
Ibu Ani duduk di samping Doni dan di depan Abah menunggu jawaban Doni. Dia masih bingung dan merasa ragu bertemu dengan mantan istrinya. Rasa sakit saat dia meninggalkan begitu saja ketika sedang tergeletak dan sakit di rumah sakit Bandung.
"Saya masih ragu Bu, untuk bertemu dia," jawab Doni ragu.
"Kamu sudah berapa tahun mencarinya, mengapa sekarang jadi ragu?"
Doni termenung lagi, lebih dari lima belas tahun mencari wanita itu. Sekarang setelah mengetahui keberadaannya menjadi ragu. Seolah ciut nyalinya saat teringat betapa dia tidak memiliki empati saat mengiusir Ibu Ani.
"Sebaiknya temui dia, Nak Doni. Jangan bilang jika kamu sudah menemukan Neng Rani." Abah memberikan saran.
"Iya ... Ibu setuju kata Abah, kita datang bertanya di mana putrimu sekarang?"
Doni tersenyum setelah mendapatkan saran dari Abah dan persetujuan Ibu Ani. Tinggal menyusun pertanyaan saat bertemu dengan dia nanti. Hanya bisa berdoa semoga menahan emosi saat bertemu dengan dia nanti.
"Baiklah ayo kita berangkat, saya siap sekarang!"
"Satu lagi saran Ayah, Nak Doni. Tahan emosi saat bertemu ibunya Neng Rani nanti. Ayah banyak tahu tentang dia dari Neng Rani."
"Baik Ayah."
Saat ini waktu menunjukkan pukul empat sore saat Doni, Ibu Ani dan Abah berangkat dari villa milik Papi Alfarizi. Mereka sengaja berjalan kaki menuju ke rumah Titin Suhartin. Sengaja tidak ingin menujukkan kondisi perekonomian saat ini.
Rasanya jantung berdetak dengan cepat setelan kaki melangkah mendekati rumah yang bertuliskan "Salon Titin" di depan kaca jendela. Saat sudah sampai di halaman rumah kecil itu ada seorang kali-laki tua, pendek dan perut buncit keluar dari salon. Dia berjalan dengan cepat tanpa menyapa saat mereka sudah berdiri di depan teras rumah.
"Siapa dia, Bu?" bisik Doni.
"Ciri-ciri dia seperti laki-laki yang di ceritakan Neng Rani," Abah juga berbisik.
Doni semakin menyipitkan matanya melihat laki-laki itu berjalan cepat dan berjalan kearah jalan raya. Jika dia adalah laki-laki yang rencanya akan di jodohkan Rania seharusnya dia membawa mobil. Laki-laki itu berjalan kaki dan tidak ada mobil yang terparkir dekat dengan rumah Titin Suhartin.
"Tidak mungkin dia itu laki-laki bandot yang di sebut Rani, Ayah. Laki-laki itu seharusnya membawa mobil karena menurut cerita orangnya kaya raya," jawab Doni menganalisa pendapatnya berdasarkan apa yang di lihat.
__ADS_1
Abah belum sempat menjawab analisa Doni, ada seorang wanita keluar dari dalam salon. Dia memakai gaun tanpa lengan, rambut di cat pirang sebahu dengan riasan wajah yang tebal. Dia langsung terpaku melihat ada tiga orang yang berdiri menatap tajam kearahnya.
Setelah menyadari siapa orang yang ada di hadapannya Titin Suhartin langsung berbalik badan, "Maaf ... salon sedang tutup!"
"Kamu tahu, aku ke sini bukan mau potong rambut!" teriak Doni.
Titin tetap berjalan ingin masuk rumah, "Aku sedang tidak mau menerima tamu!" Titin Suhartin menjawab ikut berteriak.
Doni langsung berlari dan menghalangi langkah Titin di depan pintu tanpa menyentuhnya sama sekali, "Di mana Rara?"
Spontan Titin Suhartin menghentikan langkahnya dan tidak mrnjawab pertanyaan Doni. Hampir saja dia menabrak tubuh Doni yang berdiri tegak di depan pintu. Ingin berbalik badan dan meninggalkan rumah di belakanya ada Ibu Ani dan Abah yang juga berdiri tegak.
Kembali Doni bertanya sambil membentak, "Di mana putriku Rara?"
"Dia sudah minggat dan pergi dari rumah."
"Kamu jangan berbohong ya, di mana Rara?"
"Sudah aku bilang dia sudah minggat dari sini, Dia itu persis seperti kamu. Tidak mau di ajak hidup enak."
"Apa maksud kamu?"
"Aku berniat menikahkan dia dengan orang yang kaya-raya tetapi dia lebih memilih kabur. Padahal sampai sekarang calon jodohnya itu masih sering menunggunya."
"Apakah laki-laki yang baru saja keluar dari sini tadi yang akan kamu jodohkan dengan Rara?"
"Bukan ... dia itu pacarku ups keceplosan," jawab Titin sambil menutup mulutnya.
Abah menahan tawa dengan ikut menutup mulutnya. Teringat cucu angkatnya yang sering keceplosan. Ternyanya dia mengikuti kebiasaan ibu kandungnya.
"Ayah ... Ibu ayo kita pergi dari sini, percuma bicara dengan orang yang selalu mementingkan dirinya sendiri. Kita cari sendiri di mana Rara berada!"
__ADS_1
Ibu Ani hanya mengangguk dan tidak berniat berbicara dengan mantan menantu durhaka. Berjalan mengikuti Doni yang berjalan meninggalkan teras rumah Titin Suhartin. Abah juga tidak berniat untuk berbincang dengan dia dan melenggang mengikuti langkah Doni dan Ibu Ani.
"Tunggu ...! teriak Titin Suhartin.
"Dari mana kamu tahu aku tinggal di sini, Bang?" tanya Titin penuh selidik.
Doni masih melangkah tanpa berhenti. Dari awal tidak mempersiapkan dan tidak berpikir tentang pertanyaan itu. Mencari ide jawaban apa yang harus di katakan adanya.
"Mahasiswa yang kemarin memberikan kamu hadiah lima juta rupiah telah memposting di media sosial." Abah menjawab dengan lantang.
"Apakah laki-laki tua itu ayah barumu, Bang?" tanya Titin Suhartin lagi.
"Tidak usah di jawab, Don. Percuma saja nanti malah membuat kamu semakin emosi, ayo kita pulang!" Ibu Ani mempercepat langkahnya.
Sambil berjalan dengan langkah panjang, Doni teringat cerita Rania sesaat sebelum berangkat berbulan madu ke Eropa. Jika rumah yang di tempati mantan istrinya adalah warisan dari mantan suami ke dua dari Titin Suhartin. Seorang laki-laki baik yang mendididk Rania dengan budi pekerti baik.
Seharusnya Abah mengenal laki-laki itu karena dulu Abah juga tinggal di desa ini, "Apakah Ayah mengenal dari Ayah tiri Rani saat kecil?"
"Ayah mengenal orang yang tinggal di rumah itu dulu, tetapi sekarang tidak tahu di mana meraka, untuk apa Nak Doni menanyakan mereka?"
"Saya ingin bertemu dan mengucapkan terima kasih telah mendidik Rani dengan baik, Rani tidak seperti ibunya."
"Betul juga, Neng Rani sering bercerita ajika ayah sambungnya sangat sayang padanya. Hanya sayangnya dia memilih bercerai dan meninggalkan desa ini."
Mereka terus berjalan sambil berbincang sampai melewati rumah bercat putih milik Pak RT, "Bagaimana kalau kita bertanya kepada Pak RT saja?" usul Ibu Ani sambil menunjuk rumah yang terlihat sepi.
"Waaah benar, kalian tunggu di sini Ayah saja yang bertanya kepada RT!"
"Apakah Ayah mengenal Pak RT?"
"Ayah sangat mengenal ayah kandung dari RT."
__ADS_1
Abah masuk rumah Pak RT dan mengetuk pintu. Ibu Ani dan Doni berdiri di depan pintu pagar milik Pak RT. Tanpa sengaja Ibu Ani berbalik badan melihat ada Ttin Suhartin berdiri di balik pohon mangga yang berada di pinggir jalan, "Don ... coba kamu lihat, ada Titin yang berdiri dibalik pohon mangga!"
"Ngapain dia mengikuti kita, Bu?"