
Umi Anna menutup mulutnya saat keceplosan menyebut Alfian sebagai cucunya. Di samping karena mendapatkan tatapan horor dari Isya juga karena tatapan heran Ibu Ani. Sedangkan Neng tidak terlalu mendengar ucapan dari Umi Anna karena fokus kepada Alfian yang bercerita hasil prakaryanya.
"Waah si Ganteng ini putra Kak Mitha?" Isya mencoba mengalihkan perhatian agar Ibu Ani yang curiga karena Umi Anna yang terlihat gugup.
"Iya perkenalkan, dia putraku Alfian namanya dan beliau Ibuku Ibu Ani."
Alfian meraih tangan Isya mencium punggung tangannya bergantian dengan dengan Umi Anna. Isya mengusap punggung Alfian dengan lembut dan Umi Anna mencium dahi Alfian dengan penuh kasih sayang. Mereka berusaha untuk menahan diri agar tidak ketahuan tujuan aslinya ingin bertemu dengan putranya Alfarizi.
"Auntie, Nenek salam kenal namaku Afian."
"Salam kenal Al, aku Auntie Isya dan beliau Oma Anna."
Umi Anna tersenyum sambil memandang wajah Alfian lekat-lekat. Seolah Umi sedang berhadapan langsung dengan wajah Alfarizi saat masih kecil. Dari bentuk wajah, cara berjalan, cara berbicara dan tatapan matanya, semua tidak ada yang berbeda.
"Boleh Oma memeluk Al?" tanya Umi Anna akhirnya tidak bisa menahan diri.
"Ya Oma ... " Al memeluk Umi Anna dengan erat.
Umi Anna berusaha menahan diri untuk tidak menangis agar tidak di curigai. Rasa ingin memeliki cucu dari dulu saat Alfarizi menikah dengan Sinta membuatnya tidak bisa menahan diri untuk meluapkan kebahagiannya. Walaupun dengan diam-diam memeluk cucunya tetapi sudah membuat Umi Anna merasa lega.
"Kalau Auntie Isya minta foto selfi saja ya, bolehkan?"
"Dengan siapa Auntie, bersama Al atau Mami?"
"Semua, Al, Maminya Al, Oma dan Nenek Al juga!"
"Baiklah."
Selesai mereka berselfi ria beberapa kali dan berbincang basa basi sebentar, akhirnya Isya dan Umi Anna berpamitan pulang. Keluar Butik dengan menggunakan masker agar tidak tercium oleh media atau para pewarta. Langsung menghubungi Surya asisten Alfarizi untuk bertemu.
Kebetulan Surya sedang berada di kantor yang berada di mall sedang mengerjakan dokumen rumah yang baru saja di beli oleh Alfarizi. Surya langsung mengirim pesan kepada adik dari bosnya Isya untuk langsung bertemu dengan tuannya di rumah barunya. Surya mengirim alamat melalui pesan WA, tidak berani menemui ibu dan adik tuannya secara langsung karena masih banyak para pewarta yang masih mencari tahu kabar tentang tuannya.
Umi Anna dan Isya akhirnya memutuskan mendatangi rumah baru milik Alfarizi tanpa menghubunginya terlebih dahulu. Umi Anna ingin mengetahui perkembangan perjuangan putranya untuk merebut hati ibu dari cucunya. Berangkat ke sana dengan menggunakan taksi online.
Malam ini adalah malam Minggu, Neng dan Alfian menghabiskan waktu berdua untuk mencari buku di toko buku yang berada di seberang mall. Sedang asyik memilih buku ada pasangan ayah dan putrinya juga sedang memilih buku. Ternyata gadis kecil yang di gandeng ayahnya adalah teman satu kelas Al.
"Al kamu di sini juga?"
__ADS_1
"Eee, Putri kamu sama siapa ke sini?"
"Itu aku bersama Ayah, kalau kamu bersama siapa?"
"Aku datang bersama Mami."
Ayahnya putri berjalan medekati Putri yang sedang berbincang dengan Al. Melirik Neng yang sedang berkonsentrasi membaca buku yang di pegangnya. Tersenyum mengusap pundak Al dengan lembut.
"Selamat malam Nak, apakah kamu teman Putri?"
"Selamat malam, iya Om aku teman satu kelas Putri, namaku Alfian."
"Selamat malam Ibunya Alfian, saya Rangga Siregar."
"Selamat malam Pak," jawab Neng singkat.
"Ayah, Putri mau cari buku bersama Al ya, di sana!"
Pak Rangga Siregar mengangguk dan tersenyum. Dia berjalan mendekati Neng ingin mengajak berbincang. Wajah Neng yang terlihat cantik dan bersinar membuatnya tertarik.
"Apakah Anda berdua saja Bu?"
"Iya Pak," jawab Neng singkat.
"Bu, buku apa yang akan Anda cari siapa tahu aku bisa mencarinya?"
"Tidak ada kok Pak, aku hanya lihat-lihat saja, maaf permisi!"
Neng meninggalkan orang tua dari teman sekelas Al. Neng ingin menyusul Al yang sudah agak jauh darinya. Rangga Siregar berjalan mengikuti Neng dari belakang berusaha mensejajarkan tubuhnya agar bisa berjalan dengan Neng.
"Bu, biarkan mereka mencari buku sendiri, lebih baik kita menunggu dan beristirahat di sana!" Kembali Rangga Siregar mengajak Neng untuk berbincang.
"Maaf Pak, kami harus segera pulang."
Neng semakin mempercepat langkahnya untuk meninggalkan Rangga Siregar. Rasa tidak nyaman jika harus berinteraksi dengan orang yang baru dikenalnya sendirian. Memilih berjalan memutari stand buku dari pada berjalan beriringan dengan ayahnya Putri.
"Al, ayo Nak kita pulang!" panggil Neng setelah berada tidak jauh dari Al.
__ADS_1
"Baik Mi, Al juga sudah dapat semua bukunya."
"Putri, aku pulang dulu ya."
"Ya, bye bye Al."
Rangga Siregar berlari mendekati Al dan Putri dengan tergesa-gesa. Berharap masih bisa berkesempatan untuk mendekati ibu dari teman anaknya. "Bu, Al bagaimana kalau kita makan malam bersama?"
"Mami, mengapa Ayahnya Putri mengajak kita makan malam?" tanya Al heran.
"Tidak tahu Nak, Al mau makan bersama mereka?" Al langsung menggeleng dengan cepat.
"Maaf Pak, kami sudah di tunggu keluarga di rumah, permisi ya Pak Rangga; Putri kami pulang duluan!"
"Bye bye Al." Putri melambaikan tangan.
Neng mengandeng tangan Al menuju kasir untuk membayar buku yang sudah di pilihnya. Dengan cepat memberikan kartu ATM nya takut ayahnya Putri menyusul di belakangnya. Tanpa di sangka ternyata beda dua orang dari Neng sudah berdiri putri dan ayahnya ikut mengantri di kasir.
"Bu, pulangnya naik apa, aku bawa mobil, Anda bisa bareng kami?" tanya Rangga Siregar setelah Neng selesai membayar di kasir.
"Terima kasih Pak, kami pulang duluan, permisi."
Keluar dari toko buku Neng langsung masuk mall. Di mall Neng juga waspada tidak ingin beremu dengan pemilik mall. Berita tentangnya masih saja menjadi perbincangan publik setiap hari, sehingga lebih baik menghindar dari pada ikut terseret dalam lingkaran berita yang tak berujung.
Saat masuk butik terlihat sepi, hanya beberapa pengunjung yang datang. Sebagian besar karyawan sedang berdiri melihat tayangan televisi yang sedang menyiarkan langsung tentang konfrensi pers top model terkenal ibu kota yang di cari hampir dua bulan terakhir ini. Siaran langsung itu belum di mulai, tetapi sudah ada sepasang kekasih yang duduk sambil menunduk.
Neng langsung berlari menggandeng Al ke kantornya. Penasaran juga tentang konfrensi pers istri dari orang yang pernah menikahinya siri itu. Sampai kantor Neng langsung menyalakan televisi dan duduk berdampingan dengan Alfian.
"Mami mau ada acara apa sih, ada Mamanya Kakak Cantik di televisi?" tanya Al penasaran.
"Mami juga belum tahu Nak, sini duduk kita lihat bareng-bareng, ok!"
"Ya Mami."
Hai shobat rekomendasi novel bagus untukmu, yok kepoin
__ADS_1