
Mami Mitha melamun dan termenung saat di panggil Rania menantunya. Teringat saat pulang dari peresmian rumah sakit tadi sore. Melihat Ayah Asep badannya terlihat lemah.
Ayah Asep dalam perjalanan mengutarakan keinginannya ingin menemui keluarga satu persatu. Sampai rumah Ayah langsung berbaring dengan lemah. Kebetulah Dokter Atha ikut ke Bekasi.
Di rumah Dokter Atha langsung memeriksa dengan teliti. Setelah Dokter Atha selesai memeriksa Ayah, Mami Mitha langsung mengabulkan niatnya memanggil satu persatu keluarga. Mami Mitha tersentak kaget kembali di panggil oleh Rania.
"Mami ...!" teriak Rania.
"Ada apa Sayang, jangan berteriak Kakek sedang tidur?" tanya Alfian.
"Abang, Abah ...?" Rania langsung memeriksa tangan Abah.
Papi Alfarizi dan Alfian juga ikut memeriksa nadi di pergelangan tangan Abah. Mami Mitha masih termenung sudah bisa memperkirakan apa yang akan terjadi. Dari permintaan saat pulang dari Bogor tadi ayahnya selalu berbicara hal yang janggal.
"Mami ... Ayah sudah di panggil oleh yang maha kuasa." Papi Alfarizi mengusap pundak Mami Mitha.
Innalilahi wainna ilahi rojiun."
Suasana semakin terlihat tegang setelah seluruh keluarga mendapat kabar tentang meninggalnya Abah Asep. Rania yang paling terpukul dengan kepergian beliau. Seakan tidak percaya orang yang sangat berjasa dalam hidupnya kini telah tiada.
Rania menangis sesunggukan dalam pelukan suaminnya. Julio, Surya dan Leo tiga asiten bergerak cepat bekerja lembur malam ini. Besok pagi Almarhum akan di makamkan di samping almarhumah istrinya.
Malam ini hampir tidak ada yang tidur semua tegang dan bersedih. Rania sampai harus di berikan vitamin tambahan oleh Dokter Atha agar tidak drop. Rania hanya terlelap sejenak dalam dekapan Alfian.
Setelah di mandikan dan sholatkan pagi itu juga ambulance dan seluruh keluarga berangkat ke desa Mami Mitha. Rencana Almarhum akan di semayamkan di rumah lama sejenak. Almarhum akan di sholatkan kembali oleh masyarakat di sana.
Pukul sembilan pagi Almarhum di makamkan di sebelah Almarhumah Ibu. Mami Mitha duduk bersimpuh melihat ada tiga makam yang berjajar. Almarhum Ibu di apit oleh Encang Ginanjar dan Ayah Asep.
Orang yang terpenting dalam hidup mami Mitha kini berbaring di sana. Walau berat takdir tetap tidak bisa di tolak. Yang terpenting ikhlas dan sudah saling memaafkan kesalahan masa lalu.
__ADS_1
Rania yang duduk di samping Mami Mitha selalu menteskan air mata. Teringat pertemuan pertama dengan Almarhum Abah juga di pemakaman ini. kini harus berpisah untuk selamanya juga di pemakaman ini.
Dari dimasukkan di liang lahat, Azan dan Iqomah oleh Alfian sampai sudah tertutup dengan sempurna. Sampai do'a dan para ta'ziah bermapitan pulang. Tak seorangpun yang mengeluarkan kata, hanya saling memberikan dukungan dengan mengusap pundak dan pelukan.
Sudah lebih dari satu jam Rania dan Mami Mitha bersimpuh tanpa kata hanya doa di dalam hati di pemakaman. Alfian dan Papi Alfarizi masih setia menunggu ke duanya. Dokter Atha mulai mengkhawatirkan keadaan Rania dan langsung mendekati Alfian.
"Dik, kasihan Dik Rani dia harus beristirahat, kandungannya juga harus di perhatikan."
Dokter Atha juga mendekati Papi Alfarizi dan berbisik, "Pi ... ayo ajak Mami beristirahat dulu!"
"Rani ... Mami, ayo beristirahat dulu, besok kita bisa ke sini lagi. Ingat ada baby yang masih dalam kandungan yang harus di jaga!" Alfian berkata sambil berjongkok diantara dua wanita yang sangat di cintai.
"Ayo Honey!" Papi Alfarizi langsung mengulurkan tangannya.
Alfian langsung memapah sambil memeluk Rania berjalan keluar area pemakaman. diikuti oleh Papi Alfarizi dan Mami Mitha yang bergandengan tangan. Serta Dokter Atha yang berjalan menggandeng Elfa.
Hampir satu minggu seluruh keluarga tinggal di villa. Hanya Ayah Doni yang pulang ke Bekasi untuk mengurusi pekerjaan. Dokter Atha yang bolak-balik villa rumah sakit dan asisten yang menghandle pekerjaan selama berkabung.
Di berikan infus Vitamin untuk memulihkan kondisinya oleh Dokter Atha. Berkali-kali Alfian mengingatkan untuk menjaga kesehatan, "Abang ... jangan ngomel terus, telinga Rani panas nich!"
"Eee di nasehati jangan ngeyel, Sayang. Semua demi Rani dan baby yang ada di dalam kandungan!"
"Hhhmm."
"Rani sayang Abang dan baby kita, 'kan?"
"Iya Abang Sayang, sini Rani minta di peluk aja, jangan ngedumel bae."
Alfian memeluk Rania dan berbaring di tempat tidur. Masuk Zain dan Dokter Atha tanpa mengetuk pintu, "Ooii ... di larang mesum di rumah sakit!" teriak Zain berbalik badan langsung menghadap kearah Dokter Atha.
__ADS_1
Alfian tetap dalam posisi semula hanya melirik mereka yang membalikkan badan, "Mau ngapain masuk tanpa mengetuk pintu?"
"Mau visit dan memeriksa keadaan pasien," jawab Zain.
"Abang turun dulu, Sayang!" Alfian turun dari tempat tidur, mempersilahkan Dokter Atha melakukan tugasnya.
"Iya nanti peluk lagi setelah selesai," bisik Rania sebelum Alfian turun dari tempat tidur.
Alfian merangkul Zain dan berbisik, "Yang visit Kakak gue mengapa elu ikut ke sini?"
"Gue mendaftar menjadi asisten pribadi Kakak elu."
"Awas elu macam-macam ya!"
"Tenang Bro, gue hanya ingin satu macam saja kok, menjadi Kakak Ipar elu."
"Tidak semudah itu Fulgozo."
Setelah hampir satu botol vitamin masuk ke dalam tubuh Rania, kini wajahnya tidak terlihat pucat lagi. Masih harus banyak berisitirahat dan tidak banyak pikiran. Rani dilarang turun dari tempat tidur sampai dia sehat seperti sedia kala.
Alfian mulai berkatifitas melakukan pekerjaan kantor dari kantor rumah sakit. Jika ada meeting dia hanya melakukan lewat online saja. Tanpa harus keluar dari kantor sekaligus kamar pribadinya.
Julio yang selalu bolak-balik dari perusahaan pusat, perusahaan yang di Bogor dan rumah sakit. Terkadang di bantu oleh Leo asisten Zain saat pekerjaan Julio menumpuk. Bahkan Surya hanya mengirim dukumen melalui email saja ke Julio karena pekerjaan yang menumpuk.
Sudah dua hari kesehatan Rania mulai seperti sedia kala. Perkembangan janin juga sesui dengan umur kehamilan. Pola tidur sudah mulai teratur dan nafsu makan mulai membaik.
Pukul lima sore infus di lepas oleh Dokter Atha dan tidak ketinggalan Zain kembali visit untuk memeriksa Rania. Karena Rania sudah sehat Dokter Atha melepas jarum infus yang ada di tangan Rania, "Mau makan apa Dik, infus sudah di lepas harus banyak makan biar baby juga sehat?"
"Rani mau makan nasi padang dengan lauk rendang dan gulai kepala ikan kakap."
__ADS_1
"Beli di rumah makan langganan Dokter Atha saja pasti enak," usul Zain asal bicara.
"Dari mana Anda tahu saya punya langganan rumah makan Padang, Dokter Zain?" tanya Dokter Atha.