Topan & Cahaya

Topan & Cahaya
Bab 17. Klepek-klepek


__ADS_3

...HALO GUYS!...


...WELCOME TO MY NEW STORY!...


..."TOPAN & CAHAYA"...


...~~~...


#TOPAN&CAHAYA EPS. 16


...•...


...•...


Hendra yang emosi langsung menatap mata Cahaya dengan tajam dan tubuh yang bergetar, rahangnya sampai gemetar untuk berbicara pada putrinya itu dikarenakan ia sangat emosi dengan apa yang dilihatnya barusan saat Cahaya hendak memukul istri mudanya tersebut.


"Buat apa kamu pulang, Cahaya? Kalau hanya untuk mencari masalah dengan Calissa, lebih baik kamu selamanya saja pergi dari sini dan tidak perlu kembali lagi!" ujar Hendra sangat emosi.


Cahaya yang tau betul kalau papanya akan berbicara seperti itu hanya bisa diam menghela nafas sambil membuang muka, walau sebenarnya ia sangat terluka saat papanya sendiri mengatakan itu padanya. Cahaya akhirnya memberanikan diri menatap wajah papanya dengan mata berkaca-kaca.


"Aku pulang karena ini rumahku pah, aku gak akan biarin rumah ini dikuasai oleh wanita pelakor seperti dia pah! Aku akan jaga papa dari dia!" ucap Cahaya.


Bukannya merasa terharu akan sikap putrinya, Hendra malah semakin marah karena dengan lancang Cahaya menyebut istrinya sebagai pelakor di hadapannya sendiri.


PLAAKK...


Ya untuk kedua kalinya Hendra menampar wajah Cahaya sangat keras, pria itu benar-benar sudah terpengaruh oleh emosi yang menguasai tubuhnya. Sampai ia tidak perduli siapa yang digamparnya tersebut, bahkan tak ada rasa menyesal di dalam hatinya setelah melakukan itu.


Sementara Calissa malah tersenyum merasa puas karena suaminya semakin membelanya, namun ia harus bersikap seperti biasa agar tidak ada kecurigaan terhadap dirinya.


"Cahaya, aku gak ada niat sama sekali untuk menguasai rumah ini apalagi harta papa kamu! Aku ini benar-benar mencintai papa kamu, bukan cuma karena hartanya aja Cahaya!" ucap Calissa memainkan dramanya di hadapan sang suami.


"Halah gausah ngeles deh lu! Gue tau semua akal bulus wanita kayak lu, mana mungkin lu jatuh cinta sama bokap gue kalo bukan karena hartanya?" ujar Cahaya dengan nada tinggi sambil terus memegangi wajahnya yang terkena tamparan sang papa.

__ADS_1


"Cahaya, cukup! Sudah jangan teruskan perdebatan tidak penting ini!" bentak Hendra menatap wajah putri dan istrinya secara bergantian.


"Oke pah, aku bakal cari bukti yang akurat untuk membongkar niat busuk wanita ini ke papa! Setelah semuanya terkumpul, aku yakin papa akan nyesel senyesel nyeselnya karena papa udah duain mama dan lebih memilih wanita seperti dia!" ucap Cahaya.


Hendra terdiam mengatur nafasnya mencoba mengendalikan emosi di dalam tubuhnya, ia tidak mau lagi ada keributan disana karena hari sudah malam dan malu juga pada pembantunya yang masih berada disana menyaksikan keributan tadi.


Cahaya pun pergi melewati papanya, meninggalkan mereka berdua disana tanpa berkata apa-apa. Cahaya menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua rumah itu, ia langsung menutup dan mengunci pintu begitu masuk kesana.


Sementara bi Minah pamit kepada dua majikannya yang masih ada disana, ia tak mau terlalu dalam ikut campur urusan majikannya itu karena tugasnya di rumah itu hanya beres-beres.


"Permisi tuan, nyonya! Saya mau ke dapur dulu lanjut cuci piring!" ucap bi Minah sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda hormat pada majikannya.


"Silahkan bi!"


Setelah dapat izin dari tuannya, bi Minah pun langsung pergi melewati Hendra & Calissa menuju dapur untuk lanjut mencuci piring yang tersisa.


Setelah bi Minah pergi, Calissa langsung menghampiri suaminya dan melingkarkan tangannya di sela-sela lengan suaminya serta menempelkan wajahnya di pundak Hendra.


"Iya sayang, aku akan berusaha sabar menghadapi sikap Cahaya yang seperti itu... yaudah sekarang kita ke kamar, aku lelah sekali hari ini!" ucap Hendra tersenyum mengusap wajah istrinya.


"Ayo mas!"


Akhirnya mereka berdua jalan bergandengan tangan menuju kamarnya, sepertinya akan ada percocok tanaman malam hari ini di rumah itu antara sepasang suami-istri tersebut.


...•••...


Disisi lain, Topan pulang ke rumah dan tidak ada orangtuanya disana.... kedatangannya disambut oleh bibi bernama Leni yang memang sedari kecil merawat dan membesarkan Topan.


"Eh den Topan, bagus deh jam segini aden udah pulang ke rumah! Hehehe, yuk lah den bibi antar ke meja makan! Bibi udah masakin makanan spesial buat den Topan, supaya perut aden gak kelaparan sebelum tidur!" ucap Leni.


"Iya bi, makasih ya! Tapi saya mau mandi dulu, nanti baru deh kita makan sama-sama bi!" ucap Topan tersenyum.


"Siap atuh den, bibi tunggu ya di meja makan! Sok atuh mandi biar seger den..." ucap Leni.

__ADS_1


Topan pun berjalan menaiki tangga menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya, sementara bibinya pergi ke meja makan menyiapkan makanan untuk Topan.


Sesampainya di kamar, Topan langsung membuang tasnya begitu saja ke lantai dan melepas jaketnya. Ia duduk sejenak mengambil nafas sebelum pergi mandi, jari-jarinya gatal untuk bermain ponsel sehingga ia mengambil ponselnya dari saku celana.


"Kok gue kangen ya pengen denger suaranya Cahaya? Telpon aja ah, barangkali dia belum tidur!" ucap Topan nyengir.


Topan pun mencari nomor kontak Cahaya dari hp nya, ia dengan ragu-ragu mengklik nomor Cahaya lalu menelponnya. Tak lama, telepon tersambung dan Cahaya mengangkatnya.


📞"Halo, lu mau apa lagi sih?" tanya Cahaya geram karena terus ditelpon oleh Topan seperti debkolektor yang menagih hutangnya.


📞"Heh, kok lu jutek gitu sih sama gue? Inget ya lu itu punya utang 5 juta sama gue yang harus dibayar, kalo sikap lu masih jutek kayak gitu bukan gak mungkin gue bakal bawa kasus ini ke jalur hukum karena lu bawa motor gak bener!" ujar Topan.


📞"Ish yaudah iya, lu mau apa?" ucap Cahaya.


📞"Tanyanya santai aja dong, jangan jutek gitu!" pinta Topan.


📞"Huh, oke lu mau apa sekarang?" ucap Cahaya merubah nadanya menjadi lebih tenang.


📞"Gue cuma mau denger suara lu aja kok, kalo begini kan enak jadi santai gak perlu marah-marah kayak tadi! Lu itu cocoknya bicara santai begini, kedengaran lebih gemesin..." ucap Topan mulai melontarkan gombalannya seperti biasa.


📞"Udah itu doang? Gak penting banget sih lu! Gue lagi mumet nih pusing, kalo gak penting jangan telpon gue ya!" ujar Cahaya berubah lagi jadi jutek.


📞"Eh eh tunggu dulu..." teriak Topan mencegah Cahaya mematikan teleponnya.


Akan tetapi, ia terlambat karena Cahaya sudah lebih dulu memutus telponnya sebelum Topan bicara. Topan pun merasa kesal dan mengusap wajahnya kasar karena Cahaya memutus telponnya begitu saja.


"Haish, nih cewek sok jual mahal banget! Awas aja gua bakal bikin lu klepek-klepek sama gua, Cahaya!" ujar Topan tersenyum menyeringai lalu meletakkan ponselnya di atas ranjang.


Ia berdiri melepas pakaiannya, mengambil handuk dari dalam lemari lalu berjalan ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2