Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Tidur di Buthup


__ADS_3

Alfian turun dari tempat tidur maminya setelah selesai sarapan. Melarang maminya turun dari tempat tidur, "Al saja yang memanggil Papi, Mami di sini saja!"


"Baklah Nak, terima kasih," jawab Neng sambil tersenyum.


Alfian langsung berlari menuju kamar mandi dan mengetuk pintu, "Tok ... tok ... tok!"


Alfian berkali-kali mengetuk pintu kamar mandi tetapi tidak ada jawaban dari dalam. Seolah tidak ada orang di dalam kamar mandi itu, "Papi ... Papi, apakah Papi masih di dalam tok ... tok ... tok!"


Karena tidak ada jawaban Alfian mulai khawatir kembali mendekati Neng, "Mami, mengapa Papi tidak menjawab panggilan Al?"


"Kemungkinan Papi ketiduran, panggil Nenek Ani saja minta kunci cadangan!"


Alfian keluar kamar berteriak dai atas menengok dari samping tangga, "Nenek ... Nenek!"


"Nenek di rumah belakang Al, ada perlu apa, sama Oma saja!" teriak Umi Anna dari meja makan.


"Al mau minta kunci cadangan kamar mandi di kamar Mami."


Karena khawatir Umi Anna dan Abi Ali langsung berlari naik tangga menghampiri Alfian, "Untuk apa kunci kamar mandi, Cucu Ganteng?" tanya Abi Ali.


Sambil berjalan masuk kamar Neng, Alfian bercerita kepada oma dan opanya. Membuat ke dua orang Alfarizi ikut khawatir seperti Alfian, "Apa suamimu sudah keluar dari kamar mandi, Nak Mitha?" tanya Umi Anna.


"Belum Umi, kemungkinan dia ketiduran di dalam, Ibu Ani mana Umi?"


"Dia ada di rumah belakang, sebentar Umi panggil Doni saja tadi dia sedang minum kopi di dapur bersama Bibi."


Umi Anna hanya berteriak dari samping tangga memanggil Doni. Minta tolong untuk memanggil Ibu Ani yang ada di rumah Neng yang lama. Meminta datang sekarang juga untuk segera datang ke kamar Neng.


Sambil menunggu Ibu Ani, Abi Ali dan Umi Anna diikuti oleh Alfian kembali mengetuk pintu kamar mandi memanggil Alfarizi yang ada di dalam kamar mandi. Sampai sepuluh menit berlalu yang ada di dalam kamar mandi tidak kunjung menjawab panggilan dan ketukan dari luar. Membuat Neng juga ikut khawatir.


"Bagaimana kalau kita dobrak aja Umi?" tanya Abi Ali mulai tidak sabar karena khawatir.


"Tunggu Ibu Ani dulu Abi, bersabarlah!"


"Ayo Opa kalau mau di dobrak, Al bantu!"


"Tunggu ... ini Nenek bawa kunci, Al!" Ibu Ani datang bersama Doni sambil berlari mendekati mereka yang ada di depan kamar mandi termasuk Neng.

__ADS_1


Saat pintu di buka ternyata Alfarizi tertidur meringkuk di buthup tanpa ada airnya. hanya memakai celana pendek saja. Bajunya menggantung di gantungan yang ada di samping pintu bersama handuk. Ada rasa kesal dan lega semua keluarga melihat Alfarizi yang tertidur pulas dengan tenang.


Saat Umi Anna dan Neng ingin membangunkannya Alfian langsung mendekati, kran yang ada di samping buthup, "Tunggu Oma, Mami... Al saja yang membangunkan Papi!" bisik Alfian sambil membuka kran.


Perlahan buthup terisi air. Seluruh keluarga menahan tawa sambil menutup mulutnya karena air sudah berisi sepertiganya tetapi Alfarizi belum juga terbangun, "Papi ... awas kebanjiran!"


Spontan Alfarizi terbangun dan ikut berteriak, "Mami awas kebanjiran!"


"Ha ha ha ...." Seluruh teertawa terbahak-bahak melihat Alfarizi di kerjain oleh putranya sendiri.


"Mengapa semua ngumpul di sini?" tanya Alfarizi belum menyadar apa yang terjadi.


"Papi tidak sadar sedang tidur di mana?" tanya Alfian sambil menyipratkan air di badan papinya.


Alfarizi hanya nyengir kuda setelah menyadari dan terikangat sedang tidur di buthup. Teringat tadi malam tidak bisa tidur karena memikirkan kejadian di bali kemarin. Belum sepenuhnya Neng sembuh dari traumanya membuat dia sangat khawatir. Ditambah teringat harus di hukum selama satu minggu tidak bisa bergoyang juga membuatnya tidak bisa tidur.


"Dasar gelo, sukanya membuat seluruh keluarga khawatir aja, lihatlah istrimu harus turun dari tempat tidur gara-gara kelakuanmu, ayo Nak Mitha beristirahat lagi!"


"Maaf ... tadi ketiduran karena masih ngantuk banget."


Alfarizi keluar kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggngganya. Mendekati Neng yang sedang berbaring di tempat tidur, "Honey, apakah Adik Cantik baik-baik saja?" tanya Alfarizi sambil mengusap perut Neng.


"Baik Papi, cepat pakai baju nanti masuk angin!"


"Kenapa Honey, kangen pingin di goyang ya, baru sehari Mami tidak bertemu dengan onta arab, mengapa meliriknya kearah sini?" Alfarizi sengaja membuka handuknya dan menunjukkan miliknya.


"Papi ...!" teriak Neng memallingkan wajahnya ke samping.


"Ampun Mami, cuma bercanda, ha ha ha!"


"Kalau tidak cepat pakai baju Mami turun dari tempat tidur nich, mau kabur aja!"


"Jangan dong Honey, memngnya mau kabur ke mana?"


"Ke Antartika ...."


Alfarizi berganti baju menggunakan baju santai, membuat Neng heran, "Mengapa memakai baju santai, papi tidak ke kantor?"

__ADS_1


"Tidak Honey, Papi kerja di rumah saja, hari ini Papi panggil Dokter Maria ya Honey?"


"Terserah Papi saja, tetapi ingat hanya Dokter Maria, jangan manggil semua pegawai ke rumah sakit ke sini!"


"Ha ha ha iya, makanya Papi tanya dulu sama Mami, Dokter Maria dan siapa lagi, apakah perlu suster untuk merawat Mami?"


"Tidak perlu, Papi, Mami lebih suka Papi saja yang merawatnya."


Alfarizi mengacungkan jempolnya sambil tersenyum. Mulai bisa mengontrol diri saat ingin memberikan yang terbaik untuk istrinya. Bukan memberikan yang terbanyak, melainkan yang terbaik dan bisa membahagiakan belahan jiwanya.


Hampir satu minggu Neng benar-benar jarang turun dari tempat tidur kecuali kegiatan kamar mandi. Semua aktifitas di lakukan sambil berbaring dan dijaga secara bergantian oleh seluruh keluarga. Dokter Maria datang setiap dua hari sekali untuk memeriksa kondisi Neng.


Hari ini adalah hari Minggu, yaitu hari terakhir Alfarizi di larang bergoyang. Senyum-senyum sendiri saat membayangkan malam ini bisa kembali beraksi. Mengedipkan matanya dan selalu memberikan kode untuk bisa di fahami oleh Neng.


Karena hari Minggu Alfian libur menggagalkan rencana modus papinya. Selama seharian ini Alfian selalu keluar masuk kamar kedua orang tuanya. Selalu memperhatikan maminya dengan teliti sampai Alfarizi tidak memiliki waktu untuk beraksi.


Sampai sore hari Umi Anna berniat mengunjungi cucu yang baru lahir yaitu baby Faiz. Membuat Alfarizi memiliki rencana membujuk Alfian agar bisa ikut oma dan opanya ke sana. Apalagi hari Senin adalah hari libur nasional memeringati hari bersejarah.


"Al, apa tidak kangen sama baby Faiz?"


"Kangen si Pi, tetapi Al memilih di rumah aja deh merawat Mami."


"Mami tugas Papi yang merawatnya, sana ikut Oma dan Opa saja, tidak usah khawatir!"


"Oma dan Opa akan menginap di rumah baby Faiz, Papi. Bagaimana nanti Al pulangnya, Al kan tidak berani pulang sendiri?"


"Al menginap saja sekalian bersama Oma dan Opa."


Alfian memendekati Neng meminta izin, "Mami apakah Al boleh menginap di rumah baby Faiz?"


BERSAMBUNG


******


yok mampir di novel teman, rekomen banget lo


__ADS_1


__ADS_2