
...HALO GUYS!...
...WELCOME TO MY NEW STORY!...
..."TOPAN & CAHAYA"...
...~~~...
#TOPAN&CAHAYA EPS. 31
...•...
...•...
Topan tidak sengaja berpapasan dengan Bella saat ia hendak pergi ke perpustakaan mencari buku yang diminta dosennya, tampak keduanya saling gugup dan malu-malu hingga terus saja diam mematung tanpa ada yang berani berbicara lebih dulu. Terlebih Topan yang merasa sangat bersalah pada gadis itu, ia mencoba mengatakan yang sebenarnya namun sungguh sulit ia membuka mulut karena seakan-akan mulutnya terbekap.
"Eee kamu mau kemana?"
Akhirnya Topan hanya bertanya seperti itu, ia masih belum berani mengatakan bahwa dirinya sudah menjadikan Bella sebagai bahan taruhan yang mengharuskannya menjauh dari Bella serta membiarkan Bram mendekati gadis itu. Terasa sangat sakit hatinya melihat sang mantan dekat dengan musuh abadinya, namun untuk saat ini ia tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah terlanjur mengiyakan perkataan Bram dan ia pun kalah.
"Bel, aku minta maaf ya sama kamu! Aku tahu selama kita pacaran, aku gak pernah sekalipun bikin kamu bahagia atau tersenyum! Makanya sekarang aku harap kamu bisa menemukan kebahagiaan itu bersama Bram, semoga kalian langgeng terus ya!" ucap Topan berbicara kembali karena Bella hanya diam tak menjawab pertanyaan sebelumnya.
"Aku sama Bram itu gak ada apa-apa, kamu jangan salah sangka dulu! Kita cuma sekedar temen dan gak lebih dari itu, jadi kalau kamu bilang langgeng dalam artian sebagai sahabat it's oke pasti aku bakal selamanya sahabatan sama dia!" ucap Bella.
Topan terdiam, entah ia harus senang atau sedih mendengar ucapan Bella yang mengatakan kalau Bram hanyalah sahabatnya. Sungguh ia merasakan ada sesuatu yang membuat hatinya ceria, mungkinkah ia memang mencintai Bella dan senang jika Bella hanya menganggap Bram sebagai sahabat? Begitulah pikirnya di dalam hati, walau ia sadar sudah berjanji pada Bram untuk menjauhi Bella.
"Eee kamu mau ke perpus?" tanya Bella membuyarkan lamunan Topan, pria itu tampak gugup sembari menggaruk kepalanya.
"I-i-iya..." jawab Topan gemetar.
__ADS_1
"Mau aku temenin?" ucap Bella menawarkan diri untuk menemani Topan di dalam perpustakaan. Pria itu semakin gugup dan bingung harus menjawab apa, sungguh di dalam hatinya ia menginginkan Bella menemaninya, namun janjinya pada Bram tak mungkin ia ingkari.
"Gak perlu, biar aku sendiri aja! Nanti kalo kamu ikut ke dalam yang ada malah kamu gak bisa kerjain tugas, udah kamu pergi aja sana sebelum dimarahin dosen karena tugas kamu gak kelar!" ucap Topan.
"Ya ampun, pasti kamu keinget waktu kita pacaran dulu ya? Hahaha, sekarang aku gak ada tugas apa-apa kok Topan semuanya udah aku kerjain! Jadi tenang aja, aku bisa temenin kamu ke perpus! Lagian kamu pasti belum pernah masuk kesana kan? Nanti repot loh nyari-nyari buku yang kamu mau, kalo aku kan udah sering kesana jadi hafal lah tempatnya!" ucap Bella tersenyum.
Topan terdiam menggaruk keningnya sembari menundukkan kepala, ia khawatir Bram akan melihatnya dan mereka bisa kembali berseteru akibat tindakannya ini.
Secara tiba-tiba tangan Bella meraih lengan pria itu lalu menggenggamnya, ia tersenyum dan menarik Topan menuju perpustakaan. Topan hanya diam mengikuti langkah kaki Bella tanpa bisa berbuat apa-apa, ia masih dilanda kebingungan haruskah ia memikirkan Bram atau melupakan tentang itu sejenak karena ia juga membutuhkan bantuan Bella.
Saat di dalam, Bella menghentikan langkahnya tanpa melepas genggaman tangannya. Ia memandang wajah pria itu sembari melontarkan pertanyaan mengenai buku apa yang sedang dicari Topan.
"Kamu cari buku apa?" ujar Bella. Namun, pria itu masih bengong tak mendengar perkataan Bella. Sontak gadis itu langsung melambaikan tangan di depan mata Topan sembari mengulang pertanyaannya. "Hey, Topan! Kamu cari buku apa?" ucap Bella mengeraskan sedikit suaranya.
Akhirnya Topan sadar dari lamunannya dengan gelagapan karena terkejut, "Ah iya, kenapa?" ucap Topan memandang wajah Bella.
Bella terkekeh menutupi mulutnya melihat ekspresi Topan yang lucu, sedangkan Topan merasa malu lalu segera membuang muka.
Disisi lain, jam istirahat telah tiba dan Cahaya kini berada di kantin bersama teman-temannya. Ia terus menunggu balasan dari Badai untuk pesannya beberapa menit yang lalu, tampak Cahaya sedikit bersedih karena tak kunjung mendapat notif pesan balasan dari Badai padahal ia sudah menunggunya cukup lama.
Teman-temannya yang ada satu meja dengannya merasa heran karena melihat Cahaya yang sedari tadi melamun sembari memandang layar ponselnya, salah satu dari mereka pun coba menegur Cahaya karena penasaran apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu sampai melamun cukup lama dan tak menyentuh makanannya sedikitpun.
"Heh, Aya! Lu kenapa sih? Lagi ngelamunin apa?" tegur Mawar pada sohibnya yakni Cahaya.
"Ah? Gue gak ngelamunin apa-apa kok, lagian siapa juga yang ngelamun dah? Orang gue daritadi sadar gak ngelamun, aneh lu!" ujar Cahaya.
"Lah dia ngapa ya? Jelas-jelas kita daritadi merhatiin lu terus-terusan natap hp lu, emangnya itu apa kalo bukan ngelamun? Orang lu aja gak gerak sama sekali, kasian tuh dimsum dilalerin!" ujar Mawar.
"Iya, kalo emang lu gak mau buat gue aja sini!" sahut Hesti yang masih kelaparan walau sudah menghabiskan 2 piring nasi kuning.
__ADS_1
"Yeh enak aja!" ucap Cahaya langsung menarik piringnya ke dekat tubuhnya agar Hesti tak dapat mengambilnya.
Hesti pun langsung cemberut dibuatnya, ia kembali bersandar pada kursinya dengan bibir yang dimanyunkan seperti bebek. Teman-temannya hanya terkekeh kecil melihat tingkah Hesti, sedangkan Cahaya memakan dimsumnya tetapi masih tidak mengalihkan pandangannya dari layar hp.
Rupanya Cahaya memang masih menunggu pesan dari Badai yang sangat ia nantikan, sudah hampir setengah jam Badai tak membalas pesannya itu sampai Cahaya merasa bete kemudian meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja.
Teman-temannya kembali dibuat kaget dengan tingkah Cahaya yang secara tiba-tiba membuang hp nya ke atas meja, padahal sedari tadi gadis itu seperti tak bisa lepas dari ponselnya.
"Heh, lu kesambet apaan sih Aya? Bisa-bisanya itu hp lu banting ke meja, mentang-mentang punya pacar kaya jadi begini nih sekarang!" cibir Mawar.
"Tau ih Cahaya, masa lu gak bisa menghargai sedikit perasaan kita-kita ini para kamu rendahan? Bisa-bisanya lu banting hp ipong di depan kita para pemakai narkoba eh maksudnya androlite!" saut Melani.
"Hah? Bukan gitu ih, gue cuma kesel aja abisnya chat gue gak dibales bales! Gue gak maksud semena-mena sama barang mahal kok, lagian yakali gue punya sikap begitu! Tapi bentar deh, barusan lu ngomong pacar gue kaya? Itu maksudnya siapa sih, pacar gue yang mana??" ujar Cahaya.
"What? Seriusan lu Aya? Pacar lu bukan cuma satu? Omaigat temen gue ini ternyata seorang playgirl guys, bisa-bisanya dia mendua dari anak pemilik sekolahan ini! Emang pacar lu ada berapa banyak sih?" ujar Mawar tampak syok.
"Apaan sih? Gue itu gak punya pacar, kan kalian tahu sendiri gue kayak gimana sama cowok! Boro-boro jadi pacar, orang yang pada deketin gue aja langsung kabur! Makanya itu gue heran yang lu maksud pacar gue tuh siapa..." ucap Cahaya.
"Seriously? Tapi, beritanya tuh udah heboh banget dimana-mana seluruh angkatan sekolah ini juga pada tahu kalo lu pacaran sama anak pemilik sekolah!" ujar Mawar.
"Ya siapa? Anak pemilik sekolah itu siapa? Gue kenal aja kagak, gimana mau pacaran dah??" tanya Cahaya.
"Ish lu gimana sih Aya? Masa sama pacar sendiri lupa? Dia itu Edgar Thaufan Armando loh anaknya David Armando alias pemilik sekolah ini, dulu dia juga alumni sini sekitar 2 tahun lalu lah!" jelas Melani.
"Hah?? Siapa dia?" ujar Cahaya kaget karena tak mengenal nama yang disebutkan Melani.
Tentu Cahaya tak mengenali nama tersebut lantaran ia mengenali pria tersebut dengan sebutan Topan, dan sampai sekarang ia juga belum tahu siapa nama panjang Topan si pria penagih hutang.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...