Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Konfrensi Pers


__ADS_3

Sore ini Alfarizi, Umi Anna dan Ibu Ani sedang duduk di hadapan seluruh pewarta dan infotaiment yang berada di dekat lobi mall milik Alfarizi. Mereka akan memberikan keterangan resmi tentang kabar gembira resepsi yang akan di adakan tiga hari lagi. Alfarizi duduk di tengah di apit oleh Umi Anna dan Ibu Ani.


Neng hanya menyaksikan di kamar sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Hatinya gelisah dan tidak tenang, dari kemarin Alfarizi meyakinkan setelah konfrensi pers itu pasti masalah akan berangsur membaik. Dia melihat acara itu segera di mulai karena siaran langsung sudah muncul dan terlihat tiga orang terpenting dalam hidupnya kini.


"Baiklah, Mari kita mulai selamat sore semuanya!" Alfarizi membuka acara dan di jawab oleh mereka dengan serempak. "Soreee...!"


"Sore ini saya akan mengumumkan secara resmi tentang pernikahan dan acara resepsi yang akan di adakan hari Minggu, Kami melakukan aqad nikah secara agama dan negara sekitar dua bulan yang lalu, karena sesuatu hal baru hari Minggu besok acara resepsinya."


Alfarizi terdiam sejenak membetulkan posisi duduknya dan mengambil napas panjang, "Saya lanjutkan ya mohon jangan di potong cerita saya, mengapa saya dulu tidak memperkarakan ke ranah hukum tentang konflik saya dengan Sinta mantan istri, karena tidak sepenuhnya salah dia. Ya memang dia ternyata berselingkuh selama bertahun-tahun dan membohongi saya berkal-kali tetapi parahnya karena emosi dan kemarahan saya, saya juga membuat kesalahan yang sama."


Alfarizi kembali mengambil napas panjang, teringat istri tercinta yang selalu tertekan dan merasa rendah diri selalu di pandang sebelah mata oleh masyarakat. Ada teriakan dari belakang yang tidak sabar mendengar kelanjutan ceritanya, "Kesalahan apa, Tuan?"


"Saat itu saya juga berselingkuh, saya menikah siri dengan wanita polos, lugu dan baik hati. Dengan terpaksa saya meninggalkan istri kedua saya karena Sinta saat itu berjanji akan berubah dan akan mundur dari dunia model, menjadi ibu rumah tangga yang baik."


"Lanjutkan cerita Anda, Tuan!" teriak wartawan yang duduk di kursi paling depan.


"Tetapi setelah dua tahun, Sinta kembali berselingkuh dan sejak saat itu kami menjalani hidup sendiri, hanya terlihat baik saat di depan media. Sampai tiga tahun yang lalu saya bertemu dengan sepasang suami istri mantan pegawai yang berani menghajar dan memukuli saya, ha ha ha." Alfarizi tertawa tetapi meneteskan air mata.


"Maaf saya lagi baper!" kata Alfarizi sambil mengusap air matanya.


"Apa yang terjadi, mengapa anda di pukuli, Tuan?" tanya wartawati beramput pirang.

__ADS_1


"Dari merekalah saya mengetahui jika saat saya meninggalkan istri, dia sedang mengandung empat minggu, penyesalan memang datang belakangan, seandainya saat itu saya kembali ke sana mungkin saya tidak akan membuat istri saya menderita dan depresi." Kembali Alfarizi meneteskan air matanya


"Ya Tuhan ku, apa yang terjadi selanjutnya Tuan?" Wanita setengah baya mulai ikut baper karena cerita Alfarizi.


"Saat saya meninggalkan dia, kami belum bercerai. Selama dua tahun saya mencari mereka sampai sekitar satu tahun yang lalu saya menemukan mereka di sini di mall ini. Itulah sebabnya saya membeli mall ini, hampir satu tahun saya mengejar dia lagi." mulut Alfarizi tersenyum tetapi air matanya tidak berhenti menetes.


Umi Anna mengusap pundak Alfarizi untuk memberi dukungan agar Alfarizi tegar dan fokus, "Silahkan Tuan, di lanjutkan?" pinta wartawan muda yang sedang berdiri paling belakang.


"Yang membuat saya sangat menyesal adalah saya meninggalkan istri saya tidak cuma tanggung jawab membesarkan putra kami sendiri, tetapi dia juga mengalami tekanan batin karena dia selalu mendapatkan pandangan buruk di masyarakat."


Inilah titik terendah seorang Alfarizi yang merasakan sesal dan merasa bersalah. Di dalam hatinya yang paling dalam selalu berpikir tidak ada manusia yang sempuna. Dulu dia bersalah dan sekarang bertekat mulai saat ini akan memperbaiki dan membahagiakan mereka.


"Jadi mulai sekarang ini saya mohon dengan sangat, semua ini murni kesalahan saya, jangan hakimi istri dan putra kami, istri saya adalah wanita yang tulus menerima semua kekurangan dan kesalahan saya, saya sangat beruntung sampai saat ini ternyata dia masih menjaga diri dan bisa menerima saya kembali."


Alfarizi melipatkan tangannya sambil berdiri, '''Baiklah, saya memberikan waktu sedikit untuk Anda bertanya tetapi bergantian, silahkan!"


banyak para wartawan yang berdiri dan mengangkat tangan untuk bertanya, "Silahkan Anda yang duduk di kursi belakang!"


"Terima kasih, Bagaimana Anda bisa bertemu dengan istri Anda kembali?"


"Umi yang menemukan pertama kali, awalnya Umi melihat foto Alfian yang terpajang di depan butik milik istri saya, wajah putra kami memang seperti Papinya."

__ADS_1


"Berapa umur istri dan putra Anda sekarang ini?" tanya wartawan yang duduk di depan sendiri.


"Kami jauh sekali bedanya, sekitar 12 tahun dan Alfian sekarang berumur sembilan tahun."


"Maaf, karena waktu sudah sore saya memberikan satu kesempatan lagi untuk bertanya, silahkan!"


"Jika istri Anda menyaksikan tayangan ini, apa yang ingin Anda sampaikan untuk dia?"


Alfarizi menghadap ke arah kamera, saat ini sedang fokus memikirkan istri tercinta, "Honey, Papi tahu saat ini Mami sedang melihat tayangan ini, I love you so much, terima kasih mau memberikan Papi kesempatan untuk pemperbaiki diri, terima kasih sudah mencintai Papi dengan tulus, terima kasih sudah memberikan Papi putra yang sangat pandai, mari kita lupakan masa lalu yang pahit, kita songsong masa depan yang cerah bersama, jangan lagi merasa rendah diri, Papi akan selalu berada untuk Mami selamanya, Papi mohon jangan pikul sendiri segala kegundahan hati, ada pundak Papi yang akan selalu siap untuk bersandar, terima kasih Papi cinta mati dengan Mami."


Alfarizi mengakhiri ucapannya dangan menyilangkan jari jempol dan telunjuk menunjukkkan simbul cinta untuknya. Rasa lega sudah bisa mengungkapkan perasaan yang selama ini di pendam. Alfarizi ke kantornya terlebih dahulu sebelum pulang, sedangkan Umi Anna dan Ibu Ani pulang ke rumah di jemput oleh Fano suami Isya.


Alfarizi melanjutkan pekerjaanya di kantor selama satu jam, kemudian setelah selesai dia langsung menuju parkiran untuk pulang ke rumah. Baru membuka pintu mobil ada seorang laki-laki berpakaian lusuh berlari mendekatinya, "Tuan, apakah boleh saya bertemu dengan istri dan ibu mertua Anda?"


" ... ?"



hai shobat semoga sehat selalu


jangan lupa mampir di novel teman

__ADS_1


rekomen banget lo, terima kasih


__ADS_2