Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 95. Mati


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 94


...•...


...•...


Bag big bugghhh...


Mereka terus saja menghajar Topan dengan membabi buta, akhirnya pertahanan Topan runtuh dan ia pun tersungkur ke aspal dengan kondisi cukup memprihatinkan, namun mereka tetap terus menghajar Topan hingga babak-belur.


"BERHENTI....!!!"


Suara teriakan keras seorang pria dari arah berlawanan membuat mereka berhenti menghajar Topan yang sudah kewalahan, ya mereka semua langsung menjauh dari tubuh Topan saat seorang pria yang berteriak tadi mendekat ke arahnya.


Topan masih bisa melihat dan menatap sosok pria yang datang kesana itu, matanya terbuka lebar saat mengetahui bahwa pria tersebut adalah Bram alias musuhnya yang paling benci atau tidak suka padanya.


"Bram?"


Di sisa-sisa tenaganya, Topan masih bisa berbicara menyebut nama pria itu walau sekujur tubuhnya merasakan sakit yang amat sangat akibat pukulan serta tendangan dari orang-orang tadi yang membabi buta tidak memiliki rasa kasihan.


Bram menoleh saat namanya disebut oleh Topan, ia pun merendahkan posisi tubuhnya berjongkok di samping pria itu sembari tersenyum meledek.


"Gimana, Topan? Lu masih berani deketin Bella, ha?" ujarnya sambil menarik dagu Topan.


"Apa maksud lu, Bram? Jadi lu yang suruh mereka buat pukulin gue? Dan orang-orang yang sebelumnya, itu juga suruhan lu?" tanya Topan heran.


"Menurut lu? Hahahaha...."

__ADS_1


Bram malah tertawa puas sembari merentangkan kedua tangannya ke atas, ia berdiri kembali berbalik badan memunggungi Topan.


"Awalnya gue gak mau kayak gini, tapi karena lu makin deket sama Bella.... ya terpaksa gue suruh orang buat hajar lu, Topan!" ucap Bram.


Topan yang mendengarnya semakin dibuat emosi, rasanya ingin sekali ia membalas perbuatan Bram dan memberi pukulan padanya atas apa yang telah dia lakukan kepadanya.


Tapi apa daya, saat ini Topan sedang kesakitan dan tidak mungkin bisa melakukan itu semua, untuk sekedar bangkit saja ia kesulitan apalagi kalau harus memukul Bram dan menghajar pria tersebut.


"Lu keterlaluan, Bram! Kalo emang lu laki, harusnya lu lawan gue satu versus satu...!!" teriak Topan.


Bram kembali berbalik menghadap ke arah Topan dengan suara tawa dari mulutnya, "Buat apa gue lakuin itu, ha? Percuma aja, kita udah tau siapa pemenangnya...." ucapnya.


"Siapa emang?" tanya Topan dengan nafas tersengal.


"Ya udah jelas gue lah, gak mungkin cowok kayak lu bisa menang ngelawan gue...!!" jawab Bram dengan pede sembari tertawa.


"Lu salah, Bram!" ucap Topan.


"Apa maksud lu salah?" tanya Bram emosi.


"Ya iyalah, gua yakin semua orang disini juga setuju sama gua kalo lu gak mungkin bisa menang lawan gue! Itu udah terbukti, karena lu cuma cowok pengecut yang bisanya main keroyokan!" ujar Topan.


"Kenapa, ha? Lu gak terima? Kalo lu mau marah, yaudah marah aja...!!" bentak Topan.


"Kurang ajar lu! Berani banget lu bilang kayak gitu sama gua, cari mati lu?" ujar Bram.


"Gua gak perlu cari mati, kalo emang udah takdir ya pasti gue bakal mati...." ucap Topan tersenyum.


"Oke, lu sendiri yang minta ya.... semuanya, hajar dia sampe mampus dan jangan kasih kesempatan buat dia untuk hidup lagi...!!" teriak Bram emosi.


"Hahaha, udah gue duga kalo lu pasti bakal suruh cecunguk itu buat hajar gua.... emang dasarnya cowok lemah, padahal gue udah gak berdaya kayak gini eh masih aja lu suruh mereka buat hajar gue bukan lu langsung!" ucap Topan tertawa.


"Kurang ajar, cepat hajar dia...!!" teriak Bram.


Orang-orang yang tadi pun bergegas maju mendekati Topan lalu kembali memukuli pria itu dengan sekuat tenaga tanpa rasa kasihan, sedangkan Bram hanya menyaksikan sembari tertawa kencang menandakan kepuasan dirinya karena Topan akan mati.

__ADS_1


...•••...


Disisi lain, Cahaya tengah curhat dengan teman-temannya di kantin mengenai dirinya yang akan mengikuti ajang abang-none mewakili sekolah secara paksa padahal ia sendiri tidak mau mengikuti lomba tersebut karena belum terbiasa.


Tampak Cahaya begitu murung dan kesal karena dipaksa oleh satu sekolah untuk mengikuti ajang itu, terlebih lagi Topan yang juga ikut-ikutan memaksanya membuat ia semakin merasa geram serta kecewa.


"Sabar ya, Cahaya! Lu ikutin aja lomba ini, kan kalo menang lumayan dapet uang sama piala!" ucap Mawar menghibur temannya.


"Nah bener tuh, terus popularitas lu juga semakin naik lagi di sekolah ini! Mungkin juga sekota ini bakal pada kenal sama lu, keren kan?" sahut Melani.


"Ish, kalian tuh gak ngerti yang gue rasain sekarang! Gue malu dan gak biasa tampil di hadapan banyak orang begitu, apalagi kalo harus bergaya sama jawab pertanyaan seputar Jakarta!" ucap Cahaya.


"Iya iya kita tahu kok, Cahaya! Tapi, gue yakin lu pasti bisa kok kalo mau belajar...!!" ucap Mawar.


"Gak bisa, War! Lu kan tau gue bukan orang asli Jakarta, pasti bakalan susah banget buat gue hafalin semua budaya disini...!!" ucap Cahaya.


"Gak ada yang susah kalo lu mau belajar, Aya! Jangan menyerah sebelum berjuang, kita yakin kok lu pasti bisa menangin ajang itu!" ucap Mawar.


"Huft...." Cahaya hanya mendengus sembari membenamkan wajahnya di meja.


"Eh iya, emang yang bakal jadi pasangan lu di ajang itu nanti siapa?" tanya Melani penasaran sembari mengaduk-aduk minumannya.


"Hmm... gak tahu juga sih, tadi kak Said juga belum kasih tahu siapa pasangan gue!" jawab Cahaya.


"Ohh, kalo menurut gue yang paling cocok tuh si Agung kan dia orang Betawi asli! Terus dia juga pinter sama pernah menangin lomba-lomba gitu, pasti kak Said pilih dia!" ucap Mawar.


"Nah setuju, dia juga ganteng tuh! Cocok kan jadinya sama lu, dia ganteng terus lu cantik!" sahut Melani.


"Haish, kalian malah bikin gue tambah bete tau gak! Dah ah gue mau ke kelas aja, kalo disini terus lama-lama bisa makin puyeng gue!" ujar Cahaya.


Cahaya pun bangkit dari duduknya lalu pergi begitu saja dari kantin meninggalkan teman-temannya, rupanya Cahaya sudah tidak tahan karena mereka terus saja membahas ajang yang akan diikuti Cahaya bukannya menghibur gadis itu.


Terlihat Mawar & Melani tampak menyesal dan merasa bersalah pada Cahaya, mereka pun coba untuk mengejar Cahaya agar gadis itu tidak marah kepada mereka ataupun kecewa dan kesal seperti sekarang karena diikutkan dalam ajang tersebut.


"Cahaya, tunggu...!!" teriak Mawar sembari berlari mengejar Cahaya bersama Melani.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2