
Benar dugaan Encang Ginanjar, Ayah Asep datang ke rumahnya dengan membawa semua barang yang ada di kontrakan menggunakan angkot milik temannya. Dia benar-benar melakukan yang di katakan mantan istrinya. Tinggal bersama Encang Asep berdua untuk sementara.
Encang Asep menghubungi Alfarizi dan Neng setelah Ayah Asep tiba di rumah. Agar mereka tidak khawatir dan lebih tenang. Encang juga berpesan untuk sementara jangan menemui ayahnya agar orangnya tidak menghilang lagi.
Minggu pertama Ayah Asep hanya menghabiskan waktu mengunjungi makam istrinya. Terkadang berkunjung melihat rumah miliknya dahulu yang pernah di jual. Sekarang ini rumah itu sudah di renofasi oleh Alfarizi tetapi Ayah Asep hanya melihatnya saja tidak mau saat di minta untuk tinggal di sana.
Seperti ucapan Encang Gianjar kemarin yang berniat untuk membelikan angkot untuk Ayah Asep. Hanya sayangnya Ayah Asep menolaknya, pendiriannya tetap sama seperti dulu. Dia tidak ingin di bantu ataupun di kasihani oleh siapapun termasuk kaka ipar atau putrinya sendiri.
Ayah Asep hanya bertahan satu bulan di rumah Encang Ginanjar. Dia kembali menghilang entah ke mana. Saat dia pergi juga tanpa pamit kepada kakak iparnya, bahkan dia tidak membawa bajunya sendiri hanya membawa kartu identitas serta dompetnya saja.
Hampir satu bulan mendapatkan kabar dari Encang Ginanjar jika Ayah Asep sehat. Neng merasa bahagia walaupun beliau tidak mau di kunjungi. Alfarizi dan Neng memilih untuk melihat dari jauh saja saat berkunjung ke villa, sengaja tidak menemui beliau.
Saat ini Neng kembali bersedih setelah mendapat kabar dari Encang Ginanjar bahwa Ayah Asep kembali menghilang. Alfarizi kembali meminta Surya agar menghubungi Roy untuk mencari Ayah Asep. Dari daerah Bandung, Bogor dan sekitarnya.
Satu bulan, dua bulan sampai satu minggu lagi Elfa berulang tahun yang partama Ayah Asep belum di temukan. Neng sering melamun dan lebih sering berkunjung ke makam ibunya semenjak Ayah Asep tidak di ketahui rimbanya. Berharap bisa bertemu di sana saat beliau mengunjungi makam ibu.
Minggu sore ini seluruh keluaga berkumpul untuk merayakan ulang tahun Elfa termasuk datang Abi Ali dan Umi Anna. Merayakan ulang tahun bersama keluarga dan karyawan Neng saja. Dengan mengadakan acara makan malam bersama.
Selesai makan, Elfa dan Alfian masih bermain dengan dengan keluarga terutama Elfa. Dia selalu menjadi pusat perhatian. Tingkahnya yang lucu dan ceria membuat semua orang gemas.
Neng duduk di kamar sambil mencari informasi di media sosial berharap ada kabar atau berita tentang ayahnya. Alfarizi yang melihat istrinya sedang konsentrasi melihat ponsel langsung duduk di sampingnya, "Honey ... teringat Ayah Asep lagi?" tanya Alfarizi sambil memeluknya dari samping.
"Eee Papi bikin kaget saja!"
"Mami sedang cari informasi tentang Ayah?"
"Iseng aja Pi, siapa tahu ada informasi."
"Papi sudah berkali-kali bilang, jangan terlalu di pikirkan. Ayah baik-baik saja." Alfarizi mulai menyusupkan tangannya ke balik baju menuju gunung kembar.
Tangan Alfarizi belum sampai tujuan dan belum sempat Neng bertanya tentang keberadaan ayahnya pintu terbuka tanpa di ketuk, "Papi ... Mami ada tamu!" teriak Alfian berlari mendekati ke dua orang tuannya.
__ADS_1
"Siapa Bang?" tanya Neng dengan cepat.
"Kakek Ginanjar."
"Ayo temui Encang dulu deh, padahal Papi pingin itu," bisik Alfarizi melirik gunung kembar Neng sambil mengedipkan mata
"Papi kebiasaan, sukanya mencuri kesempatan."
Encang datang seorang diri padahal biasanya saat ingin berkunjung meminta Junaidi untuk menjemputnya, "Mengapa Encang datang sendiri, naik apa kesini?" tanya Alfarizi .
"Sekali-kali tidak apa-apa, ada tumpangan tetangga sampai Bogor, kemudian ke sini meminta di antarkan mobil online."
"Siapa yang memesankan mobil online, Cang?" Neng ikut bertanya karena khawatir.
"Ada anak muda yang bantu Encang tadi."
"Ayo Encang makan dulu nanti baru ngobrol lagi." Neng mengajak pamannya langsung ke meja makan.
Sambil menikmati makan, Encang Ginanjar memberikan satu lembar surat dengan amplop berwarna putih dan berlogo kantor pos. Walau sudah zaman modern ternyata kantor pos masih eksis sampai sekarang. Logo kantor pos tertuliskan kota Bogor tanpa ada nama pengirim tetapi ada tulisan teruntuk Neng Mitha.
"Dari Ayahmu, Encang juga dapat kemarin."
"Papi, Ayah ada di daerah Bogor."
"Buka saja suratnya Mami!"
Neng membuka dengan menyobek kertas yang berada di pinggir. Ada satu lembar kertas dan ada satu pasang giwang kecil berada di dalamnya. Tulisan tangan dalam kertas yang singkat dan padat, "Neng, Ayah baik-baik saja tidak perlu mencari Ayah, setiap tahun Ayah akan mengirim surat dua kali saat ulang tahu Alfian dan Elfa. Salam untuk semua keluarga."
Selesai membaca surat dari ayahnya, Neng langsung menengok memandang wajah Alfarizi. Dia langsung faham maksud istrinya. Mengangguk dan mengampil ponsel yang ada di kantong, mengirim pesan kepada Surya, "Surya, kamu hubungi Roy. Cari posisi Ayah Asep ada di daerah Bogor!"
"Siap Tuan, kebetulan saya sedang ada di bogor," jawab Surya dalam tulisannya sesat setelah dibaca.
__ADS_1
"Lagi ngapain di sana?" tanya Alfarizi lagi dalam pesannya.
"Istri saya lagi ngidam, Tuan. Dia minta asinan Bogor yang harus beli di Bogor juga."
Alfarizi tersenyum simpul setelah membaca jawaban dari Surya. Akhirnya asisten dari istrinya hamil setelah satu tahun menikah. Menutup kembali ponselnya dan mengedipkan mata kepada Neng sambil tersenyum.
Giwang yang di berikan oleh kakeknya hadiah ulang tahun yang pertama langsung di pakaikan kepada Elfa. Alfarizi tidak melihat dari harga ataupun ukurannya. Ini adalah tanda hormat dan untuk menghargai pemberian dari kakek untuk cucu perempuannya.
Malam harinya, Neng sudah tidak sabar ingin mengetahui kabar pencarian ayahnya padahal baru tiga jam yang lalu memnghubungi Surya dan Roy, "Papi apakah sudah di temukan Ayah Asep?"
"Sabar dong Honey, belum ada tiga jam mereka mencari Ayah, Bogar itu sangat luas."
"Jangan lama-lama Papi!"
Yang awalnya Neng duduk di sofa sambil menonton televisi dan Alfarizi sedang rebahan di tempat tidur. Alfarizi langsung menyusul Neng dan rebahan di pangkuan Neng, "Mami tahu kalau Desi sekarang sedang hamil?"
"Tahu dong Papi, memang ada apa?"
"Papi pingin ngidam kagi kayak dulu, boleh tidak Mi?"
"Papi katanya kapok tidak ingin menambah lagi, cukup Alfian dan Elfa, bagaimana sih?"
"Sebenarnya masih takut saat teringat Mami kesakitan ketika Elfa lahir. tetapi ...?"
"Tetapi apa, Papi?"
"Papi pingin memiliki dan merawat bayi laki-laki," jawab Alfarizi mulai mengusap pipi dan bibir Neng.
"Papi sudah merawat Elfa dari lahir sampai sekarang, sama saja Papi."
"Beda dong, Mami. Papi tidak ikut merawat Alfian, itu penyesalan terbesar Papi sampai sekarang ini."
__ADS_1
Neng tersenyum mencium pipi Alfarizi sekilas, "Yakin sanggup dan bersiap puasa selama 40 hari lagi?"
"Eee ... kalau yang itu Papi tidak sangggup!"