
Dengan terpaksa Alfian melakukan kegiatan perang badan dengan perlahan dan harti-hati. Jika biasanya akan garang dan penuh semangat sekarang harus dengan halus dan santai. Yang penting kurma jumbo bisa terpuaskan dan mendapatkan tenaga cadangan.
"Sayang, lain kali jangan mancing kurma jmbo Abang, nanti kalau terjadi sesuatu dengan janin yang ada di kandungan bagaimana?"
"Iya Bang, maaf. Rani terbiasa setiap sebelum tidur Abang selalu meminta tenaga Rani, jadi Rani suka lupa ada dekbay di perut Rani."
"Tapi Abang suka sih kalau Rani usil"
"Abang ini gimana sih, katanya jangan mancing, eee tetapi suka." Rania mengerucutksn bibirnya kesal.
Alfian sering mendengarkan cerita Bibi Tiwi dan Bibi Sri. Mereka bercerita jika istri lagi pingin sesuatu atau ngidam harus di turuti. Agar bayi yang akan lahir nanti tidak ileran.
"Apakah usil itu bagian dari ngidam Rani juga?"
"Tidak tahu, iya mungkin. Oya Abang ingin anak berapa dari Rani?"
"Eeee dua puluh boleh tidak?"
"Abang ... Rani bukan kelinci. mengapa pingin punya anak satu kodi?"
Alfian tersenyum mendengar protes Rania, "Kalau Rani pingin anak perempuan atau laki-laki?"
"Rani maunya sih laki-laki biar ganteng seperti Abang."
"Ayo kia tidur, Sayang. Masih malam!"
Rania masih dalam dekapan Alfin dan keduanya dalam keadaan polos saat mendapatkan kabar dari Bibi Tiwi. Ada Ibu Titin Suhartin yang datang hampir menjelang pagi dari kampung. Ibu Titin tidak berani masuk rumah, dia hanya duduk di pos security berbincang dengan para security yang sedang bertugas.
"Coba tanyakan kepada Bibi Tiwi, Bang. apa tujuan Ibu datang ke rumah?"
"Kata Bibi Tiwi, Ibu tidak mau bercerita apapun. Ibu ingin beremu dengan Rani sendiri."
"Biarkan saja dulu, besok aja Abang kabarin Bapak atau Ayah. Biar mereka yang mengatasi Ibu, Rani takut nanti Ibu berulah lagi."
__ADS_1
"Baiklah, sekarang Rani tidur. Jangan berpikir yang macam-macam."
"Iya ...."
"Lain kali jangan bangunkan kurma jumbo Abang, kalau tidak mau menerima akibatnya, Rani mengerti?"
"He he he iya, maaf."
Alfian tertidur dengan lelap sampai menjelang pagi. Rania sama sekali tidak tidur, dia hanya memikirkan mengapa Ibu Titin datang menjelang pagi. Ada hal penting apa yang akan di sampaikan, padahal setiap bulan dia sudah diberikan uang cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Setelah matahari terbit Rania sudah selesai melakukan kegiatan mandi dan sarapan pagi buah-buahan. Alfian baru saja terjaga dan membersihkan diri. Sejak di ketahui Rania berbadan dua, Alfian memilih untuk mandi begantian, agar tidak sering terjadi perang badan dan mengurangi kurma jumbo bangun.
Rencana pagi hari ini Alfian akan mengajak Rania kembali ke pantai. Saat Alfian keluar kamar mandi melihat Rania sudah tertidur cantik seperti biasa. Dengan terpaksa setelah selesai memakai baju santai Alfian sarapan sendiri dan melanjutkan meeting bersama Julio dan Surya lewat online.
Belum sempat Rania bangun dari tidur cantiknya kembali Bibi Tiwi menghubungi Alfian. Mengatakan jika Ibu Titin Suhartin pingsan di pos security. Dari tadi saat Ibu Titin datang Bibi Tiwi sudah memberikan tiga kali makan, memberikan camilan dan bahkan buah.
Ibu Titin tidak mau masuk ke rumah Rania walaupun Umi Anna sudah mengajaknya untuk masuk. Dari makan sampai kegiatan yang lain Ibu Titin tetap melakukan dari pos security. Ancaman penjara dan perjanjian yang pernah dibuatnya dulu ternyata membuat Ibu Titin benar-benar takut.
Alfian menghubungi Ayah Doni dan Bapak Endang Kusnandar untuk membicarakan tentang keadaan Ibu Titin. Saat itu juga mereka melunjur ke rumah sakit yang di pimpin oleh Zain, "Abang jangan pulang dulu, sebelum Ayah mengetahui keadaan Ibu Titin."
"Ya Ayah, Rani juga belum bangun dari tadi pagi, selama hamil dia susah di bangunkan."
Ayah Doni langsung berangkat ke Bogor setelah berpamitan kepada Ibu Ani dan Abah. Dia menjemput Bapak Endang Kusnandar sebelum berangkat ke rumah sakit yang berada di Bogor. Berangkat bersama menggunakan satu mobil dari perusahaan Alfian yang ada di Bogor.
Alfian juga mengirim pesan kepada Dokter Atha kakaknya. Bercerita tentang Ibu Titin Suhartin yang sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Bercerita juga tentang Ayah Doni dan Bapak Endang Kusnandar juga menuju ke sana.
Sampai di rumah sakit ke dua ayah Rani sudah di tunggu oleh Dokter Atha. Dokter cantik itu selalu hormat dan santun kepada anggota keluarga Papi Alfarizi., "Ayah ... Bapak, mari ikut Ahta!" ajak Dokter Atha menyambut dengan mencium punggung tangan mereka bergantian.
Bagaimana kabar Ibu Titin, Nak?" tanya Ayah Doni sambil berjalan mengikuti langkah panjang Dokter Atha.
"Nanti setelah di kantor ya Ayah, Atha antar bertemu dengan Ibu Titin terlebih dahulu."
"Baiklah."
__ADS_1
Ibu Titin terbaring lemah di brankar tempat tidur. Tangannya dipasang jarum infus dan selang oksigen berada di lubang hidungnya. Matanya terpejam tidak menyadari ada tiga orang masuk di kamar rawat inapnya.
Sengaja Ibu Titin di tempatkan di kamar kelas satu oleh Zain. Pasti akan banyak yang akan mengunjungi beliau. Walau bagaimanapun juga Ibu Titin adalah ibu kandung dari menantu pengusaha konglomerat Papi Alfarizi Zulkarnain.
"Kita ke kantor Atha saja, biarkan Ibu Titin beristirahat." Dokter Atha mengajak Ayah Doni dan Bapak Endang Kusnandar ke ruang pribadinya.
"Ayah ... Bapak!" teriak Zain masuk kamar ruang rawat inap terburu-buru.
"Ssstt ...." Spontan Dokter Atha meletkkan jari telunjuk di bibir.
"Eee maaf." Zain menutup mulutnya.
Untung Ibu Titin tidak terbangun dengan teriakan Zain. Dokter Atha berbalik badan ingin keluar dan Zain maju sehingga tanpa sengaja mereka bertabrakan, "Bruuuuk ... aduuuh!" Dokter Atha menatap tajam Zain dengan kesal.
Dokter Atha langsung meninggalkan ruang rawat inap tanpa kata, diikuti oleh Ayah Doni dan Bapak Endang Kusnandar. Zain yanya cengar-cengir sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Mengikuti keluar ruang rawat inap dan berjalan mengimbangi langkah panjang Dokter Atha.
"Dokter Atha tunggu!" teriak Zain.
"Ada apa?" tanya Dokter Atha tetap berjalan dan tidak menoleh kearah Zain.
"Al menunggu kabar tentang Ibu Titin, dari tadi Al mengubungi tetapi ponsel kamu tidak aktif."
"Hhhmm ...."
Dokter Atha tetap berjalan menuju kantor pribadinya, mempersilahkan mereka masuk dan duduk si sofa ruang tamu kantornya. Dia langsung VC dengan Alfian yang masih di kamar hotel Bali. Berencana akan memberikan kabar tentang Ibu Titin secara bersmaan.
"Halo ya Kak?" tanya Alfian saat VC tersambung.
"Dik ... lihatlah, Kakak di sini bersama Ayah, Bapak dan Dokter Zain." Dokter Atha menunjukkan satu persatu wajah mereka.
Dengan iseng Zain melambaikan tangan menyapa Alfian, "Hai Adik Ipar!"
"Eee ...!"
__ADS_1