Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 59. Permainan Topan


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 58


...•...


...•...


Bella sampai di rumahnya dengan wajah cemberut seperti bebek yang gak dikasih makan sama pemiliknya gara-gara keasyikan berenang, ia langsung masuk begitu saja ke dalam rumahnya tanpa mengucap salam atau apapun itu karena kondisinya memang sedang panas dan jengkel akibat gagal mengikuti Topan sebelumnya.


Lebih sialnya lagi, ternyata di rumahnya sudah ada seorang pria yang sangat ia benci yakni Bram tengah berbincang-bincang di sofa ruang tamunya bersama sang papa disana sambil ngopi-ngopi enak. Tentu Bella harus dua kali dibuat jengkel yang pertama oleh Topan dan yang kedua tentunya karena Bram malah datang ke rumahnya, sungguh ia tak habis pikir mengapa Bram bisa ada disana.


"Hey, Bella! Akhirnya kamu pulang juga, nak! Ayo duduk sini, kebetulan teman kamu sudah menunggu daritadi untuk ketemu sama kamu!" ucap papanya bisa disebut namanya Fadil.


Bella menatap tajam ke arah Bram seperti tak suka pada pria itu dan gesturnya juga menunjukkan kalau ia malas sekali menemuinya apalagi berbincang dengannya, namun Bram hanya menanggapi itu dengan senyuman tipis di wajahnya dan terus memandang wajah gadis itu tanpa berhenti.


Tak lama kemudian, mamanya yang baru datang dari belakang langsung menyapa Bella juga menaruh tangannya di pundak gadis itu.


"Eh Bella udah pulang, sini yuk kita duduk dan ngobrol sama-sama bareng temen kamu! Mama baru tahu loh kalo ternyata kamu punya temen cowok juga, biasanya kan yang sering kesini cuma temen-temen cewek kamu..." ucap mamanya sebut saja namanya Ririn.


"Mah, pah! Dia ini bukan temen aku tau, justru dia musuh aku di kampus yang selalu ngata-ngatain aku dan suka bully aku!" ucap Bella diluar dugaan malah mengatakan kebohongan seperti itu pada Bram.

__ADS_1


Sontak Bram terkejut menatap Bella penuh pertanyaan mengapa sampai tega gadis itu memfitnah dirinya sedemikian rupa, tentu Bram langsung angkat bicara menyangkal semua ucapan Bella karena semuanya tidak benar.


"Itu gak benar om, tante! Saya ini sama Bella dekat sekali loh di kampus, bahkan banyak yang mengira kalau kami menjalin hubungan lebih dari sekedar teman! Mungkin Bella bilang begitu hanya untuk bercanda saja, ya kan Bella?" ucap Bram.


"Bella, kamu itu kenapa sih? Bram ini anaknya baik loh, baru pertama kali ketemu sama papa aja dia udah sopan banget! Mana mungkin Bram sampai tega ngelakuin itu ke kamu??" ucap Fadil.


"Iya ih Bella, jangan begitu dong ngomongnya! Kasian tuh Bram sampe keringet dingin gitu dengernya, lagian Bram kan anak baik-baik!" sahut Ririn ikutan marahin Bella.


Bella merasa jengkel pada kedua orangtuanya yang malah lebih mempercayai Bram dibanding dirinya, ia sempat memutar bola matanya lalu menghela nafas tanda kalau ia malas berada disana.


"Ya maaf, aku becanda kok!" ucap Bella singkat dengan nada juteknya.


"Yaudah sekarang kamu duduk gih, temenin Bram ngobrol kasian dia udah nungguin kamu!" pinta Ririn sang mama sembari memegang pundak Bella.


"Mah, aku capek mau ke kamar! Lagian dia juga gak ada kepentingan disini, mending aku istirahat daripada harus ngeladenin dia!" ucap Bella.


"Huft, iya iya mah!" ucap Bella akhirnya terpaksa mau berbicara pada Bram, ia langsung bergerak lalu duduk di dekat papanya.


"Loh kok malah disini sih, Bella? Sana dong di samping nak Bram, lagian papa juga mau keluar cari angin sama mama!" ucap Fadil beranjak dari sofa sembari meminta Bella pindah duduk.


"Iya iya...."


Bella mendengus kesal dan kembali berdiri lalu duduk di samping Bram, sedangkan Bram hanya senyum-senyum sendiri sembari menggaruk keningnya.


...•••...


Disisi lain, Topan masih berlutut di hadapan Cahaya dengan memegang satu buket bunga serta coklat di kedua tangannya dan mengharuskan Cahaya untuk memilih salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Lu udah gila, ya?" ujar Cahaya.


"Iya, gue gila karena lu Cahaya! Sekarang cepet lu pilih salah satu dari ini, kalau lu gak mau pilih itu artinya lu siap buat tidur sama gue di hotel malam ini!" ucap pria itu tersenyum.


"Hah??" Cahaya terkejut bukan main.


Topan terkekeh melihat ekspresi Cahaya yang tampak kaget sehabis mendengar kata-kata dari mulutnya, ia pun semakin percaya diri kalau Cahaya akan memilih bunga di tangannya dan mau menjadi pacarnya sesuai rencana yang sudah ia susun.


"Bener-bener gak waras ya lu, bisa-bisanya lu ngomong kayak gitu sama gue! Emang lu pikir gue cewek apaan, ha?" ujar Cahaya kesal.


Mendengar amarah dari Cahaya membuat Topan terkejut tak menyangka gadis itu bisa sampai semarah itu, padahal ia sengaja berbicara seperti tadi hanya untuk membuat Cahaya terpaksa memilih salah satu dari bunga atau coklat di tangannya.


"Denger ya, Topan! Gue bukan tipe cewek yang bisa dipermainkan kayak gitu sama lu, gue tau lu kaya dan ganteng! Tapi, lu gak bisa seenaknya aja paksain kehendak lu ke semua cewek apalagi gue!" ujar Cahaya makin bertambah emosi.


"Heh, sabar dong jangan marah-marah gitu! Gue gak ada maksud buat rendahin lu, kan gue cuma nyuruh lu milih salah satu dari ini!" ucap Topan.


"Ya tetep aja, lu udah bikin nyawa gue terancam loh tadi gara-gara lu nyuruh orang buat nyulik gue! Emang kalo gue mati lu mau tanggung jawab? Bener-bener keterlaluan lu, gue gak nyangka kalo ternyata bos mereka itu elu!" ucap Cahaya kesal.


Topan terdiam menyesali perbuatannya, ya ia memang sadar akan kesalahannya yang sudah membuat nyawa Cahaya dalam bahaya dengan menyuruh orang untuk menculiknya.


"Jangan marah, Cahaya! Gue kan lakuin itu semua cuma mau kasih surprise ke lu, dan tara lu lihat sendiri kan semua dekorasi disini? Nah ini semua gue yang atur dan dekor sendiri, khusus buat lu Cahaya! Gue mau lu tahu perasaan gue yang sebenarnya selama ini, gue itu suka sama lu dan gue pengen kalo lu jadian sama gue atau kalo lu mau langsung nikah juga gapapa kok!" ucap Topan.


"Hah? Gue gak salah denger nih? Gak mungkin cowok sok kaya dan sombong kek lu suka sama cewek miskin kayak gue! Udah deh stop permainan lu, gue gak akan pernah jatuh hati sama lu!" ucap Cahaya dengan nada tegas.


Topan pun berdiri kembali lalu bergerak maju dan terus menatap Cahaya dengan tajam, sedangkan Cahaya menunduk sedikit cemas dan khawatir karena Topan bisa saja berbuat apapun padanya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2