biasanya mamanya memang berangkat pagi-pagi sekali.
"Iya sayang, mama mah bebas namanya juga artis terkenal dan banyak penggemarnya!" jawab Eun-Kyung sangat pede.
"Ya ampun, mah! Pantes aja aku suka pede banget, ternyata turunan mama ya?" ujar Topan tersenyum.
"Hahaha, pede itu bagus sayang daripada insecure! Itu malah gak baik loh, masa sama diri sendiri aja gak percaya gimana mau hidup ya kan?" ujar Eun-Kyung.
"Iya mah,"
__ADS_1
"Oh ya, kamu kenapa balik lagi Topan? Katanya tadi mau ke kampus, masa cepet banget jam segini udah pulang aja??" tanya Eun-Kyung heran.
"Gak jadi, mah! Dosennya gak jelas tuh, makanya aku pulang aja daripada bosen..." jawab Topan.
"Oalah, yaudah kamu sekarang mending telpon Wulan aja biar gak bosen dan ada kegiatan!" ucap Eun-Kyung memberi usul pada putranya.
"Hah? Ngapain aku telpon Wulan, mah?" ujar Topan terkejut kaget.
"Ya ngapain aja kek, bahas apa gitu yang penting kamu telpon si Wulan supaya kamu itu bisa lebih dekat sama dia!" ucap Eun-Kyung.
"Aduh, mah! Mendingan mama jangan lagi deh deketin aku sama Wulan, aku gak suka mah kalo dijodohin kayak gini...!!" ujar Topan.
"Kenapa sih, sayang? Wulan kan cantik, terus dia juga seorang artis loh ya walau belum setenar mama!" ucap Eun-Kyung.
"Aku gak peduli, mah! Mau dia artis atau presiden sekalipun, pokoknya aku gak mau dijodohin sama dia! Aku mau cari calon pasangan aku sendiri, mah! Mama percaya dong sama aku, lagian aku aja kan belum lulus kuliah masa udah dijodohin aja!" ujar Topan dengan raut kesal.
"Hadeh, kamu ini emang susah dibilangin ya! Yaudah lah mama gak paksa kamu lagi, kalo gitu mama pergi dulu ya?" ucap Eun-Kyung.
"Makasih, mah!"
Sesudah berbicara dengan putranya disana, Eun-Kyung pun pergi menuju mobilnya dengan supir yang sudah siap disana untuk mengantar ia ke lokasi syuting hari ini.
Sedangkan Topan masih mematung disana melihat mobil mamanya pergi dari sana, ia merasa sedikit lega karena sudah bisa mengatakan itu pada mamanya dan terlihat mamanya pun tak marah padanya walau sepertinya ada sedikit rasa kesal.
Topan pun tersenyum lalu masuk ke dalam rumahnya dengan wajah sumringah, ia membayangkan bila Cahaya benar-benar mengikuti ajang abang-none mewakili sekolahnya.
"Cahaya pasti bakal cantik banget kalau didandanin pake kebaya, dia itu tipe cewek yang mau digimanain juga bakal tetep cantik sih..." gumam Topan.
Byuurrr...
Disaat tengah berjalan sambil melamun, tanpa sengaja tiba-tiba seember air mengguyur tubuh Topan dan membuat pria itu kaget bukan main apalagi air tersebut cukup dingin.
"Astaghfirullah, den Topan...!!" teriak Tedy yang tadi menyiram air tersebut.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1