Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Wisuda


__ADS_3

Alfian belajar dengan tekun satiap waktu, bertekat untuk menyelesaikan pendidikannya tepat waktu. Setiap waktu harus di lalui dengan kerja keras untuk pelupakan peristiwa malam itu. Sayangnnnya tak sedikitpun bayangan peristiwa itu bisa lepas dan hilang dari ingatannya.


Hari demi hari tekat Alfian semakin kuat untuk bisa mencari gadis itu. Semakin kuat juga rasa yang tumbuh di hati dan relung jiwa. Debaran hati semakin hari semakin membuat tekatnya untuk mencari gadis itu semakin kuat setelah selesai kuliah nanti.


Satu tahun berlalu tanpa bisa melupakan sedikitpun bayangan gadis itu. Saat ini Alfian hannya menunggu waktu untuk wisuda setelah perjuangan panjang menyusun sekripsi. Menunggu kedatangan mami dan papi dari Jakarta bersama Elfa dan neneknya untuk menghadiri wisuda.


Wisuda akan di laksanakan besok pukul sepuluh pagi. Keluarga belum juga datang sore ini ke Riyadh, membuat Alfian gelisah menunggu kedatangan mereka. Sampai pukul delapan malam mereka tiba di rumah Oma Anna, "Mami ...!" teriak Alfian saat melihat Mami Mitha datang bersama keluarga.


"Sehat Bang?" tanya Mami Mitha memeluk putrannya dengan erat.


"Alhamdulillah sehat, Mi."


"Papi, mengapa datangnya terlambat?"


"maaf Bang, pekerjaan Papi banyak sekali, Papi tidak bisa meninggalkan rapat pemegang saham tadi pagi di Jakarta."


"Apakah Om Surya tidak bisa mewakili Papi?"


"Tidak bisa dong Bang, yang penting Papi dan Mami datang sebelum wisuda."


"Tidak usah protes Bang, El juga baru selesai mid semester. yang penting kita semua datang." Elfa ikut membela papinya karena datang terlambat.


"Kenapa El yang sewot?. Abang kangen sama Mami dan Papi hampir satu tahun tidak bertermu."


"Kangen Papi Mami atau kangen sama ...?" Elfa memutup mulutnya tidak melanjutkan ucapannya karena mulutnya di dekap oleh Alfian.


"Masih kecil tidak boleh membicarakan macam-macam!"


"Ya Abang awas ... Papi tolongin El!" teriak Elfa di peluk Alfian dari belakang sambil mengacak rambutnya.


"Tidak ada minta bantuan Papi, El janji dulu tidak boleh pacaran atau mengenal cowok sebelum kuliah!" Alfian masih memeluk adiknya dari belakang.


"Iya ... iya El janji lepasin dulu Bang!" teriak Elfa meronta-ronta untuk melepaskan diri.


"Awas ya genit-genit sama laki-laki." Alfian melepas pelukan Elfa.

__ADS_1


Setelah Elfa terlepas dari pelukan Alfian bertanya, "Kalau hanya teman tetapi sering jalan bareng namanya tidak pacaran kan Bang?" Kembali Alfian mendekati Elfa menggelitiki perutnya dengan gemas.


"Abang geli ha ha ha!" Mereka berdua berlari kejar-kejaran memutari ruang tamu dan ruang keluarga rumah Ummi Anna.


Mami Mitha hampir terjatuh setelah Elfa berlari dan berlindung dan memeluk maminya, "El, hati-hati Nak. Nanti kalau jatuh sakit!"


"Abang Al, Mami ...!" Elfa berlari meminta perlindungan papinya sambil memeluk Papi Alfarizi dari depan, "Papi tolong El!" teriak Elfa memeluk erat papinya.


Mami Mitha dan Papi Alfarizi hanya menggelengkan kepalanya melihat Elfa Dan Alfarizi yang seperti anak kecil jika bertemu. Di lanjutkan berbincang dengan Umi Anna dan Abi Ali. Malam harinya istirahat setelah makan malam bersama dan setelah mempersiapkan untuk wisuda besok pagi.


Keesokan harinya Alfian di dampingi ke dua orang tuanya dan Oma Anna serta Abi Ali menghadiri wisuda. Mendapatkan nilai kumloud dan dan nilai terbaik nomor tiga dari seluruh mahasiswa. Membuat seluruh keluarga bangga dan sangat bahagia atas keberhasilan Alfian.


Dua hari setelah wisuda mereka kembali ke Indonesia bersama Oma Anna dan Opa Ali. Rasanya tidak ingin berpisah dengan cucunya membuat nenek dan kakeknya memilih tinggal bersama Papi Alfarizi di Indonesia. Usaha milik Opa Ali di kelola oleh Papi Alfarizi dan keluarga yang masih tinggal di Riyadh.


Di dalam pesawat saat dalam perjalanan pulang Mami Mitha termenung di dalam kamar pribadinya. Mengenang perjalanan hidup bisa sampai saat ini. Teringat Alfian mengatan sudah memiliki tambatan hati yang sampai sekarang belum pernah di ceritakan kembali.


Papi Alfarizi masuk di kamar setelah selesai mengerjakan pekerjaannya. Langsung memeluknya dari belakang karena dia tidak menyadari saat suaminya memasuki kamar, "Mami ... apa yang di pikirkan sih?"


"Eee Papi bikin kaget saja sih, ada apa?"


"Di tanya malah ganti tanya, mengapa Mami melamun?"


"Satu tahun yang lalu Abang mercerita setelah lulus kuliah baru akan bererita, sabar aja kita tunggu tanggal mainnya."


Mami Mitha kembali termenung teringat jika gadis itu seperti dirinya. Dia hanya bisa berharap pasangan putranya kelak seorang wanita yang tidak mempertibangkan segala sesuatu dari harta saja. Berharap seorang wanita yang memiliki kasih sayang tulus kepada keluarga.


Mami Mitha tersentak kaget setelah Papi Alfarizi menciumi tengkuknya berkali-kali, "Papi ... geli tahu!"


"Mami sih melamun lagi, ada Papi di sini malah di anggurin," jawab Papi Alfarizi sambil memasukkan tangannya ke dalam baju sampai tempat favoritnya.


"Papi ini tangannya mulai usil, awas nanti Elfa atau Abang Al masuk kamar malu, mereka sudah besar sekarang papi tetap saja mesum."


"Pintu sudah Papi kunci jangan khawatir." Tangan Papi Alfarizi mulai mendaki gunung dan menuruni lembah tanpa henti.


"apakah Papi tidak bosan selalu saja mengajak bergoyang, ingat umur Pi?"

__ADS_1


"Tidak ada hubungannya umur dengan senjata onta arab Papi, justru semakin tua dia semakin bersemangat." Tangan Papi Alfarizi mulai membuka resleting bajunya perlahan.


"Mi, ini resleting susah banget sih di bukanya?"


"Itu tandanya di larang bergoyang, resletingnya mogok di jalan," jawab Mami Mitha sekenanya.


"di rayu Mi, jangan biarkan dia mogok, cepatlah ini senjata onta arab Papi sudah minta di goyang!"


"Ogah banget merayu reslerting, suap saja dia biar tidak mogok!"


"Baiklah, minta di suap apa, jet pribadi, istana, wisata keliling dunia atau apa?"


"Tidak aaah buat apa semua itu, Mami sudah memiliki semua!"


Karena Papi Alfarizi tidak sabar, dia akhirnya menyingkapkan bajunya ke atas dan langsung melahap salah satu gunung kembar istrinya sambil berjongkok di depan Mami Mitha yang masih duduk. Mami Mitha tetap saja tidak bisa menolak pesona mesum suaminya. Selalu saja dia terbawa suasana dan mulai menikmati sentuhan yang di lancarkan Papi Alfarizi.


"Aduuuh mami ...!" teriak Papi Alfarizi saat rambutnya tersangkut resleting yang belum di buka sempurna yang ada di dada Mami Mitha.


"Eee kenapa, Pi?"


"Ini resletingnya nyangkut di rambut Papi, mengganggu saja sih!"


Mami Mitha tersenyum devil melihat suami mesumnya meringis rambutnya tersangkut realeting, "Sabar Pi, jangan bergerak dulu nanti takutnya rambut Papi ikut tercabut dan Papi menjadi botak!"


"Aduh cepat Mi, ini Papi sudah tidak tahan lagi mau bergoyang!"


"Sabar Pi, ini dia minta di suap dengan intan berlian segunung ini,"


"Bungkus ... jangankan segunung se-ember juga Papi turuti yang penting Papi bisa bergoyang, cepatlah!"


"Eee ...?"


BERSAMBUNG


Hangan lupa mampir ya di novel temen yang rekomen banget

__ADS_1


Ingat di NT juga lo



__ADS_2