Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 199. Rumah baru


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 198


...•...


...•...


Keesokan harinya, Cahaya telah dinyatakan sembuh oleh dokter dan dapat pulang ke rumah karena kakinya sudah agak mendingan. Cahaya pun tampak senang karena akhirnya ia bisa kembali pulang dan tinggal bersama papanya lagi, ya tentu Cahaya bosan terus-menerus ada di rumah sakit dan hanya berbaring tanpa bisa pergi jauh-jauh dari kamar itu.


Topan juga Hendra sudah ada di dalam sana menemani Cahaya dan siap mengantar gadis itu kembali pulang, mereka juga tampak bahagia karena Cahaya akhirnya bisa pulang ke rumah. Terlebih Topan yang memang sudah menantikan momen ini agar ia bisa lagi jalan-jalan dengan Cahaya, ya Topan juga sudah merencanakan semua itu pada Cahaya.


"Selamat ya Cahaya! Akhirnya kamu bisa pulang juga ke rumah, setelah dua hari kamu rebahan di rumah sakit dan cuma bisa main hp sama bayangin muka aku!" ucap Topan nyengir.


"Dih, apa banget sih? Siapa yang bayangin wajah lu? Lagian ngapain amat gue bayangin wajah lu? Gak penting ya!" ujar Cahaya sambil mencibirkan bibir bawahnya.


"Hahaha, biasa aja kali bibirnya! Gausah digemes-gemesin gitu deh, nanti kalo aku tertarik kan bahaya pacar!" ucap Topan.


"Apaan sih Topan?!" Cahaya makin kesal.


"Ahaha, udah udah! Cahaya, kamu udah siap kan sayang buat pulang?" ucap Hendra menengahi.


"Iya pah," jawab Cahaya sambil tersenyum.


"Yaudah, kita berangkat sekarang yuk! Kaki kamu beneran kan udah gak kerasa sakit lagi atau nyeri gitu? Yakin kamu gak mau pake kursi roda sayang, jaga-jaga kalau kaki kamu sakit nanti?" ujar Hendra.


"Gausah pah, aku udah mendingan kok! Gak perlu lah kursi roda itu segala, kan kata dokter juga kaki aku ini udah sembuh benar!" ucap Cahaya.

__ADS_1


"Iya deh sayang, papa nurut aja sama kamu! Yaudah yuk, kita langsung jalan sekarang dan jangan terlalu lama! Nanti semakin panas cuaca di luar, papa kan orangnya anti panas!" ujar Hendra nyengir.


"Hahaha, dasar papa ini!" ucap Cahaya tertawa.


"Om, kalau misal om cemas sama kaki Cahaya, biar saya gendong aja Cahaya nya om! Jadi, supaya Cahaya gak akan kenapa-napa!" ucap Topan.


"Wah boleh tuh, iya iya om setuju sama saran kamu yang bagus itu! Gimana Cahaya?" ucap Hendra.


"Hah? Papa apaan sih? Ngapain papa pake bilang setuju segala sama saran gak jelas itu! Dan lu juga Topan, kenapa lu pake kasih saran begitu ha? Gue gak mau ya digendong sama lu, dasar gak bener!" ujar Cahaya tidak setuju.


"Hahaha, sabar sayang! Kamu jangan marah-marah begitu dulu sama Topan, saran Topan itu bagus loh! Artinya dia perduli sama kamu sayang, kok kamu malah emosi begitu sih?" ucap Hendra.


"Pah, itu mah bukan perduli! Si Topan tuh cuma mau modus doang, dia mana ada niat baiknya sih pah? Pokoknya aku gak mau digendong sama dia, lagian aku bisa jalan sendiri kok pah!" ucap Cahaya masih dengan muka cemberutnya.


Topan yang melihat raut wajah Cahaya, hanya bisa terkekeh geli karena Cahaya sangat menggemaskan.


"Tenang aja pacar! Aku tadi cuma becanda kok, ya tapi kalo kamu mau harusnya aku seneng banget dan gak nolak juga!" ujar Topan sambil nyengir.


"Udah sayang, kamu jangan kesel begitu mulu ah! Sama pacar sendiri tuh gak boleh jutek kayak gitu, nanti malah makin cinta dan sayang loh sama Topan!" ucap Hendra tersenyum.


"Iya papa, yuk kita pulang sekarang! Aku udah makin gak betah disini nih, bosen banget!" ucap Cahaya.


"Hahaha..."


Mereka bertiga pun pergi dari kamar tempat Cahaya dirawat itu, dengan Cahaya berada di tengah-tengah dua lelaki tersebut.




Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Hendra itu berhenti di depan sebuah rumah besar dengan pagar yang lumayan tinggi berwarna emas dan membuat Cahaya terperangah tak mengerti. Ya Cahaya bingung dan tak tau milik siapa rumah di depan matanya itu, ia juga bingung sekali mengapa Hendra alias papanya itu berhenti disana.


"Pah, ini kenapa papa malah berhenti disini? Emang ini rumah siapa sih?" tanya Cahaya terheran-heran.

__ADS_1


"Iya sayang, kita mulai sekarang gak lagi tinggal di apartemen yang kemarin. Karena papa udah beli rumah lain buat kita berdua tinggal, nah inilah rumah baru kita sayang! Gimana, kamu suka apa enggak sama rumah ini?" ucap Hendra.


"Papa serius?" tanya Cahaya terkejut.


"Ya iya sayang, masa papa bohong sih sama kamu? Kita sekarang tinggal disini, papa juga udah sewa beberapa penjaga dan pekerja di dalam sana buat bantu-bantu kita sayang!" jawab Hendra.


"Wah, ini keren banget sih pah! Lebih bagus malah dari rumah papa yang dulu, ya tapi tetep sih rumah lama kita bakal selalu jadi kenangan!" ucap Cahaya.


"Iya sayang, tapi sekarang saatnya kita moveon dan beralih ke rumah yang lebih bagus! Karena kan kita udah gak mungkin lagi balik ke rumah yang dulu, kamu mau kan tinggal disini sayang sama papa?" ucap Hendra sambil mengusap puncak kepala putrinya dan tersenyum manis.


"Ya mau dong papa, masa iya aku gak mau tinggal di rumah yang mewah kayak gini?" ucap Cahaya.


"Syukurlah! Yaudah, bentar ya papa kasih klakson dulu supaya dibukain gerbang sama satpam di dalam sana!" ucap Hendra tersenyum.


"Iya pah, yang kenceng sekalian!" ujar Cahaya.


Hendra pun tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala mendengar saran dari Cahaya, lalu ia membunyikan klakson mobilnya berkali-kali dengan suara yang lumayan keras sesuai perkataan Cahaya.


Tiiinnnn... tiiinnnn....


Akhirnya ada dua orang satpam keluar dari sana dan membuka pintu gerbang agar mobil Hendra bisa masuk ke dalam, Hendra tersenyum sejenak ke arah putrinya sebelum melajukan mobilnya kembali memasuki rumah barunya itu.


Topan yang sedari tadi kebingungan pun mengikuti saja kemana mobil Hendra pergi, ya walau ia masih tak mengerti mengapa Hendra malah datang dan masuk ke dalam rumah mewah tersebut. Topan memang belum tahu kalau rumah itu sekarang sudah menjadi milik Hendra, sehingga ia hanya bisa bengong terperangah sambil garuk-garuk kepala.


Sesudah memasuki rumah mewah itu, kini Hendra serta Cahaya turun dari mobil dan bersiap masuk ke dalam rumah baru mereka.


"Pak Deri, pak Refal, itu di dalam bagasi ada barang-barang milik putri saya. Kalian tolong ambil dan bawakan ke dalam ya, saya sama putri saya mau masuk duluan!" ucap Hendra.


"Baik, pak!" ucap dua satpam itu bersamaan.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2