Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Berduka


__ADS_3

Tiga bulan setelah kejadian penusukan, Dokter Mario semakin parah sakit mentalnya. Sering pihak rumah sakit jiwa menunjukkan rekaman vedio kegiatan Marta di Australia juga tidak membantu penyembuhannya. Semua keluarga sudah pasrah dan tidak berharap lagi dia sembuh.


Hari ini pengacara Alfarizi memberikan kabar jika Cek kokom satu minggu yang lalu bebas dari penjara. Dia mendapatkan remisi dua bulan karena perayaan ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Dia juga berkelakuan baik selama di penjara sehingga hanya menjalani hukuman selama sepuluh bulan.


Pengacara juga bercerita setelah bebas dia langsung menyusul Esih putrinya di Bandung. Mereka mengontrak di sebuah kontrakan satu pintu sederhana. Tinggal di pinggiran kota Bandung yang banyak tumbuh perusahaan besar di sana.


Esih sedikit demi sedikit mulai berubah penampilannya setelah keluar dari penjara dan tidak bersama ibunya. Saat ini dia bekerja di pabrik pementalan menjadi karyawan tetap. Hidupnya semakin tenang saat Esih tidak lagi mengikuti gaya hidup ibunya.


Ayah Asep masih tetap seperti dulu, tidak mau menemui putri dan cucunya. Berkunjung di rumah Encang Ginanjar juga tidak pernah. Beliau memilih hidup sendiri dan dengan caranya sendiri.


Hanya Encang Ginanjar yang sering berkunjung ke rumah Neng. Alfian dan Elfa sangat dekat dan menyayangi kakeknya. Yang mereka tahu kakeknya hanya Encang Ginanjar dan Abi Ali.


Sabtu ini Alfarizi mengajak seluruh keluarga berkunjung ke villa. Selain untuk berziarah mereka juga mengunjungi Encang Ginanjar yang jarang berkunjung ke Bekasi dala satu bulan ini. Setelah sampai ruma Encang Ginanjar ternyata beliau sedang sakit.


Encang Ginanjar sengaja tidak memberi kabar kepada Neng karena tidak ingin merepotkan. Neng merasa sedih karena Encang tidak memberikan kabar jika sedang sakit. Padahal Junaidi sering bolak-balik villa, Jakarta dan Bekasi.


"Encang tega sekali, mengapa mengikuti jejak Ayah?" protes Neng dengan cemberut sambil memijit kakinya.


"Encang tidak seperti ayahmu, jangan di samakan!"


"Sama saja Cang, ini sakit tidak mengabari Neng sama sekali." Neng mengerucutkan bibirnya.


"Encang masih sanggup merawat diri sendiri, nanti kalau sudah tidak sanggup Encang ikut Neng di Bekasi."


"Janji ya Cang, kalau perlu besok Encang ikut kami ke Bekasi."


"Neng juga harus janji, jangan menghubungi ayahmu jika Encang terjadi sesuatu."


"Memang kenapa, Cang?"

__ADS_1


"Laki-laki gemblung itu susah diatur dan semaunya sendiri. Encang ingin dia datang atas kemauan dan kesadaran sendiri, jangan di hubungi jangan pula di paksa dan lagi mungkin mantan ibu tirimu pasti akan bisa menemukan ayahmu jika kau panggil ke sini."


"Apakah sampai sekarang ibu belum tahu tempat tinggal ayah, Cang?"


"Belum tahu. Kemarin setelah ibumu bebas dari penjara sempat mengawasi Encang beberapa hari, tetapi sudah tidak lagi sekarang, ingat Neng jangan hubungi ayahmu, kamu mengerti?"


"Iya Cang, Neng mengerti."


Seharian ini Encang Ginanjar menghabiskan waktu bersama Neng, Alfarizi dan ke dua cucunya Alfian dan Elfa bercengkerama dan bermain dengan gembira. Walau sakit tetapi tidak di rasakan oleh Encang Ginanjar. Bahkan beliau memanggil penjual tukang bandrek keliling mentraktir semua keluarga saat malam hari.


Pagi harinya setelah sarapan pagi bersama, Encang Ginanjar mengajak berziarah ke makam adik kandungnya. Makam ibu kandung Neng yang tidak jauh dari rumah lama Neng. Berdoa bersama dengan khusuk setelah membersihkan makam.


Sebelum pulang Encang Ginnjar berbincang dan meminta pendapat kepada Alfarizi, "Nak Al, seandainya di sebelah makam ibu mertuamu itu cukup tidak ya untuk satu makam lagi?"


Alfarizi memperhatikan makam ibu mertua dengan makam sebelahnya memang masih ada sedikit tanah kosong. Sedangkan jarak makaam satu dengan yang lainnya terlihat rapat. Area makam itu sudah terlihat padat dan tidak banyak lahan kosong.


Encang Ginanjar hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan alfarizi. Berjalan keluar area makam sambil menggandeng Alfian, "Ayo kita pulang!"


"Ayo Kakek, hati-hati jalannya."


"Iya ...."


Neng dan Alfarizi saling memandang karena tingkah aneh Encang Ginanjar. Mereka kembali ke villa setelah mampir sebentar di rumah lama Neng. Sampai villa seluruh keluarga langsung makan siang bersama, kemudian beristirahat.


"Neng, Encang istirahat sebentar. Jangan pulang dulu sebelum mengantar Encang pulang nanti!"


"Iya Cang, beristirahatlah. Nanti Neng bangunkan kalau Neng mau pulang ke Bekasi."


Setelah dua jam berlalu, Neng dan Ibu Ani bersiap-siap untuk pulang ke Bekasi. Semua perlengkapan sudah disiapkan termasuk perlengkapan Elfa. Neng bergegas ke kamar Encang Ginanjar berniat untuk membangunkannya.

__ADS_1


"Tok ... tok ... tok!"


Tidak ada jawaban dari dalam, Neng membuka pintu perlahan sambil memanggilnya, "Encang ... bangun!"


Tetap saja tidak ada pergerakan dari Encang Ginanjar. Neng mendekatinya dan memegang tangannya, "Cang ... sudah sore, ayo bangun!"


Tidak ada respon sedikitpun darinya, akhirnya Neng memegang dahinya, "Kok dingin sekali!" Berpindah ke pergelangan tangan untuk memeriksa denyut nadinya, "Tidak ada denyut nadinya, jangan-jangan ...?" Neng mengguncang tubuh Encang Ginanjar tetapi tidak ada tanda-tanda beliau terjaga.


Neng langsung berjalan sampai pintu dan berteriak, "Papiiii ...!"


Alfarizi yang sedang menggendong Elfa di ruang tamu langsung tersentak kaget dan memberikan Elfa kepada Bibi Siti. Dia langsung berlari merndekati istrinya, "Ada apa Mami?"


"Encang ... lihatlah, mengapa beliau tidak bangun juga berkali-kali Mami bangunkan?"


Alfarizi langsung memeriksa keadaan Encang Ginanjar. Dari pergelangan tangan, napas dari hidung dan memegang suhu tubuh. Wajahnya tersenyum dan seperti tertidur pulas, tetapi sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan, "Mami ... Encang Ginanjar sudah di panggil oleh yang maha kuasa."


"Innalilahi wa inna Ilaihi rojiun ...."


Neng meneteskan air mata sambil terduduk di lantai. Alfarizi meraih tubuh istrinya dan memeluknya dengan erat, "Sabar Mami, Allah lebih sayang kepada Encang Ginanjar. Kita harus ikhlas dan bersabar."


Neng hanya mengangguk dan terus tergugu. Dia teringat satu hari ini banyak pesan dan ucapan Encang Ginanjar yang tidak di mengerti. Dari pesan tentang Ayah Asep, mantan ibu tiri, pemakaman sampai tadi sebelum tidur berpesan jangan pulang dulu sebelum mengantarnya pulang.


Neng tambah tergugu dan menangis tersedu-sedu setelah menydari jika pesan yang di usapkan Encang Ginanjar seharian ini adalah pesan dan amanah terakhirnya. Sore itu juga Encang Ginanjar di makamkan di sebelah ibu. Tidak menghubungi Ayah Asep seperti permintaan terakhir beliau.


Neng juga mengantar beliau sampai makam walau badannya seolah lemah tak berdaya. Alfarizi awalnya melarang Neng ikut ke pemakaman. Wasiat terakhirnya jangan pulang sebelum mengantar Enjang Ginanjar pulang di laksanakan Neng dengan mengantar jenazah Encang Ginanjar sampai peristirahatan terakhirnya.


Selesai di makamkan, tetangga sahabat dan keluarga pulang setelah mengucapkan bela sungkawa. Neng, Alfarizi dan Ibu Ani masih duduk untuk berdoa sejenak. Ada dua orang wanita memakai baju hitam mengawasi dari kejauhan.


"Neng Mitha, apakah kamu kenal dua wanita yang berdiri di pintu belakang itu?" bisik Ibu Ani.

__ADS_1


__ADS_2