Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Meeting rasa double date


__ADS_3

"Mami, Papi mau pamit pulang!"


"Al saja yang ngantar ke depan, Mami masih belum selesai!" teriak Neng dari dalam.


"Ya Mi ...."


Ada rasa kecewa di hati Alfarizi saat Neng tidak mau menemuinya. Keluar kamar bersama Alfian dengan perasaan yang tidak menentu. Hanya berpikir positif semoga akan ada perubahan suatu saat nanti.


"Ayo Pi, Al antar sampai depan!"


"Ya Nak, terima kasih."


Berjalan keluar rumah dengan gontai seolah kaki berat untuk melangkah, harapannya belum terwujud. Harus semangat dan pantang menyerah, hari ini hanya bisa masuk rumah dan kamar Alfian semoga lain kali bisa berbincang dan masuk kamarnya, gumam Alfarizi dalam hati.


Setelah berpamitan pada Ibu Yuni dan Ibu Ani Al melajukan mobilnya hanya memutari jalan dan gang untuk pulang ke rumah baru miliknya yang berada di belakang konfeksi AA. Beristirahat di kamarnya sendiri sambil menyusun strategi dengan cara apa agar bisa mendekatinya. Alfarizi berharap bisa berbincang dengan istrinya berdua dari ke hati.


Keesokan harinya yaitu hari Senin ini adalah jadwal meeting Alfarizi dengan konfrksi AA yang di jadwalkan pukul sebelas siang. Surya dan Lilis sudah merencanakan untuk meeting di sebuah resoran private room. Surya dan Lilis ingin melakukan Meeting untuk bosnya dengan rasa double date.


Kedua bosnya tidak mengetahui rencana kedua asistennya. Sekarang ini tujuan keduanya ingin mempersutan bosnya agar keduanya juga segera menikah. Yang bos mereka tahu hanya akan meeting di restoran sebelum makan siang.


Baru menjelang pukul sepuluh pagi Alfarizi menunggu dengan gelisah. Seolah jarum jam berjalan lambat, waktu seperti jalan di tempat. Ada pekerjaan menumpuk di depannya tidak di sentuhnya sama sekali, hati yang merindu membuatnya tidak bisa konsentrasi. Dia hanya selalu melirik jam tangan, mondar-mandir, tidak melakukan pekerjaan apapun.


Surya yang tahu betul bagaimana gundah-gulana bosnya langsung berinisiatif mengajaknya berangkat terlebih dahulu, "Tuan, sebaiknya kita berangkat sekarang saja!"


"Ya, kita berangkat saja sekarang!"


Dengan semangat empat lima Alfarizi berangkat ke restoran tempat mereka meeting. Yang biasanya Alfarizi malas membawa mobil sendiri, saat ini dia memilih bawa mobil sendiri. Segala kemungkinan harus dia perhitungkan walaupun kemungkinannya kecil sekali berharap bisa pulang bareng bersama istrinya.


Ternyata di dalam kantor Neng yang berada di butik AA juga setali tiga uang. Neng juga merasa gelisah karena harus meeting bersama dengan papi dari putranya. Rasa sesal mengapa kemarin harus menerima pesanan seragam untuk karyawannya.


Dalam logika, Neng ingin menghindarinya, tidak ingin bertemu dengannya. Tetapi hatinya tidak bisa diajak kompromi. Tetap saja dia mempersiapkan dokumen dan keperluan yang harus dibawa untuk meeting.


Tepat pukul sebelas siang, Desi sudah menunggu dengan gelisah. Surya sudah berkali-kali menghubunginya. Berdiri di depan pintu sambil melihat Neng yang masih santai seolah enggan untuk berangkat.

__ADS_1


"Ayo Bu kita berangkat, Anda sudah di tunggu di tempat meeting!"


"Berapa menit kita tiba di sana!"


"Kalau tidak macet seperempat jam sudah sampai, tetapi jika macet bisa sampai setengah jam."


"Ayo berangkat!"


Dalam perjalanan Neng masih mencoba menenangkan diri. Meyakinkan hati ini hanya pertemuan bisnis, murni tentang hisnis. Tidak seharusnya di campur-adukkan dengan perasaan.


Sampai di restoran Neng berjalan sambil melihat orang yang sedang duduk memesan makanan. Tidak ada sosok orang yang mengajaknya meeting. Neng sampai mengira karena terlambat dia sudah meninggalkan restoran.


"Desi, apakah tidak jadi meetingnya, tidak ada orangnya?" tanya Neng masih mencari sosok papinya Alfian dan Surya yang tidak terlihat batang hidungnya.


"Tidak di sini Bu, ada di private room, silahkan sebelah sini!"


Neng hanya mengambil napas panjang, logikanya tidak ingin bertemu, tetapi kakinya tetap melangkah mengikuti Desi berjalan ke ruang private room. Masuk ruangan itu dengan tersenyum tipis dan membungkuk dan segera duduk di depan Alfarizi yang memandang dengan penuh arti. Tidak berani memandangnya secara langsung hanya menunduk dan membuka laptopnya untuk mengurangi kegugupannya.


"Silahkan." jawab mereka serempak.


Dalam waktu hampir satu jam mereka benar-benar hanya membahas tentang pekerjaan. Bahkan Neng berbicara tanpa canggung, sangat profesiol. Melobi harga, menentukan model, warna dan jumlah yang akan di pesan semua lancar tanp ada rasa canggung.


Hanya Alfarizi saja yang terkadang gagal fokus saat Neng menerangkan secara detail bahan dan model baju yang akan di pesannya sesuai permintaan Alfarizi. Surya dan Desi hanya saling gedipkan matanya saat keduanya klop sedang membahas hal yang sama. Terkadang Surya dan Desi hanya mencatat dan bertanya berulang-ulang agar kedua bosnya itu kembali berbincang.


Waktu istirahat hampir habis saat mereka selesai meeting. Surya langsung menghubungi restoran untuk segera mengatar pesanan makan yang sudah di reques sebelum mereka datang di restoran. Hanya menunggu lima menit semua pesan sudah terhidang di meja.


Alfarizi mengambil menu makanan khusus yang di pesannya dari koki restoran seblak dan colenak makanan kesukaan Neng saat masih sekolah SMK. "Neng ...!" panggil Alfarizi.


"Ya, Tuan!" spontan Neng menjawab.


"Eeee kok!" teriak Surya dan Desi bersamaan.


Neng langsung menutup mulutnya sambil menggelengkan kepalanya. Dari tadi saat sedang membahas pekerjaan Neng tidak pernah memanggil Tuan, dia hanya menyebut dengan sebutan Anda. Saat di panggil namanya dia sudah terbiasa menjawab dengan spontan tuan.

__ADS_1


Alfarizi hanya tersenyum dan menyodorkan dua menu makanan favoritnya, "Ayo makan dulu, jangan sampai telat nanti sakit!"


"Aah iya terima kasih."


Neng makan tanpa kata, bahkan tetap saja menunduk. Alfarizi mengambil teh hangat yang ada di depannya sambil memandang Neng yang sedang makan. Rasanya hilang sudah kegalauan di hati hanya dengan memandangnya saja.


Desi langsung mengambil piring kosong, berniat mengambilkan makanan untuk Surya, "Bang, mau makan apa aku ambilkan?"


"Ayam bakar saja!" jawab Surya singkat.


Desi mengambil menu nasi ayam bakar lengkap dengan sambal dan lalapan. Di letakkan di hadapan Surya sambil tersenyum, "Silahkan Bang!"


"Terima kasih."


"Tuan Al, menu apa yang Anda inginkan, saya ambilkan sekalian?" tanya Desi kepada Alfarizi karena dari tadi belum mengambil makan, dia hanya memperhatikan Neng yang sedang menikmati makanannya.


"Tidak usah terima kasih, aku ambil sendiri saja."


Akhirnya Alfarizi mengambil menu makan nasi ayam bakar sendiri, padahal ada menu opor ayam kesukaannya. Berharap Neng bisa mengambilkan nasi opor ayam kesukaannya. Sayangnya Neng pura-pura tidak melihat dan tetap saja makan dengan pelan.


Surya dan Desi selesai makan bersamaan, karena ingin memberikan kesempatan untuk berdua, akhirnya Surya berpamitan pulang terlebih dahulu dengan mengajak Desi untuk pulang berdua. Dengan terpaksa Neng menunggu Alfarizi sampai selesai makan. Dengan sengaja Alfarizi makan dengan santai agar bisa berdua dengannya. Sampai Al selesai makan mereka masih diam tanpa kata.


"Maaf saya mau pulang ...!" kata Neng tidak selesai melanjutkan katanya. Al langsung berdiri, "Ayo kita pulang!"


Berjalan beriringan sampai parkiran tetap hanya diam saja sampai Neng berpamitan, "Saya pulang duluan Tuan."


"Oya hati-hati."


Neng ingin membuka pintu mobilnya, tetapi melihat ban mobil bagian depan kempes, "Yaaaah mengapa kempes?"


Alfafizi melihat Neng tidak jadi masuk mobilnya langsung mendekatinya, "Ada apa Neng Geulis?"


"Eeee ...!"

__ADS_1


__ADS_2