Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 321. Bertengkar dengan Robi


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 320


...•...


...•...


Cahaya pulang ke rumah diantar oleh Robi, gadis itu tampak bersedih karena hubungannya kandas dengan sang kekasih yang telah berlangsung cukup lama.


Robi pun meraih dua tangan Cahaya dan menggenggamnya, ia menatap wajah gadis itu lalu berbicara padanya bermaksud untuk membuat Cahaya lebih tenang.


"Cahaya, udah ya jangan sedih terus! Kalau Topan jodoh kamu, pasti dia gak akan tega ninggalin kamu dan balik lagi ke kamu!" ucap Robi.


"Gimana gue gak sedih Rob? Gue sama Topan udah lama jalin hubungan, dan selama ini kita adem ayem aja jarang ribut! Ya biarpun gue atau dia sering ngambek juga sih, tapi gak sampai ngucap kata putus loh! Lah ini sekarang, dia dengan gampangnya mutusin gue di tempat umum cuma gara-gara gue belum siap nikah sama dia!" ucap Cahaya.


"Aku tahu banget perasaan kamu! Maka dari itu, aku kasih tau ke kamu buat lupain dia!" ucap Robi.


"Yaudah ya Rob, gue mau masuk dulu! Sekali lagi makasih udah anterin gue pulang, lu hati-hati ya baliknya!" ucap Cahaya melepas paksa tangannya dari genggaman Robi.


"Oh oke! Sampai ketemu lagi!" ucap Robi.


Cahaya tersenyum, kemudian melangkah ke dalam rumahnya. Pak Ahmad yang sudah bersiap sedari tadi di depan gerbang, pun memberi jalan bagi Cahaya untuk dapat masuk. Namun, pak Ahmad merasa heran karena Cahaya pulang bukan bersama Topan.


"Silahkan masuk, non!" ucap pak Ahmad.


"Makasih pak!" ucap Cahaya tersenyum singkat.


Setelah Cahaya masuk ke dalam, pak Ahmad pun menutup kembali gerbangnya dan meninggalkan Robi sendirian disana.


Robi merasa senang karena akhirnya Topan dan Cahaya bisa berpisah dengan sendirinya, biarpun ia harus menunggu waktu yang cukup lama untuk bisa mendapatkan momen tersebut.


"Cahaya, lu gak pantas dibikin nangis sama Topan! Lihat aja, gue bakal bikin perhitungan buat tuh cowok!" gumam Robi dalam hati.


Pria itu pun pergi dari sana dengan motornya.


Sementara Cahaya sudah sampai di dalam rumahnya, ia bertemu dengan bik Minah serta bik Atun selaku pelayan disana, terlihat kedua wanita tua itu sudah menyiapkan minuman untuk diberikan pada Cahaya alias majikan mereka.


"Eh non Aya udah pulang, ayo duduk non! Ini bibik udah siapin minum buat non Aya!" ucap bik Minah.


"Eee makasih bik! Tapi, aku kayaknya mau langsung ke kamar aja deh bik. Aku capek banget, maaf ya bik! Nanti minumnya bibik aja yang minum atau buat pak Ahmad di depan!" ucap Cahaya.


"Oh gitu, iya non gapapa!" ucap bik Minah.


"Oh iya bik, papa belum pulang ya?" tanya Cahaya.


"Belum sih non, mungkin sebentar lagi!" jawab bik Minah.


"Yaudah, aku ke kamar dulu ya bik?" ucap Cahaya.


"Iya non silahkan!" ucap bik Minah dan bik Atun.


Cahaya melangkah menaiki tangga menuju kamarnya, sedangkan bik Minah serta bik Atun tampak bingung melihat raut sedih di wajah Cahaya.


"Tun, kira-kira itu non Aya kemana ya? Kok kayak orang lagi sedih dan banyak masalah gitu? Padahal ini kan hari kelulusan non Aya, harusnya non Aya ceria gitu!" ujar bik Minah bingung.


"Waduh, mana saya tahu mbak? Kalau Mbak mau tahu, tadi harusnya mbak nanya langsung ke non Aya biar gak penasaran!" ucap bik Atun.


"Ari kamu gimana? Non Aya kan majikan kita, mana berani saya tanya langsung ke non Aya kayak gitu? Nanti yang ada saya dibilang kepo, lagian non Aya juga pengen langsung ke kamar! Gak mungkin lah saya tahan-tahan!" ucap bik Minah.


"Yaudah, mending sekarang kita kasih minuman ini buat mang Ahmad di depan!" ucap bik Atun.


"Ogah! Mending buat saya sendiri!" ucap bik Minah.




Sementara itu, Topan datang ke markas geng spider menemui teman-temannya yang ada disana. Ia ingin menenangkan diri selepas bertengkar dengan Cahaya, seperti itulah kebiasaan dirinya jika sedang diterpa masalah pasti selalu datang kesana.


Kehadiran Topan disana, membuat Ardan serta yang lainnya merasa senang. Karena belakangan ini Topan memang sudah jarang datang kesana, ya pria itu terlalu sibuk dengan urusan Cahaya dan juga perusahaan papanya.


"Widih Topan! Akhirnya lu dateng kesini juga bro! Apa kabar lu bro?" sapa Ardan.


"Baik! Sorry ya, gue udah jarang banget main kesini sama kalian! Ya kalian tau lah, setelah lulus kuliah gue kan disuruh ngurus perusahaan papa!" ucap Topan.


"Santai bro! Biar begitu, lu tetap kita anggap teman kok! Oh ya, ini ngomong-ngomong muka lu kenapa sih? Kayak ada masalah gitu?" ujar Ardan.

__ADS_1


"Iya juga bro, lu kenapa nih?" sahut Guntur.


"Gak kok, gue baik-baik aja! Udah ah gausah bahas yang penting! Eh Tur, pesenin gue wine kayak biasa! Lu tahu kan selera gue? Masih inget kan? Pala gue lagi pusing banget nih, enak kalo minum begituan!" ucap Topan.


"Siap bro, santai!" ucap Guntur tersenyum.


Guntur pun pergi mengambilkan minuman pesanan Topan seperti biasa, lalu kembali ke tempat Topan berada dan menyerahkan minuman itu padanya.


"Nih bro, seger!" ujar Guntur.


"Thanks!" ucap Topan.


Tanpa basa-basi, Topan langsung menenggak habis wine di gelas pemberian Guntur. Bahkan ia merasa tidak puas dan meminta Guntur mengambilnya lagi karena ia sedang sangat pusing.


"Kurang nih, ambilin lagi dong!" ucap Topan.


"Waduh, oke deh sekalian aja gue bawa botolnya!" ucap Guntur.


"Nah cakep tuh!" ujar Topan.


Guntur pergi mengambil minuman, Ardan pun penasaran dengan kondisi Topan yang seperti itu saat ini, ia menghampiri Topan dan bertanya langsung pada Topan.


"Bro, lu sebenarnya kenapa sih? Ada masalah apa lu sampe mau minum sebanyak itu?" tanya Ardan penasaran.


"Apaan sih? Kan gue udah bilang tadi, gue gapapa. Gue kesini itu cuma mau ngumpul sama kalian sambil minum! Masa yang kayak gitu aja harus ditanyain sih? Emang kenapa kalo gue minum banyak? Lu gak suka?" ujar Topan.


"Santai bro! Gue kan cuma tanya, abisnya lu kelihatan kayak lagi ada masalah!" ucap Ardan.


"Ah cuma perasaan lu aja itu!" ucap Topan.


Ardan terdiam kebingungan, lalu Guntur kembali dengan membawa sebotol minuman anggur permintaan Topan tadi dan meletakkan botol itu di atas meja dekat Topan.


"Nih bro, minum dah sepuas lu!" ucap Guntur.


"Thank you brother!" ucap Topan tersenyum.


Bram dan Bella yang juga ada disana, merasa heran melihat tingkah Topan kali ini. Mereka tahu jika ada sesuatu yang tidak beres dengan sikap Topan, itulah sebabnya Bram memilih untuk maju dan duduk di dekat Topan.


"Bro, apa kabar lu?" ujar Bram mengulurkan tangan.


"Eh lu bro, baik gue! Lu sendiri gimana? Hubungan lu sama Bella akur-akur aja kan?" ucap Topan.


"Ya gitulah bro!" ucap Bram.


"Lu lagi ada masalah bro?" tanya Bram.


"Yaelah, lu sama aja kayak si Ardan noh! Daritadi nanyain gue ada masalah apa kagak mulu, udah gue bilang kalo gue baik-baik aja!" jawab Topan.


"Gak mungkin lu baik-baik aja! Pasti ada sesuatu yang bikin lu jadi kayak gini, gak biasanya kan lu minum banyak banget! Mending lu cerita aja deh sama kita, biar lu lebih tenang!" ucap Bram.


"Iya Topan, gue yakin banget pasti lu lagi kena masalah!" sahut Bella.


Topan terdiam sejenak, ia berpikir apakah harus bercerita pada teman-temannya atau tidak mengenai masalahnya dengan Cahaya yang telah membuat ia bersedih serta kecewa sampai seperti ini.


"Eee sebenarnya iya sih, gue ada masalah sama Cahaya!" jawab Topan.


"Hah? Masalah apa? Bukannya si Aya baru diwisuda ya?" tanya Bella penasaran.


"Gu-gue sama dia..."


Ucapan Topan terpotong lantaran rombongan motor berhenti tepat di depan markas spider, mereka dengan sengaja menggeber-geber motor dan memamerkan suara knalpot motor milik mereka disertai asap yang keluar cukup banyak.


Tentu saja Topan dan yang lainnya terpancing emosi dengan kelakuan tersebut, namun mereka tak tahu siapa mereka dan apa tujuan orang-orang itu melakukan hal seperti itu.


"Wah cari gara-gara tuh mereka!" umpat Guntur.


"Emang kurang ajar! Siapa sih mereka?" ujar Ardan.


"Udah lah bro, langsung aja kita samperin dan hajar mereka!" ucap Panji.


"Ayo bro!" ujar Guntur.


"Eh eh eh tahan tahan! Kita belum tahu siapa mereka, jangan nekat dan tunggu aja disini! Kita tunggu dulu apa sebenarnya niat mereka!" ucap Bram.


Tak lama kemudian, seorang pengemudi motor itu berhenti tepat di hadapan Topan. Ia membuka helm dan menunjukkan wajahnya kepada mereka semua yang ada disana.


"Robi?" ujar Topan spontan.


"Bro, lu kenal sama dia?" tanya Bram.


"Iya bro, gue udah beberapa kali ketemu sama tuh cowok! Dia orangnya emang ngeselin, tapi gue bingung darimana dia bisa tau tempat ini? Karena setahu gue, dia belum pernah kesini kan?" ucap Topan kebingungan.


"Entahlah bro, terus dia mau ngapain ya dateng kesini?" ujar Bram.

__ADS_1


"Gak tahu, kita lihat aja!" ucap Topan.


Robi turun dari motornya, lalu menghampiri Topan serta yang lainnya.


"Heh sini lu!" bentak Robi.


"Songong banget lu! Emang lu pikir lu siapa berani kayak gitu ke Topan?" ujar Ardan.


"Tau lu, gak punya tata krama banget jadi orang! Dateng ke tempat orang itu baik-baik, bukan kayak gini!" sahut Guntur.


"Diem lu berdua! Gue gak ada urusan sama kalian, jangan ikut campur!" ucap Robi.


"Wah nantangin! Gue abisin lu!" bentak Ardan.


Ardan hendak menyerang Robi, namun dicegah oleh Bram serta Topan.


"Tahan bro, biar gue yang hadapin dia!" ucap Topan.


Ardan mengangguk lalu menghela nafasnya untuk menenangkan diri, Topan beralih menatap wajah Robi dengan tatapan tajam dan emosi.


"Lu mau apa lagi sih? Ngapain lu kesini?" tanya Topan.


"Gue bakal bikin perhitungan buat lu, sekarang ayo maju dan lawan gue!" ujar Robi.


"Jelasin ke gue, kenapa gue harus ngelawan lu? Gue gak ada urusan sama lu, jadi mending lu pergi mumpung gue lagi baik dan gak punya niat buat abisin lu!" ucap Topan.


"Hahaha, dasar sok lu! Rasain nih!"


Robi berteriak dan langsung menyerang Topan dengan sebuah tendangan, akhirnya mau tidak mau Topan terpaksa meladeni Robi.


Ya kedua pria itu pun terlibat dalam perkelahian yang seimbang, sedangkan yang lainnya tak hanya diam, mereka turut menyerang teman-teman Robi sehingga kini terjadi sebuah pertarungan hebat.


Bella yang sendirian di dalam markas, mulai merasa takut dan cemas. Ia pun berinisiatif untuk menelpon Cahaya dan mengabari gadis itu kalau kekasihnya tengah terlibat perkelahian.


"Gue harus telpon Cahaya, semoga dia bisa hentiin perkelahian ini!" ucap Bella.




Cahaya masih menangis sesenggukan di dalam kamarnya, ia memeluk guling nya dan membuat guling itu basah oleh air mata dirinya. Tampaknya berpisah dengan Topan adalah hal paling menyedihkan dalam hidupnya dan ia pun tak menyangka jika itu bisa terjadi.


Cahaya belum bisa menerima semuanya, ia masih ingin bersama Topan karena ia memang benar-benar menyayangi pria tersebut, walau ia tak tahu mengapa Topan selalu memaksa agar mereka bisa segera menikah.


"Topan, kamu itu kenapa sih? Kita berhubungan udah lima tahun lebih, tapi dengan mudahnya kamu mengucapkan kata putus ke aku!" ucap Cahaya.


Disaat ia tengah asyik menangis dan mengingat-ingat kembali momen kebersamaan ia dengan Topan dahulu, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada telpon masuk.


Cahaya pun mengambil ponselnya dari meja, ia melihat nama Bella terpampang di layar ponselnya.


"Bella? Ngapain dia telpon gue?" ujar Cahaya.


Akhirnya Cahaya memilih mengangkat telpon itu walau ia sedang sedih, tak lupa ia menghapus air mata di wajahnya dan menenangkan diri agar Bella tidak curiga kalau ia sedang menangis.


📞"Halo Bella! Kenapa lu telpon gue?" ucap Cahaya.


📞"Eee halo Cahaya! Ini loh gue lagi di markas spider dan ada Topan disini, di-dia berantem Aya sama cowok yang namanya Robi!"


📞"Hah? Topan berantem sama Robi? Kok bisa?" ujar Cahaya terkejut.


📞"Gue juga kurang tahu masalahnya apa, tapi yang pasti si Robi itu datang ke markas ini tadi dan langsung nyerang Topan gitu aja! Aya, lu kan pacarnya Topan, gue minta lu dateng kesini ya buat pisahin mereka!"


📞"Eee iya deh iya, gue bakal usahain datang kesana dan pisahin mereka berdua! Tapi, gue harus siap-siap dulu! Sekarang gue minta sama lu, lakuin apapun itu supaya mereka berhenti bertarung!" ucap Cahaya.


📞"I-i-iya Cahaya, gue bantu kok!"


📞"Yaudah, makasih ya Bella! Gue tutup dulu telponnya, hati-hati lu disana!" ucap Cahaya.


📞"Oke Aya, lu juga!"


Tuuutttt....


Setelah telpon dimatikan, kini Cahaya bingung harus datang ke markas untuk memisahkan Topan dan Robi atau tidak, karena ia merasa itu percuma saja.


"Ngapain juga gue peduli sama Topan lagi? Dia aja udah putusin gue, malah dia tega mau ninggalin gue ke Korea! Tapi, gue gak bisa pungkiri sih gue cinta banget sama dia!" gumam Cahaya kebingungan.


Karena tak ada pilihan lain baginya, gadis itu memilih bangkit dari ranjangnya dan berganti pakaian untuk menyusul Topan di markas spider.


"Gue harus temuin dia!" ucapnya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2