Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Gagal Bergoyang


__ADS_3

Sudah hampir tiga jam Alfarizi menggendong baby Elfa, sekarang ini pukul satu malam. Dia tertidur pulas dalam gendongan tetapi saat ingin di pindahkan di box bayi terbangun dan menangis lagi. Akhirnya Alfarizi naik di tempat tidur single bed, duduk meluruskan kakinya bersandar di dinding tidur sambil menggenddong baby Elfa.


Awalnya Neng menunggu Alfarizi dengan sabar sambil bermain ponsel. Seharian mengurus bayi sambil bekerja di rumah tidak di pungkiri rasanya sangat capek. Akhirnya matanya juga tidak bisa diajak kompromi hanya sanggup menunggu Alfarizi selama satu jam saja lama-kelamaan dia juga tertidur pulas.


Sampai menjelang pagi Alfarizi tertidur sambil duduk dan mengendong baby Elfa. Neng masih terlelap sendiri di tempat tidurnya dengan tenang. Pukul empat pagi baby Elfa menangis kencang karena haus dan popoknya juga basah.


Neng dan Alfarizi terbangun bersamaan, Neng langsung berlari menuju kamar baby Elfa dan Alfarizi langsung turun dari tempat tidur, "Papi, maafkan Mami ketiduran."


"Tidak apa-apa Honey, Papi juga baru bangun. Tolong gantikan popoknya ya, baju tidur Papi basah kena ompol!"


"Ya Papi, trima kasih. beristirahatlah gantian sekarang Mami yang jaga baby Elfa."


Alfarizi menganggukkan kepalanya berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Setelah Neng menggantikan popok baby Elfa, dia kembali mengambil termometer untuk memeriksa suhu tubuhnya yang tadi malam sempat meningkat. Suhu badan putrinya sudah normal seperti sedia kala, sehingga dia dengan anteng minum ASI tanpa rewel lagi.


Alfarizi datang dengan keadaan segar setelah Mandi, "Bagaimana Mami, apakah panasnya sudah turun?"


"Sudah Papi, ini sudah 36 derajat, lihatlah dia sudang anteng dan tenang menikmati ASI-nya!"


Alfarizi tersenyum melihat baby Elfa dengan tenang menyedot ASI sambil memainkan kakinya. Matanya terang tidak ada tanda-tanda dia akan tertidur kembali. Sekarang ini karena capek senjata onta arab tertidur pulas tanpa ada tanda-tanda untuk terbangun.


"Mami, Papi tidur sebentar ya. Bangunkan jam enam Papi ada meeting penting jam sembilan pagi!"


"Iya Pi, beristirahatlah!"


Pukul Enam pagi baby Elfa berjemur di samping kolam renang bersama Ibu Ani. Neng membangunkan suaminya sambil mengusap pipi. "Papi, bangunlah ...!"


Alfarizi hanya menggeliat saja tanpa membuka mata, rasanya enggan untuk bangun. Badan sakit semua karena tidur sambil duduk dan memangku baby Elfa, "Papi sudah jam enam, katanya suruh bangunkan jam enam."


Alfarizi menarik Neng dalam dekapannya tanapa membuka mata, "Sepuluh menit lagi Mami, Papi ingin memeluk Mami. Rencana Papi tadi malam gagal semua."


Alfarizi mulai ingin memasukkan tangannya di balik baju Neng, ingin menuju gunung kenyal favoritnya. Baru saja menyusup datang mengganngu ke dua yaitu ALfian. Dia membuka pintu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Papi ... Mami ...!" teriak Alfian dengan semangat.


Neng langsung bangun dan melepaskan pelukan Alarizi. Membetulkan baju yang baru saja disingkap olehnya. "Ada apa, Nak?"


"Baby Elfa pup. Nenek minta popok, pupur dan dan tisu milik baby Elfa."

__ADS_1


"Ayo kita ambil di kamar baby Elfa. Papa cepat mandi!"


Dengan gontai Alfarizi kembali berjalan ke kamar mandi. Setelah kehadiran putrinya waktu tidurnya jungkir balik tidak teratur. Teringat Umi Anna Yang pulang kembali ke riyadh tiga minggu lalu agar mencari baby sister agar ada yang membantu untuk menjaga baby Elfa. Tidak bisa hanya mengandalkan Ibu Ani saja untuk membantu.


Apalagi malam ini malam yang paling di tunggu-tunggu olehnya, tetapi gagal karena baby Elfa sedang sakit. Hari ini dia akan merencanakan dengan matang agar tidak akan gagal lagi seperti tadi malam. Hanya saja belum tahu apa yang akan di lakukan agar malam ini bisa berdua bisa mengajak senjata onta arab bergoyang.


Setelah selesai meeting Alfarizi langsung pulang. Memerintahkan Surya untuk melanjutkan pekerjaanya. Dia sudah tidak bisa konsentrasi saat bekerja, otaknya selalu teringat dan membayangkan yang akan terjadi nanti malam.


Sampai rumah berharap putrinya tidur di kamar agar bisa nyicil sedikit dan merayu Neng. Ternyata baby Elfa sedang berada di kantor bersama istrinya sedang bermain sambil bekerja.


"Mami, bekerja sambil bermain berdua, Ibu Ani tidak membantu menjaga baby Elfa?"


"Ibu sedang membantu Mpok Atun, Papi sudah makan?"


"Belum ...."


"Ayo Papi makan dulu!"


"Mana bisa ada baby Elfa."


"Papi maunya makan Mami."


"Sabar ya, Pi. Nanti malam saja Mami juga kangen," jawab Neng sambil mengusap pipinya.


Alfarizi langsung meraih tangan Neng dan menciumnya berkali-kali. Hanya ucapan Neng yang sederhana menbuat hati berbunga-bunga. Dengan tatapan mata yang berbinar membuat Alfarizi semakin bersemangat dan tidak sabar lagi menunggu.


"Papi ganti baju dulu, Mami siapkan makan siang. Baby Elfa ikut Papi sana ke kamar!"


"Ok, ayo Cantik ikut Papi."


Saat sedang makan siang, Alfian pulang dari sekolah di jemput oleh Doni, "Abang Al pulang, kok Papi sudah di rumah?"


"Ayo Bang kita makan bareng," ajak Neng.


"Pekerjaan Papi tidak banyak, tumben pulang cepat, Bang?"


"Iya Pi, guru sedang mengahadiri hari ulang tahun yayasan."

__ADS_1


Belum selesai menikmati makan siang satu keluarga, ada tamu yang tidak terduga. Encang Ginanjar datang dengan di antar oleh keluarga Junaidi. Mereka langsung bergabung untuk makan siang bersama termasuk Ibu Ani dan Doni.


Selesai makan siang, Alfian bermain game dengan Julio di kamarnya. Lilis dan Neng sedang berbincang di kantor Neng bersama baby Elfa. Enjang Ginanjar, Junaidi dan Alfarizi sedang berbincang di ruang keluarga sambil menikmati kopi.


"Encang pingin ngomong sama kamu Nak Al."


"Ya Cang, katakan apa yag bisa Al bantu?"


"Satu bulan yang lalau ayah mertuamu sakit, Encang mencarinya ke Bandung."


Encang bertemu dengan Ayah Asep?"


"Ya, badannya masih saja seperti dulu tahan banting, hanya saja katanya hampir setengah tahun ini dia jarang bisa tidur nyenyak, dia selalu di hantui rasa bersalah tetapi tiak berani menemui Neng Mitha."


"Istri Al sudah memaafkan Ayah Asep, Cang," jawab Alfarizi.


"Tetapi kalau tidak ada yang mengalah salah satu untuk mencoba bertemu, tidak akan ada solusinya."


Alfarizi termenung sejenak, Ayah Asep tidak sepenuhnya bersalah. Dia juga ikut andil atas terjadinya peristiwa pertemuan dan pernikahan siri dengan Neng. Seharusnya memang harus ada yang mengalah salah satu agar semua menjadi lebih tenang dan tidak ada yang merasa bersalah.


"Saya kemarin juga berkunjung ke Bandung untuk menjenguk ayahnya Nona, Tuan." Junaidi bercerita dengan jujur.


"Bagaimana keadaan Beliau, Jun?"


"Beliau masih kuat dan sehat, tetapi sayangnya beliu mengalami imsomnia berkepanjangan, saya mengikuti kegiatannya hampir 24 jam penuh tanpa ada tidur sekali." Cerita Junaidi lagi.


"Maka itu Encang ke sini Nak Al, apakah kamu mau membujuk Neng Mitha agar mau menemui ayahnya di Bandung?"


"Tentu Cang, akan Al usahakan."


BERSAMBUNG


*******


Yok mampir baru terbit di karya author yg baru


__ADS_1


__ADS_2